KP
Margi Ngaluwihang Ida
Informasi Lagu
18
Nomor
Kode
KP 18
Buku
Kidung Pamuji
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 222b, NR 66
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
1 bait
1.
Margi ngaluwihang parab
Ida Sang Hyang Yesus
Nangkil ja ring ayun Ida
tur nyumbah, nyumbah Ida
Sang Ratu Yesus
2.
Orti rahayun Idane
Madak kaortiang
Marija pasamuan sami
manyumbah, nyumbah Ida
Sang Ratu Yesus
3.
Ih para kaulan Ida,
ngiring ja umedek
Ring sane mebasang raga
tur nyumbah, nyumbah Ida
Sang Ratu Yesus
4.
Saking klod kaja kangin kauh
manusa ring jagat
Ne nampi paswecan Ida
manyumbah, nyumbah Ida
Sang Ratu Yesus
5.
Pasamuan maka sami,
ring masa wekasan
Nunggil ring ayun Idane
manyumbah, nyumbah Ida
Sang Ratu Yesus
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"All Hail the Power of Jesus' Name"** (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi **"Pujilah Yesus yang Mulia"**) adalah sebuah narasi tentang keberanian iman, pengabdian, dan kejeniusan musikal yang melintasi zaman.
Lagu ini sebenarnya merupakan kolaborasi antara dua tokoh besar dalam sejarah Kekristenan Inggris abad ke-18: **Edward Perronet** (penulis lirik) dan **William Shrubsole** (komposer melodi yang paling terkenal, *Diadem*).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Sang Penulis Lirik: Edward Perronet (1726–1792)
Edward Perronet adalah seorang putra pendeta Anglikan yang kemudian menjadi rekan dekat John Wesley, tokoh pendiri Gereja Metodis. Namun, karena perbedaan pandangan teologis—terutama ketidaksetujuan Perronet terhadap struktur hierarki gereja formal—ia akhirnya memilih untuk meninggalkan Gereja Inggris dan melayani sebagai pendeta independen di Canterbury.
Perronet adalah seorang yang sangat mencintai Yesus. Konon, bait pertama dari lagu ini lahir dari sebuah pengalaman rohani yang mendalam. Saat ia sedang merenungkan kemuliaan Yesus, ia menuliskan baris pertama: *"All hail the power of Jesus' name! Let angels prostrate fall."* (Pujilah nama Yesus yang mulia! Biarlah para malaikat sujud menyembah).
Lirik ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1779 di dalam majalah *Gospel Magazine*. Menariknya, Perronet awalnya menerbitkan puisi ini secara anonim karena ia dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati dan kontroversial di mata gereja mapan.
### 2. Kisah Unik: "Mahkota untuk Yesus"
Terdapat sebuah cerita populer (meskipun sulit diverifikasi secara sejarah murni, namun sangat sering dikutip) mengenai inspirasi di balik liriknya. Perronet konon pernah mengalami penganiayaan karena imannya. Ketika ia diserang oleh massa di Inggris karena berkhotbah di luar struktur gereja resmi, ia berdiri tegak dan menyatakan bahwa satu-satunya "Mahkota" yang layak disembah adalah Yesus Kristus. Kalimat *"Bring forth the royal diadem, and crown Him Lord of all"* (Bawalah mahkota kerajaan, dan mahkotai Dia sebagai Tuhan atas segalanya) menjadi pernyataan teologis yang sangat kuat bagi Perronet.
### 3. Sang Komposer: William Shrubsole (1760–1806)
Meskipun liriknya ditulis oleh Perronet, melodi yang paling ikonik dan sering dinyanyikan di seluruh dunia saat ini—yang dikenal dengan nama nada **"Diadem"**—diciptakan oleh **William Shrubsole**.
Shrubsole adalah seorang organis berbakat di Canterbury Cathedral. Pada masa itu, ia dipecat dari posisinya sebagai organis gereja karena ia sering menghadiri pertemuan Metodis (yang saat itu dianggap "di luar aturan" gereja resmi).
Pada tahun 1779, Shrubsole menulis melodi *Diadem* untuk lirik Perronet tersebut. Melodi ini sangat megah, penuh semangat, dan memiliki karakteristik musik gerejawi yang sangat kuat. Melodi ini memberikan kekuatan yang luar biasa pada lirik Perronet, menjadikannya lagu yang sangat cocok dinyanyikan dalam perayaan besar gerejawi.
### 4. Makna dan Warisan
Lagu ini sering disebut sebagai **"Mars Kebangsaan Gereja"** (*The National Anthem of Christendom*). Alasannya adalah karena liriknya yang mencakup semua lapisan masyarakat:
* Malaikat di surga.
* Para martir.
* Bangsawan (kaum terpandang).
* Orang berdosa yang telah ditebus.
Pesan utamanya sangat sederhana namun mendalam: **Kedaulatan Kristus atas segala ciptaan.** Bahwa tidak peduli siapa kita atau apa jabatan kita di dunia, pada akhirnya semua harus bertekuk lutut dan mengakui Yesus sebagai Tuhan ("Crown Him Lord of all").
### Kesimpulan
Perpaduan antara keteguhan iman Edward Perronet yang berani menentang arus, dan kejeniusan musikal William Shrubsole yang berani mengambil risiko demi keyakinannya, menghasilkan sebuah mahakarya yang telah dinyanyikan oleh jutaan orang selama lebih dari 200 tahun.
