KK
Bila Sangkakala Menggegap
When The Trumpet Of The Lord Shall Sound
Informasi Lagu
309
Nomor
Kode
KK 309
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Style
6-8March
Pencipta Lagu
James Milton Black
Pencipta Syair
James Milton Black
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan)
Cross Ref.
KJ 278, KC 212
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Bila sangkakala menggegap dan zaman berhenti,
fajar baru yang abadi merekah;
bila nanti dibacakan nama orang tertebus,
pada saat itu aku pun serta.
Bila nama dibacakan, bila nama dibacakan,
bila nama dibacakan, pada saat itu aku pun serta.
Bila orang yang telah meninggal dalam Tuhannya
dibangkitkan pada pagi mulia
dan berkumpul dalam rumah yang lestari dan megah,
pada saat itu aku pun serta.
Dari pagi hingga malam, mari kita bekerja
mewartakan kasih Tuhan yang mesra.
Bila dunia berakhir dan tugasku selesai,
Nun di rumah Tuhan aku pun serta.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu rohani yang begitu mendalam, **"When the Trumpet of the Lord Shall Sound"** (sering dikenal di Indonesia dengan judul **"Bila Sangkakala Menggegap"** atau **"Bila Sangkakala Tuhan Berbunyi"**), adalah cerita yang menyentuh hati tentang empati, penyesalan, dan iman akan pengingat ilahi. Lagu ini ditulis oleh **James Milton Black** pada tahun 1893.
James Milton Black (1856-1938) adalah seorang musisi, komposer, editor, dan penerbit hymnal asal Amerika Serikat yang aktif di Gereja Methodist Episcopal. Ia dikenal karena kontribusinya yang signifikan dalam musik gereja, tidak hanya sebagai pencipta lagu tetapi juga sebagai kompilator dan editor banyak koleksi himne.
**Kisah di Balik Lagu Ini Bermula dari Sebuah Pertemuan yang Singkat:**
Pada tahun 1893, James Milton Black menjabat sebagai superintendent (pengawas) Sekolah Minggu di Gereja Methodist Episcopal Pertama di Williamsport, Pennsylvania. Salah satu tugasnya adalah menjaga catatan kehadiran dan memberikan nama kepada setiap anak yang hadir.
Suatu hari Minggu, seorang gadis kecil yang miskin dan berpakaian lusuh, tampak seperti anak jalanan (waif-like), datang ke kelas Sekolah Minggunya. Black, tersentuh oleh penampilan dan kondisinya, menyambutnya dengan hangat. Namun, ia tidak sempat menanyakan nama gadis itu pada saat itu. Gadis itu hanya duduk di antara anak-anak lain, mendengarkan pelajaran, dan kemudian pergi.
Minggu-minggu berikutnya, gadis itu tidak muncul lagi. Black, dengan rasa tanggung jawab sebagai pengawas, ingin mencatat namanya dalam daftar kehadirannya, tetapi ia menyadari bahwa ia tidak pernah menanyakan nama gadis itu. Ia mencoba mengingat wajah gadis itu, tetapi namanya tetap luput dari ingatannya.
Beberapa waktu kemudian, Black mendengar kabar duka. Gadis kecil yang sama, yang hanya sekali menghadiri kelas Sekolah Minggunya, telah meninggal dunia. Berita ini sangat menyentuh hati Black. Ia dilanda penyesalan dan rasa malu yang mendalam. Bagaimana mungkin ia, seorang pengawas yang seharusnya peduli pada setiap anak, bisa melupakan dan tidak sempat mengetahui nama seorang gadis kecil yang begitu membutuhkan perhatian? Ia merasa gagal dalam tugasnya dan merenungkan betapa mudahnya manusia melupakan dan mengabaikan mereka yang paling rentan.
**Momen Ilham dan Penciptaan Lagu:**
Dalam suasana hati yang penuh penyesalan dan perenungan itu, sebuah pertanyaan spiritual muncul di benaknya: "Apakah Tuhan juga melupakan anak-anak-Nya yang miskin dan tak dikenal?" Segera, jawaban ilahi datang ke dalam hatinya dengan keyakinan yang kuat: "Tidak! Tuhan tidak akan pernah melupakan siapa pun. Semua nama anak-anak-Nya tercatat dalam Kitab Kehidupan. Meskipun manusia bisa lupa, Tuhan akan selalu mengingat."
Dari perenungan inilah James Milton Black segera mengambil pena dan kertas. Inspirasi mengalir begitu deras sehingga ia tidak hanya menulis liriknya, tetapi juga melodi yang mengiringinya secara bersamaan. Lirik lagu ini mencerminkan keyakinan bahwa pada hari penghakiman, ketika sangkakala Tuhan berbunyi dan orang mati dibangkitkan, setiap nama akan diingat dan dipanggil oleh Tuhan sendiri. Ia ingin menegaskan bahwa di mata Tuhan, tidak ada yang terlalu kecil, terlalu miskin, atau terlalu tidak penting untuk diingat dan disayangi.
**Pesan Abadi Lagu:**
Lagu "When the Trumpet of the Lord Shall Sound" adalah sebuah himne yang kuat tentang pengharapan akan kebangkitan dan kepastian bahwa Tuhan mengingat setiap orang percaya. Baris-baris seperti:
* "When the trumpet of the Lord shall sound, and time shall be no more,"
* "And the morning breaks, eternal, bright and fair,"
* "When the saved of earth shall gather over on the other shore,"
* "And the roll is called up yonder, I’ll be there."
