Informasi Lagu
75
Nomor
Kode
BE 75
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 139
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Naung binsar do panondangi, na mangatasi sasude, na olo marsinondang Sondangan ni do sasude, na di na holom i dope, malungun di na torang Jesus, tulus ma sangkapMu, sondanganmu nasa jolma asa unduk di Debata.
Ho do mangapul rohangkon, o Raja ni portibi on, saleleng au mangolu Sai Ho ma parjambaranki, ndang olo au lohotan ni sude na olo salpu Tu Ho ro do au na lea na porsea di hataMu mangidohon panumpakMu
Tung ise pasonangkon au, manang tu dia pe au lao, sasada Ho huboto Pangkilalahon holong ni RohaM di au na bojok i, na pogos jala oto Unang loas au be lilu hinophopMu do tondingku, ingkon Ho do tioponku.
Las do rohangku mida Ho, o Jesus Kristus na dung ro, mamboan hangoluan Naeng pujionku Ho tongtong, saleleng au di tano on, nang di banua ginjang Sangap, sangap di goarMu Ho Rajangku huendehon hamuliaonMu, Tuhan
Partitur / Not
Partitur Chord BE 75
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu rohani yang indah, "Wie schön leuchtet der Morgenstern" (Dalam bahasa Indonesia sering dikenal sebagai "T'rang Bintang Fajar Berseri" atau "Bintang Fajar Yang Gemilang"), karya Philipp Nicolai, adalah kisah yang penuh dengan kepedihan, iman, dan harapan yang lahir dari kegelapan yang mendalam. Lagu ini sering disebut sebagai "Raja Koral" karena keindahan melodi dan liriknya yang luar biasa.

**Latar Belakang Penulis: Philipp Nicolai (1556-1608)**

Philipp Nicolai adalah seorang pendeta Lutheran Jerman, teolog, dan komposer yang hidup di era Reformasi dan awal Barok. Ia dikenal sebagai seorang pelayan Tuhan yang setia dan tegas dalam keyakinannya. Sepanjang hidupnya, Nicolai melayani di berbagai paroki, dan ia memiliki reputasi sebagai pengkhotbah yang bersemangat. Namun, dua himne yang ia tulis, "Wie schön leuchtet der Morgenstern" dan "Wachet auf, ruft uns die Stimme," yang paling menjadikannya abadi.

**Kondisi yang Memilukan: Wabah Hitam di Wildungen (1597-1598)**

Kisah sebenarnya di balik "Wie schön leuchtet der Morgenstern" berpusat pada periode yang sangat kelam dalam sejarah Eropa: Wabah Hitam (Black Death) yang melanda pada akhir abad ke-16. Pada tahun 1597, Philipp Nicolai menjabat sebagai pendeta Lutheran di Wildungen (sekarang Bad Arolsen), Hesse. Kota kecil ini tidak luput dari amukan wabah pes yang mengerikan.

Situasinya sungguh mencekam. Wabah merenggut nyawa begitu banyak orang sehingga Nicolai, sebagai pendeta, harus menguburkan puluhan jemaatnya setiap hari. Ia menyaksikan penderitaan, keputusasaan, dan kematian massal yang tak terbayangkan. Konon, ia tinggal di sebuah rumah di seberang kuburan, dan setiap hari ia bisa mendengar lonceng gereja berbunyi untuk mengantar jiwa-jiwa yang pergi, dan melihat antrean jenazah yang panjang untuk dimakamkan. Dikatakan bahwa dalam beberapa bulan saja, lebih dari 1.300 orang meninggal di Wildungen—angka yang sangat besar untuk sebuah kota kecil saat itu.

Dalam situasi keputusasaan dan ketakutan yang menguasai Wildungen, Nicolai sendiri tidak tahu apakah ia akan menjadi korban wabah berikutnya. Ia hidup di tengah bayang-bayang kematian.

