KK
Terpuji Engkau. Allah Mahabesar
Revive Us Again
Informasi Lagu
481
Nomor
do = f
Nada Dasar
Kode
KK 481
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do = f
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
100
Style
FinalWaltz
Pencipta Lagu
John Jenkins Husband (1760)
Pencipta Syair
William Paion Mckay (1863)
Penerjemah
Yamuger (1980)
Cross Ref.
KJ 397
Syair / Lirik
4 bait
Terpuji Engkau, Allah Mahabesar,
karna Yesus tlah bangkit dan hidup kekal.
Reff
Haleluya, puji Tuhan! Haleluya! Amin!
Jiwa kami Kaujadikan segar abadi!
Terpuji Engkau yang telah memberi
Juruslamat manusia, Terang Ilahi.
Reff
Dimuliakanlah Anak Domba kudus yang
mengurbankan diri, jadi Penebus.
Reff
Berilah, Tuhan, kasih abadiMu;
jiwa kami penuhi dengan apiMu!
Reff
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
"Terpuji Engkau, Allah Mahabesar," atau yang lebih dikenal dengan judul aslinya "Revive Us Again," adalah salah satu lagu rohani paling bersemangat dan ikonik yang menggaungkan seruan untuk kebangunan rohani dan pengakuan akan kasih Allah yang tak terbatas. Kisah di balik lagu ini adalah perpaduan unik dari dua talenta yang berbeda dari dua zaman yang berbeda, yang kemudian disatukan oleh Roh Kudus untuk menjadi sebuah himne yang mendunia.
Mari kita telusuri kisahnya secara detail:
---
### Bagian 1: Melodi yang Tak Lekang oleh Waktu – John Jenkins Husband (Awal Abad ke-19)
Kisah "Revive Us Again" dimulai dengan seorang pria bernama **John Jenkins Husband**. Lahir di Plymouth, Inggris, pada tahun 1760, Husband adalah seorang organis gereja dan komposer musik. Pada tahun 1809, ia beremigrasi ke Amerika Serikat dan menetap di New York.
Sekitar tahun **1815-1820**, John J. Husband menulis sebuah melodi yang menarik dan bersemangat, lengkap dengan bagian refrein (chorus) yang sederhana. Refrein ini, yang berbunyi, "Revive us again; Fill each heart with Thy love; May each soul be rekindled with fire from above," sudah menjadi cikal bakal dari refrein ikonik yang kita kenal sekarang.
Pada saat itu, melodi dan lirik refrein sederhana ini mungkin tidak terlalu dikenal luas di luar lingkaran Husband. Itu adalah sebuah melodi yang indah dan penuh semangat, tetapi belum memiliki "tubuh" lirik yang lebih dalam untuk mendukungnya. Ini adalah **fondasi melodi** dari lagu yang kemudian akan menjadi sangat terkenal.
---
### Bagian 2: Lirik yang Mendalam dan Penuh Permohonan – William P. Mackay (Akhir Abad ke-19)
Hampir setengah abad kemudian, di Skotlandia, seorang pendeta Presbiterian bernama **William P. Mackay** (lahir 1839, meninggal 1888) muncul di panggung sejarah lagu ini. Mackay adalah seorang dokter yang kemudian meninggalkan praktik medisnya untuk menjadi seorang penginjil dan pendeta yang berdedikasi. Ia dikenal karena khotbahnya yang tajam dan hatinya yang penuh kerinduan akan kebangunan rohani.
Pada tahun **1863**, dalam sebuah momen perenungan dan kerinduan yang mendalam akan kehadiran dan pekerjaan Tuhan, William P. Mackay menulis serangkaian ayat-ayat (verse) untuk sebuah himne. Lirik-lirik ini adalah sebuah deklarasi pujian kepada Allah atas kasih-Nya yang luar biasa yang diwujudkan melalui Yesus Kristus, dan sebuah permohonan yang tulus untuk pembaruan rohani.
**Inilah poin krusialnya:** Ketika Mackay menulis lirik-liriknya, ia mencari sebuah melodi yang cocok untuk mengiringinya. Entah bagaimana, ia menemukan melodi refrein yang sudah ada sebelumnya yang ditulis oleh John J. Husband. Melodi yang ceria, bersemangat, dan mudah diingat dari Husband sangat cocok dengan pesan lirik-lirik Mackay yang mendalam.
