Informasi Lagu
719
Nomor
Kode
BE 719
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Cross Ref.
KK 438, PKJ 187, BN 719, KLIK 51, KPS 95, GB 105, NP 141
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Hubege soaraM, O Jesus, hubege soaraM O Jesus Hubege soaraM O Jesus, na manjouhon “Ihuthon ma Au” Togu au Jesus Tuhanku, iringiring ma langkangku Patuduhon ma dalanMu, asa unang unang lilu au.
Hupasahat ma diringku, hupasahat ma diringku, Hupasahat ma diringku mangihuthon Jesus Tuhanki. Togu au ………
Pargogoi ma au Tuhanku, pargogoi ma au Tuhanku, Pargogoi ma au Tuhanku, lao mamorsan silang na tu au. Togu au ………
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — BE 719 1
Slide 2 — BE 719 2
Slide 3 — BE 719 3
Partitur / Not
Partitur Chord BE 719
Sejarah Lagu
Lagu **"Kudengar Suara Yesus"** (judul asli bahasa Inggris: ***I Can Hear My Saviour Calling***) adalah salah satu himne yang sangat menyentuh hati karena pesan pengabdian total dan kesetiaan yang mendalam.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Penulis dan Komposer
Lagu ini merupakan hasil kolaborasi dari dua tokoh religius pada zamannya:
* **Lirik:** Ditulis oleh **John Samuel Norris** (1864–1945). Ia adalah seorang pengkhotbah dan penulis lagu rohani yang berdedikasi.
* **Melodi:** Dikomposisi oleh **Ernest William Blandy** (1875–1945), seorang organis dan musisi gereja.

Lagu ini pertama kali dipublikasikan pada tahun **1909** dan dengan cepat menjadi populer di lingkungan gereja-gereja Kristen karena melodinya yang melankolis namun penuh pengharapan.

### 2. Latar Belakang Makna Lagu
Kisah di balik lagu ini tidak berakar pada satu peristiwa spesifik (seperti musibah atau tragedi), melainkan pada **refleksi mendalam tentang panggilan pelayanan**.

Pada awal abad ke-20, gerakan misi dan penginjilan sedang berkembang pesat. John Samuel Norris menulis lagu ini sebagai bentuk "respon pribadi" seorang murid kepada Gurunya. Lirik lagu ini terinspirasi dari **Matius 16:24**, *"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."*

Lagu ini menggambarkan tiga tahapan spiritual yang dirasakan oleh seorang umat percaya:
1. **Panggilan:** "Kudengar suara Yesus memanggil" – Sebuah kepekaan batin akan kehendak Tuhan.
2. **Ketaatan:** "Aku akan mengikut-Mu, Tuhan" – Keputusan untuk menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat.
3. **Kesetiaan:** "Di mana pun jalan-Mu" – Kesiapan untuk mengikuti Tuhan meski harus melewati lembah penderitaan, kesulitan, atau "jalan salib".

### 3. Pesan Utama
Dalam bait-baitnya, lagu ini berbicara tentang kerelaan untuk **"memikul salib"**. Di era saat lagu ini ditulis, konsep "memikul salib" sering disalahartikan hanya sebagai penderitaan. Namun, Norris menekankan bahwa memikul salib adalah tentang **ketaatan pada panggilan Tuhan**, ke mana pun Tuhan memimpin, baik ke tempat yang menyenangkan maupun tempat yang sulit (seperti ladang misi atau pelayanan di daerah terpencil).

Refrein lagu yang berbunyi:
> *"Aku akan mengikut-Mu, Tuhan, aku akan mengikut-Mu, Tuhan;*
> *Di mana pun jalan-Mu, aku akan mengikut-Mu."*

Ini adalah janji setia (komitmen) yang dianggap sebagai puncak dari kehidupan beriman. Bagi banyak orang di masa itu, lagu ini sering dinyanyikan saat kebaktian pengutusan misionaris atau saat seseorang memutuskan untuk menyerahkan hidupnya penuh waktu untuk pelayanan.

### 4. Mengapa Lagu Ini Tetap Relevan?
Hingga hari ini, lagu ini tetap sering dinyanyikan di banyak denominasi gereja di seluruh dunia (termasuk Indonesia) karena:
* **Sederhana namun Mendalam:** Liriknya sangat mudah dimengerti, namun menyentuh inti terdalam dari iman Kristiani, yaitu ketaatan.
* **Komitmen Pribadi:** Lagu ini bukan sekadar puji-pujian tentang Tuhan, melainkan sebuah pernyataan komitmen diri sendiri.
* **Menghibur dalam Kepasrahan:** Banyak orang yang sedang menghadapi pergumulan hidup menggunakan lagu ini sebagai doa untuk meneguhkan hati agar tetap percaya bahwa Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang akan berjalan bersama mereka di setiap langkah.

### Kesimpulan
Kisah di balik "Kudengar Suara Yesus" adalah kisah tentang **penyerahan diri**. John Samuel Norris ingin mengingatkan bahwa menjadi pengikut Kristus bukan sekadar tentang ritual, melainkan tentang kesiapan untuk mendengar "suara" Tuhan dan mengikuti-Nya ke mana pun Ia memimpin, bahkan ketika jalan di depan tidak terlihat jelas.