Informasi Lagu
104
Nomor
do = C
Nada Dasar
Kode
KKb 104
Buku
Kidung Kabungahan
Nada Dasar
do = C
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
0
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 1 bait
1. Eh, nu nyaba rek ka mana tatanggahan nya leumpang? Nu dijugjug gedong Raja, hayang ka enggon senang Turun unggah pagunungan, nyorang leuweung jeung walungan Ka padaleman kagungan Gusti panutan urang Ka padaleman kagungan Gusti panutan urang 2. Di jalanna meureun rusuk, aya anu rek megat, Abdi henteu sieun musuh, da gaduh pedang kiat, Anu ngamusuhan rea, nanging nu ngaraksa tea, Gusti nu teu lalawora ka sebat benteng umat Gusti nu teu lalawora ka sebat benteng umat 3. Naon paparin Raja teh, di nagara nu suci Papakean nu araheng, nya barodas nya bersih, Murub-mubyar salamina, margi sugri nu di dinya, Di beresihan atina sadayana saruci Di beresihan atina sadayana saruci 4. Abdi oge hayang pisan, ka Yerusalem baka Sukur bae, hayu miang, ulah arek talangke Engke manggih kasukaan, mun geus asup Karajaan Anu pinuh kamulyaan hirup langgeng jeung Allah Anu pinuh kamulyaan hirup langgeng jeung Allah 1. Hai, musafir, hendak ke mana, berjalan dengan bergegas? Yang dituju istana Raja, ingin ke tempat senang Naik turun pegunungan, menempuh hutan dan sungai Akan ke hadirat Tuhan, Juru Selamat kita Akan ke hadirat Tuhan, Juru Selamat kita 2. Jalannya pastilah cepat, ada yang kan mencegat Kami tak takut bahaya, karena punya pedang kuat Yang memusuhi memang banyak, tapi yang akan menjaga Tuhan yang tak gegabah, yang jadi benteng umat Tuhan yang tak gegabah, yang jadi benteng umat 3. Apa anugerah Raja, di negeri yang kudus? Pakaian yang indah-indah, yang putih dan yang bersih Berkilauan senantiasa, sebab setiap orang disana Hatinya dibersihkan, semuanya jadi kudus Hatinya dibersihkan, semuanya jadi kudus 4. Aku juga ingin sekali, ke Yerusalem baka Puji syukur, kita berangkat, jangan ditunda-tunda Nanti dapat kesukaan, kalau masuk Kerjaan Yang penuh dengan kemulyaan, hidup baka dengan Allah Yang penuh dengan kemulyaan, hidup baka dengan Allah
Partitur / Not
Partitur Chord KKb 104
Sejarah Lagu
Lagu **"Hai Musafir, Mau Ke Mana?"** (dalam bahasa Inggris berjudul **"Whither, Pilgrims, Are You Going?"**) adalah salah satu himne klasik yang memiliki akar sejarah yang cukup unik karena melibatkan perpaduan antara tradisi sastra Kristen abad ke-19 dan pengaruh musik rakyat (*folk music*).

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Asal-Usul Lirik: Sebuah Dialog Spiritual
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Henry Harbaugh (1817–1867)**, seorang pendeta, penyair, dan teolog asal Amerika dari denominasi *German Reformed Church*.

Lirik aslinya terbit pertama kali pada tahun 1850. Struktur lagu ini menggunakan teknik **"Dialog"**. Ini adalah gaya sastra populer dalam himne abad ke-19 yang menggambarkan percakapan antara seseorang yang sedang berziarah (musafir) dengan orang yang bertanya kepadanya.
* **Pertanyaan:** "Hai musafir, mau ke mana, dengan langkah yang lelah?"
* **Jawaban:** Sang musafir menjawab bahwa ia sedang menuju "tanah yang jauh dan terang," yaitu Kerajaan Surga.

Tema utamanya sangat dipengaruhi oleh karya klasik John Bunyan, *The Pilgrim’s Progress* (Perjalanan Musafir), yang sangat populer di kalangan Kristen Protestan saat itu. Lagu ini menjadi pengingat bagi umat percaya bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara.

### 2. Peran William Batchelder Bradbury
**William Batchelder Bradbury (1816–1868)** adalah sosok yang bertanggung jawab mempopulerkan lagu ini melalui aransemen musiknya. Bradbury adalah musisi dan komposer yang sangat produktif; ia dikenal sebagai bapak musik sekolah Minggu di Amerika.

Bradbury tidak menulis liriknya, tetapi ia menciptakan melodi yang sangat mudah diingat (*catchy*) dan harmonisasi yang sederhana. Pada tahun 1850-an hingga 1860-an, Bradbury menerbitkan banyak buku himne (seperti *The Golden Chain*). Melodi yang ia gubah untuk puisi Harbaugh ini kemudian menjadi standar yang dinyanyikan di gereja-gereja hingga ke seluruh dunia.

### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Ada beberapa alasan mengapa lagu ini bertahan lama dan akhirnya diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk Indonesia:

* **Metafora Perjalanan:** Konsep kehidupan sebagai "perjalanan" (*pilgrimage*) sangat universal. Di tengah kesulitan hidup atau perang (seperti suasana Perang Saudara Amerika pada masa hidup Bradbury), lirik tentang tujuan akhir yang damai sangat menghibur.
* **Melodi yang "Folk":** Melodi Bradbury memiliki nuansa *folk song* atau musik rakyat yang kuat. Lagu ini tidak terdengar seperti himne gereja yang kaku atau megah, melainkan seperti nyanyian yang bisa dinyanyikan sambil berjalan, sehingga sangat efektif untuk kelompok paduan suara atau ibadah perkemahan (*camp meeting*).
* **Keintiman:** Fokus lagu ini bukan pada doktrin yang rumit, melainkan pada aspirasi pribadi seseorang untuk sampai ke rumah Tuhan.

### 4. Makna dalam Bahasa Indonesia
Dalam tradisi gereja di Indonesia, lagu ini sering muncul di buku-buku nyanyian jemaat seperti *Kidung Jemaat* atau buku nyanyian gerejawi lainnya. Terjemahannya mempertahankan esensi dialog tersebut:

> *"Hai musafir, mau ke mana, dengan langkah yang lelah?
> Menuju ke surga mulia, rumah Bapa yang baka."*

Penerjemahan ini berhasil menangkap nuansa "kepenatan" duniawi yang dibalas dengan "pengharapan" akan keabadian.

### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah kolaborasi antara seorang penyair yang merindukan rumah Tuhan (Harbaugh) dan seorang komposer yang memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan melodi yang menjangkau hati rakyat jelata (Bradbury). Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan "kompas" musikal bagi orang-orang pada abad ke-19 untuk tetap tabah dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan, dengan mata yang tetap tertuju pada tujuan akhir: Surga.