BLP
Tinggal Sertaku
Abide With Me
Informasi Lagu
123
Nomor
Do=E
Nada Dasar
Kode
BLP 123
Buku
Buku Lagu Perkantas
Nada Dasar
Do=E
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
92
Jumlah Bait
10 bait
Pencipta Lagu
William Henry Monk (1861)
Pencipta Syair
Henry Francis Lyte (1847)
Penerjemah
Yamuger (1977)
Cross Ref.
KK 621, NP 276, KC 324, NKI 148, NR 111, KPJ 74, MB 559, KJ 329
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
10 bait
Tinggal sertaku; hari tlah senja.
Glap makin turun, Tuhan tinggallah!
Lain pertolongan tiada kutemu:
Maha Penolong,tinggal sertaku!
Hidupku surut, ajal mendekat,
nikmat duniawi hanyut melenyap.
Tiada yang tahan, tiada yang teguh;
Kau yang abadi, tinggal sertaku!
Aku perlukan Dikau tiap jam;
dalam cobaan Kaulah kupegang.
Siapa penuntun yang setaraMu?
Siang dan malam tinggal sertaku!
Aku tak takut, karna Kau dekat;
susah tak pahit duka tak berat.
Kubur dan maut, di mana jayamu?
Tuhan yang bangkit tinggal sertaku!
Brilah salibMu nyata di depan;
tunjukkan jalan yang menuju trang.
Fajar menghalau kabut dan mendung.
Tuhan, kekal Kau tinggal sertaku!
Abide with me: fast falls the even tide:
The darkness deepens; Lord, with me abide!
When other helpers fail, and comforts flee,
Help of the helpless, O abide with me!
Swift to its close ebbs out life's litle day
Earth's joys grow dim, its glories pass away;
Change and decay in all around I see
O Thou who changest not, abide with me!
I need Thy presence every passing hour:
What but Thy grace can foil the tempter's power?
Who, like Thyself, my guide and stay can be?
Through clouds and sunshine, oh. abide with me!
I fear no foe, with Thee at hand to bless
Ills have no weight, and tears no bitterness
Where is death's sting? Where, grave, thy victory?
I triumph still. if Thou abide with me!
Hold Thou Thy cross before my closing eyes;
Shine through the gloom and point me to the skies.
Heavn's morning breaks and earth's vain shadows flee:
In life, in death, O Lord, abide with mel
Slide Lirik
10 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Abide With Me" (atau yang sering diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Tinggal Sertaku") adalah salah satu himne Kristen paling dicintai dan menyentuh hati sepanjang masa. Kisah di balik penciptaannya adalah perpaduan antara keputusasaan pribadi, iman yang teguh, dan inspirasi musikal yang mendalam dari dua individu yang luar biasa: **Henry Francis Lyte** (penulis lirik) dan **William Henry Monk** (komposer melodi "Eventide").
Mari kita selami kisah detailnya:
---
### Bagian 1: Lirik – Dari Hati yang Terluka dan Menjelang Ajal (Henry Francis Lyte)
**Henry Francis Lyte** lahir di Skotlandia pada tahun 1793. Sejak usia muda, Lyte adalah seorang pria yang cerdas dan berbakat, namun kesehatannya rapuh. Ia menempuh pendidikan di Trinity College Dublin dan ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan pada tahun 1815. Sepanjang karier pelayanannya, Lyte menghadapi pergumulan pribadi yang berat, terutama karena penyakit paru-paru kronis (tuberculosis) yang secara perlahan menggerogoti tubuhnya.
Selama 23 tahun, Lyte menjabat sebagai pendeta di Brixham, Devon, sebuah desa nelayan di pantai selatan Inggris. Di sana, ia dikenal sebagai seorang pastoralis yang berdedikasi, seorang penyair yang sensitif, dan seorang khotbah yang kuat, meskipun sering kali harus berkhotbah dalam kondisi fisik yang lemah.
Pada tahun 1847, Lyte menyadari bahwa akhir hidupnya sudah dekat. Penyakitnya semakin parah, dan ia disarankan untuk mencari iklim yang lebih hangat di luar negeri untuk meringankan penderitaannya. Namun, sebelum keberangkatannya, Lyte ingin sekali menyampaikan khotbah perpisahan kepada jemaatnya di Brixham.
