KK
Ya Kasih Yang Merangkulku
O Love That Will Not Let Me Go
Informasi Lagu
458
Nomor
Do=As
Nada Dasar
Kode
KK 458
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
Do=As
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
76
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Albert Lister Peace (1885)
Pencipta Syair
George Matheson (1882)
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan) (1917)
Cross Ref.
KJ 366
Syair / Lirik
3 bait
Ya Kasih yang merangkulku,
Penghibur jiwa yang lelah,
kubri kembali hidupku,
supaya dalam sumberMu
bertambah murnilah.
Ya Cahya yang trang benderang,
Penyuluh di jalan yang gelap,
obor hatiku yang remang
hendak kusulut padaMu,
agar bertambah trang.
Ya Sukacita yang penuh
di balik tangis dan erang,
senantiasa Kau menantiku.
Ku yakin, setelah gelap
bersinar surya trang.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu pujian **"O Love That Will Not Let Me Go"** (Ya Kasih Yang Merangkulku) adalah salah satu lagu rohani paling mengharukan dalam sejarah Kristen. Di balik liriknya yang sangat puitis dan dalam, tersimpan kisah nyata tentang patah hati, kesepian, dan penemuan kekuatan di dalam Tuhan.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok George Matheson
George Matheson adalah seorang pendeta Gereja Skotlandia yang brilian. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas. Namun, sejak usia muda, penglihatannya mulai memburuk. Pada usia 20 tahun, Matheson divonis buta total.
### 2. Tragedi Cinta yang Pahit
Kisah lagu ini bermula dari peristiwa tragis di masa mudanya. Saat ia mulai kehilangan penglihatannya, ia bertunangan dengan seorang wanita yang sangat ia cintai. Suatu hari, tunangannya datang dan memberikan ultimatum yang sangat menyakitkan: **Ia memutuskan pertunangan tersebut.**
Alasannya sederhana namun kejam: Sang tunangan tidak sanggup membayangkan hidup bersama seorang pria yang akan menjadi buta total. Bagi sang wanita, menjadi istri seorang tunanetra adalah beban yang tidak ingin ia tanggung.
Matheson hancur. Ia mengalami depresi berat, merasa ditolak oleh manusia, dan harus menghadapi masa depan yang gelap gulita secara fisik maupun mental. Namun, ia tidak membiarkan rasa pahit itu menguasai hidupnya. Ia mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan dan studi teologi yang mendalam.
### 3. Malam yang Mengubah Segalanya
Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada malam hari tanggal **6 Juni 1882**, saat ia berusia 40 tahun, Matheson berada di rumahnya di Innellan, Skotlandia. Saat itu, seluruh anggota keluarganya sedang pergi ke Skotlandia untuk menghadiri sebuah pernikahan. Matheson tinggal sendirian di rumah.
Dalam kesendirian itu, pikirannya kembali pada peristiwa pahit 20 tahun lalu. Ia merasa kesepian dan sedang bergumul dengan rasa sakit yang mendalam karena penolakan tersebut.
Tiba-tiba, sebuah inspirasi datang kepadanya. Matheson kemudian menceritakan pengalamannya:
> *"Lagu itu ditulis dengan kecepatan kilat. Saya merasa seolah-olah lagu itu diberikan kepada saya dari sumber lain... Saya tidak perlu melakukan revisi sedikit pun. Lagu itu seolah-olah sudah ada di sana, di dalam hati saya, dan hanya butuh untuk dituliskan."*
Dalam kondisi buta, ia menulis lirik tersebut dalam waktu kurang dari lima menit. Ia tidak sedang memikirkan tunangannya, melainkan memikirkan tentang **kasih Allah yang tidak pernah menyerah**, bahkan ketika manusia mengecewakan atau meninggalkan kita.
### 4. Makna di Balik Liriknya
* **"O Love that will not let me go"**: Ini adalah jawaban atas pengalaman ditolak oleh tunangannya. Jika manusia bisa melepaskannya, Allah tidak akan pernah melepaskannya.
* **"I rest my weary soul in Thee"**: Setelah bertahun-tahun berjuang, ia akhirnya menemukan tempat untuk mengistirahatkan jiwanya.
* **"I trace the rainbow through the rain"**: Ini adalah metafora yang sangat indah. Walaupun ia buta secara fisik, ia mampu melihat "pelangi" (janji Tuhan) di tengah "hujan" (penderitaan).
### 5. Musik oleh Albert Lister Peace
Lirik tersebut awalnya diterbitkan di majalah *Life and Work* pada tahun 1882. Kemudian, pada tahun 1884, seorang organis bernama **Albert Lister Peace** diminta untuk membuat melodi untuk lirik tersebut.
Peace, yang saat itu menjabat sebagai organis di Katedral Glasgow, mengaku bahwa ia menulis melodi tersebut hanya dalam waktu beberapa menit. Ia memberi nama nada tersebut **"St. Margaret"** (merujuk pada nama gereja tempat ia melayani). Melodi yang megah, khidmat, dan tenang tersebut sangat sempurna menggambarkan isi hati Matheson.
