KKB
Nun, Gusti Nu Sipat Murah
Ya, Tuhan Yang Pemurah
Informasi Lagu
38
Nomor
do = F
Nada Dasar
Kode
KKb 38
Buku
Kidung Kabungahan
Nada Dasar
do = F
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
0
Cross Ref.
KK 76
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
1 bait
1.
Nun, Gusti nu sipat murah, mugi aya sih hampunten.
Kadorakaan dipupus, ku welas Gusti nu ageng.
Mugi abdi, beresihkeun, tina ieu rereged (2x)
Mugia diseretu, tina ieu dosa.
2.
Abdi teh rumaos pisan, kana eta kalepatan.
Dosa teh taya kendatnya, kumalangkang sapanjangna.
Nyaka Gusti, ka salira, milimpah anu ijid (2x)
Migawe nu masiat, di payuneun Gusti.
3.
Nya dina kadorakaan, abdi teh wedal ka dunya.
Pon kitu mangsa dikandung, dikandungna dina dosa.
Kersa Gusti, batin abdi, dieusi kaestuan (2x)
Kalayan rerencepan hikmat diwulangkeun
4.
Ku hisop mangga bresihkeun, sangkan abdi janten setra.
Dikumbah dugi ka bodas, nyacas alahbatan kapas.
Duh, ridoan, abdi nguping, nu matak ati bungah (2x)
Tulang balung anu ajur sina sesenggakan
1.
Ya, Tuhan yang pemurah semoga ada pengampunan
Kedurhakaan dihapus, oleh belas kasihan yang besar
Semoga hamba dibersihkan dari ini kotoran 2x
Semoga dikikis, dari ini dosa
2.
Hamba rasakan sekali, kepada itu kesalahan
Dosa itu tak henti-hentinya membayangi sepanjangnya
Ya, kepada Tuhanlah, kepadaMu mengerjakan yang menjijikan 2x
Mengerjakan yang maksiat, dihadaoan Tuhan
3.
Ya, dalam kedurhakaanlah, hamba ini lahir ke dunia
Begitupun waktu dikandung, dikandung di dalam dosa
Kehendakmu batin hamba diisi kebenaran 2x
Dengan diam-diam hikmat diajarkan
4.
Oleh hisop silahkan bersihkan, agar hamba menjadi bersih
Cucilah sampai putih, terang melebihi kapas
Ya, relakan hamba mendengar yang membuat hati gembira 2x
tulang-tulang yang hancur buatlah bersorak-sorak
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Kasihanilah, Ya Tuhan"** (atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan judul **"Nun, Gusti Nu Sipat Murah"**) adalah salah satu lagu liturgi yang sangat ikonik dalam Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat dan lingkup budaya Sunda.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat sosok **Adrianus Djalimun** dan konteks inkulturasi Gereja Katolik di tanah Sunda pada pertengahan abad ke-20.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Sosok Adrianus Djalimun
Adrianus Djalimun adalah seorang tokoh musik gerejawi yang mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan musik liturgi yang bernuansa lokal. Beliau dikenal sebagai seorang komponis yang memiliki kerinduan besar agar umat Katolik di Jawa Barat tidak hanya berdoa dengan bahasa Indonesia atau Latin, tetapi juga bisa mengungkapkan imannya melalui "bahasa ibu", yakni bahasa Sunda, dengan irama yang menyentuh hati masyarakat setempat.
### 2. Konteks Inkulturasi: Semangat Konsili Vatikan II
Lagu ini lahir dari semangat **Konsili Vatikan II** (1962-1965), yang mendorong Gereja untuk membuka diri terhadap budaya setempat (inkulturasi). Sebelum masa itu, lagu-lagu dalam Misa umumnya menggunakan bahasa Latin atau bahasa Indonesia yang formal.