**Momen Krusial: September 1847**
Pada hari Minggu terakhir bulan September 1847, meskipun sangat lemah dan hampir tidak bisa berdiri, Lyte berhasil mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan menyampaikan khotbah terakhir yang mengharukan kepada jemaatnya. Ini adalah sebuah upaya yang melebihi batas kekuatan fisiknya.
Setelah kebaktian selesai, Lyte yang kelelahan pulang ke rumahnya. Saat itu senja mulai tiba, matahari terbenam di ufuk barat, melukiskan langit dengan warna-warna jingga dan ungu. Dalam kesendiriannya, ia merasakan kehadiran Allah yang begitu nyata dan menghibur di tengah kelemahannya. Hatinya dipenuhi dengan renungan tentang kematian, tentang keberadaan Allah yang tak pernah goyah, dan tentang kerinduan akan kehadiran-Nya yang abadi.
Dalam momen yang penuh introspeksi dan spiritualitas mendalam itu, Lyte teringat akan kisah para murid di Emaus (Lukas 24:29), di mana mereka mengundang Yesus, "Tinggallah bersama kami, sebab hari sudah malam dan hari sudah semakin larut." Kata-kata ini menjadi percikan inspirasi bagi Lyte.
Pada malam itu juga, Lyte duduk dan mulai menulis. Dengan pena di tangan, ia menuangkan isi hatinya, ketakutannya, imannya, dan harapannya ke dalam bait-bait puisi. Kata-kata "Abide with me; fast falls the eventide; The darkness deepens; Lord, with me abide" mengalir keluar dari jiwanya yang sedang menghadapi senja kehidupan. Ia menuliskan setiap baris sebagai doa yang tulus, memohon agar Tuhan tidak meninggalkannya saat ia melintasi lembah bayang-bayang maut dan saat kegelapan dunia semakin pekat.
Lyte menyelesaikan puisinya dan menyerahkannya kepada seorang kerabat sebelum ia berangkat ke Nice, Prancis, untuk mencari penyembuhan. Namun, hanya dua bulan kemudian, pada tanggal 20 November 1847, Henry Francis Lyte meninggal dunia di Nice, meninggalkan warisan lirik yang akan menyentuh jutaan hati di seluruh dunia.
---
### Bagian 2: Melodi – Dari Hati yang Berduka dan Inspirasi Ilahi (William Henry Monk)
Selama beberapa tahun, lirik "Abide With Me" karya Lyte dinyanyikan dengan berbagai melodi yang berbeda, namun tidak ada yang benar-benar cocok dan menonjol. Sampai pada tahun 1861, seorang organis dan komposer Inggris bernama **William Henry Monk** (1823–1889) ditugaskan untuk menyunting buku himne Anglican yang sangat berpengaruh, *Hymns Ancient and Modern*.
Monk adalah seorang musisi berbakat yang menjabat sebagai organis di King's College, London, dan kemudian menjadi pengarah musik di berbagai gereja. Ia bertanggung jawab untuk menyediakan melodi baru atau mengadaptasi melodi yang sudah ada untuk himne-himne dalam koleksi tersebut.
**Momen Krusial: 1861**
Pada tahun 1861, Monk sedang mengerjakan lirik "Abide With Me" dan merasa kesulitan menemukan melodi yang pas untuk keagungan dan kedalaman emosi dari kata-kata Lyte. Namun, ada satu faktor pribadi yang sangat memengaruhi Monk saat itu: ia baru saja kehilangan seorang anak dalam keluarganya. Duka yang mendalam ini membuatnya sangat peka terhadap tema kematian, kehilangan, dan penghiburan ilahi yang terkandung dalam lirik Lyte.
Pada suatu senja yang tenang, Monk sedang duduk di pianonya, merenungkan lirik tersebut. Tiba-tiba, seperti sebuah wahyu, sebuah melodi yang sederhana namun sangat menyentuh dan khusyuk muncul dalam benaknya. Ia kemudian menuliskan melodi tersebut dengan cepat. Istrinya, yang berada di ruangan itu, menyaksikan momen inspirasi ini.
Monk menamai melodi ini **"Eventide"** (yang berarti "senja" atau "menjelang malam"), sebuah nama yang sempurna dan sangat cocok dengan tema lirik Lyte yang berbicara tentang "fast falls the eventide" (senja cepat tiba), kegelapan yang mendalam, dan pengharapan akan kehadiran Tuhan di akhir hari dan akhir kehidupan. Melodi "Eventide" memiliki kualitas yang tenang, melankolis, namun juga penuh harapan, seolah-olah memang dirancang untuk merangkul setiap bait dari puisi Lyte.
