Informasi Lagu
427
Nomor
Do=As
Nada Dasar
Kode
KJ 427
Buku
Kidung Jemaat
Nada Dasar
Do=As
Metronom
92
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
William Gustavus Fischer (1869)
Pencipta Syair
Arabella Catherine Hankey (1866)
Penerjemah
Yamuger (1981)
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Ku suka menuturkan cerita mulia, cerita Tuhan Yesus dan cinta kasihNya. Ku suka menuturkan cerita yang benar, penawar hati rindu, pelipur terbesar. Ku suka menuturkan, ku suka memasyurkan cerita Tuhan Yesus dan cinta kasihNya.
Ku suka menuturkan cerita mulia yang sungguh melebihi impian dunia. Ku suka menuturkan semua padamu, sebab cerita itu membawa slamatku. Ku suka menuturkan, ku suka memasyurkan cerita Tuhan Yesus dan cinta kasihNya.
Ku suka menuturkan cerita mulia; setiap kuulangi bertambah manisnya. Ku suka menuturkan sabdaNya yang besar; dan yang belum percaya, supaya mendengar. Ku suka menuturkan, ku suka memasyurkan cerita Tuhan Yesus dan cinta kasihNya.
Ku suka menuturkan cerita mulia; pun bagi yang percaya tak hilang indahnya. Dan nanti kunyanyikan di sorga yang kekal cerita termulia yang lama kukenal. Ku suka menuturkan, ku suka memasyurkan cerita Tuhan Yesus dan cinta kasihNya.
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KJ 427 1
Slide 2 — KJ 427 2
Slide 3 — KJ 427 3
Slide 4 — KJ 427 4
Slide 5 — KJ 427 5
Partitur / Not
Partitur Chord KJ 427
Sejarah Lagu
Mari kita selami kisah di balik lagu rohani yang begitu dicintai, "Ku Suka Menuturkan" atau "I Love to Tell the Story," dan dua tokoh penting di baliknya: **Arabella Catherine Hankey** (penulis lirik) dan **William Gustavus Fischer** (komposer melodi).

Lagu ini adalah salah satu contoh paling indah tentang bagaimana karya seni spiritual dapat melintasi benua dan generasi, menyatukan hati melalui pesan iman yang sederhana namun mendalam.

---

### **Bagian 1: Kisah di Balik Lirik - Arabella Catherine Hankey (Inggris, 1866)**

**Latar Belakang Hankey:**
Arabella Catherine Hankey lahir pada tahun 1834 di Clapham, London, Inggris, dalam sebuah keluarga yang kaya raya dan sangat religius. Ayahnya, Thomas Hankey, adalah seorang bankir yang saleh dan seorang aktivis anti-perbudakan. Keluarganya sangat aktif dalam gerakan penginjilan dan sosial, termasuk mendukung sekolah-sekolah untuk anak-anak miskin (disebut "Ragged Schools"). Sejak kecil, Arabella dibesarkan dalam suasana iman yang kuat dan didorong untuk melayani sesama. Ia dikenal memiliki hati yang lembut, penuh kasih, dan semangat pelayanan yang tinggi.

**Masa Sakit dan Ilham:**
Ketika Arabella berusia sekitar 30 tahun, ia terserang penyakit yang parah dan berkepanjangan, kemungkinan cedera tulang belakang, yang membuatnya terbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Masa-masa sakit dan isolasi ini, meskipun sulit, justru menjadi periode perenungan spiritual yang mendalam baginya. Ia menggunakan waktu luangnya untuk membaca Alkitab, berdoa, dan merenungkan kisah-kisah Yesus Kristus serta pesan keselamatan.

**Kelahiran Puisi "The Story Told":**
Dari perenungan dan pengalamannya inilah lahir sebuah puisi panjang yang berjudul "The Story Told, a Series of Eight Poems." Puisi ini dibagi menjadi dua bagian, dengan bagian pertama ditulis pada Januari 1866 dan bagian kedua pada November 1866. Bagian pertama berkisah tentang kehidupan Yesus, dan bagian kedua merefleksikan tentang bagaimana ia sendiri *ingin* menceritakan kisah itu kepada orang lain.

Lirik yang kita kenal sebagai lagu "Ku Suka Menuturkan" diambil dari **bagian kedua** puisi tersebut. Arabella merasa ada dorongan kuat untuk berbagi "cerita lama yang indah" tentang Yesus, bahkan ketika ia sendiri tidak bisa secara aktif pergi dan bersaksi karena keterbatasannya. Ia menulis:

*I love to tell the story of unseen things above,*
*Of Jesus and His glory, of Jesus and His love.*
*I love to tell the story, because I know it's true;*
*It satisfies my longing as nothing else can do.*

*I love to tell the story, 'twill be my theme in glory,*
*To tell the old, old story of Jesus and His love.*

Melalui liriknya, Arabella Hankey mengungkapkan kerinduan yang tulus untuk membagikan Injil—bukan hanya karena itu adalah kebenaran, tetapi juga karena itu membawa sukacita dan kepuasan pribadi yang tiada tara. Ia ingin menceritakan kisah itu lagi dan lagi, karena ia tahu betapa banyak orang yang belum mendengarnya, dan betapa berharganya kisah itu bagi jiwanya sendiri.