Adrianus Djalimun melihat bahwa umat Katolik di tanah Pasundan membutuhkan doa yang lebih "dekat" dengan budaya mereka. Ia ingin menciptakan lagu yang tidak hanya sekadar terjemahan dari teks liturgi universal (seperti *Kyrie Eleison*), tetapi memiliki "rasa" (soul) Sunda.
### 3. Makna dan Kekuatan Musikal
* **Lirik:** Kata *"Nun, Gusti nu sipat murah"* (Ya Tuhan yang Maha Pengasih/Pemurah) adalah ungkapan yang sangat akrab bagi orang Sunda dalam memohon ampunan. Kata "Sipat Murah" (Sifat Murah Hati) mencerminkan pemahaman teologis bahwa Tuhan adalah kasih yang tak terbatas.
* **Melodi:** Melodi lagu ini digubah dengan sentuhan **Laras Salendro** atau **Pelog** (meskipun dalam notasi Barat, ia tetap mempertahankan nuansa meliuk khas musik Sunda). Iramanya yang lambat, syahdu, dan penuh penyerahan diri membuat umat yang menyanyikannya merasa benar-benar sedang berada di hadapan Tuhan dengan rendah hati.
* **Tujuan:** Lagu ini berfungsi sebagai seruan tobat (*Kyrie*). Djalimun ingin agar umat tidak hanya membaca teks, tetapi "meratap" dan mengakui dosa dengan ketulusan yang mendalam, sesuai dengan karakter budaya Sunda yang lembut dan santun.
### 4. Warisan yang Abadi
Lagu ini menjadi bukti keberhasilan proses inkulturasi di Indonesia. "Nun, Gusti Nu Sipat Murah" tidak dianggap sebagai lagu "asing" atau sekadar lagu tambahan, melainkan sudah menjadi bagian integral dari identitas liturgi Katolik di Keuskupan Bandung dan sekitarnya.
Beberapa hal yang menjadikan lagu ini istimewa:
* **Kedalaman Spiritual:** Meskipun sederhana, lagu ini mampu menyatukan umat dalam suasana pertobatan yang sangat kuat.
* **Penerimaan Luas:** Lagu ini diterima dengan baik bukan hanya oleh umat Katolik keturunan Sunda, tetapi juga oleh umat Katolik dari latar belakang etnis lain yang berada di Jawa Barat karena keindahan melodinya.
* **Simbol Identitas:** Lagu ini menjadi simbol bahwa Gereja Katolik di Indonesia adalah "Gereja yang menghargai budaya lokal".
### Kesimpulan
Kisah di balik *Kasihanilah, Ya Tuhan/Nun, Gusti Nu Sipat Murah* adalah kisah tentang **kasih dan keberanian**. Kasih Adrianus Djalimun kepada Tuhan dan budaya leluhurnya, serta keberaniannya untuk membawa identitas budaya Sunda masuk ke dalam altar suci Gereja. Ia berhasil mengubah seruan tobat yang dingin menjadi sebuah permohonan yang hangat, penuh kasih, dan sangat manusiawi, yang hingga kini masih terus bergema di gereja-gereja setiap kali Misa dirayakan.
Jika Anda mendengarkan lagu ini dengan saksama, Anda akan merasakan bahwa ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah doa yang lahir dari kerendahan hati seorang budayawan dan pengikut Kristus yang taat.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat sosok **Adrianus Djalimun** dan konteks inkulturasi Gereja Katolik di tanah Sunda pada pertengahan abad ke-20.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Sosok Adrianus Djalimun
Adrianus Djalimun adalah seorang tokoh musik gerejawi yang mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan musik liturgi yang bernuansa lokal. Beliau dikenal sebagai seorang komponis yang memiliki kerinduan besar agar umat Katolik di Jawa Barat tidak hanya berdoa dengan bahasa Indonesia atau Latin, tetapi juga bisa mengungkapkan imannya melalui "bahasa ibu", yakni bahasa Sunda, dengan irama yang menyentuh hati masyarakat setempat.
