Informasi Lagu
239
Nomor
Do=D
Nada Dasar
Kode
KK 239
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
Do=D
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
88
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
Edward Miller (1790)
Pencipta Syair
Isaac Watts (1707)
Penerjemah
Isaac Samuels Kijne/Yamuger (1946)
Cross Ref.
KJ 169, NR 54
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Memandang salib Rajaku yang mati untuk dunia, kurasa hancur congkakku dan harta hilang harganya.
Tak boleh aku bermegah selain di dalam salibMu; kubuang nikmat dunia demi darahMu yang kudus.
Berpadu kasih dan sedih mengalir dari lukaMu; mahkota duri yang pedih menjadi keagunganMu.
Melihat darah lukaNya membalut tubuh Tuhanku, ku mati bagi dunia dan dunia mati bagiku.
Andaikan jagad milikku dan kuserahkan padaNya, tak cukup bagi Tuhanku diriku yang dimintaNya.
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KK 239 1
Slide 2 — KK 239 2
Slide 3 — KK 239 3
Slide 4 — KK 239 4
Slide 5 — KK 239 5
Partitur / Not
Partitur Chord KK 239
Sejarah Lagu
Lagu "Memandang Salib Rajaku" atau aslinya "When I Survey The Wondrous Cross" adalah salah satu himne Kristen yang paling agung dan abadi dalam bahasa Inggris, sering disebut sebagai mahakarya himne oleh para kritikus. Kisah di baliknya melibatkan dua tokoh penting dari dua era yang berbeda: Isaac Watts, penulis lirik yang revolusioner, dan Edward Miller, komposer nada terkenal yang kini paling sering diasosiasikan dengan lirik tersebut.

Mari kita telusuri kisahnya secara detail:

---

### Bagian 1: Isaac Watts dan Lirik yang Revolusioner (Awal Abad ke-18)

**Isaac Watts (1674–1748)** adalah seorang pendeta, teolog, dan penyair non-konformis Inggris (seorang Protestan yang tidak menganut Gereja Inggris). Ia dikenal luas sebagai "Bapak Himnologi Inggris" karena perannya yang transformatif dalam ibadah Protestan.

**Konteks Zaman:**
Pada masa Watts, praktik ibadah di banyak gereja Protestan (terutama di kalangan gereja Dissenting, seperti yang dianut Watts) didominasi oleh puji-pujian dalam bentuk Mazmur yang diubah menjadi syair. Mazmur-mazmur ini, meskipun suci, seringkali dianggap kaku, kurang relevan dengan pengalaman Kristen modern, dan tidak selalu fokus pada Kristus atau karya penebusan-Nya. Jemaat merasa sulit untuk terhubung secara emosional atau teologis dengan lirik-lirik yang terasa kuno dan impersonal.

**Kekecewaan Watts dan Dorongan Ibunya:**
Watts sendiri merasa frustrasi dengan kualitas musik gereja pada masanya. Ketika ia masih muda, ia pernah mengeluh kepada ayahnya bahwa lirik-lirik yang dinyanyikan di gereja mereka sangat buruk. Konon, ayahnya (atau ibunya) menantangnya untuk "menulis sesuatu yang lebih baik." Watts menerima tantangan itu.

**Inovasi Watts:**
Watts percaya bahwa ibadah harus merayakan iman Kristen secara lebih pribadi dan emosif. Ia berargumen bahwa gereja perlu menyanyikan "himne injili" yang didasarkan pada ajaran Perjanjian Baru, yang secara eksplisit memuliakan Yesus Kristus, dan yang dapat dihayati oleh pengalaman pribadi jemaat. Pendekatan ini sangat radikal pada zamannya.

**Lahirnya "When I Survey The Wondrous Cross":**
Himne "When I Survey The Wondrous Cross" pertama kali diterbitkan dalam koleksi Watts yang berpengaruh, **"Hymns and Spiritual Songs" pada tahun 1707 (atau edisi revisi 1709)**. Ini adalah salah satu dari 200 lebih himne yang ia tulis.

**Tujuan Awal:**
Watts menulis himne ini secara khusus untuk **perjamuan kudus (Lord's Supper atau Holy Communion)**, sebagai lagu refleksi dan pengabdian saat memperingati pengorbanan Kristus. Tema himne ini – merenungkan salib, menyangkal kebanggaan duniawi, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus – sangat cocok untuk momen sakral tersebut.

**Analisis Lirik:**
Lirik Watts adalah mahakarya teologi dan puisi.

1. **Stanza 1 (Memandang Salib Rajaku...):**
> "When I survey the wondrous cross, / On which the Prince of glory died, / My richest gain I count but loss, / And pour contempt on all my pride."
Ini segera menetapkan nada kontemplasi dan penyerahan diri. "Memandang" (survey) berarti merenungkan secara mendalam. Salib yang ajaib adalah tempat "Pangeran kemuliaan" meninggal. Dengan merenungkan itu, kekayaan atau keuntungan terbesar pribadi menjadi kerugian, dan kebanggaan diri menjadi tidak berarti.

2. **Stanza 2 (Jauhkan Daripadaku...):**
> "Forbid it, Lord, that I should boast, / Save in the death of Christ my God! / All the vain things that charm me most, / I sacrifice them to His blood."
Ini adalah penolakan tegas terhadap kebanggaan duniawi atau pencapaian diri. Satu-satunya hal untuk dibanggakan adalah kematian Kristus. Segala hal sia-sia yang memikat hati harus dikorbankan demi darah-Nya yang mahal.

