Informasi Lagu
128
Nomor
Kode
KJ 128
Buku
Kidung Jemaat
Metronom
0
Cross Ref.
KK 201, NR 47, MK 89
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 2 bait
Sekarang, Tuhanku, biarlah hambaMu pergi dengan sejahtra menurut firmanMu; Kurnia slamatMu telah kulihat nyata.
Kurnia itulah TerangMu yang baka bagi segala bangsa; pun Israel TerangMu yang kekal menjadi kemuliaan.
Slide Lirik 2 slide
Slide 1 — KJ 128 1
Slide 2 — KJ 128 2
Partitur / Not
Partitur Chord KJ 128
Sejarah Lagu
Lagu "Sekarang, Tuhanku / Nunc Dimittis" adalah sebuah permata rohani yang kaya akan sejarah, makna teologis, dan perjalanan musikal melintasi zaman serta budaya. Untuk memahami kisahnya, kita perlu menelusuri tiga lapisan utama: asal-usul teks, asal-usul melodi, dan adaptasinya ke dalam konteks Indonesia.

---

### Bagian 1: Asal-Usul Teks – Kidung Nunc Dimittis dari Injil Lukas

Kisah lagu ini bermula dari Kitab Suci, tepatnya **Injil Lukas pasal 2 ayat 29-32**. Ini adalah teks doa yang diucapkan oleh seorang tua bernama **Simeon**.

1. **Latar Belakang Simeon:** Lukas menggambarkan Simeon sebagai seorang yang saleh dan benar, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus berdiam padanya, dan telah dinyatakan kepadanya bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Kristus Tuhan. Ini menunjukkan kehidupan Simeon yang penuh penantian, kesabaran, dan iman yang teguh pada janji Allah.
2. **Peristiwa di Bait Suci:** Ketika Yesus berusia delapan hari, Yusuf dan Maria membawa-Nya ke Bait Suci di Yerusalem untuk melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, yaitu penyerahan anak sulung kepada Tuhan. Pada saat itulah, Simeon, yang didorong oleh Roh Kudus, masuk ke Bait Suci.
3. **Pertemuan dengan Mesias:** Simeon mengambil Anak Yesus dalam pelukannya. Momen ini adalah puncak dari penantian seumur hidupnya. Dalam dekapan Simeon, terwujudlah janji ilahi.
4. **Doa "Nunc Dimittis":** Sambil memeluk bayi Yesus, Simeon menaikkan doa yang kini dikenal sebagai "Kidung Simeon" atau dalam bahasa Latin, "Nunc Dimittis" (yang berarti "Sekarang Engkau membiarkan..."). Doa ini adalah ekspresi sukacita, kepenuhan, dan kedamaian hati karena telah melihat keselamatan Tuhan:

> *"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan Engkau kepada bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."* (Lukas 2:29-32)

5. **Makna Teologis:**
* **Kedamaian Sejati:** Simeon tidak lagi takut mati karena tujuan hidupnya telah tercapai. Ia telah melihat keselamatan yang dijanjikan.
* **Keselamatan Universal:** Doanya bukan hanya untuk Israel, melainkan juga "terang yang menyatakan Engkau kepada bangsa-bangsa lain." Ini adalah nubuat tentang Injil yang akan menjangkau seluruh dunia.
* **Pengharapan dan Ketaatan:** Kisah Simeon menjadi teladan tentang kesabaran dalam menantikan janji Allah dan ketaatan pada pimpinan Roh Kudus.

Sejak saat itu, teks "Nunc Dimittis" telah menjadi bagian integral dari liturgi Gereja Kristen di seluruh dunia, khususnya dalam ibadah Vespers (doa sore) atau Compline (doa malam) sebagai pengakuan akan kedamaian dan penyerahan diri kepada Tuhan di akhir hari atau akhir hidup.

---

### Bagian 2: Asal-Usul Melodi – Loys Bourgeois dan Kidung Jemaat Jenewa (Genevan Psalter)

Melodi yang kita kenal untuk lagu "Sekarang, Tuhanku" memiliki akar yang kuat dalam sejarah Reformasi Protestan pada abad ke-16.

1. **Zaman Reformasi dan John Calvin:** Pada masa Reformasi, salah satu tujuan utama adalah mengembalikan partisipasi jemaat dalam ibadah. Reformator seperti Yohanes Calvin di Jenewa, Swiss, sangat menekankan pentingnya nyanyian jemaat sebagai bagian dari liturgi. Calvin percaya bahwa nyanyian haruslah sederhana, agung, dan fokus pada teks Kitab Suci agar mudah dinyanyikan dan dipahami oleh seluruh jemaat.
2. **Proyek Kidung Jemaat Jenewa (Genevan Psalter):** Di bawah arahan Calvin, sebuah proyek besar dimulai untuk menciptakan kumpulan nyanyian Mazmur (Psalter) dalam bahasa Prancis yang dapat dinyanyikan oleh jemaat. Ini adalah upaya untuk menyajikan teks-teks Mazmur secara metris (dengan irama dan pola suku kata tertentu) agar bisa dipadukan dengan melodi.
3. **Peran Loys Bourgeois:** Salah satu komposer dan aranjer utama yang terlibat dalam proyek Kidung Jemaat Jenewa adalah **Loys Bourgeois (sekitar 1510–1560)**. Bourgeois adalah seorang musisi dan komposer Prancis yang dikenal karena kemampuannya menciptakan melodi yang kuat, berwibawa, namun tetap sederhana dan mudah dihafal. Melodi-melodi yang ia ciptakan untuk Genevan Psalter sangat khas:
* **Unison:** Dinyanyikan bersama-sama dalam satu suara.
* **Modal:** Menggunakan tangga nada modal kuno, bukan sistem mayor/minor yang umum saat ini, memberikan kesan kuno dan agung.
* **Irama yang Jelas:** Memiliki ritme yang tegas dan memungkinkan teks Mazmur diungkapkan dengan jelas.
* **Dignitas:** Memancarkan kemuliaan dan kekudusan.