### 2. Konteks Inkulturasi: Semangat Konsili Vatikan II
Lagu ini lahir dari semangat **Konsili Vatikan II** (1962-1965), yang mendorong Gereja untuk membuka diri terhadap budaya setempat (inkulturasi). Sebelum masa itu, lagu-lagu dalam Misa umumnya menggunakan bahasa Latin atau bahasa Indonesia yang formal.
Adrianus Djalimun melihat bahwa umat Katolik di tanah Pasundan membutuhkan doa yang lebih "dekat" dengan budaya mereka. Ia ingin menciptakan lagu yang tidak hanya sekadar terjemahan dari teks liturgi universal (seperti *Kyrie Eleison*), tetapi memiliki "rasa" (soul) Sunda.
### 3. Makna dan Kekuatan Musikal
* **Lirik:** Kata *"Nun, Gusti nu sipat murah"* (Ya Tuhan yang Maha Pengasih/Pemurah) adalah ungkapan yang sangat akrab bagi orang Sunda dalam memohon ampunan. Kata "Sipat Murah" (Sifat Murah Hati) mencerminkan pemahaman teologis bahwa Tuhan adalah kasih yang tak terbatas.
* **Melodi:** Melodi lagu ini digubah dengan sentuhan **Laras Salendro** atau **Pelog** (meskipun dalam notasi Barat, ia tetap mempertahankan nuansa meliuk khas musik Sunda). Iramanya yang lambat, syahdu, dan penuh penyerahan diri membuat umat yang menyanyikannya merasa benar-benar sedang berada di hadapan Tuhan dengan rendah hati.
* **Tujuan:** Lagu ini berfungsi sebagai seruan tobat (*Kyrie*). Djalimun ingin agar umat tidak hanya membaca teks, tetapi "meratap" dan mengakui dosa dengan ketulusan yang mendalam, sesuai dengan karakter budaya Sunda yang lembut dan santun.
### 4. Warisan yang Abadi
Lagu ini menjadi bukti keberhasilan proses inkulturasi di Indonesia. "Nun, Gusti Nu Sipat Murah" tidak dianggap sebagai lagu "asing" atau sekadar lagu tambahan, melainkan sudah menjadi bagian integral dari identitas liturgi Katolik di Keuskupan Bandung dan sekitarnya.
Beberapa hal yang menjadikan lagu ini istimewa:
* **Kedalaman Spiritual:** Meskipun sederhana, lagu ini mampu menyatukan umat dalam suasana pertobatan yang sangat kuat.
* **Penerimaan Luas:** Lagu ini diterima dengan baik bukan hanya oleh umat Katolik keturunan Sunda, tetapi juga oleh umat Katolik dari latar belakang etnis lain yang berada di Jawa Barat karena keindahan melodinya.
* **Simbol Identitas:** Lagu ini menjadi simbol bahwa Gereja Katolik di Indonesia adalah "Gereja yang menghargai budaya lokal".
### Kesimpulan
Kisah di balik *Kasihanilah, Ya Tuhan/Nun, Gusti Nu Sipat Murah* adalah kisah tentang **kasih dan keberanian**. Kasih Adrianus Djalimun kepada Tuhan dan budaya leluhurnya, serta keberaniannya untuk membawa identitas budaya Sunda masuk ke dalam altar suci Gereja. Ia berhasil mengubah seruan tobat yang dingin menjadi sebuah permohonan yang hangat, penuh kasih, dan sangat manusiawi, yang hingga kini masih terus bergema di gereja-gereja setiap kali Misa dirayakan.
Jika Anda mendengarkan lagu ini dengan saksama, Anda akan merasakan bahwa ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah doa yang lahir dari kerendahan hati seorang budayawan dan pengikut Kristus yang taat.
Cross Reference
KK 76
Kasihanilah, Ya Tuhan
KK
Sama Tema
Pangakuan Dosa / Pengakuan Dosa