KPPK
'Ku Memilih Yesus
I'd Rather Have Jesus
Informasi Lagu
325
Nomor
Do= Des
Nada Dasar
Kode
KPPK 325
Buku
Kidung Puji-Pujian Kristen
Nada Dasar
Do= Des
Ketukan
3 ketuk ketuk
Metronom
84
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
George Beverly Shea
Pencipta Syair
Rhea F. Miller
Cross Ref.
BLP 196
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Ku memilih Yesus, bukan harta,
dan Dia milikku melebihi semua.
Ku memilih Yesus, bukan ladang,
biar tangan-Nya, yang menuntunku.
Reff
Ku tak mau jadi raja penguasa,
namun diblenggu dosa.
Ku memilih Yesus, lebih indah,
dari semuanya.
Ku memilih Yesus, lebih mulia,
setia pada-Nya dan puaskan hati-Nya.
Ku memilih Yesus, lebih indah,
dan muliakan-Nya, penuh setia.
Tuhan lebih indah, lebih manis,
dari bunga bakung ataupun madu.
Jiwa dahagaku, hampiri Dia,
penyertaan-Nya, sungguh indahlah.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"I'd Rather Have Jesus"** adalah sebuah perpaduan antara puisi yang menyentuh hati dan inspirasi musik yang lahir dari momen refleksi yang dalam. Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan sebuah pernyataan komitmen iman.
Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Penulis Lirik: Rhea F. Miller
Pada tahun 1922, seorang wanita bernama **Rhea F. Miller** menulis sebuah puisi. Ia adalah istri dari seorang pengkhotbah. Suatu hari, setelah mendengarkan suaminya berkhotbah, ia pulang ke rumah dan menulis puisi tersebut di atas secarik kertas. Ia tidak berniat membuat lagu hit; ia hanya menuangkan isi hatinya tentang bagaimana kemewahan, popularitas, dan kekuasaan duniawi tidak ada artinya dibandingkan dengan kehadiran Yesus Kristus.
Puisi itu kemudian ia letakkan begitu saja di atas piano di rumah orang tuanya.
### 2. Penemu Puisi: George Beverly Shea
Beberapa tahun kemudian, **George Beverly Shea**, yang saat itu masih seorang pemuda berusia 23 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan asuransi di New York, sedang mengunjungi orang tuanya. Shea memiliki bakat menyanyi yang luar biasa, namun ia sedang bergumul dengan godaan karier sekuler.
Pada saat itu, Shea ditawari kontrak untuk menjadi penyanyi di radio sekuler dengan gaji yang sangat menggiurkan dan potensi popularitas yang besar. Namun, ia merasa bahwa karier tersebut akan menjauhkannya dari pelayanan kepada Tuhan.
Suatu hari, saat Shea sedang duduk di depan piano di rumah orang tuanya, ibunya (yang telah menyimpan puisi karya Rhea F. Miller) menyodorkan kertas tersebut kepada Shea. Ibunya berkata, "Bev, cobalah bacalah ini."
### 3. Lahirnya Melodi
Shea membaca bait-bait puisi tersebut. Ia sangat tersentuh oleh kalimat-kalimatnya:
* *"I'd rather have Jesus than silver or gold..."* (Aku lebih memilih Yesus daripada perak atau emas)
* *"I'd rather have Jesus than men's applause..."* (Aku lebih memilih Yesus daripada tepuk tangan manusia)
Sambil terus membaca, Shea mulai menekan tuts piano dan secara spontan menciptakan melodi yang cocok dengan kata-kata tersebut. Saat ia menyanyikannya, ia merasa Tuhan sedang berbicara langsung kepadanya, memberikan jawaban atas kegelisahan hatinya mengenai tawaran karier tadi.
### 4. Keputusan Iman
Melalui lagu tersebut, Shea membuat keputusan besar. Ia menolak tawaran karier sekuler yang menggiurkan itu dan memutuskan untuk menggunakan bakat suaranya untuk melayani Tuhan. Keputusan ini membawanya pada persahabatan seumur hidup dengan penginjil terkenal **Billy Graham**.
Selama puluhan tahun, George Beverly Shea menjadi penyanyi utama dalam kampanye penginjilan Billy Graham ke seluruh dunia. Lagu "I'd Rather Have Jesus" pun menjadi lagu tema hidupnya dan lagu yang paling sering ia nyanyikan di hadapan jutaan orang.
### Mengapa lagu ini begitu bermakna?
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena pesannya yang jujur tentang **prioritas hidup**. Di tengah dunia yang mengejar kekayaan, status sosial, dan pengakuan (seperti yang ditulis Rhea F. Miller: *"than houses or lands"*, *"than men's applause"*), lagu ini menjadi pengingat yang rendah hati bahwa kepuasan sejati hanya ditemukan dalam hubungan pribadi dengan Kristus.
