KJ
Makin Dekat, Tuhan
Nearer. My God, to Thee
Informasi Lagu
401
Nomor
Kode
KJ 401
Buku
Kidung Jemaat
Metronom
0
Jumlah Bait
4 bait
Cross Ref.
KK 526
Syair / Lirik
4 bait
Makin dekat, Tuhan, kepadaMu;
walaupun saliblah mengangkatku,
inilah laguku: Dekat kepadaMu;
Makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
Berbantal batu pun ku mau rebah,
bagai musafir yang lunglai, lelah,
asal di mimpiku dekat kepadaMu;
makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
Buatlah tanganMu tampak jelas,
dan para malakMu yang bergegas
mengimbau diriku dekat kepadaMu;
makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
Batu deritaku kan kubentuk,
menjadi Betelku, kokoh teguh,
Jiwaku berseru, dekat kepadaMu;
makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Nearer, My God, to Thee"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Hidup Lebih Dekat Pada-Mu"*) adalah salah satu lagu rohani paling ikonik dan mengharukan dalam sejarah musik. Kisah di baliknya melibatkan dua tokoh utama dan sebuah tragedi yang membuatnya menjadi legenda dunia.
Berikut adalah detail kisah dibalik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Sarah Flower Adams (1841)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Sarah Flower Adams**, seorang wanita Inggris yang lahir pada tahun 1805. Sarah adalah seorang penyair dan anggota jemaat Unitarian.
Pada tahun 1841, pendeta di gerejanya, William Johnson Fox, memintanya untuk menulis sebuah lagu yang didasarkan pada kisah **Kejadian 28:10-22**, yaitu kisah tentang mimpi Yakub di Betel. Dalam mimpi itu, Yakub melihat tangga yang mencapai surga dengan malaikat yang naik-turun. Meskipun Yakub sedang dalam pelarian dan harus tidur di atas tanah berbatu dengan kepala bertumpu pada batu, ia merasa sangat dekat dengan Tuhan.
Sarah menulis lagu ini sebagai ungkapan bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, bahkan saat seseorang harus "berbaring di atas batu," jiwa tetap bisa mendekat kepada Tuhan. Tragisnya, Sarah sendiri adalah seorang yang sering sakit-sakitan dan meninggal pada usia 43 tahun karena tuberkulosis, tidak lama setelah ia menulis lirik yang kini dinyanyikan di seluruh dunia.
### 2. Komposer: Lowell Mason (1856)
Lirik Sarah Adams kemudian dipadukan dengan melodi yang paling terkenal saat ini, yaitu melodi bernama **"Bethany"**, yang disusun oleh **Lowell Mason** pada tahun 1856. Mason adalah tokoh besar dalam musik gerejawi Amerika dan orang yang mempopulerkan pendidikan musik di sekolah-sekolah umum. Melodi ciptaannya memberikan nuansa yang tenang, kontemplatif, dan megah, yang sangat pas dengan pesan spiritual liriknya.
### 3. Tragedi Titanic: Momen yang Mengabadikan Lagu Ini
Kisah lagu ini mencapai puncak dramatisnya pada **15 April 1912**, saat tenggelamnya kapal **RMS Titanic**.
Menurut kesaksian para penyintas, ketika kapal tersebut mulai tenggelam dan situasi menjadi kacau, pemimpin band kapal, **Wallace Hartley**, memutuskan untuk memainkan musik guna menjaga ketenangan para penumpang.
Laporan saksi mata yang selamat menyatakan bahwa band tersebut memainkan lagu "Nearer, My God, to Thee" di dek kapal saat kapal perlahan-lahan menghilang ke bawah permukaan air Atlantik. Meskipun ada perdebatan sejarah mengenai apakah lagu itu benar-benar dimainkan sebagai lagu terakhir, namun citra band yang terus bermain hingga saat-saat terakhir telah melekat dalam budaya populer dan sejarah dunia.
Wallace Hartley sendiri tewas dalam bencana tersebut. Ia kemudian ditemukan di laut dengan kotak biola terikat di tubuhnya. Sejak saat itu, lagu ini dikenal sebagai "lagu kematian Titanic" dan menjadi simbol keberanian serta penghiburan di tengah tragedi yang mengerikan.
### Makna Spiritual
Terlepas dari asosiasinya dengan Titanic, lagu ini tetap menjadi favorit karena pesan intinya:
* **Ketabahan:** Bahwa penderitaan (salib) bukanlah penghalang, melainkan justru sarana untuk membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan.
* **Harapan:** Meskipun hidup terasa sunyi, gelap, atau sulit, iman dapat mengubah "batu" tempat kita bersandar menjadi tangga menuju surga.
