Informasi Lagu
31
Nomor
Kode
KPPK 31
Buku
Kidung Puji-Pujian Kristen
Metronom
0
Cross Ref.
NP 26, NKI 5, GB 73
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Sewaktu ku ingat Yesus, hatiku manislah bila kulihat wajah-Mu, hatiku senanglah.
Ku tak dapat menuturkan, dan tak mampu ingat, tiada nama yang harumnya, seperti nama-Mu.
Yesus Kau sukacitaku, pahalaku kelak, hanyalah Kau yang termulia, selama-lamanya.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KPPK 31 1
Slide 2 — KPPK 31 2
Slide 3 — KPPK 31 3
Partitur / Not
Partitur Chord KPPK 31
Sejarah Lagu
Lagu **"Ya Yesus, Bila Kukenang"** (judul asli bahasa Inggris: *Jesus, the Very Thought of Thee*) adalah salah satu himne Kristen yang paling dicintai di dunia. Keindahan lagu ini terletak pada perpaduan antara syair yang penuh kasih dan melodi yang tenang dan khusyuk.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Sumber Syair: Bernard dari Clairvaux (Abad ke-12)
Meskipun lagu ini sering dikaitkan dengan John Bacchus Dykes (komposer) dan Edward Caswall (penerjemah), akar aslinya berasal dari abad ke-12. Syair aslinya ditulis dalam bahasa Latin berjudul *Jesu dulcis memoria* oleh **St. Bernard dari Clairvaux** (1090–1153).

Bernard adalah seorang biarawan Cistercian yang dikenal sebagai mistikus yang sangat mengasihi Yesus. Syair ini ia tulis sebagai bentuk meditasi pribadi tentang kedekatan hubungan antara jiwa manusia dengan Kristus. Dalam bait aslinya (yang terdiri dari puluhan bait), Bernard mengungkapkan bahwa tidak ada musik, kata-kata, atau pikiran yang lebih manis daripada nama Yesus.

### 2. Penerjemahan oleh Edward Caswall (1849)
Selama berabad-abad, puisi Bernard tetap menjadi bahasa Latin. Pada pertengahan abad ke-19, seorang pendeta Inggris bernama **Edward Caswall** (1814–1878) menemukan puisi tersebut.

Caswall adalah seorang pengikut gerakan *Oxford Movement* yang kemudian masuk ke Gereja Katolik Roma. Ia memiliki bakat luar biasa dalam menerjemahkan himne Latin ke dalam bahasa Inggris tanpa kehilangan kedalaman teologisnya. Pada tahun 1849, ia menerbitkan terjemahan dari *Jesu dulcis memoria* ke dalam bahasa Inggris yang kita kenal sekarang sebagai *Jesus, the Very Thought of Thee*. Ia berhasil menangkap esensi "keintiman rohani" dari tulisan Bernard dan menjadikannya lirik yang ritmis dan mudah dinyanyikan.

### 3. Komposisi Musik oleh John Bacchus Dykes (1866)
Meskipun liriknya sudah ada, lagu ini mencapai puncak kepopulerannya karena melodi yang ditulis oleh **John Bacchus Dykes** (1823–1876).

Dykes adalah seorang pendeta Gereja Inggris sekaligus komposer himne yang paling produktif pada era Victoria. Ia memberikan judul pada melodi lagu ini **"St. Agnes"**. Dykes dikenal sebagai komposer yang mampu menciptakan melodi yang tidak hanya indah secara musikal, tetapi juga mampu "mendorong" jemaat untuk berdoa melalui musiknya.

Melodi "St. Agnes" yang diciptakan Dykes pada tahun 1866 sangat selaras dengan lirik Caswall. Kelembutan not-notnya mencerminkan kerendahan hati dan ketenangan yang digambarkan dalam bait-bait liriknya.

### 4. Makna di Balik Lagu
Lagu ini bukan sekadar puji-pujian, melainkan sebuah **"doa kontemplatif"**.

* **Bait 1 & 2:** Fokus pada betapa manisnya pikiran akan Yesus bagi orang percaya, bahkan lebih manis dari sekadar kata-kata atau lagu.
* **Bait Tengah:** Mengakui bahwa Yesus adalah pengharapan bagi mereka yang bertobat dan sumber sukacita bagi mereka yang mencari-Nya.
* **Bait Akhir:** Sebuah doa permohonan agar Yesus menjadi sumber cahaya dan kebahagiaan tertinggi dalam hidup, melebihi segala kesenangan duniawi.

### Mengapa lagu ini begitu abadi?
Keberhasilan lagu ini terletak pada **"kesederhanaan yang mendalam"**. Ia tidak mencoba berdebat tentang teologi yang rumit, tetapi langsung menyentuh sisi emosional dan spiritual manusia. Baik St. Bernard yang menulisnya di biara, Caswall yang menerjemahkannya, maupun Dykes yang memberinya nada, ketiganya dipersatukan oleh satu tujuan: **untuk menyatakan bahwa pusat dari iman Kristen adalah kasih yang intim dan pribadi kepada Yesus Kristus.**

Hingga saat ini, "Ya Yesus, Bila Kukenang" tetap menjadi himne standar dalam banyak buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* No. 393 di Indonesia), dan sering dinyanyikan saat momen perjamuan kudus atau saat teduh karena kemampuannya membawa jiwa ke dalam suasana hening di hadapan Tuhan.