Informasi Lagu
500
Nomor
Kode
KK 500
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Jumlah Bait
5 bait
Style
WestCoastPop
Pencipta Lagu
Charles Albert Tindley
Pencipta Syair
Charles Albert Tinoley
Cross Ref.
PKJ 130
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Kita ëkan menang, kita ëkan menang, kita ëkan menang kelak. Dalam Kristus Tuhan ëku beriman, kita ëkan menang kelak.
Oleh kebenaran, oleh kebenaran, kita dimerdekakan.
Tuhan yang menolong, Tuhan yang menolong, dalam pergumulanku.
Hidup dalam damai, hidup dalam damai, hidup damai dan tentíram.
Kita ëkan menang, kita ëkan menang, kita ëkan menang kelak.
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KK 500 1
Slide 2 — KK 500 2
Slide 3 — KK 500 3
Slide 4 — KK 500 4
Slide 5 — KK 500 5
Partitur / Not
Partitur Chord KK 500
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"We Shall Overcome"** (yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai "Kita 'Kan Menang") adalah salah satu perjalanan sejarah yang paling emosional dalam musik dunia. Lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan sebuah "himne" perjuangan hak sipil yang berevolusi selama puluhan tahun.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Akar Spiritual: Charles Albert Tindley (1901)
Banyak orang keliru mengira Charles Albert Tindley menulis lagu ini secara utuh. Kenyataannya, lagu ini berakar dari lagu gospel karya Pendeta **Charles Albert Tindley** berjudul **"I'll Overcome Someday"** yang diterbitkan pada tahun 1901.

Tindley adalah seorang pendeta Methodis Afrika-Amerika di Philadelphia. Lagunya didasarkan pada ayat Alkitab (Galatia 6:9) yang intinya adalah kesabaran dalam menghadapi penderitaan. Lirik aslinya berbunyi:
> *"I'll overcome, I'll overcome, I'll overcome someday. If in my heart I do not yield, I'll overcome someday."*

Meskipun melodi dan struktur dasarnya berbeda dari versi yang kita kenal sekarang, semangat "mengatasi kesulitan" (overcome) itulah yang menjadi fondasi dasar lagu ini.

### 2. Transformasi di "Highlander Folk School" (1940-an)
Transformasi lagu ini menjadi bentuk yang kita kenal sekarang terjadi di **Highlander Folk School** di Tennessee, sebuah pusat pelatihan bagi aktivis hak sipil dan serikat buruh.

* **1946:** Para pekerja buruh tembakau (sebagian besar perempuan Afrika-Amerika) yang sedang mogok kerja di Charleston, Carolina Selatan, sering menyanyikan lagu "I Will Overcome" dengan melodi yang lebih lambat dan penuh penjiwaan.
* **Lucille Simmons**, salah satu pekerja, adalah orang yang sering memimpin nyanyian tersebut dengan tempo yang lebih bersemangat. Seorang aktivis bernama **Zilphia Horton** (istri pendiri Highlander) mendengar lagu tersebut, mempelajarinya dari Simmons, dan membawanya ke sekolah Highlander.

### 3. Peran Pete Seeger dan Evolusi Lirik
Zilphia Horton mengajarkan lagu tersebut kepada musisi folk terkenal, **Pete Seeger**. Seeger kemudian melakukan beberapa perubahan krusial:
* Ia mengubah judul dan lirik dari *"I will overcome"* (Aku akan menang) menjadi **"We shall overcome"** (Kita akan menang). Perubahan kata ganti orang ini sangat penting karena mengubah lagu tersebut dari pernyataan pribadi menjadi seruan perjuangan kolektif.
* Seeger juga mengganti kata "will" menjadi "shall" karena menurutnya pengucapan "shall" lebih mudah dinyanyikan dalam kelompok besar.
* Seeger menambahkan bait-bait baru seperti *"We are not afraid"* (Kita tidak takut) dan *"The whole wide world around"* (Seluruh dunia).

### 4. Menjadi Himne Hak Sipil (Civil Rights Movement)
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, lagu ini menjadi lagu resmi bagi Gerakan Hak Sipil di Amerika Serikat.

* **Guy Carawan**, seorang musisi di Highlander, mempopulerkan lagu ini di kalangan mahasiswa aktivis SNCC (*Student Nonviolent Coordinating Committee*).
* Lagu ini dinyanyikan dalam berbagai momen kritis: saat demonstrasi, saat para aktivis ditangkap polisi, hingga saat mereka dipenjara.
* Liriknya yang sederhana namun penuh kekuatan memberikan keberanian kepada mereka yang menghadapi kekerasan, anjing pelacak, dan semprotan air saat memperjuangkan kesetaraan ras.

### 5. Puncak Sejarah
Momen paling ikonik terjadi ketika **Martin Luther King Jr.** menggunakan frasa *"We shall overcome"* dalam pidato terakhirnya di Memphis pada tahun 1968, tepat sebelum ia dibunuh. Lagu ini juga dinyanyikan secara emosional oleh penyanyi Joan Baez di depan ratusan ribu massa dalam *March on Washington* pada tahun 1963.

### Mengapa Lagu Ini Begitu Berpengaruh?
Kekuatan "We Shall Overcome" terletak pada sifatnya yang **inklusif dan adaptif**. Karena strukturnya sederhana, siapapun bisa menambah bait baru yang sesuai dengan perjuangan mereka sendiri.

Hingga hari ini, lagu ini telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di seluruh dunia (termasuk Indonesia) dan terus digunakan sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan, dan perjuangan untuk martabat manusia.

**Kesimpulannya:** Lagu ini bukan hasil karya satu orang, melainkan hasil "evolusi kolektif". Dari sebuah lagu gereja karya Charles Albert Tindley, kemudian disempurnakan oleh buruh perempuan di Carolina Selatan, dirajut oleh aktivis di Highlander, dan dipopulerkan oleh Pete Seeger, lagu ini menjadi bukti bahwa musik adalah senjata terkuat dalam perubahan sosial.