KMM
Mengikut Yesus Keputusanku
I have decided to follow Jesus
Informasi Lagu
127
Nomor
Kode
KMM 127
Buku
Kidung Muda Mudi
Metronom
0
Cross Ref.
BN 690, NP 143, KPPK 214, KK 399
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Mengikut Yesus Keputusanku" (*I Have Decided to Follow Jesus*)** adalah salah satu kisah pengorbanan iman yang paling mengharukan dan dramatis dalam sejarah kekristenan. Lagu ini tidak berasal dari ruang komposisi yang tenang, melainkan lahir dari pertumpahan darah di pegunungan India.
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Lokasi dan Waktu Kejadian
Kisah ini berlatar di **Assam, India**, pada pertengahan abad ke-19 (sekitar tahun 1860-an). Daerah tersebut dikenal sebagai wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh misionaris karena dihuni oleh suku-suku pengayau (pemotong kepala) yang sangat ganas.
### 2. Sosok sang Tokoh Utama
Seorang pria dari suku **Garo** (salah satu kelompok suku di wilayah tersebut) bernama **Nokseng** mengalami perjumpaan dengan iman Kristen melalui penginjilan seorang misionaris Amerika, **Miles Bronson**. Setelah mendengar Injil, Nokseng mengalami pertobatan yang radang dan memutuskan untuk meninggalkan praktik paganisme sukunya untuk mengikut Yesus.
### 3. Ancaman dan Pertaruhan Nyawa
Keputusan Nokseng membuat kepala suku dan penduduk desa sangat marah. Mereka menganggap Nokseng telah mengkhianati leluhur mereka. Kepala suku menangkap Nokseng beserta istri dan kedua anaknya.
Nokseng diancam dengan hukuman mati jika tidak mau menyangkal imannya. Di depan seluruh desa, kepala suku memberikan ultimatum:
1. **Pilihan pertama:** Jika Nokseng mau menyangkal Yesus, ia dan keluarganya akan dibebaskan dan hidup aman.
2. **Pilihan kedua:** Jika ia tetap teguh pada imannya, ia akan menyaksikan istri dan anak-anaknya dibunuh, dan kemudian ia sendiri akan dieksekusi.
### 4. Kata-kata Terakhir yang Menjadi Lirik
Mendengar ancaman tersebut, Nokseng merespons dengan penuh keteguhan. Ia mengucapkan kata-kata dalam bahasa aslinya yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris:
* *"I have decided to follow Jesus; no turning back, no turning back."* (Aku telah memutuskan untuk mengikut Yesus; tiada berpaling, tiada berpaling.)
* Saat istrinya dibunuh, ia berkata: *"The world behind me, the cross before me; no turning back, no turning back."* (Dunia di belakangku, salib di depanku; tiada berpaling, tiada berpaling.)
* Saat anak-anaknya dibunuh, ia berkata: *"Though none go with me, still I will follow; no turning back, no turning back."* (Meski tak ada yang ikut denganku, aku tetap akan mengikut-Nya; tiada berpaling, tiada berpaling.)
Nokseng akhirnya dieksekusi dengan cara dipenggal. Namun, keberaniannya yang luar biasa justru membuat kepala suku dan penduduk desa lainnya tersentuh. Mereka merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar agama dalam diri Nokseng. Akibat kesaksian hidup dan kematiannya, kepala suku tersebut kemudian bertobat, diikuti oleh banyak orang dari suku tersebut.
### 5. Asal Usul Lagu
Selama bertahun-tahun, kata-kata Nokseng ini menjadi semacam "warisan lisan" bagi orang-orang Kristen di Assam. Kisah ini kemudian ditemukan kembali oleh seorang misionaris India bernama **Sadhu Sundar Singh**.
Pada tahun 1958, seorang ahli musik gerejawi bernama **John Rhind** menemukan lirik tersebut dalam sebuah koleksi catatan misionaris. Ia kemudian menyusun lirik tersebut ke dalam bentuk lagu seperti yang kita kenal sekarang dan memberikan melodi yang berasal dari lagu rakyat tradisional India (*Assamese folk tune*).
### Makna Mendalam
Lagu ini bukan sekadar nyanyian pujian biasa. Setiap kali dinyanyikan, lagu ini merupakan sebuah **sumpah setia**. Kalimat *"The world behind me, the cross before me"* (Dunia di belakangku, salib di depanku) adalah pengingat bahwa mengikut Yesus adalah tindakan meninggalkan kenyamanan duniawi demi jalan penderitaan yang membawa keselamatan.