4. **Melodi Khusus untuk "Nunc Dimittis":** Melodi yang digunakan untuk "Sekarang, Tuhanku" sering dikaitkan dengan Bourgeois atau tradisi Genevan Psalter. Meskipun mungkin tidak secara eksplisit diciptakan *khusus* untuk teks Nunc Dimittis pada awalnya (melainkan untuk Mazmur tertentu seperti Mazmur 42 atau Mazmur 134 dalam edisi Genevan), karakteristik musikalnya yang agung dan menenangkan sangat cocok untuk mengungkapkan kedamaian dan kepuasan yang terkandung dalam doa Simeon. Melodi ini telah menjadi salah satu melodi paling ikonik dan abadi dari Genevan Psalter, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia Protestan.

---

### Bagian 3: Adaptasi ke Indonesia – Yamuger dan Kidung Jemaat

Perjalanan lagu ini ke Indonesia terjadi pada abad ke-20, melalui upaya Yayasan Musik Gerejawi (Yamuger).

1. **Kebutuhan Himne Lokal:** Gereja-gereja di Indonesia, yang tumbuh pesat setelah misi dan zending, membutuhkan kumpulan nyanyian yang relevan, mudah dipahami, dan dapat dinyanyikan oleh jemaat Indonesia. Banyak himne awal adalah terjemahan langsung dari himne Barat dengan melodi aslinya.
2. **Peran Yamuger:** **Yayasan Musik Gerejawi (Yamuger)** didirikan pada tahun 1967 dengan tujuan utama mengembangkan musik gereja yang sesuai dengan konteks Indonesia. Salah satu proyek monumental Yamuger adalah penerbitan **"Kidung Jemaat"** pada tahun 1986, yang menjadi buku nyanyian gereja paling populer dan digunakan secara luas di berbagai denominasi Protestan di Indonesia.
3. **Proses Adaptasi "Sekarang, Tuhanku":**
* Para penyusun Kidung Jemaat di bawah Yamuger mencari teks-teks Alkitab yang penting dan himne-himne klasik dari tradisi Kristen Barat yang memiliki makna mendalam.
* Teks Nunc Dimittis dari Lukas 2:29-32 adalah pilihan yang sangat jelas karena kekayaan teologisnya.
* Melodi dari tradisi Genevan Psalter (yang diidentifikasi sebagai karya Loys Bourgeois atau gaya Bourgeois) dipilih karena karakternya yang agung, sederhana, dan mudah dinyanyikan, serta telah teruji lintas zaman.
* Proses terjemahan dan adaptasi metris dilakukan: Teks Lukas 2:29-32 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan cermat, memastikan bahwa terjemahan tersebut tidak hanya akurat secara teologis tetapi juga cocok secara metris dengan melodi Bourgeois. Ini adalah pekerjaan yang menuntut keahlian teologis dan musikal untuk memastikan bahwa suku kata dan tekanan kata dalam bahasa Indonesia selaras dengan ritme melodi aslinya.
* Lagu ini kemudian diberi nomor **Kidung Jemaat 443** dengan judul "Sekarang, Tuhanku".

4. **Dampak di Indonesia:**
* Sejak diterbitkan dalam Kidung Jemaat, lagu "Sekarang, Tuhanku" telah menjadi salah satu nyanyian yang paling dicintai dan sering digunakan dalam ibadah di Indonesia.
* Ia sering dinyanyikan dalam ibadah minggu, ibadah malam, atau dalam upacara pemakaman sebagai penghiburan dan penegasan iman akan kedamaian di dalam Kristus.
* Lagu ini berhasil menjembatani tradisi Alkitabiah kuno, warisan musik Reformasi Eropa, dan konteks gereja modern di Indonesia, menjadikannya sebuah contoh cemerlang dari universalitas iman Kristen.

---

### Kesimpulan

"Sekarang, Tuhanku / Nunc Dimittis" adalah sebuah lagu yang bukan hanya melodi dan lirik, melainkan sebuah **kisah perjalanan iman** yang melintasi ribuan tahun. Dari penantian saleh Simeon di Bait Suci Yerusalem, melalui kecemerlangan musikal Loys Bourgeois di Jenewa abad ke-16, hingga ke buku Kidung Jemaat di gereja-gereja Indonesia hari ini, lagu ini terus menyuarakan pesan universal tentang kedamaian yang datang dari melihat keselamatan Allah. Ini adalah lagu yang merangkum akhir dari sebuah perjalanan dan awal dari kedamaian abadi, sebuah warisan spiritual yang tak ternilai harganya.