Mackay kemudian **memadukan lirik-lirik ayatnya dengan melodi refrein John J. Husband**. Hasilnya adalah sebuah himne yang lengkap dan utuh. Mackay mempublikasikan gabungan ini dalam kumpulan himne karyanya yang berjudul **"Hymns of Free Grace" (1881)**.
Lirik-lirik ayat yang ditulis Mackay mencerminkan tema-tema penting dari Kekristenan:
* **Ayat 1:** Pujian bagi Allah atas Anak-Nya, Yesus Kristus, yang telah mati dan bangkit. ("We praise Thee, O God, for the Son of Thy love...")
* **Ayat 2:** Pujian bagi Yesus yang telah menebus dosa manusia melalui darah-Nya yang mahal. ("We praise Thee, O God, for Thy Spirit of Light...")
* **Ayat 3:** Pujian bagi Roh Kudus yang menghibur dan menuntun umat percaya. ("All glory and praise to the Lamb that was slain...")
---
### Bagian 3: Ledakan Popularitas di Era Kebangunan Rohani – Moody, Sankey, Torrey, dan Alexander (Akhir Abad ke-19 - Awal Abad ke-20)
Meskipun William P. Mackay telah menyatukan lagu ini, popularitasnya meledak dan menyebar ke seluruh dunia melalui gerakan kebangunan rohani besar pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
* **Dwight L. Moody dan Ira D. Sankey:** Penginjil legendaris D.L. Moody dan pemimpin pujian Ira D. Sankey, yang dikenal karena kampanye evangelisasi massal mereka di Amerika dan Inggris, sering menggunakan lagu ini. Sankey, dengan suaranya yang kuat dan kemampuannya memimpin pujian, membantu mempopulerkan banyak himne, termasuk "Revive Us Again."
* **R.A. Torrey dan Charles M. Alexander:** Namun, penggunaan yang paling berkesan dan luas dari "Revive Us Again" sering dikaitkan dengan penginjil **R.A. Torrey** dan pemimpin pujiannya, **Charles M. Alexander**. Selama kampanye evangelisasi global mereka di awal abad ke-20, Alexander sangat menyukai lagu ini. Ia sering memimpin ribuan jemaat untuk menyanyikan lagu ini dengan penuh semangat, kadang-kadang berulang kali, untuk membangun atmosfer kerinduan akan kehadiran Tuhan dan pertobatan.
Alexander dikenal karena kemampuannya yang unik dalam "membakar" semangat jemaat melalui pujian. Ketika "Revive Us Again" dinyanyikan, terutama refreinnya, terasa seperti seruan mendesak dan antusias dari hati yang lapar akan Tuhan. Itu menjadi semacam **"anthem" (lagu kebangsaan)** bagi kebangunan rohani, sebuah doa yang dinyanyikan, memohon Allah untuk kembali bekerja dengan kuasa-Nya.
Lagu ini sempurna menangkap esensi gerakan kebangunan rohani:
* **Pengakuan Dosa:** Jemaat menyadari kebutuhan akan pembaruan.
* **Pujian kepada Allah:** Mengakui kebesaran dan kasih Allah.
* **Permohonan untuk Roh Kudus:** Berdoa agar Roh Kudus bekerja untuk menghidupkan kembali iman dan hati.
---
### Bagian 4: Warisan Abadi dan Makna Spiritual
Dari dua bagian yang terpisah – melodi dari Husband dan lirik dari Mackay – "Revive Us Again" bersatu menjadi sebuah lagu yang kuat dan tak lekang oleh waktu. Ia bukan hanya sebuah lagu, melainkan sebuah doa dan deklarasi iman yang terus relevan bagi gereja di setiap zaman.
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan menjadi **"Terpuji Engkau, Allah Mahabesar"** dan dimuat dalam berbagai buku nyanyian gereja (seperti Kidung Jemaat no. 450, Nyanyian Pujian no. 207, Pelengkap Kidung Jemaat no. 182). Pesan kerinduan akan kebangunan rohani dan pujian kepada Allah telah menyentuh hati banyak umat percaya di Indonesia, terutama dalam berbagai pertemuan kebangunan rohani dan ibadah yang rindu akan hadirat Tuhan.