Bagi George Beverly Shea, lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan **kontrak hidupnya dengan Tuhan**—sebuah komitmen untuk tidak menukar imannya dengan apa pun di dunia ini.
Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Penulis Lirik: Rhea F. Miller
Pada tahun 1922, seorang wanita bernama **Rhea F. Miller** menulis sebuah puisi. Ia adalah istri dari seorang pengkhotbah. Suatu hari, setelah mendengarkan suaminya berkhotbah, ia pulang ke rumah dan menulis puisi tersebut di atas secarik kertas. Ia tidak berniat membuat lagu hit; ia hanya menuangkan isi hatinya tentang bagaimana kemewahan, popularitas, dan kekuasaan duniawi tidak ada artinya dibandingkan dengan kehadiran Yesus Kristus.
Puisi itu kemudian ia letakkan begitu saja di atas piano di rumah orang tuanya.
### 2. Penemu Puisi: George Beverly Shea
Beberapa tahun kemudian, **George Beverly Shea**, yang saat itu masih seorang pemuda berusia 23 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan asuransi di New York, sedang mengunjungi orang tuanya. Shea memiliki bakat menyanyi yang luar biasa, namun ia sedang bergumul dengan godaan karier sekuler.
Pada saat itu, Shea ditawari kontrak untuk menjadi penyanyi di radio sekuler dengan gaji yang sangat menggiurkan dan potensi popularitas yang besar. Namun, ia merasa bahwa karier tersebut akan menjauhkannya dari pelayanan kepada Tuhan.
Suatu hari, saat Shea sedang duduk di depan piano di rumah orang tuanya, ibunya (yang telah menyimpan puisi karya Rhea F. Miller) menyodorkan kertas tersebut kepada Shea. Ibunya berkata, "Bev, cobalah bacalah ini."
### 3. Lahirnya Melodi
Shea membaca bait-bait puisi tersebut. Ia sangat tersentuh oleh kalimat-kalimatnya:
* *"I'd rather have Jesus than silver or gold..."* (Aku lebih memilih Yesus daripada perak atau emas)
* *"I'd rather have Jesus than men's applause..."* (Aku lebih memilih Yesus daripada tepuk tangan manusia)
Sambil terus membaca, Shea mulai menekan tuts piano dan secara spontan menciptakan melodi yang cocok dengan kata-kata tersebut. Saat ia menyanyikannya, ia merasa Tuhan sedang berbicara langsung kepadanya, memberikan jawaban atas kegelisahan hatinya mengenai tawaran karier tadi.
### 4. Keputusan Iman
Melalui lagu tersebut, Shea membuat keputusan besar. Ia menolak tawaran karier sekuler yang menggiurkan itu dan memutuskan untuk menggunakan bakat suaranya untuk melayani Tuhan. Keputusan ini membawanya pada persahabatan seumur hidup dengan penginjil terkenal **Billy Graham**.
Selama puluhan tahun, George Beverly Shea menjadi penyanyi utama dalam kampanye penginjilan Billy Graham ke seluruh dunia. Lagu "I'd Rather Have Jesus" pun menjadi lagu tema hidupnya dan lagu yang paling sering ia nyanyikan di hadapan jutaan orang.
### Mengapa lagu ini begitu bermakna?
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena pesannya yang jujur tentang **prioritas hidup**. Di tengah dunia yang mengejar kekayaan, status sosial, dan pengakuan (seperti yang ditulis Rhea F. Miller: *"than houses or lands"*, *"than men's applause"*), lagu ini menjadi pengingat yang rendah hati bahwa kepuasan sejati hanya ditemukan dalam hubungan pribadi dengan Kristus.
Bagi George Beverly Shea, lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan **kontrak hidupnya dengan Tuhan**—sebuah komitmen untuk tidak menukar imannya dengan apa pun di dunia ini.
Cross Reference
BLP 196
I'd Rather Have Jesus
BLP
Semakin Dalam
KPPK
Tuhan Aku Perlu, Setiap Waktu
KPPK
Ke Tempat Lebih Tinggi
KPPK
'Ku Mau Jadi Murid Yesus
KPPK
Dekat pada-Nya
KPPK
Jadikan Aku Saluran Berkat
KPPK
Seputih Salju
KPPK
Jiwaku Tenanglah
KPPK
Yesus Pimpin, 'Ku Mau Ikut
KPPK
Kini 'Ku Mau Tuhan
KPPK
Kasih Tuhan Selamatkanku
KPPK
Tuhan Selamatkanku
KPPK
'Ku Tak Pernah Rendah Hati
KPPK
Pintu Sorga 'kan Dibuka
KPPK
Sangat Besar Anug'rah-Nya
KPPK
Pakailah Waktumu
KPPK
Karena Kasih, Orang Tahu Aku Umat-Nya
KPPK
Sungguh Heran
KPPK
'Ku Giranglah Karena Tuhan
KPPK