3. **Stanza 3 (Tangan, Kaki, Kepala-Nya...):**
> "See, from His head, His hands, His feet, / Sorrow and love flow mingled down! / Did e'er such love and sorrow meet, / Or thorns compose so rich a crown?"
Watts melukiskan gambaran penderitaan fisik Yesus di kayu salib—darah yang mengalir dari kepala, tangan, dan kaki-Nya—namun ia menekankan bahwa itu bukan hanya penderitaan fisik. Itu adalah perpaduan "dukacita dan kasih" yang mengalir bersama. Pertanyaan retoris di akhir menyoroti kontras yang menyayat hati: mahkota duri yang memalukan justru menjadi mahkota yang mulia karena kasih-Nya.

4. **Stanza 4 (Seluruh Alam Milikku...):**
> "Were the whole realm of nature mine, / That were a present far too small; / Love so amazing, so divine, / Demands my soul, my life, my all."
Ini adalah puncak dari pengabdian. Bahkan jika seluruh alam semesta menjadi miliknya, itu tidak akan sebanding dengan kasih Kristus. Kasih yang "begitu menakjubkan, begitu ilahi" ini menuntut totalitas—jiwa, hidup, dan segalanya. Ini adalah panggilan untuk penyerahan diri yang tanpa syarat.

Karya Watts ini sangat berpengaruh dan membantu mengubah lanskap musik gereja, memungkinkan jemaat untuk mengungkapkan iman mereka dengan cara yang lebih pribadi dan berpusat pada Kristus.

---

### Bagian 2: Edward Miller dan Melodi Ikonik (Akhir Abad ke-18)

Meskipun Watts menulis liriknya pada awal abad ke-18, melodi yang paling terkenal dan diakui secara universal untuk "When I Survey The Wondrous Cross" baru muncul hampir satu abad kemudian.

**Edward Miller (1735–1807)** adalah seorang organis dan komposer Inggris. Ia dikenal sebagai komposer lagu himne dan memiliki pengaruh di zamannya.

**Lahirnya Melodi "ROCKINGHAM":**
Pada tahun 1790, Edward Miller menerbitkan kumpulan himne berjudul **"The Psalms of David for the Use of Parish Churches."** Di dalamnya terdapat sebuah melodi yang ia beri nama **"ROCKINGHAM"** (terkadang disebut "ROCKINGHAM OLD" atau "COMMUNION"). Nama ini mungkin berasal dari Marquess of Rockingham, seorang negarawan Inggris.

**Kecocokan yang Sempurna:**
Meskipun "ROCKINGHAM" tidak ditulis secara spesifik untuk lirik Watts, para editor himne dan jemaat segera menyadari bahwa melodi ini sangat cocok dengan kata-kata "When I Survey The Wondrous Cross."
* **Karakteristik Melodi:** "ROCKINGHAM" adalah melodi dalam kunci minor yang memiliki nuansa serius, agung, dan sedikit melankolis. Harmoni yang sederhana namun kuat memberikan rasa martabat dan kesungguhan.
* **Sinergi dengan Lirik:** Keseriusan melodi "ROCKINGHAM" secara sempurna mencerminkan kedalaman dan keseriusan teologis lirik Watts. Melodi ini tidak mengalihkan perhatian dari pesan, melainkan justru memperkuatnya, menciptakan suasana kontemplasi yang khidmat dan penyerahan diri.

Dengan kombinasi ini, "When I Survey The Wondrous Cross" dengan melodi "ROCKINGHAM" menjadi standar emas dalam himnologi. Meskipun ada melodi lain yang digunakan untuk lirik Watts ini (seperti "O Waly Waly," sebuah melodi rakyat Skotlandia), "ROCKINGHAM" adalah yang paling dikenal dan dicintai.

---

### Warisan dan Dampak Abadi

"When I Survey The Wondrous Cross" diakui secara luas sebagai salah satu himne terbesar dalam bahasa Inggris, jika bukan yang terbaik. Kekuatannya terletak pada:

1. **Kedalaman Teologis:** Ini adalah himne yang fokus pada makna penebusan Kristus di kayu salib, pengorbanan-Nya yang tak terhingga, dan tuntutan-Nya akan penyerahan total dari orang percaya.
2. **Keindahan Puitis:** Lirik Watts adalah contoh cemerlang dari puisi devotional, menggabungkan bahasa yang kuat dengan emosi yang mendalam.
3. **Panggilan Pribadi:** Himne ini tidak hanya menyampaikan doktrin, tetapi juga menantang pendengar untuk merespons secara pribadi dengan menyangkal diri, meninggalkan kebanggaan, dan menyerahkan hidup kepada Kristus.
4. **Kecocokan Melodi:** Melodi "ROCKINGHAM" memberikan kerangka musikal yang sempurna, memungkinkan liriknya bergema dengan kekuatan emosional yang maksimal.

Himne ini terus dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia, terutama selama masa Prapaskah, Pekan Suci, atau pada perjamuan kudus. Ini berfungsi sebagai pengingat abadi akan kasih Allah yang tak terbatas yang diwujudkan di kayu salib, dan panggilan bagi setiap orang percaya untuk merespons kasih itu dengan pengabdian total.