"Revive Us Again / Terpuji Engkau, Allah Mahabesar" adalah bukti nyata bagaimana Tuhan dapat menggunakan berbagai individu dari latar belakang dan zaman yang berbeda untuk menghasilkan sesuatu yang abadi, yang terus menginspirasi umat-Nya untuk mencari wajah-Nya dan merindukan pembaruan spiritual. Lagu ini tetap menjadi seruan yang membakar semangat bagi setiap orang percaya untuk berdoa: "Bangkitkanlah kami lagi, ya Tuhan!"
Mari kita telusuri kisahnya secara detail:
---
### Bagian 1: Melodi yang Tak Lekang oleh Waktu – John Jenkins Husband (Awal Abad ke-19)
Kisah "Revive Us Again" dimulai dengan seorang pria bernama **John Jenkins Husband**. Lahir di Plymouth, Inggris, pada tahun 1760, Husband adalah seorang organis gereja dan komposer musik. Pada tahun 1809, ia beremigrasi ke Amerika Serikat dan menetap di New York.
Sekitar tahun **1815-1820**, John J. Husband menulis sebuah melodi yang menarik dan bersemangat, lengkap dengan bagian refrein (chorus) yang sederhana. Refrein ini, yang berbunyi, "Revive us again; Fill each heart with Thy love; May each soul be rekindled with fire from above," sudah menjadi cikal bakal dari refrein ikonik yang kita kenal sekarang.
Pada saat itu, melodi dan lirik refrein sederhana ini mungkin tidak terlalu dikenal luas di luar lingkaran Husband. Itu adalah sebuah melodi yang indah dan penuh semangat, tetapi belum memiliki "tubuh" lirik yang lebih dalam untuk mendukungnya. Ini adalah **fondasi melodi** dari lagu yang kemudian akan menjadi sangat terkenal.
---
### Bagian 2: Lirik yang Mendalam dan Penuh Permohonan – William P. Mackay (Akhir Abad ke-19)
Hampir setengah abad kemudian, di Skotlandia, seorang pendeta Presbiterian bernama **William P. Mackay** (lahir 1839, meninggal 1888) muncul di panggung sejarah lagu ini. Mackay adalah seorang dokter yang kemudian meninggalkan praktik medisnya untuk menjadi seorang penginjil dan pendeta yang berdedikasi. Ia dikenal karena khotbahnya yang tajam dan hatinya yang penuh kerinduan akan kebangunan rohani.
Pada tahun **1863**, dalam sebuah momen perenungan dan kerinduan yang mendalam akan kehadiran dan pekerjaan Tuhan, William P. Mackay menulis serangkaian ayat-ayat (verse) untuk sebuah himne. Lirik-lirik ini adalah sebuah deklarasi pujian kepada Allah atas kasih-Nya yang luar biasa yang diwujudkan melalui Yesus Kristus, dan sebuah permohonan yang tulus untuk pembaruan rohani.
**Inilah poin krusialnya:** Ketika Mackay menulis lirik-liriknya, ia mencari sebuah melodi yang cocok untuk mengiringinya. Entah bagaimana, ia menemukan melodi refrein yang sudah ada sebelumnya yang ditulis oleh John J. Husband. Melodi yang ceria, bersemangat, dan mudah diingat dari Husband sangat cocok dengan pesan lirik-lirik Mackay yang mendalam.
Mackay kemudian **memadukan lirik-lirik ayatnya dengan melodi refrein John J. Husband**. Hasilnya adalah sebuah himne yang lengkap dan utuh. Mackay mempublikasikan gabungan ini dalam kumpulan himne karyanya yang berjudul **"Hymns of Free Grace" (1881)**.
Lirik-lirik ayat yang ditulis Mackay mencerminkan tema-tema penting dari Kekristenan:
* **Ayat 1:** Pujian bagi Allah atas Anak-Nya, Yesus Kristus, yang telah mati dan bangkit. ("We praise Thee, O God, for the Son of Thy love...")