Mencerminkan kerinduan dan keyakinan akan hari di mana semua orang percaya akan berkumpul di hadapan Tuhan, dan "daftar nama" akan dipanggil, memastikan bahwa tidak ada yang terlupakan.
Kisah di balik lagu ini mengajarkan kita tentang pentingnya empati, perhatian terhadap sesama, dan penghiburan abadi bahwa di hadapan Tuhan, setiap individu memiliki nilai dan tidak akan pernah dilupakan, terlepas dari status sosial atau kondisi duniawi mereka. Ini adalah pengingat yang kuat bahwa meskipun manusia bisa lalai dan lupa, kasih dan ingatan Tuhan adalah kekal dan sempurna.
James Milton Black (1856-1938) adalah seorang musisi, komposer, editor, dan penerbit hymnal asal Amerika Serikat yang aktif di Gereja Methodist Episcopal. Ia dikenal karena kontribusinya yang signifikan dalam musik gereja, tidak hanya sebagai pencipta lagu tetapi juga sebagai kompilator dan editor banyak koleksi himne.
**Kisah di Balik Lagu Ini Bermula dari Sebuah Pertemuan yang Singkat:**
Pada tahun 1893, James Milton Black menjabat sebagai superintendent (pengawas) Sekolah Minggu di Gereja Methodist Episcopal Pertama di Williamsport, Pennsylvania. Salah satu tugasnya adalah menjaga catatan kehadiran dan memberikan nama kepada setiap anak yang hadir.
Suatu hari Minggu, seorang gadis kecil yang miskin dan berpakaian lusuh, tampak seperti anak jalanan (waif-like), datang ke kelas Sekolah Minggunya. Black, tersentuh oleh penampilan dan kondisinya, menyambutnya dengan hangat. Namun, ia tidak sempat menanyakan nama gadis itu pada saat itu. Gadis itu hanya duduk di antara anak-anak lain, mendengarkan pelajaran, dan kemudian pergi.
Minggu-minggu berikutnya, gadis itu tidak muncul lagi. Black, dengan rasa tanggung jawab sebagai pengawas, ingin mencatat namanya dalam daftar kehadirannya, tetapi ia menyadari bahwa ia tidak pernah menanyakan nama gadis itu. Ia mencoba mengingat wajah gadis itu, tetapi namanya tetap luput dari ingatannya.
Beberapa waktu kemudian, Black mendengar kabar duka. Gadis kecil yang sama, yang hanya sekali menghadiri kelas Sekolah Minggunya, telah meninggal dunia. Berita ini sangat menyentuh hati Black. Ia dilanda penyesalan dan rasa malu yang mendalam. Bagaimana mungkin ia, seorang pengawas yang seharusnya peduli pada setiap anak, bisa melupakan dan tidak sempat mengetahui nama seorang gadis kecil yang begitu membutuhkan perhatian? Ia merasa gagal dalam tugasnya dan merenungkan betapa mudahnya manusia melupakan dan mengabaikan mereka yang paling rentan.
**Momen Ilham dan Penciptaan Lagu:**
Dalam suasana hati yang penuh penyesalan dan perenungan itu, sebuah pertanyaan spiritual muncul di benaknya: "Apakah Tuhan juga melupakan anak-anak-Nya yang miskin dan tak dikenal?" Segera, jawaban ilahi datang ke dalam hatinya dengan keyakinan yang kuat: "Tidak! Tuhan tidak akan pernah melupakan siapa pun. Semua nama anak-anak-Nya tercatat dalam Kitab Kehidupan. Meskipun manusia bisa lupa, Tuhan akan selalu mengingat."
Dari perenungan inilah James Milton Black segera mengambil pena dan kertas. Inspirasi mengalir begitu deras sehingga ia tidak hanya menulis liriknya, tetapi juga melodi yang mengiringinya secara bersamaan. Lirik lagu ini mencerminkan keyakinan bahwa pada hari penghakiman, ketika sangkakala Tuhan berbunyi dan orang mati dibangkitkan, setiap nama akan diingat dan dipanggil oleh Tuhan sendiri. Ia ingin menegaskan bahwa di mata Tuhan, tidak ada yang terlalu kecil, terlalu miskin, atau terlalu tidak penting untuk diingat dan disayangi.
**Pesan Abadi Lagu:**
Lagu "When the Trumpet of the Lord Shall Sound" adalah sebuah himne yang kuat tentang pengharapan akan kebangkitan dan kepastian bahwa Tuhan mengingat setiap orang percaya. Baris-baris seperti:
* "When the trumpet of the Lord shall sound, and time shall be no more,"
* "And the morning breaks, eternal, bright and fair,"
* "When the saved of earth shall gather over on the other shore,"
* "And the roll is called up yonder, I’ll be there."
Mencerminkan kerinduan dan keyakinan akan hari di mana semua orang percaya akan berkumpul di hadapan Tuhan, dan "daftar nama" akan dipanggil, memastikan bahwa tidak ada yang terlupakan.
Kisah di balik lagu ini mengajarkan kita tentang pentingnya empati, perhatian terhadap sesama, dan penghiburan abadi bahwa di hadapan Tuhan, setiap individu memiliki nilai dan tidak akan pernah dilupakan, terlepas dari status sosial atau kondisi duniawi mereka. Ini adalah pengingat yang kuat bahwa meskipun manusia bisa lalai dan lupa, kasih dan ingatan Tuhan adalah kekal dan sempurna.