GB
Nikmat Benar
Herriet Beergher Stowe
Informasi Lagu
336
Nomor
Kode
GB 336
Buku
Gita Bakti
Metronom
0
Cross Ref.
KK 657
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Nikmat benar, pabila alam bangun,
burung berkicau, fajar merekah.
Jauh lebih nikmat bila ku sadari;
sampai sekarang Kau Temankulah.
Dengan Engkau di pagi hari baru,
dalam belaian bayu nan sejuk.
Dengan Engkau ku jadi terpesona;
ku menyembah, lututku kutekuk.
Dengan Engkau setiap pagi baru,
kurasa tambah indah karya-Mu.
Dan demikian ku bertambah sadar,
tambah dekat, kurasa kasih-Mu.
Dan bila klak pagi terakhir tiba,
bila jiwaku bangun dari glap,
akan segar keyakinanku bangun:
Kaulah Tuhanku, kawanku tetap.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Still, Still With Thee," atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai "Nikmat Benar," adalah sebuah cerita yang menarik tentang bagaimana sebuah melodi agung dari seorang komponis besar dapat bersatu dengan lirik puitis dan penuh makna dari seorang penulis terkemuka, meskipun keduanya tidak pernah bertemu atau berkolaborasi secara langsung. Ini adalah contoh indah dari sinergi seni yang melampaui waktu dan batas geografis.
Mari kita telusuri kisahnya secara detail:
---
### Bagian 1: Sang Komponis dan Melodinya – Felix Mendelssohn-Bartholdy (1809-1847)
Felix Mendelssohn adalah salah satu komponis Romantik Jerman yang paling cemerlang dan dihormati di zamannya. Seorang anak ajaib dengan bakat luar biasa, ia dikenal karena keindahan melodi, keanggunan, dan kedalaman emosional dalam karyanya, yang meliputi simfoni, oratorio, musik kamar, dan karya-karya vokal.
Melodi yang menjadi dasar lagu "Still, Still With Thee" berasal dari salah satu mahakaryanya yang paling monumental: **Oratorio *Elijah*** (Op. 70), yang diselesaikan pada tahun 1846, hanya setahun sebelum kematian Mendelssohn yang mendadak.
* **Oratorio *Elijah***: Karya ini menceritakan kisah Nabi Elia dari Perjanjian Lama, dengan semua drama, mukjizat, dan emosi yang kuat. Karya ini segera menjadi sukses besar dan tetap menjadi salah satu oratorio yang paling sering ditampilkan hingga kini.
* **"O Rest in the Lord"**: Dalam Oratorio *Elijah*, terdapat sebuah aria mezzo-soprano yang sangat terkenal dan mengharukan berjudul "O Rest in the Lord" (Beristirahatlah dalam Tuhan). Aria ini muncul pada bagian kedua oratorio, di mana Elia sedang putus asa dan kelelahan, dan kemudian seorang malaikat menyanyikan lagu ini untuk memberinya penghiburan dan kekuatan. Melodi "O Rest in the Lord" dicirikan oleh kelembutan, ketenangan, dan rasa kedamaian yang mendalam. Tempo yang lambat, harmoni yang kaya, dan garis melodi yang mengalir menciptakan suasana kontemplatif dan menenangkan yang sempurna untuk menyampaikan pesan penghiburan ilahi.
Mendelssohn meninggal dunia pada tahun 1847 di usia yang sangat muda (38 tahun), meninggalkan warisan musik yang tak ternilai, termasuk melodi "O Rest in the Lord" yang memancarkan ketenangan dan harapan.
---
### Bagian 2: Sang Penulis dan Liriknya – Harriet Beecher Stowe (1811-1896)
Harriet Beecher Stowe adalah seorang penulis Amerika yang sangat berpengaruh, paling dikenal karena novel anti-perbudakannya yang revolusioner, ***Uncle Tom's Cabin*** (1852). Putri dari seorang pendeta Calvinis terkemuka, Lyman Beecher, dan saudara perempuan dari pendeta terkenal Henry Ward Beecher, Stowe dibesarkan dalam lingkungan yang sangat religius dan moralis. Iman Kristen adalah inti dari kehidupannya dan menjadi sumber kekuatan dan inspirasinya.
