KK
Puji Syukur Bagi Tuhan
Lasst Uns Loben, Br?der
Informasi Lagu
391
Nomor
Kode
KK 391
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tim Puji Syukur
Pencipta Syair
Georg Thurmair
Penerjemah
Tim Puji Syukur
Cross Ref.
PS 594
Dengarkan di YouTube
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Puji Syukur Bagi Tuhan"** (atau dalam bahasa Jerman aslinya berjudul **"Lasst uns loben, Brüder, loben"**) adalah sebuah himne yang memiliki latar belakang sejarah yang menarik, khususnya terkait dengan konteks kebangkitan liturgi Katolik di Jerman pada abad ke-20.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan dan maknanya:
### 1. Sosok Penulis: Georg Thurmair
Lagu ini ditulis oleh **Georg Thurmair** (1909–1984), seorang penyair dan penulis lagu rohani Katolik asal Jerman yang sangat berpengaruh. Thurmair adalah tokoh kunci dalam gerakan pembaruan liturgi Katolik di Jerman sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II. Ia dikenal karena upayanya menulis lirik yang mudah dimengerti, teologis, namun tetap memiliki kedalaman spiritual yang menyentuh hati umat awam.
### 2. Konteks Penciptaan (Gerakan Liturgi)
Lagu ini muncul pada tahun **1940-an**, di tengah masa pergolakan Perang Dunia II. Saat itu, ada keinginan kuat dalam Gereja Katolik di Jerman untuk menghidupkan kembali nyanyian jemaat yang aktif.
Sebelum masa itu, dalam Misa Kudus (Misa Tridentina), umat seringkali hanya menjadi penonton yang pasif. Thurmair dan rekan-rekannya ingin mengubah hal tersebut. Mereka ingin menciptakan lagu-lagu yang mengajak umat untuk berpartisipasi penuh ("Aktuosa Participatio"). *Lasst uns loben* diciptakan untuk menjadi lagu pembuka atau lagu persembahan yang mampu menyatukan suara seluruh jemaat dalam pujian yang agung namun sederhana.
### 3. Makna Lirik: Persaudaraan dalam Kristus
Judul aslinya, *Lasst uns loben, Brüder, loben*, secara harfiah berarti *"Mari kita memuji, saudara-saudara, memuji"*.
* **Tema Persaudaraan:** Kata "Brüder" (saudara) merujuk pada kesadaran bahwa semua umat beriman adalah satu keluarga di hadapan Tuhan. Di tengah situasi dunia yang sedang pecah karena perang (tahun 1940-an), pesan tentang persaudaraan Kristen menjadi sangat relevan.
* **Pujian Kolektif:** Liriknya mengajak orang untuk meninggalkan ego pribadi dan bersatu dalam syukur. Fokus utamanya bukan pada perasaan individu, melainkan pada keagungan Tuhan yang layak dipuji oleh seluruh umat-Nya.
* **Teologi yang Kuat:** Meskipun bahasanya sederhana, liriknya mengandung ajakan untuk mengakui karya keselamatan Tuhan melalui Yesus Kristus.
### 4. Melodi dan Adaptasi
Melodi yang digunakan untuk lagu ini (dalam buku *Puji Syukur* nomor 394 di Indonesia) merupakan gubahan yang disesuaikan agar cocok dinyanyikan secara *antiphonal* atau bersama-sama dengan semangat yang kuat.
Di Indonesia, lagu ini dimasukkan ke dalam buku **Puji Syukur** (buku nyanyian resmi umat Katolik Indonesia) sebagai bagian dari upaya untuk menyediakan lagu-lagu liturgis yang memiliki dasar sejarah kuat dari tradisi Katolik universal, namun tetap terasa akrab bagi lidah dan telinga umat di Indonesia.
### 5. Warisan Lagu Ini
* **Simbol Persatuan:** Lagu ini sering dinyanyikan sebagai lagu pembuka Misa karena sifatnya yang "mengundang" dan "mengajak". Iramanya yang tegas membangkitkan semangat umat untuk memulai ibadah.
* **Semangat Vatikan II:** Meskipun ditulis sedikit sebelum Konsili Vatikan II secara resmi dimulai, lagu ini dianggap sebagai "embrio" dari lagu-lagu yang dianjurkan oleh Konsili, yakni lagu yang memuliakan Tuhan dengan bahasa yang jelas dan melibatkan partisipasi aktif seluruh umat.
