Informasi Lagu
79
Nomor
do=g
Nada Dasar
Kode
KK 79
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=g
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
126
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
Thomas Campb Ell (1825)
Pencipta Syair
Charles Wesley (1738)
Penerjemah
E.L. Pohan Shn/Yamuger (1964)
Cross Ref.
KJ 31a , NR 141a
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Mungkinkah aku pun serta tertolong oleh darah-Nya? Akulah pangkal siksa-Nya, yang menyebabkan mati-Nya. Agung benar, ya Tuhanku: Engkau tersiksa gantiku! Agung benar, ya Tuhanku: Engkau tersiksa gantiku!
Para malak sekalipun tiada dapat mengerti apa sebabnya Yang Kudus menanggung siksa yang keji. Kasih-Nyalah alasannya menanggung dosa dunia. Kasih-Nyalah alasannya menanggung dosa dunia.
Ditinggalkan-Nya takhta-Nya dan masuk dunia yang cemar; ditanggalkan-Nya kuasa-Nya, terdorong kasih yang besar; dan aku pun tertolonglah, terpilih jadi milik-Nya, dan aku pun tertolonglah, terpilih jadi milik-Nya.
Jiwaku lama menjerit, dipasung dosa yang seram. Surya-Mu bagiku terbit; penjaraku pun benderang. Terbukalah pasunganku; ‘ku bangkit dan mengikut-Mu. Terbukalah pasunganku; ‘ku bangkit dan mengikut-Mu.
Di dalam Yesus Penebus hukuman dosa hilanglah. Kudapat hidup yang kudus, jubahku kebenaran-Nya; ‘ku mendekat ke takhta-Mu hendak terima tajukku. ‘Ku mendekat ke takhta-Mu hendak terima tajukku.
Slide Lirik 10 slide
Slide 1 — KK 79 1
Slide 2 — KK 79 2
Slide 3 — KK 79 3
Slide 4 — KK 79 4
Slide 5 — KK 79 5
Slide 6 — KK 79 6
Slide 7 — KK 79 7
Slide 8 — KK 79 8
Slide 9 — KK 79 9
Slide 10 — KK 79 10
Partitur / Not
Partitur Chord KK 79
Sejarah Lagu
Kisah yang mendalam dan penuh makna di balik himne yang sangat kuat dan dicintai, "Mungkinkah Aku Pun Serta" atau dalam bahasa aslinya, "And Can It Be That I Should Gain".

**Koreksi Penting Mengenai Penulis:**
Pertama, perlu diperjelas bahwa penulis himne ini sepenuhnya adalah **Charles Wesley**. Nama Thomas Campb Ell (mungkin yang dimaksud Thomas Campbell) adalah seorang penyair Skotlandia yang berbeda dan tidak terkait dengan penulisan himne ini. "And Can It Be" adalah salah satu karya paling ikonik dari Charles Wesley, seorang tokoh sentral dalam gerakan Metodis.

---

**Kisah di Balik "And Can It Be That I Should Gain" (Mungkinkah Aku Pun Serta) oleh Charles Wesley**

Himne "And Can It Be" bukanlah sekadar kumpulan lirik yang indah; ia adalah luapan emosi, kesaksian pribadi, dan sebuah deklarasi teologis yang lahir dari pengalaman pertobatan yang mendalam dan transformatif. Untuk memahami lagu ini, kita harus kembali ke Inggris abad ke-18 dan kehidupan Charles Wesley.

**1. Latar Belakang Spiritual Keluarga Wesley:**
John dan Charles Wesley adalah dua bersaudara yang tumbuh di lingkungan Gereja Inggris. Keduanya adalah lulusan Universitas Oxford dan imam Anglikan yang berdedikasi. Mereka mendirikan "Holy Club" di Oxford, sebuah kelompok mahasiswa yang berkomitmen pada disiplin spiritual yang ketat, studi Alkitab, dan pelayanan sosial. Meskipun sangat religius, mereka berdua masih berjuang dengan apa yang mereka rasakan sebagai kekosongan spiritual—sebuah formalitas tanpa kekuatan yang mengubah hidup. Mereka mencari kepastian keselamatan, namun belum menemukannya.

**2. Misi yang Gagal dan Titik Terendah:**
Pada tahun 1735, John dan Charles pergi ke koloni Georgia di Amerika untuk bermisi. Misi ini sebagian besar dianggap gagal secara pribadi bagi mereka. Mereka kembali ke Inggris dengan hati yang hancur, merasa lebih jauh dari Tuhan daripada sebelumnya. Mereka merasa "terpenjara" oleh dosa dan ketidakpastian akan keselamatan mereka, meskipun mereka telah berusaha keras untuk menjadi orang Kristen yang baik.

**3. Titik Balik: Pengaruh Moravian dan Pertobatan Pribadi (Mei 1738)**
Sekembalinya ke Inggris, mereka berinteraksi dengan orang-orang Kristen Moravia yang memiliki keyakinan kuat akan "pengalaman jantung yang dihangatkan" dan jaminan keselamatan yang pribadi. Ini mulai membuka mata mereka terhadap kemungkinan iman yang lebih dari sekadar aturan dan ritual.

