Informasi Lagu
91
Nomor
la = g
Nada Dasar
Kode
GB 91
Buku
Gita Bakti
Nada Dasar
la = g
Ketukan
2 ketuk ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
H. A. Pandopo (1977)
Pencipta Syair
H. A. Pandopo (1977)
Cross Ref.
KJ 307
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Ya Tuhan, pada saat dibaptiskan, kami terima tanda kasih-Mu; air bah pernah membawa kematian, tetapi s’lamat isi baht’ra Nuh.
Firaun yang melawan tujuan-Mu di laut merah sudah tenggelam, tapi umat-Mu dapat hidup baru dan bersyukur di pantai seberang.
Yunus pernah menyangkal panggilannya Kau tenggelamkan di gelora laut, namun firman-Mu mengembalikannya menjadi tanda hidup dari maut
Yesus juga rela dibaptiskan, di sungai Yordan nyata artinya: ketika itu Dia Kau tahbiskan untuk menghapus dosa dunia.
Ya Tuhan, pada saat dibaptiskan kami beroleh pengasihan-Mu: Kristus t’lah bangkit dari kematian; dalam-Nya Kau bangkitkan kami pun.
Partitur / Not
Partitur Chord GB 91
Sejarah Lagu
Lagu **"Ya Tuhan, Pada Saat Dibaptiskan"** (sering ditemukan dalam buku nyanyian gerejawi seperti *Kidung Jemaat* No. 317) adalah sebuah lagu yang memiliki makna teologis yang dalam mengenai penyerahan diri dan kesetiaan iman.

Untuk memahami kisah di baliknya, kita perlu melihat siapa sosok di balik lagu ini dan konteks penulisannya.

### 1. Sosok H.A. Pandopo
**H.A. Pandopo** (Harun Aris Pandopo) adalah seorang tokoh musik gerejawi yang sangat berpengaruh di Indonesia, khususnya dalam lingkungan Gereja Kristen Jawa (GKJ). Beliau dikenal tidak hanya sebagai seorang pendeta dan teolog, tetapi juga seorang komposer dan penggubah himne yang sangat mencintai budaya.

Beliau banyak terlibat dalam proses penyusunan dan penerjemahan lagu-lagu dalam *Kidung Jemaat* dan *Nyanyikanlah Kidung Baru*. Pandopo memiliki visi untuk membuat musik gerejawi yang tidak hanya "barat" (Eropa), tetapi juga memiliki jiwa yang dekat dengan spiritualitas umat Kristen di Indonesia.

### 2. Latar Belakang Penulisan
Lagu "Ya Tuhan, Pada Saat Dibaptiskan" sebenarnya merupakan bagian dari refleksi iman yang mendalam tentang **Baptisan**. Di banyak tradisi gereja, baptisan bukan sekadar ritual air, melainkan sebuah "janji setia" atau "ikatan perjanjian" antara manusia dan Tuhan.

Kisah di balik lagu ini berakar dari keinginan H.A. Pandopo untuk menyediakan sebuah lagu yang bisa dinyanyikan oleh umat pada saat:
* **Upacara Baptisan Kudus:** Sebagai pengingat bagi jemaat akan janji baptisan mereka sendiri.
* **Sidi (Peneguhan Iman):** Sebagai pengakuan iman seorang pemuda/pemudi di depan jemaat.
* **Renungan Pribadi:** Untuk meninjau kembali perjalanan iman seseorang setelah sekian lama dibaptis.

### 3. Makna Detail Lirik
Jika kita membedah liriknya, lagu ini menceritakan perjalanan spiritual seseorang:

* **"Ya Tuhan, pada saat dibaptiskan, kuingat janji yang kuucapkan"**: Ini adalah poin utama. Seringkali orang melupakan janji baptisnya setelah bertahun-tahun. Pandopo ingin membawa umat kembali ke momen "titik nol" iman mereka.
* **Pengakuan akan kelemahan**: Lagu ini mengakui bahwa sebagai manusia, kita sering jatuh dalam dosa. Namun, lagu ini berfungsi sebagai "jangkar" yang menarik kita kembali kepada kasih karunia Allah.
* **Komitmen untuk melayani**: Baptisan dalam pemahaman Pandopo bukanlah akhir, melainkan awal dari panggilan untuk hidup sebagai saksi Kristus di dunia.

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Dalam sejarah musik gerejawi di Indonesia, lagu-lagu karya H.A. Pandopo dianggap memiliki kedekatan rasa dengan jemaat. Beliau berhasil merangkai kata-kata yang **sederhana namun teologis**.

Lagu ini menjadi sangat populer karena:
1. **Melodinya yang tenang:** Membantu suasana ibadah menjadi lebih khusyuk.
2. **Lirik yang personal:** Karena menggunakan kata ganti "ku" (aku), lagu ini terasa sangat pribadi bagi setiap jemaat yang menyanyikannya.
3. **Pengingat Identitas:** Di tengah dunia yang berubah, lagu ini memberikan identitas kepada orang Kristen bahwa mereka adalah milik Kristus karena janji baptis yang telah mereka terima.

### Kesimpulan
Kisah di balik lagu "Ya Tuhan, Pada Saat Dibaptiskan" bukanlah kisah tentang peristiwa tragis atau mukjizat ajaib, melainkan kisah tentang **konsistensi iman**. H.A. Pandopo menciptakan lagu ini sebagai pengingat agar umat Kristen tidak "lupa daratan" terhadap janji setia mereka kepada Tuhan.

Setiap kali lagu ini dinyanyikan, ia berfungsi sebagai cermin rohani bagi jemaat untuk bertanya kepada diri sendiri: *"Apakah aku masih hidup sesuai dengan janji baptisku hari ini?"* Itulah warisan abadi yang ditinggalkan oleh H.A. Pandopo melalui karya ini.