Setiap kali kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menyanyikan sebuah deklarasi kemenangan iman dari dua pria yang lebih memilih kehilangan posisi di dunia demi memastikan bahwa nama Yesus tetap dimuliakan sebagai "Raja di atas segala raja".
Lagu ini sebenarnya merupakan kolaborasi antara dua tokoh besar dalam sejarah Kekristenan Inggris abad ke-18: **Edward Perronet** (penulis lirik) dan **William Shrubsole** (komposer melodi yang paling terkenal, *Diadem*).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Sang Penulis Lirik: Edward Perronet (1726–1792)
Edward Perronet adalah seorang putra pendeta Anglikan yang kemudian menjadi rekan dekat John Wesley, tokoh pendiri Gereja Metodis. Namun, karena perbedaan pandangan teologis—terutama ketidaksetujuan Perronet terhadap struktur hierarki gereja formal—ia akhirnya memilih untuk meninggalkan Gereja Inggris dan melayani sebagai pendeta independen di Canterbury.
Perronet adalah seorang yang sangat mencintai Yesus. Konon, bait pertama dari lagu ini lahir dari sebuah pengalaman rohani yang mendalam. Saat ia sedang merenungkan kemuliaan Yesus, ia menuliskan baris pertama: *"All hail the power of Jesus' name! Let angels prostrate fall."* (Pujilah nama Yesus yang mulia! Biarlah para malaikat sujud menyembah).
Lirik ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1779 di dalam majalah *Gospel Magazine*. Menariknya, Perronet awalnya menerbitkan puisi ini secara anonim karena ia dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati dan kontroversial di mata gereja mapan.
### 2. Kisah Unik: "Mahkota untuk Yesus"
Terdapat sebuah cerita populer (meskipun sulit diverifikasi secara sejarah murni, namun sangat sering dikutip) mengenai inspirasi di balik liriknya. Perronet konon pernah mengalami penganiayaan karena imannya. Ketika ia diserang oleh massa di Inggris karena berkhotbah di luar struktur gereja resmi, ia berdiri tegak dan menyatakan bahwa satu-satunya "Mahkota" yang layak disembah adalah Yesus Kristus. Kalimat *"Bring forth the royal diadem, and crown Him Lord of all"* (Bawalah mahkota kerajaan, dan mahkotai Dia sebagai Tuhan atas segalanya) menjadi pernyataan teologis yang sangat kuat bagi Perronet.
### 3. Sang Komposer: William Shrubsole (1760–1806)
Meskipun liriknya ditulis oleh Perronet, melodi yang paling ikonik dan sering dinyanyikan di seluruh dunia saat ini—yang dikenal dengan nama nada **"Diadem"**—diciptakan oleh **William Shrubsole**.
Shrubsole adalah seorang organis berbakat di Canterbury Cathedral. Pada masa itu, ia dipecat dari posisinya sebagai organis gereja karena ia sering menghadiri pertemuan Metodis (yang saat itu dianggap "di luar aturan" gereja resmi).
Pada tahun 1779, Shrubsole menulis melodi *Diadem* untuk lirik Perronet tersebut. Melodi ini sangat megah, penuh semangat, dan memiliki karakteristik musik gerejawi yang sangat kuat. Melodi ini memberikan kekuatan yang luar biasa pada lirik Perronet, menjadikannya lagu yang sangat cocok dinyanyikan dalam perayaan besar gerejawi.
### 4. Makna dan Warisan
Lagu ini sering disebut sebagai **"Mars Kebangsaan Gereja"** (*The National Anthem of Christendom*). Alasannya adalah karena liriknya yang mencakup semua lapisan masyarakat:
* Malaikat di surga.
* Para martir.
* Bangsawan (kaum terpandang).
* Orang berdosa yang telah ditebus.
Pesan utamanya sangat sederhana namun mendalam: **Kedaulatan Kristus atas segala ciptaan.** Bahwa tidak peduli siapa kita atau apa jabatan kita di dunia, pada akhirnya semua harus bertekuk lutut dan mengakui Yesus sebagai Tuhan ("Crown Him Lord of all").
### Kesimpulan
Perpaduan antara keteguhan iman Edward Perronet yang berani menentang arus, dan kejeniusan musikal William Shrubsole yang berani mengambil risiko demi keyakinannya, menghasilkan sebuah mahakarya yang telah dinyanyikan oleh jutaan orang selama lebih dari 200 tahun.
Setiap kali kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menyanyikan sebuah deklarasi kemenangan iman dari dua pria yang lebih memilih kehilangan posisi di dunia demi memastikan bahwa nama Yesus tetap dimuliakan sebagai "Raja di atas segala raja".
Cross Reference
Oduh Ratu Sang Hyang Yesus
KP
Salib Ida Sang Hyang Yesus
KP
Sang Hyang Yesus Kapentang
KP
Sang Hyang Yesus Wiakti Kapentang
KP
Wenten Rah Suci Mamuncrat
KP
Duh Hyang Yesus Sedan Ratu
KP
O Wenten Suara Jangih
KP
Rahina Nika Suci
KP
Haleluya Ida Nyeneng
KP
Rerainan Ida Nyeneng
KP
Juru Rahayun Tiang Nyeneng
KP