Pada bulan Mei 1738, Charles Wesley jatuh sakit parah dan terbaring di tempat tidur di rumah seorang tukang patri, Mr. Bray, di Little Britain, London. Selama masa sakitnya, ia didorong untuk membaca komentar Martin Luther tentang Kitab Galatia. Luther sangat menekankan doktrin pembenaran oleh iman saja (sola fide) – bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan yang diterima melalui iman pada Kristus, bukan hasil dari perbuatan baik atau usaha manusia.

Pada **21 Mei 1738**, saat membaca tulisan Luther, Charles Wesley mengalami momen pencerahan spiritual yang dahsyat. Ia tiba-tiba menyadari dan mengalami secara pribadi bahwa dosa-dosanya telah diampuni sepenuhnya melalui Kristus, dan ia memiliki jaminan keselamatan yang pasti. Ia merasakan beban dosa dan ketidakpastian yang selama ini membelenggunya terangkat. Ia merasakan damai sejahtera yang luar biasa dan sukacita yang tak terlukiskan. Tiga hari kemudian, saudaranya, John Wesley, juga akan mengalami pengalaman "hati yang dihangatkan" yang terkenal di Aldersgate.

**4. Kelahiran Himne: Luapan Sukacita dan Keheranan**
Setelah pengalaman pertobatan yang mengubah hidup ini, Charles Wesley segera menulis himne "And Can It Be That I Should Gain." Kata-kata ini bukanlah hasil dari refleksi dingin, melainkan luapan spontan dari hati yang dibebaskan dan dipenuhi dengan rasa syukur yang mendalam dan keheranan yang tak terbatas.

Judul himne itu sendiri, "And Can It Be?", menangkap esensi perasaannya. Ini adalah seruan keheranan yang mendalam: "Mungkinkah ini benar? Mungkinkah aku, yang begitu berdosa dan tidak layak, benar-benar menerima anugerah keselamatan yang luar biasa ini?"

* **Stanza 1:** Memulai dengan pertanyaan yang mengguncang: "And can it be that I should gain / An int'rest in the Saviour's blood?" (Mungkinkah aku pun serta / Dalam darah Jurus'lamat?). Ini mengungkapkan rasa tidak percaya dan kerendahan hati yang luar biasa. Bagaimana mungkin anugerah sebesar ini bisa menjadi miliknya?
* **Stanza 2:** Merenungkan misteri inkarnasi dan pengorbanan Kristus: "'Tis mystery all: th' immortal dies!" (Sungguh misteri tak terpaham: Yang abadi mati!). Ia takjub pada cinta ilahi yang menggerakkan Allah untuk menderita dan mati bagi umat manusia.
* **Stanza 3:** Ini adalah inti dari pengalaman pertobatannya: "Long my imprisoned spirit lay / Fast bound in sin and nature's night; / Thine eye diffused a quickening ray; / I woke, the dungeon flamed with light; / My chains fell off, my heart was free, / I rose, went forth, and followed Thee." (Lama jiwaku terpenjara / Terikat erat dalam dosa dan malam alam; / Mata-Mu memancarkan sinar yang menghidupkan; / Aku terbangun, penjara itu menyala dengan cahaya; / Rantaiku terlepas, hatiku merdeka, / Aku bangkit, keluar, dan mengikuti-Mu). Baris ini sangat pribadi dan deskriptif, menggambarkan perasaan terbelenggu oleh dosa dan kemudian kebebasan instan yang ia alami. Gambaran "rantai yang terlepas" telah menjadi metafora abadi untuk pembebasan spiritual.
* **Stanza 4:** Merujuk pada "iron cage" (sangkar besi) dari *Pilgrim's Progress* karya John Bunyan, sebuah metafora untuk keputusasaan yang tidak dapat diatasi. Wesley menyatakan bahwa ia telah melarikan diri dari sangkar keputusasaan dan sekarang bebas.
* **Stanza 5:** Puncak dari jaminan keselamatan: "No condemnation now I dread; / Jesus, and all in Him, is mine! / Alive in Him, my living Head, / And clothed in righteousness divine, / Bold I approach th' eternal throne, / And claim the crown, through Christ my own." (Tak ada kutukan lagi yang kutakutkan; / Yesus, dan segala dalam Dia, adalah milikku! / Hidup dalam Dia, Kepalaku yang hidup, / Dan berpakaian kebenaran ilahi, / Dengan berani aku mendekati takhta abadi, / Dan menuntut mahkota, melalui Kristus adalah milikku). Ia kini hidup dalam kebebasan, tanpa rasa takut akan penghukuman, dan memiliki keberanian untuk mendekat kepada Tuhan.

**5. Warisan dan Dampak:**
"And Can It Be" segera menjadi salah satu himne paling populer dalam gerakan Metodis yang baru lahir. Ini dengan sempurna menangkap esensi ajaran Metodis tentang pertobatan pribadi, pembenaran oleh iman, dan jaminan keselamatan. Himne ini sangat pribadi, namun universal dalam pengungkapannya tentang anugerah Tuhan yang luar biasa bagi orang berdosa.

Hingga hari ini, "Mungkinkah Aku Pun Serta" tetap menjadi himne kesaksian dan pujian yang kuat, dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Ia terus mengingatkan umat beriman akan keajaiban dan keindahan keselamatan pribadi, yang seringkali terasa begitu besar sehingga kita hanya bisa berseru dengan keheranan: "Mungkinkah aku pun serta?"