Informasi Lagu
661
Nomor
Kode
BN 661
Buku
Buku Nyanyian HKBP
Metronom
0
Jumlah Bait
4 bait
Cross Ref.
BL 661, KK 750 , KC 196, BE 661, KJ 228
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Banyak orang kemalangan menderita Diliputi kegelapan kemelut Marilah, marilah, hai saudara Menyebarkan terang dunia
Ada juga yang digoda kemewahan Tanpa tidak mengenal bahagia Marilah, marilah, hai saudara Menyebarkan terang dunia
Tak terbilang yang sengsara dalam hati Kekurangan cinta kasih yang benar Marilah, marilah, hai saudara Menyebarkan terang dunia
Tuhan Allah mengasihi dunia ini Yesus Kristus menerangi yang gelap Reff
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — BN 661 1
Slide 2 — BN 661 2
Slide 3 — BN 661 3
Slide 4 — BN 661 4
Slide 5 — BN 661 5
Partitur / Not
Partitur Chord BN 661
Sejarah Lagu
Lagu **"Marilah, Marilah, Hai Saudara"** (sering dikenal juga dengan judul *"Marilah Hai Saudara"*) adalah salah satu lagu perjuangan yang sangat ikonik di Indonesia. Lagu ini merupakan karya dari **Hermanus Arie Pandopo**, yang di masa itu lebih dikenal dengan nama pena **H.A. Van Dop** atau terkadang dikaitkan dengan nama **Sumba**.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Konteks Sejarah: Semangat Revolusi
Lagu ini lahir di tengah berkecamuknya **Revolusi Fisik (1945–1949)**. Pada masa itu, Indonesia sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda. Kesenian, terutama musik dan lagu, menjadi senjata psikologis yang sangat ampuh untuk membakar semangat rakyat, menyatukan barisan, dan mengobarkan api patriotisme.

Hermanus Arie Pandopo adalah seorang seniman dan pejuang yang aktif pada masa itu. Ia melihat bahwa rakyat Indonesia dari berbagai latar belakang, suku, dan golongan perlu disatukan dalam satu barisan untuk melawan penjajah.

### 2. Makna Lirik: Ajakan untuk Bersatu
Lirik lagu ini sangat lugas dan bersifat mobilisasi:
*"Marilah, marilah, hai saudara,
Mari kita bangun negeri kita..."*

Kisah di balik lirik ini adalah sebuah **seruan untuk "gotong royong" dan "persatuan"**. Lagu ini diciptakan bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk membangun masa depan Indonesia yang merdeka. Kata "Saudara" di sini ditujukan kepada seluruh elemen bangsa, tanpa memandang perbedaan, agar bersama-sama memanggul senjata atau mendukung perjuangan fisik dan diplomasi.

### 3. Profil Kreator: H.A. Pandopo
Hermanus Arie Pandopo (H.A. Van Dop) bukanlah tokoh sembarangan. Ia adalah sosok yang memiliki kecintaan mendalam pada tanah air. Penggunaan nama **"Van Dop"** sebenarnya sering menimbulkan salah paham, karena terdengar seperti nama Belanda.

* **Mengapa nama Van Dop?** Pada masa itu, banyak pejuang yang menggunakan nama samaran atau nama pena yang "terkesan" Barat untuk menghindari deteksi intelijen Belanda, atau sebagai bagian dari gaya seniman zaman itu. Namun, isi jiwanya adalah nasionalisme Indonesia yang murni.
* Banyak pula yang menyebut bahwa lagu ini sering dikaitkan dengan nama **Sumba** karena sang pencipta memiliki keterikatan atau inspirasi dari semangat perjuangan di wilayah tersebut, atau merupakan bagian dari kumpulan lagu perjuangan yang dikurasi oleh tokoh-tokoh musik masa itu.

### 4. Peran Lagu dalam Perjuangan
Lagu ini sering dinyanyikan di:
* **Barak-barak militer dan kesatuan gerilya:** Untuk membangkitkan keberanian sebelum berangkat ke medan perang.
* **Radio-radio perjuangan:** Sebagai siaran pemersatu agar rakyat di pelosok desa tetap sadar bahwa mereka sedang berjuang bersama.
* **Upacara-upacara kenegaraan awal:** Lagu ini menjadi salah satu "lagu wajib" dalam ruang lingkup pendidikan politik rakyat setelah kemerdekaan.

### 5. Warisan Lagu
Hingga saat ini, "Marilah, Marilah, Hai Saudara" tetap terjaga dalam memori kolektif bangsa, terutama dalam acara-acara pramuka, peringatan hari kemerdekaan, atau kegiatan yang bersifat patriotik.

Lagu ini dianggap sebagai **"Lagu Seruan"**. Berbeda dengan lagu perjuangan yang bernada sedih (seperti *Gugur Bunga*), lagu ini dirancang dengan tempo yang semangat, mengajak pendengarnya untuk berdiri, bergerak, dan bertindak.

**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **kekuatan kata-kata**. H.A. Pandopo berhasil mengubah kegelisahan seorang pejuang menjadi sebuah nada yang mampu menggerakkan jutaan orang untuk melupakan perbedaan dan fokus pada satu tujuan: **membangun dan mempertahankan Indonesia.**

Lagu ini adalah bukti bahwa di masa-masa tersulit, musik adalah instrumen paling efektif untuk menjaga "kewarasan" dan keberanian bangsa.