* **Latar Belakang Pribadi dan Spiritual**: Kehidupan Stowe tidak luput dari duka dan perjuangan. Ia mengalami kehilangan anak dan menyaksikan langsung penderitaan serta ketidakadilan sosial, terutama isu perbudakan yang merajalela di Amerika. Dalam menghadapi tantangan hidup dan pekerjaan aktivismenya, Stowe secara mendalam mencari penghiburan dan bimbingan spiritual.
* **"Still, Still With Thee"**: Puisi "Still, Still With Thee" ditulis oleh Harriet Beecher Stowe pada tahun **1855**, beberapa tahun setelah kesuksesan *Uncle Tom's Cabin*. Puisi ini adalah ekspresi pribadinya tentang iman yang tak tergoyahkan dan pencarian akan kehadiran Tuhan yang konstan dalam setiap aspek kehidupan.
* Liriknya menggambarkan keinginan untuk merasakan kehadiran ilahi "saat fajar menyingsing" hingga "malam tiba," "dalam sukacita" dan "dalam duka," "saat terjaga" dan "saat tertidur." Ini adalah doa dan pengakuan bahwa Tuhan adalah jangkar spiritual yang selalu hadir, sumber kekuatan, kedamaian, dan inspirasi. Puisi ini sangat personal, introspektif, dan penuh dengan kerinduan akan persekutuan yang intim dengan Sang Pencipta.
---
### Bagian 3: Bersatunya Melodi dan Lirik – Sebuah Pertemuan Tak Langsung
Meskipun Mendelssohn telah meninggal delapan tahun sebelum Stowe menulis puisinya, melodi "O Rest in the Lord" dari *Elijah* telah menjadi sangat populer dan dikenal luas di kalangan jemaat dan musisi. Praktik umum dalam himnologi (studi dan komposisi himne) adalah memasangkan lirik baru dengan melodi yang sudah ada, terutama jika melodi tersebut cocok dengan suasana dan pesan lirik.
Entah oleh siapa atau kapan tepatnya proses penyatuan ini terjadi pertama kali, namun para editor himne dan jemaat segera menyadari betapa sempurna melodi Mendelssohn dari "O Rest in the Lord" berpadu dengan lirik "Still, Still With Thee" karya Harriet Beecher Stowe.
* **Keselarasan Emosional**: Ketenangan, kedalaman, dan aura penghiburan dari melodi Mendelssohn sangat selaras dengan pesan Stowe tentang pencarian dan penemuan kehadiran Tuhan yang konstan di tengah-tengah kehidupan. Melodi yang menenangkan memberikan fondasi yang sempurna untuk kata-kata Stowe yang merenung dan penuh harapan.
* **Kecocokan Struktural**: Melodi Mendelssohn memiliki struktur frase yang mudah disesuaikan dengan bait-bait puisi Stowe, memungkinkan lirik mengalir secara alami di atas musik.
Hasilnya adalah sebuah himne yang sangat kuat dan mengharukan, yang dengan cepat mendapatkan popularitas di gereja-gereja Protestan di Amerika dan di seluruh dunia. Lagu ini menjadi pengingat yang indah akan kehadiran Tuhan yang tak pernah berakhir, memberikan penghiburan dan kekuatan kepada jutaan orang.
---
### Bagian 4: "Nikmat Benar" – Resonansi di Indonesia
Di Indonesia, lagu "Still, Still With Thee" diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Nikmat Benar" atau kadang "Nikmat Benar AnugrahMu." Lirik terjemahan ini dengan setia menangkap esensi dan kedalaman makna dari puisi asli Harriet Beecher Stowe, mengungkapkan rasa syukur dan pengakuan akan kehadiran Tuhan yang tak putus-putusnya.
* Lagu ini telah menjadi salah satu himne yang sangat dicintai dan sering dinyanyikan di berbagai gereja Protestan dan Katolik di Indonesia. Kekuatan melodinya yang menenangkan dari Mendelssohn, dipadukan dengan pesan liriknya yang universal tentang iman, kehadiran ilahi, dan penghiburan, membuatnya sangat relevan dan menyentuh hati jemaat di Indonesia.
* Pesan "Nikmat Benar" resonansi kuat dalam budaya yang menghargai spiritualitas dan ketenangan batin, menjadikannya bagian integral dari ibadah dan kehidupan rohani banyak orang.