* **Ayat 2:** Pujian bagi Yesus yang telah menebus dosa manusia melalui darah-Nya yang mahal. ("We praise Thee, O God, for Thy Spirit of Light...")
* **Ayat 3:** Pujian bagi Roh Kudus yang menghibur dan menuntun umat percaya. ("All glory and praise to the Lamb that was slain...")
---
### Bagian 3: Ledakan Popularitas di Era Kebangunan Rohani – Moody, Sankey, Torrey, dan Alexander (Akhir Abad ke-19 - Awal Abad ke-20)
Meskipun William P. Mackay telah menyatukan lagu ini, popularitasnya meledak dan menyebar ke seluruh dunia melalui gerakan kebangunan rohani besar pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
* **Dwight L. Moody dan Ira D. Sankey:** Penginjil legendaris D.L. Moody dan pemimpin pujian Ira D. Sankey, yang dikenal karena kampanye evangelisasi massal mereka di Amerika dan Inggris, sering menggunakan lagu ini. Sankey, dengan suaranya yang kuat dan kemampuannya memimpin pujian, membantu mempopulerkan banyak himne, termasuk "Revive Us Again."
* **R.A. Torrey dan Charles M. Alexander:** Namun, penggunaan yang paling berkesan dan luas dari "Revive Us Again" sering dikaitkan dengan penginjil **R.A. Torrey** dan pemimpin pujiannya, **Charles M. Alexander**. Selama kampanye evangelisasi global mereka di awal abad ke-20, Alexander sangat menyukai lagu ini. Ia sering memimpin ribuan jemaat untuk menyanyikan lagu ini dengan penuh semangat, kadang-kadang berulang kali, untuk membangun atmosfer kerinduan akan kehadiran Tuhan dan pertobatan.
Alexander dikenal karena kemampuannya yang unik dalam "membakar" semangat jemaat melalui pujian. Ketika "Revive Us Again" dinyanyikan, terutama refreinnya, terasa seperti seruan mendesak dan antusias dari hati yang lapar akan Tuhan. Itu menjadi semacam **"anthem" (lagu kebangsaan)** bagi kebangunan rohani, sebuah doa yang dinyanyikan, memohon Allah untuk kembali bekerja dengan kuasa-Nya.
Lagu ini sempurna menangkap esensi gerakan kebangunan rohani:
* **Pengakuan Dosa:** Jemaat menyadari kebutuhan akan pembaruan.
* **Pujian kepada Allah:** Mengakui kebesaran dan kasih Allah.
* **Permohonan untuk Roh Kudus:** Berdoa agar Roh Kudus bekerja untuk menghidupkan kembali iman dan hati.
---
### Bagian 4: Warisan Abadi dan Makna Spiritual
Dari dua bagian yang terpisah – melodi dari Husband dan lirik dari Mackay – "Revive Us Again" bersatu menjadi sebuah lagu yang kuat dan tak lekang oleh waktu. Ia bukan hanya sebuah lagu, melainkan sebuah doa dan deklarasi iman yang terus relevan bagi gereja di setiap zaman.
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan menjadi **"Terpuji Engkau, Allah Mahabesar"** dan dimuat dalam berbagai buku nyanyian gereja (seperti Kidung Jemaat no. 450, Nyanyian Pujian no. 207, Pelengkap Kidung Jemaat no. 182). Pesan kerinduan akan kebangunan rohani dan pujian kepada Allah telah menyentuh hati banyak umat percaya di Indonesia, terutama dalam berbagai pertemuan kebangunan rohani dan ibadah yang rindu akan hadirat Tuhan.
"Revive Us Again / Terpuji Engkau, Allah Mahabesar" adalah bukti nyata bagaimana Tuhan dapat menggunakan berbagai individu dari latar belakang dan zaman yang berbeda untuk menghasilkan sesuatu yang abadi, yang terus menginspirasi umat-Nya untuk mencari wajah-Nya dan merindukan pembaruan spiritual. Lagu ini tetap menjadi seruan yang membakar semangat bagi setiap orang percaya untuk berdoa: "Bangkitkanlah kami lagi, ya Tuhan!"