### Lirik dalam Bahasa Indonesia (Terjemahan Umum):
*Hidup lebih dekat pada-Mu, ya Tuhan,*
*Walau saliblah yang mengangkatku,*
*Nyanyianku tetap, ‘Ku mendekat ke-Mu,*
*Hidup lebih dekat, pada-Mu, Tuhan.*
Kisah ini mengingatkan kita bahwa sebuah karya seni dapat memiliki kehidupan sendiri yang melampaui niat awal penulisnya, menjadi penghibur bagi jutaan orang di saat-saat mereka yang paling gelap.
Berikut adalah detail kisah dibalik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Sarah Flower Adams (1841)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Sarah Flower Adams**, seorang wanita Inggris yang lahir pada tahun 1805. Sarah adalah seorang penyair dan anggota jemaat Unitarian.
Pada tahun 1841, pendeta di gerejanya, William Johnson Fox, memintanya untuk menulis sebuah lagu yang didasarkan pada kisah **Kejadian 28:10-22**, yaitu kisah tentang mimpi Yakub di Betel. Dalam mimpi itu, Yakub melihat tangga yang mencapai surga dengan malaikat yang naik-turun. Meskipun Yakub sedang dalam pelarian dan harus tidur di atas tanah berbatu dengan kepala bertumpu pada batu, ia merasa sangat dekat dengan Tuhan.
Sarah menulis lagu ini sebagai ungkapan bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, bahkan saat seseorang harus "berbaring di atas batu," jiwa tetap bisa mendekat kepada Tuhan. Tragisnya, Sarah sendiri adalah seorang yang sering sakit-sakitan dan meninggal pada usia 43 tahun karena tuberkulosis, tidak lama setelah ia menulis lirik yang kini dinyanyikan di seluruh dunia.
### 2. Komposer: Lowell Mason (1856)
Lirik Sarah Adams kemudian dipadukan dengan melodi yang paling terkenal saat ini, yaitu melodi bernama **"Bethany"**, yang disusun oleh **Lowell Mason** pada tahun 1856. Mason adalah tokoh besar dalam musik gerejawi Amerika dan orang yang mempopulerkan pendidikan musik di sekolah-sekolah umum. Melodi ciptaannya memberikan nuansa yang tenang, kontemplatif, dan megah, yang sangat pas dengan pesan spiritual liriknya.
### 3. Tragedi Titanic: Momen yang Mengabadikan Lagu Ini
Kisah lagu ini mencapai puncak dramatisnya pada **15 April 1912**, saat tenggelamnya kapal **RMS Titanic**.
Menurut kesaksian para penyintas, ketika kapal tersebut mulai tenggelam dan situasi menjadi kacau, pemimpin band kapal, **Wallace Hartley**, memutuskan untuk memainkan musik guna menjaga ketenangan para penumpang.
Laporan saksi mata yang selamat menyatakan bahwa band tersebut memainkan lagu "Nearer, My God, to Thee" di dek kapal saat kapal perlahan-lahan menghilang ke bawah permukaan air Atlantik. Meskipun ada perdebatan sejarah mengenai apakah lagu itu benar-benar dimainkan sebagai lagu terakhir, namun citra band yang terus bermain hingga saat-saat terakhir telah melekat dalam budaya populer dan sejarah dunia.
Wallace Hartley sendiri tewas dalam bencana tersebut. Ia kemudian ditemukan di laut dengan kotak biola terikat di tubuhnya. Sejak saat itu, lagu ini dikenal sebagai "lagu kematian Titanic" dan menjadi simbol keberanian serta penghiburan di tengah tragedi yang mengerikan.
### Makna Spiritual
Terlepas dari asosiasinya dengan Titanic, lagu ini tetap menjadi favorit karena pesan intinya:
* **Ketabahan:** Bahwa penderitaan (salib) bukanlah penghalang, melainkan justru sarana untuk membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan.
* **Harapan:** Meskipun hidup terasa sunyi, gelap, atau sulit, iman dapat mengubah "batu" tempat kita bersandar menjadi tangga menuju surga.
### Lirik dalam Bahasa Indonesia (Terjemahan Umum):
*Hidup lebih dekat pada-Mu, ya Tuhan,*
*Walau saliblah yang mengangkatku,*
*Nyanyianku tetap, ‘Ku mendekat ke-Mu,*
*Hidup lebih dekat, pada-Mu, Tuhan.*
Kisah ini mengingatkan kita bahwa sebuah karya seni dapat memiliki kehidupan sendiri yang melampaui niat awal penulisnya, menjadi penghibur bagi jutaan orang di saat-saat mereka yang paling gelap.