---
### Kesimpulan
Kisah di balik "Still, Still With Thee" / "Nikmat Benar" adalah bukti bahwa seni sejati memiliki kekuatan untuk melampaui waktu dan ruang. Melodi yang diciptakan oleh seorang komponis Jerman abad ke-19 untuk sebuah oratorio epik, secara "serendipitous" menemukan pasangannya dalam puisi penuh iman yang ditulis oleh seorang penulis Amerika yang hidup di era berbeda, menghadapi perjuangan yang berbeda. Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah mahakarya spiritual yang terus menginspirasi, menghibur, dan mengingatkan kita akan kehadiran abadi yang tak terlihat, "Still, Still With Thee."
Mari kita telusuri kisahnya secara detail:
---
### Bagian 1: Sang Komponis dan Melodinya – Felix Mendelssohn-Bartholdy (1809-1847)
Felix Mendelssohn adalah salah satu komponis Romantik Jerman yang paling cemerlang dan dihormati di zamannya. Seorang anak ajaib dengan bakat luar biasa, ia dikenal karena keindahan melodi, keanggunan, dan kedalaman emosional dalam karyanya, yang meliputi simfoni, oratorio, musik kamar, dan karya-karya vokal.
Melodi yang menjadi dasar lagu "Still, Still With Thee" berasal dari salah satu mahakaryanya yang paling monumental: **Oratorio *Elijah*** (Op. 70), yang diselesaikan pada tahun 1846, hanya setahun sebelum kematian Mendelssohn yang mendadak.
* **Oratorio *Elijah***: Karya ini menceritakan kisah Nabi Elia dari Perjanjian Lama, dengan semua drama, mukjizat, dan emosi yang kuat. Karya ini segera menjadi sukses besar dan tetap menjadi salah satu oratorio yang paling sering ditampilkan hingga kini.
* **"O Rest in the Lord"**: Dalam Oratorio *Elijah*, terdapat sebuah aria mezzo-soprano yang sangat terkenal dan mengharukan berjudul "O Rest in the Lord" (Beristirahatlah dalam Tuhan). Aria ini muncul pada bagian kedua oratorio, di mana Elia sedang putus asa dan kelelahan, dan kemudian seorang malaikat menyanyikan lagu ini untuk memberinya penghiburan dan kekuatan. Melodi "O Rest in the Lord" dicirikan oleh kelembutan, ketenangan, dan rasa kedamaian yang mendalam. Tempo yang lambat, harmoni yang kaya, dan garis melodi yang mengalir menciptakan suasana kontemplatif dan menenangkan yang sempurna untuk menyampaikan pesan penghiburan ilahi.
Mendelssohn meninggal dunia pada tahun 1847 di usia yang sangat muda (38 tahun), meninggalkan warisan musik yang tak ternilai, termasuk melodi "O Rest in the Lord" yang memancarkan ketenangan dan harapan.
---
### Bagian 2: Sang Penulis dan Liriknya – Harriet Beecher Stowe (1811-1896)
Harriet Beecher Stowe adalah seorang penulis Amerika yang sangat berpengaruh, paling dikenal karena novel anti-perbudakannya yang revolusioner, ***Uncle Tom's Cabin*** (1852). Putri dari seorang pendeta Calvinis terkemuka, Lyman Beecher, dan saudara perempuan dari pendeta terkenal Henry Ward Beecher, Stowe dibesarkan dalam lingkungan yang sangat religius dan moralis. Iman Kristen adalah inti dari kehidupannya dan menjadi sumber kekuatan dan inspirasinya.
* **Latar Belakang Pribadi dan Spiritual**: Kehidupan Stowe tidak luput dari duka dan perjuangan. Ia mengalami kehilangan anak dan menyaksikan langsung penderitaan serta ketidakadilan sosial, terutama isu perbudakan yang merajalela di Amerika. Dalam menghadapi tantangan hidup dan pekerjaan aktivismenya, Stowe secara mendalam mencari penghiburan dan bimbingan spiritual.
* **"Still, Still With Thee"**: Puisi "Still, Still With Thee" ditulis oleh Harriet Beecher Stowe pada tahun **1855**, beberapa tahun setelah kesuksesan *Uncle Tom's Cabin*. Puisi ini adalah ekspresi pribadinya tentang iman yang tak tergoyahkan dan pencarian akan kehadiran Tuhan yang konstan dalam setiap aspek kehidupan.