---
### Bagian 3: Legasi dan Dampak "Abide With Me"
Ketika *Hymns Ancient and Modern* diterbitkan pada tahun 1861 dengan kombinasi lirik Lyte dan melodi Monk, "Abide With Me" segera menjadi populer. Popularitasnya meluas dengan sangat cepat dan menjadi salah satu himne yang paling sering dinyanyikan dalam kebaktian gereja, pemakaman, dan momen-momen refleksi pribadi.
Beberapa fakta tentang dampak dan popularitas "Abide With Me":
1. **Himne Favorit Ratu Victoria:** Ratu Victoria sangat menyukai himne ini dan bahkan meminta agar himne ini dinyanyikan untuknya di ranjang kematiannya pada tahun 1901.
2. **Tragedi Titanic:** Ada laporan yang belum terverifikasi sepenuhnya, namun sering diceritakan, bahwa para korban yang selamat di sekoci-sekoci setelah tenggelamnya RMS Titanic pada tahun 1912 menyanyikan "Abide With Me" saat mereka menunggu penyelamatan.
3. **FA Cup Final:** Sejak tahun 1927, "Abide With Me" secara tradisional dinyanyikan sebelum dimulainya pertandingan final Piala FA di Stadion Wembley, Inggris. Ini menjadi sebuah momen emosional yang menyatukan puluhan ribu penggemar.
4. **Momen Bersejarah Lainnya:** Himne ini telah dinyanyikan dalam berbagai upacara penting, termasuk peringatan D-Day, pemakaman tokoh-tokoh penting, dan acara-acara kenegaraan.
5. **Terjemahan Global:** "Abide With Me" telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia, termasuk bahasa Indonesia menjadi "Tinggal Sertaku" atau "Tetaplah Besertaku," dan tetap menjadi himne penghiburan universal.
---
**Kesimpulan:**
Kisah di balik "Abide With Me" adalah sebuah testimoni tentang kekuatan iman dan seni. Henry Francis Lyte, dalam menghadapi kematiannya sendiri, menulis sebuah lirik yang melampaui waktu, mengungkapkan kerinduan universal akan kehadiran Tuhan di saat-saat paling gelap. William Henry Monk, yang juga merasakan duka pribadi, memberikan melodi "Eventide" yang sempurna, yang mengangkat lirik tersebut menjadi sebuah pengalaman spiritual yang mendalam.
Dari kesunyian senja di Brixham hingga duka di piano Monk, "Abide With Me" lahir dari hati yang terluka namun beriman teguh. Himne ini terus menjadi sumber penghiburan, kekuatan, dan harapan bagi jutaan orang di seluruh dunia, mengingatkan kita bahwa bahkan dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, Tuhan senantiasa "Tinggal Sertaku."
Mari kita selami kisah detailnya:
---
### Bagian 1: Lirik – Dari Hati yang Terluka dan Menjelang Ajal (Henry Francis Lyte)
**Henry Francis Lyte** lahir di Skotlandia pada tahun 1793. Sejak usia muda, Lyte adalah seorang pria yang cerdas dan berbakat, namun kesehatannya rapuh. Ia menempuh pendidikan di Trinity College Dublin dan ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan pada tahun 1815. Sepanjang karier pelayanannya, Lyte menghadapi pergumulan pribadi yang berat, terutama karena penyakit paru-paru kronis (tuberculosis) yang secara perlahan menggerogoti tubuhnya.
Selama 23 tahun, Lyte menjabat sebagai pendeta di Brixham, Devon, sebuah desa nelayan di pantai selatan Inggris. Di sana, ia dikenal sebagai seorang pastoralis yang berdedikasi, seorang penyair yang sensitif, dan seorang khotbah yang kuat, meskipun sering kali harus berkhotbah dalam kondisi fisik yang lemah.
Pada tahun 1847, Lyte menyadari bahwa akhir hidupnya sudah dekat. Penyakitnya semakin parah, dan ia disarankan untuk mencari iklim yang lebih hangat di luar negeri untuk meringankan penderitaannya. Namun, sebelum keberangkatannya, Lyte ingin sekali menyampaikan khotbah perpisahan kepada jemaatnya di Brixham.
**Momen Krusial: September 1847**
Pada hari Minggu terakhir bulan September 1847, meskipun sangat lemah dan hampir tidak bisa berdiri, Lyte berhasil mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan menyampaikan khotbah terakhir yang mengharukan kepada jemaatnya. Ini adalah sebuah upaya yang melebihi batas kekuatan fisiknya.