**Terbitnya Bintang Fajar di Kegelapan**

Di tengah kegelapan dan penderitaan yang luar biasa ini, Philipp Nicolai mencari penghiburan dan harapan di dalam imannya. Ia memperdalam studinya tentang Alkitab, khususnya kitab Wahyu, dan merenungkan janji-janji Allah tentang kehidupan kekal. Dari pengalaman traumatis ini, dan dari refleksi mendalamnya atas Firman Tuhan, Nicolai menulis dua himne agungnya, termasuk "Wie schön leuchtet der Morgenstern."

Lagu ini bukan sekadar sebuah komposisi musikal; ini adalah sebuah seruan iman dan ekstasi di tengah keputusasaan. "Bintang Fajar" dalam konteks ini memiliki makna ganda:

1. **Bintang Fajar Literal (Planet Venus):** Sebagai simbol alamiah, bintang fajar muncul di ufuk timur sebelum matahari terbit, mengusir kegelapan malam dan menjadi pertanda datangnya siang. Ini adalah simbol harapan, permulaan baru, dan cahaya setelah kegelapan terpanjang.
2. **Bintang Fajar Simbolis (Yesus Kristus):** Yang paling penting, "Bintang Fajar" dalam lagu ini merujuk kepada Yesus Kristus, seperti yang disebutkan dalam Wahyu 22:16, "Akulah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang." Yesus adalah sumber terang, kehidupan, dan harapan kekal. Dialah yang mengalahkan kegelapan dosa dan kematian.

Melalui lirik-liriknya, Nicolai mengungkapkan kerinduannya yang mendalam akan Kristus sebagai "kekasih jiwanya," "penolong dalam penderitaan," dan "Raja kemuliaan." Ia menggambarkan Yesus dengan metafora-metafora yang indah: kebijaksanaan, keindahan, kebenaran, dan cahaya. Lagu ini adalah sebuah deklarasi iman bahwa bahkan di tengah kematian dan kehancuran, ada janji kebangkitan dan persatuan kekal dengan Kristus. Ia menulisnya untuk menghibur jemaatnya yang berduka dan memberikan mereka pengharapan di tengah badai.

**Publikasi dan Warisan Abadi**

"Wie schön leuchtet der Morgenstern" diterbitkan pada tahun 1599 dalam kumpulan himne Nicolai yang berjudul *Freudenspiegel des ewigen Lebens* (Cermin Sukacita Kehidupan Kekal). Lagu ini segera menyebar luas dan menjadi sangat populer di kalangan jemaat Lutheran.

Melodi yang diciptakan Nicolai (atau setidaknya diadaptasi dan disempurnakan olehnya) sangatlah indah, mengalir, dan mudah diingat, menjadikannya salah satu melodi koral yang paling dicintai. Harmonisasi dan keindahan melodi ini memungkinkannya untuk digunakan dalam berbagai konteks, dari nyanyian jemaat hingga komposisi orkestra yang rumit.

**Pengaruh pada Komposer Lain: J.S. Bach**

Keindahan dan kekuatan himne ini tidak luput dari perhatian para komposer besar. Yang paling terkenal, Johann Sebastian Bach menggunakannya sebagai dasar untuk Kantata Natalnya yang agung, BWV 1, yang juga berjudul "Wie schön leuchtet der Morgenstern." Bach juga memasukkan melodi koral ini dalam beberapa prelude koralnya untuk organ. Penggunaan koral ini oleh Bach semakin mengabadikan statusnya sebagai salah satu mahakarya musik rohani.

**Kesimpulan**

"Wie schön leuchtet der Morgenstern" adalah lebih dari sekadar lagu indah; itu adalah sebuah monumen bagi iman yang teguh di tengah-tengah penderitaan yang tak terhingga. Lahir dari tangisan dan air mata seorang pendeta yang menyaksikan kematian massal, lagu ini menjadi mercusuar harapan, pengingat bahwa bahkan di malam tergelap sekalipun, Bintang Fajar yang gilang-gemilang akan muncul, membawa janji terang dan kehidupan kekal bersama Kristus. Itulah sebabnya lagu ini terus menghibur, menginspirasi, dan mengangkat jiwa hingga hari ini, di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dengan judul "T'rang Bintang Fajar Berseri."