* Liriknya menggambarkan keinginan untuk merasakan kehadiran ilahi "saat fajar menyingsing" hingga "malam tiba," "dalam sukacita" dan "dalam duka," "saat terjaga" dan "saat tertidur." Ini adalah doa dan pengakuan bahwa Tuhan adalah jangkar spiritual yang selalu hadir, sumber kekuatan, kedamaian, dan inspirasi. Puisi ini sangat personal, introspektif, dan penuh dengan kerinduan akan persekutuan yang intim dengan Sang Pencipta.
---
### Bagian 3: Bersatunya Melodi dan Lirik – Sebuah Pertemuan Tak Langsung
Meskipun Mendelssohn telah meninggal delapan tahun sebelum Stowe menulis puisinya, melodi "O Rest in the Lord" dari *Elijah* telah menjadi sangat populer dan dikenal luas di kalangan jemaat dan musisi. Praktik umum dalam himnologi (studi dan komposisi himne) adalah memasangkan lirik baru dengan melodi yang sudah ada, terutama jika melodi tersebut cocok dengan suasana dan pesan lirik.
Entah oleh siapa atau kapan tepatnya proses penyatuan ini terjadi pertama kali, namun para editor himne dan jemaat segera menyadari betapa sempurna melodi Mendelssohn dari "O Rest in the Lord" berpadu dengan lirik "Still, Still With Thee" karya Harriet Beecher Stowe.
* **Keselarasan Emosional**: Ketenangan, kedalaman, dan aura penghiburan dari melodi Mendelssohn sangat selaras dengan pesan Stowe tentang pencarian dan penemuan kehadiran Tuhan yang konstan di tengah-tengah kehidupan. Melodi yang menenangkan memberikan fondasi yang sempurna untuk kata-kata Stowe yang merenung dan penuh harapan.
* **Kecocokan Struktural**: Melodi Mendelssohn memiliki struktur frase yang mudah disesuaikan dengan bait-bait puisi Stowe, memungkinkan lirik mengalir secara alami di atas musik.
Hasilnya adalah sebuah himne yang sangat kuat dan mengharukan, yang dengan cepat mendapatkan popularitas di gereja-gereja Protestan di Amerika dan di seluruh dunia. Lagu ini menjadi pengingat yang indah akan kehadiran Tuhan yang tak pernah berakhir, memberikan penghiburan dan kekuatan kepada jutaan orang.
---
### Bagian 4: "Nikmat Benar" – Resonansi di Indonesia
Di Indonesia, lagu "Still, Still With Thee" diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Nikmat Benar" atau kadang "Nikmat Benar AnugrahMu." Lirik terjemahan ini dengan setia menangkap esensi dan kedalaman makna dari puisi asli Harriet Beecher Stowe, mengungkapkan rasa syukur dan pengakuan akan kehadiran Tuhan yang tak putus-putusnya.
* Lagu ini telah menjadi salah satu himne yang sangat dicintai dan sering dinyanyikan di berbagai gereja Protestan dan Katolik di Indonesia. Kekuatan melodinya yang menenangkan dari Mendelssohn, dipadukan dengan pesan liriknya yang universal tentang iman, kehadiran ilahi, dan penghiburan, membuatnya sangat relevan dan menyentuh hati jemaat di Indonesia.
* Pesan "Nikmat Benar" resonansi kuat dalam budaya yang menghargai spiritualitas dan ketenangan batin, menjadikannya bagian integral dari ibadah dan kehidupan rohani banyak orang.
---
### Kesimpulan
Kisah di balik "Still, Still With Thee" / "Nikmat Benar" adalah bukti bahwa seni sejati memiliki kekuatan untuk melampaui waktu dan ruang. Melodi yang diciptakan oleh seorang komponis Jerman abad ke-19 untuk sebuah oratorio epik, secara "serendipitous" menemukan pasangannya dalam puisi penuh iman yang ditulis oleh seorang penulis Amerika yang hidup di era berbeda, menghadapi perjuangan yang berbeda. Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah mahakarya spiritual yang terus menginspirasi, menghibur, dan mengingatkan kita akan kehadiran abadi yang tak terlihat, "Still, Still With Thee."
Cross Reference
KK 657
Nikmat Benar
KK