Setelah kebaktian selesai, Lyte yang kelelahan pulang ke rumahnya. Saat itu senja mulai tiba, matahari terbenam di ufuk barat, melukiskan langit dengan warna-warna jingga dan ungu. Dalam kesendiriannya, ia merasakan kehadiran Allah yang begitu nyata dan menghibur di tengah kelemahannya. Hatinya dipenuhi dengan renungan tentang kematian, tentang keberadaan Allah yang tak pernah goyah, dan tentang kerinduan akan kehadiran-Nya yang abadi.
Dalam momen yang penuh introspeksi dan spiritualitas mendalam itu, Lyte teringat akan kisah para murid di Emaus (Lukas 24:29), di mana mereka mengundang Yesus, "Tinggallah bersama kami, sebab hari sudah malam dan hari sudah semakin larut." Kata-kata ini menjadi percikan inspirasi bagi Lyte.
Pada malam itu juga, Lyte duduk dan mulai menulis. Dengan pena di tangan, ia menuangkan isi hatinya, ketakutannya, imannya, dan harapannya ke dalam bait-bait puisi. Kata-kata "Abide with me; fast falls the eventide; The darkness deepens; Lord, with me abide" mengalir keluar dari jiwanya yang sedang menghadapi senja kehidupan. Ia menuliskan setiap baris sebagai doa yang tulus, memohon agar Tuhan tidak meninggalkannya saat ia melintasi lembah bayang-bayang maut dan saat kegelapan dunia semakin pekat.
Lyte menyelesaikan puisinya dan menyerahkannya kepada seorang kerabat sebelum ia berangkat ke Nice, Prancis, untuk mencari penyembuhan. Namun, hanya dua bulan kemudian, pada tanggal 20 November 1847, Henry Francis Lyte meninggal dunia di Nice, meninggalkan warisan lirik yang akan menyentuh jutaan hati di seluruh dunia.
---
### Bagian 2: Melodi – Dari Hati yang Berduka dan Inspirasi Ilahi (William Henry Monk)
Selama beberapa tahun, lirik "Abide With Me" karya Lyte dinyanyikan dengan berbagai melodi yang berbeda, namun tidak ada yang benar-benar cocok dan menonjol. Sampai pada tahun 1861, seorang organis dan komposer Inggris bernama **William Henry Monk** (1823–1889) ditugaskan untuk menyunting buku himne Anglican yang sangat berpengaruh, *Hymns Ancient and Modern*.
Monk adalah seorang musisi berbakat yang menjabat sebagai organis di King's College, London, dan kemudian menjadi pengarah musik di berbagai gereja. Ia bertanggung jawab untuk menyediakan melodi baru atau mengadaptasi melodi yang sudah ada untuk himne-himne dalam koleksi tersebut.
**Momen Krusial: 1861**
Pada tahun 1861, Monk sedang mengerjakan lirik "Abide With Me" dan merasa kesulitan menemukan melodi yang pas untuk keagungan dan kedalaman emosi dari kata-kata Lyte. Namun, ada satu faktor pribadi yang sangat memengaruhi Monk saat itu: ia baru saja kehilangan seorang anak dalam keluarganya. Duka yang mendalam ini membuatnya sangat peka terhadap tema kematian, kehilangan, dan penghiburan ilahi yang terkandung dalam lirik Lyte.
Pada suatu senja yang tenang, Monk sedang duduk di pianonya, merenungkan lirik tersebut. Tiba-tiba, seperti sebuah wahyu, sebuah melodi yang sederhana namun sangat menyentuh dan khusyuk muncul dalam benaknya. Ia kemudian menuliskan melodi tersebut dengan cepat. Istrinya, yang berada di ruangan itu, menyaksikan momen inspirasi ini.
Monk menamai melodi ini **"Eventide"** (yang berarti "senja" atau "menjelang malam"), sebuah nama yang sempurna dan sangat cocok dengan tema lirik Lyte yang berbicara tentang "fast falls the eventide" (senja cepat tiba), kegelapan yang mendalam, dan pengharapan akan kehadiran Tuhan di akhir hari dan akhir kehidupan. Melodi "Eventide" memiliki kualitas yang tenang, melankolis, namun juga penuh harapan, seolah-olah memang dirancang untuk merangkul setiap bait dari puisi Lyte.