Kisah Nokseng adalah bukti nyata bahwa bagi banyak orang di berbagai belahan dunia, mengikuti Yesus bukanlah sekadar rutinitas hari Minggu, melainkan sebuah keputusan hidup dan mati yang diambil dengan harga yang sangat mahal.
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Lokasi dan Waktu Kejadian
Kisah ini berlatar di **Assam, India**, pada pertengahan abad ke-19 (sekitar tahun 1860-an). Daerah tersebut dikenal sebagai wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh misionaris karena dihuni oleh suku-suku pengayau (pemotong kepala) yang sangat ganas.
### 2. Sosok sang Tokoh Utama
Seorang pria dari suku **Garo** (salah satu kelompok suku di wilayah tersebut) bernama **Nokseng** mengalami perjumpaan dengan iman Kristen melalui penginjilan seorang misionaris Amerika, **Miles Bronson**. Setelah mendengar Injil, Nokseng mengalami pertobatan yang radang dan memutuskan untuk meninggalkan praktik paganisme sukunya untuk mengikut Yesus.
### 3. Ancaman dan Pertaruhan Nyawa
Keputusan Nokseng membuat kepala suku dan penduduk desa sangat marah. Mereka menganggap Nokseng telah mengkhianati leluhur mereka. Kepala suku menangkap Nokseng beserta istri dan kedua anaknya.
Nokseng diancam dengan hukuman mati jika tidak mau menyangkal imannya. Di depan seluruh desa, kepala suku memberikan ultimatum:
1. **Pilihan pertama:** Jika Nokseng mau menyangkal Yesus, ia dan keluarganya akan dibebaskan dan hidup aman.
2. **Pilihan kedua:** Jika ia tetap teguh pada imannya, ia akan menyaksikan istri dan anak-anaknya dibunuh, dan kemudian ia sendiri akan dieksekusi.
### 4. Kata-kata Terakhir yang Menjadi Lirik
Mendengar ancaman tersebut, Nokseng merespons dengan penuh keteguhan. Ia mengucapkan kata-kata dalam bahasa aslinya yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris:
* *"I have decided to follow Jesus; no turning back, no turning back."* (Aku telah memutuskan untuk mengikut Yesus; tiada berpaling, tiada berpaling.)
* Saat istrinya dibunuh, ia berkata: *"The world behind me, the cross before me; no turning back, no turning back."* (Dunia di belakangku, salib di depanku; tiada berpaling, tiada berpaling.)
* Saat anak-anaknya dibunuh, ia berkata: *"Though none go with me, still I will follow; no turning back, no turning back."* (Meski tak ada yang ikut denganku, aku tetap akan mengikut-Nya; tiada berpaling, tiada berpaling.)
Nokseng akhirnya dieksekusi dengan cara dipenggal. Namun, keberaniannya yang luar biasa justru membuat kepala suku dan penduduk desa lainnya tersentuh. Mereka merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar agama dalam diri Nokseng. Akibat kesaksian hidup dan kematiannya, kepala suku tersebut kemudian bertobat, diikuti oleh banyak orang dari suku tersebut.
### 5. Asal Usul Lagu
Selama bertahun-tahun, kata-kata Nokseng ini menjadi semacam "warisan lisan" bagi orang-orang Kristen di Assam. Kisah ini kemudian ditemukan kembali oleh seorang misionaris India bernama **Sadhu Sundar Singh**.
Pada tahun 1958, seorang ahli musik gerejawi bernama **John Rhind** menemukan lirik tersebut dalam sebuah koleksi catatan misionaris. Ia kemudian menyusun lirik tersebut ke dalam bentuk lagu seperti yang kita kenal sekarang dan memberikan melodi yang berasal dari lagu rakyat tradisional India (*Assamese folk tune*).
### Makna Mendalam
Lagu ini bukan sekadar nyanyian pujian biasa. Setiap kali dinyanyikan, lagu ini merupakan sebuah **sumpah setia**. Kalimat *"The world behind me, the cross before me"* (Dunia di belakangku, salib di depanku) adalah pengingat bahwa mengikut Yesus adalah tindakan meninggalkan kenyamanan duniawi demi jalan penderitaan yang membawa keselamatan.
Kisah Nokseng adalah bukti nyata bahwa bagi banyak orang di berbagai belahan dunia, mengikuti Yesus bukanlah sekadar rutinitas hari Minggu, melainkan sebuah keputusan hidup dan mati yang diambil dengan harga yang sangat mahal.
Cross Reference
BN 690, NP 143, KPPK 214, KK 399
Mengikut Yesus Keputusanku
BN
Mengikut Yesus Keputusanku
KK
Mengikut Yesus, Keputusanku
KPPK
Mengikut Yesus Keputusanku
NP
Sama Tema
Penyerahan dan Pengampunan