Puisi ini kemudian diterbitkan dan mulai dikenal di kalangan gereja-gereja di Inggris dan Amerika.

### **Bagian 2: Kisah di Balik Melodi - William Gustavus Fischer (Amerika Serikat, 1869)**

**Latar Belakang Fischer:**
William Gustavus Fischer lahir pada tahun 1835 di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat. Ia adalah seorang musisi, guru musik, komposer, dan penerbit musik yang sangat dihormati. Fischer terkenal karena kemampuannya dalam menciptakan melodi-melodi yang sederhana, mudah diingat, dan cocok untuk dinyanyikan oleh jemaat dalam ibadah atau pertemuan kebangunan rohani. Ia juga seorang organis dan pemimpin paduan suara.

Pada tahun 1860-an, ia adalah seorang profesor musik di Girard College, sebuah sekolah untuk anak yatim piatu di Philadelphia, Pennsylvania. Ia juga merupakan mitra dalam perusahaan penerbitan musik "Fischer & Bro."

**Menemukan Lirik Hankey:**
Pada sekitar tahun 1869, sebuah salinan puisi Arabella Catherine Hankey, "The Story Told," sampai ke tangan William Gustavus Fischer di Amerika. Mungkin ia menemukannya dalam publikasi rohani atau diperkenalkan oleh seorang rekan. Fischer segera terpikat oleh keindahan, kesederhanaan, dan kekuatan pesan dalam lirik Hankey. Ia melihat potensi besar untuk sebuah lagu rohani yang dapat menginspirasi banyak orang.

**Menggubah Melodi:**
Terinspirasi oleh kedalaman emosi dan kebenaran spiritual dalam puisi Hankey, Fischer mulai menggubah sebuah melodi. Ia menciptakan sebuah lagu yang mudah dinyanyikan, dengan ritme yang stabil dan melodi yang menarik, sangat cocok untuk dinyanyikan bersama. Melodi yang ia ciptakan sangat pas dengan liriknya, memberikan nuansa sukacita dan ketulusan yang sama seperti yang terkandung dalam kata-kata Hankey.

Pada tahun yang sama, 1869, Fischer menerbitkan lagu ini dalam buku himne yang berjudul **"Joyful Songs"** (Lagu-Lagu Sukacita) di mana ia menyandingkan lirik Arabella Catherine Hankey dengan melodinya sendiri.

### **Bagian 3: Pertemuan Dua Jiwa dan Penyebaran Global**

Ironisnya, Arabella Catherine Hankey dan William Gustavus Fischer tidak pernah bertemu secara pribadi. Mereka adalah dua individu yang terpisah oleh Samudra Atlantik, dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda, namun dihubungkan oleh benang merah iman dan keinginan untuk mengagungkan Kristus. Hankey menyumbangkan kata-kata yang mendalam dari hatinya, dan Fischer memberikan suara melalui melodi yang indah.

**Resonansi dan Popularitas:**
Ketika "I Love to Tell the Story" pertama kali diterbitkan, lagu ini segera menjadi sangat populer. Pesannya yang sederhana namun kuat tentang berbagi Injil, digabungkan dengan melodi yang mudah diingat dan dinyanyikan, membuatnya cepat menyebar di pertemuan kebangunan rohani, gereja-gereja, dan rumah-rumah di seluruh Amerika dan Inggris.

Lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia, termasuk bahasa Indonesia sebagai "Ku Suka Menuturkan." Pesannya yang universal tentang pentingnya menceritakan kisah lama yang indah tentang Yesus Kristus—sebuah kisah yang "lama, namun selalu baru," dan "sederhana, namun begitu manis"—terus menyentuh hati jutaan orang.

**Warisan:**
"Ku Suka Menuturkan / I Love to Tell the Story" tetap menjadi salah satu himne yang paling dicintai dan sering dinyanyikan hingga hari ini. Lagu ini adalah kesaksian abadi dari dua individu yang, dari tempat dan pengalaman hidup mereka yang berbeda, bersatu dalam tujuan yang sama: untuk memuliakan nama Tuhan dan mendorong orang lain untuk berbagi kabar baik. Ini mengingatkan kita bahwa cerita tentang Yesus adalah harta yang harus selalu kita sampaikan, lagi dan lagi, kepada setiap generasi.