---
### Bagian 3: Legasi dan Dampak "Abide With Me"
Ketika *Hymns Ancient and Modern* diterbitkan pada tahun 1861 dengan kombinasi lirik Lyte dan melodi Monk, "Abide With Me" segera menjadi populer. Popularitasnya meluas dengan sangat cepat dan menjadi salah satu himne yang paling sering dinyanyikan dalam kebaktian gereja, pemakaman, dan momen-momen refleksi pribadi.
Beberapa fakta tentang dampak dan popularitas "Abide With Me":
1. **Himne Favorit Ratu Victoria:** Ratu Victoria sangat menyukai himne ini dan bahkan meminta agar himne ini dinyanyikan untuknya di ranjang kematiannya pada tahun 1901.
2. **Tragedi Titanic:** Ada laporan yang belum terverifikasi sepenuhnya, namun sering diceritakan, bahwa para korban yang selamat di sekoci-sekoci setelah tenggelamnya RMS Titanic pada tahun 1912 menyanyikan "Abide With Me" saat mereka menunggu penyelamatan.
3. **FA Cup Final:** Sejak tahun 1927, "Abide With Me" secara tradisional dinyanyikan sebelum dimulainya pertandingan final Piala FA di Stadion Wembley, Inggris. Ini menjadi sebuah momen emosional yang menyatukan puluhan ribu penggemar.
4. **Momen Bersejarah Lainnya:** Himne ini telah dinyanyikan dalam berbagai upacara penting, termasuk peringatan D-Day, pemakaman tokoh-tokoh penting, dan acara-acara kenegaraan.
5. **Terjemahan Global:** "Abide With Me" telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia, termasuk bahasa Indonesia menjadi "Tinggal Sertaku" atau "Tetaplah Besertaku," dan tetap menjadi himne penghiburan universal.
---
**Kesimpulan:**
Kisah di balik "Abide With Me" adalah sebuah testimoni tentang kekuatan iman dan seni. Henry Francis Lyte, dalam menghadapi kematiannya sendiri, menulis sebuah lirik yang melampaui waktu, mengungkapkan kerinduan universal akan kehadiran Tuhan di saat-saat paling gelap. William Henry Monk, yang juga merasakan duka pribadi, memberikan melodi "Eventide" yang sempurna, yang mengangkat lirik tersebut menjadi sebuah pengalaman spiritual yang mendalam.
Dari kesunyian senja di Brixham hingga duka di piano Monk, "Abide With Me" lahir dari hati yang terluka namun beriman teguh. Himne ini terus menjadi sumber penghiburan, kekuatan, dan harapan bagi jutaan orang di seluruh dunia, mengingatkan kita bahwa bahkan dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, Tuhan senantiasa "Tinggal Sertaku."
Cross Reference
KK 621, NP 276, KC 324, NKI 148, NR 111, KPJ 74, MB 559, KJ 329
Tinggal Sertaku
KC
Tinggal Sertaku
KJ
Tinggal Sertaku
KK
Gusti Mugi Nunggila
KPJ
Tinggal padaku Yesus Tuhanku
MB
Tinggal Sertaku
NKI
Tinggal Sertaku
NP
Tinggal Sertaku, Kawanku Kudus
NR
Bila Topan Kras Melanda Hidupmu
BLP
Ku Disalibkan Dengan Tuhanku
BLP
Tuhanku, pimpiniah
BLP
Tenang dan Sabarlah
BLP
Yesus, Kau Nakhodaku
BLP
Tenanglan Kini Hatiku
BLP
Lebih Dekat Pada-Mu
BLP
Adakah Berat Beban Hidupmu?
BLP
Tak Seorang Lain Seperti Yesus
BLP
Sambutlah Yesus
BLP
Tiap Langkahku
BLP
Kuperlukan Jurus lamat
BLP
Makin Dekat, Tuhan
BLP
Di Jalanku 'Ku Diiring
BLP
Ingat Akan Nama Yesus
BLP
Engkau Milikku Abadi
BLP
Naungan Jiwaku
BLP
Juru selamat kita yang besar
BLP
Tak Mudah Jalanku
BLP
Jiwaku tenanglah
BLP
Kekuatan Serta Penghiburan
BLP
Apapun Juga Menimpamu
BLP
Tlada Beban Yang Berat
BLP
Give Them All To Jesus
BLP
Cares Chorus
BLP
Puji Tuhan. Haleluya
BLP
Trima Kasih, Tuhan
BLP