**Kesimpulan:**
Lagu "Puji Syukur Bagi Tuhan" bukan sekadar lagu pujian biasa. Ia adalah buah dari visi seorang Georg Thurmair yang ingin mengembalikan martabat umat awam dalam liturgi. Lagu ini lahir dari kerinduan untuk melihat umat beriman tidak lagi duduk diam, melainkan bangkit berdiri bersama sebagai saudara untuk mempersembahkan syukur yang agung kepada Sang Pencipta.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan dan maknanya:
### 1. Sosok Penulis: Georg Thurmair
Lagu ini ditulis oleh **Georg Thurmair** (1909–1984), seorang penyair dan penulis lagu rohani Katolik asal Jerman yang sangat berpengaruh. Thurmair adalah tokoh kunci dalam gerakan pembaruan liturgi Katolik di Jerman sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II. Ia dikenal karena upayanya menulis lirik yang mudah dimengerti, teologis, namun tetap memiliki kedalaman spiritual yang menyentuh hati umat awam.
### 2. Konteks Penciptaan (Gerakan Liturgi)
Lagu ini muncul pada tahun **1940-an**, di tengah masa pergolakan Perang Dunia II. Saat itu, ada keinginan kuat dalam Gereja Katolik di Jerman untuk menghidupkan kembali nyanyian jemaat yang aktif.
Sebelum masa itu, dalam Misa Kudus (Misa Tridentina), umat seringkali hanya menjadi penonton yang pasif. Thurmair dan rekan-rekannya ingin mengubah hal tersebut. Mereka ingin menciptakan lagu-lagu yang mengajak umat untuk berpartisipasi penuh ("Aktuosa Participatio"). *Lasst uns loben* diciptakan untuk menjadi lagu pembuka atau lagu persembahan yang mampu menyatukan suara seluruh jemaat dalam pujian yang agung namun sederhana.
### 3. Makna Lirik: Persaudaraan dalam Kristus
Judul aslinya, *Lasst uns loben, Brüder, loben*, secara harfiah berarti *"Mari kita memuji, saudara-saudara, memuji"*.
* **Tema Persaudaraan:** Kata "Brüder" (saudara) merujuk pada kesadaran bahwa semua umat beriman adalah satu keluarga di hadapan Tuhan. Di tengah situasi dunia yang sedang pecah karena perang (tahun 1940-an), pesan tentang persaudaraan Kristen menjadi sangat relevan.
* **Pujian Kolektif:** Liriknya mengajak orang untuk meninggalkan ego pribadi dan bersatu dalam syukur. Fokus utamanya bukan pada perasaan individu, melainkan pada keagungan Tuhan yang layak dipuji oleh seluruh umat-Nya.
* **Teologi yang Kuat:** Meskipun bahasanya sederhana, liriknya mengandung ajakan untuk mengakui karya keselamatan Tuhan melalui Yesus Kristus.
### 4. Melodi dan Adaptasi
Melodi yang digunakan untuk lagu ini (dalam buku *Puji Syukur* nomor 394 di Indonesia) merupakan gubahan yang disesuaikan agar cocok dinyanyikan secara *antiphonal* atau bersama-sama dengan semangat yang kuat.
Di Indonesia, lagu ini dimasukkan ke dalam buku **Puji Syukur** (buku nyanyian resmi umat Katolik Indonesia) sebagai bagian dari upaya untuk menyediakan lagu-lagu liturgis yang memiliki dasar sejarah kuat dari tradisi Katolik universal, namun tetap terasa akrab bagi lidah dan telinga umat di Indonesia.
### 5. Warisan Lagu Ini
* **Simbol Persatuan:** Lagu ini sering dinyanyikan sebagai lagu pembuka Misa karena sifatnya yang "mengundang" dan "mengajak". Iramanya yang tegas membangkitkan semangat umat untuk memulai ibadah.
* **Semangat Vatikan II:** Meskipun ditulis sedikit sebelum Konsili Vatikan II secara resmi dimulai, lagu ini dianggap sebagai "embrio" dari lagu-lagu yang dianjurkan oleh Konsili, yakni lagu yang memuliakan Tuhan dengan bahasa yang jelas dan melibatkan partisipasi aktif seluruh umat.
**Kesimpulan:**
Lagu "Puji Syukur Bagi Tuhan" bukan sekadar lagu pujian biasa. Ia adalah buah dari visi seorang Georg Thurmair yang ingin mengembalikan martabat umat awam dalam liturgi. Lagu ini lahir dari kerinduan untuk melihat umat beriman tidak lagi duduk diam, melainkan bangkit berdiri bersama sebagai saudara untuk mempersembahkan syukur yang agung kepada Sang Pencipta.