### Kesimpulan
Lagu ini menjadi pengingat bahwa di saat kita merasa ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, ada Kasih yang lebih besar—yaitu kasih Allah—yang tidak akan pernah melepaskan kita. George Matheson membuktikan bahwa kegelapan fisik dan patah hati tidak menghalangi seseorang untuk melihat terang kasih Tuhan yang sejati.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok George Matheson
George Matheson adalah seorang pendeta Gereja Skotlandia yang brilian. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas. Namun, sejak usia muda, penglihatannya mulai memburuk. Pada usia 20 tahun, Matheson divonis buta total.
### 2. Tragedi Cinta yang Pahit
Kisah lagu ini bermula dari peristiwa tragis di masa mudanya. Saat ia mulai kehilangan penglihatannya, ia bertunangan dengan seorang wanita yang sangat ia cintai. Suatu hari, tunangannya datang dan memberikan ultimatum yang sangat menyakitkan: **Ia memutuskan pertunangan tersebut.**
Alasannya sederhana namun kejam: Sang tunangan tidak sanggup membayangkan hidup bersama seorang pria yang akan menjadi buta total. Bagi sang wanita, menjadi istri seorang tunanetra adalah beban yang tidak ingin ia tanggung.
Matheson hancur. Ia mengalami depresi berat, merasa ditolak oleh manusia, dan harus menghadapi masa depan yang gelap gulita secara fisik maupun mental. Namun, ia tidak membiarkan rasa pahit itu menguasai hidupnya. Ia mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan dan studi teologi yang mendalam.
### 3. Malam yang Mengubah Segalanya
Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada malam hari tanggal **6 Juni 1882**, saat ia berusia 40 tahun, Matheson berada di rumahnya di Innellan, Skotlandia. Saat itu, seluruh anggota keluarganya sedang pergi ke Skotlandia untuk menghadiri sebuah pernikahan. Matheson tinggal sendirian di rumah.
Dalam kesendirian itu, pikirannya kembali pada peristiwa pahit 20 tahun lalu. Ia merasa kesepian dan sedang bergumul dengan rasa sakit yang mendalam karena penolakan tersebut.
Tiba-tiba, sebuah inspirasi datang kepadanya. Matheson kemudian menceritakan pengalamannya:
> *"Lagu itu ditulis dengan kecepatan kilat. Saya merasa seolah-olah lagu itu diberikan kepada saya dari sumber lain... Saya tidak perlu melakukan revisi sedikit pun. Lagu itu seolah-olah sudah ada di sana, di dalam hati saya, dan hanya butuh untuk dituliskan."*
Dalam kondisi buta, ia menulis lirik tersebut dalam waktu kurang dari lima menit. Ia tidak sedang memikirkan tunangannya, melainkan memikirkan tentang **kasih Allah yang tidak pernah menyerah**, bahkan ketika manusia mengecewakan atau meninggalkan kita.
### 4. Makna di Balik Liriknya
* **"O Love that will not let me go"**: Ini adalah jawaban atas pengalaman ditolak oleh tunangannya. Jika manusia bisa melepaskannya, Allah tidak akan pernah melepaskannya.
* **"I rest my weary soul in Thee"**: Setelah bertahun-tahun berjuang, ia akhirnya menemukan tempat untuk mengistirahatkan jiwanya.
* **"I trace the rainbow through the rain"**: Ini adalah metafora yang sangat indah. Walaupun ia buta secara fisik, ia mampu melihat "pelangi" (janji Tuhan) di tengah "hujan" (penderitaan).
### 5. Musik oleh Albert Lister Peace
Lirik tersebut awalnya diterbitkan di majalah *Life and Work* pada tahun 1882. Kemudian, pada tahun 1884, seorang organis bernama **Albert Lister Peace** diminta untuk membuat melodi untuk lirik tersebut.
Peace, yang saat itu menjabat sebagai organis di Katedral Glasgow, mengaku bahwa ia menulis melodi tersebut hanya dalam waktu beberapa menit. Ia memberi nama nada tersebut **"St. Margaret"** (merujuk pada nama gereja tempat ia melayani). Melodi yang megah, khidmat, dan tenang tersebut sangat sempurna menggambarkan isi hati Matheson.
### Kesimpulan
Lagu ini menjadi pengingat bahwa di saat kita merasa ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, ada Kasih yang lebih besar—yaitu kasih Allah—yang tidak akan pernah melepaskan kita. George Matheson membuktikan bahwa kegelapan fisik dan patah hati tidak menghalangi seseorang untuk melihat terang kasih Tuhan yang sejati.
Cross Reference
KJ 366
Ya Kasih Yang Merangkulku
KJ
Sama Tema
Penyerahan Diri
Halelu, Haleluya
KK
Aku Milikmu, Yesus Tuhanku
KK
Bagi Yesus Kuserahkan
KK
Berserah Kepada Yesus
KK
Di Salibmu 'Ku Sujud
KK
Ikut Dikau Saja, Tuhan
KK
Kepada Tuhan Dan Allahku
KK
'Ku Diubahnya
KK
'Ku Ingin Berperangai
KK
Ku Mau Berjalan Dengan Jurus'lamatku
KK
Pada Kaki Salibmu
KK
Tuhan, Ambil Hidupku
KK
'Ku Bersandar Padanya
KK