NKB
Syukur PadaMu, Ya Allah
Thanks to God!
Informasi Lagu
133
Nomor
Do=Bes
Nada Dasar
Kode
NKB 133
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Nada Dasar
Do=Bes
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
88
Jumlah Bait
3 bait
Style
FinalWaltz
Pencipta Lagu
Johannes Alfred Hultman (1910)
Pencipta Syair
August Ludvig Storm (1891)
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI (1989)
Cross Ref.
KK 466, KPJ 181
Syair / Lirik
3 bait
Syukur padaMu, ya Allah, atas s’gala rahmatMu;
Syukur atas kecukupan dari kasihMu penuh.
Syukur atas pekerjaan, walau tubuhpun lemban;
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan teman.
Syukur atas bunga mawar, harum, indah tak terp’ri.
Syukur atas awan hitam dan mentari berseri.
Syukur atas suka-duka yang ‘Kau b’ri tiap saat;
Dan FirmanMulah pelita agar kami tak sesat
Syukur atas keluarga penuh kasih yang mesra;
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera.
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah;
Syukur atas pengharapan kini dan selamanya!
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Syukur Padamu, Ya Allah," yang aslinya berjudul "Tack, O Gud!" (Terima Kasih, Ya Tuhan!) dalam bahasa Swedia, adalah sebuah permata spiritual yang memiliki kisah latar belakang sangat menyentuh dan inspiratif. Lagu ini merupakan hasil kolaborasi antara seorang penulis lirik yang buta namun penuh syukur, **August Ludvig Storm**, dan seorang komposer serta penyanyi evangelis yang dikenal sebagai "The Sunshine Singer," **Johannes Alfred Hultman**.
Mari kita selami kisah detail di balik terciptanya lagu yang penuh makna ini:
---
### Bagian 1: Sang Penulis Lirik – August Ludvig Storm (1859-1914)
Kisah lagu ini berawal dari kehidupan seorang pria sederhana namun luar biasa bernama August Ludvig Storm. Lahir di Småland, Swedia pada tahun 1859, kehidupan Storm jauh dari kata mudah. Sejak usia muda, ia harus menghadapi cobaan berat. Pada usia sekitar 12 tahun, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkannya kehilangan penglihatan secara total, menjadikannya buta permanen.
Kegelapan fisik ini bisa saja merenggut semangat hidupnya, namun bagi Storm, kegelapan justru membuka mata spiritualnya lebih lebar. Ia tumbuh dalam kemiskinan dan menghadapi keterbatasan yang sangat besar akibat kebutaannya. Namun, ia tidak pernah membiarkan kondisi fisiknya meredupkan imannya atau memadamkan api syukurnya.
Storm menemukan penghiburan dan tujuan hidupnya ketika ia bergabung dengan Bala Keselamatan (Frälsningsarmén) di Swedia. Di sana, ia menjadi seorang sersan lokal dan aktif dalam pelayanan. Meskipun buta dan hidup dalam kemiskinan, Storm dikenal karena imannya yang teguh, kerendahan hati, dan sikapnya yang selalu bersyukur atas segala hal. Ia adalah contoh nyata seseorang yang melihat berkat Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya, sekecil apa pun itu.
**Inspirasi di Balik "Tack, O Gud!"**
Lirik "Tack, O Gud!" lahir dari kedalaman hati Storm yang penuh dengan rasa syukur yang tak tergoyahkan. Ia menulis lagu ini bukan sebagai tangisan kesusahan atau keluhan atas nasibnya, melainkan sebagai deklarasi iman dan terima kasih yang tulus kepada Tuhan untuk *segala-galanya*.
Ia tidak hanya bersyukur atas berkat-berkat yang jelas terlihat, tetapi juga untuk hal-hal yang mungkin dianggap biasa saja, atau bahkan untuk kesulitan yang ia alami. Baginya, setiap detik kehidupan, setiap nafas, setiap pengalaman—baik suka maupun duka—adalah anugerah dari Tuhan. Kebutaan, kemiskinan, dan keterbatasan fisiknya tidak membuatnya berhenti melihat kebaikan Tuhan yang tak terbatas. Sebaliknya, hal-hal tersebut mungkin justru memperkuat keyakinannya bahwa Tuhan selalu hadir dan memelihara.
Liriknya sederhana, langsung, dan sangat jujur, mencerminkan karakter Storm sendiri:
* *"Tack, o Gud, för vad du är!"* (Terima kasih, Ya Tuhan, atas diri-Mu!)
* *"Tack för livet, tack för allt!"* (Terima kasih untuk hidup, terima kasih untuk segalanya!)
* *"Tack för korset, tack för nåden, tack för himlen!"* (Terima kasih untuk salib, terima kasih untuk kasih karunia, terima kasih untuk surga!)
* Dan yang paling mendalam: *"Tack för allt, ja tack för allt, som du ger mig!"* (Terima kasih untuk segalanya, ya terima kasih untuk segalanya, yang Kau berikan padaku!)
Lirik-lirik ini bukan hanya sekadar kata-kata; itu adalah cerminan dari filosofi hidup Storm yang mempraktikkan rasa syukur setiap hari, dalam setiap keadaan.
---
### Bagian 2: Sang Komposer – Johannes Alfred Hultman (1861-1942)
Beberapa tahun setelah August Ludvig Storm menulis liriknya yang menyentuh, seorang musisi dan evangelis Swedia-Amerika bernama Johannes Alfred Hultman memasuki panggung. Hultman, yang lahir di Ryarum, Swedia, pada tahun 1861, berimigrasi ke Amerika Serikat bersama keluarganya saat masih kecil. Ia dikenal luas sebagai "The Sunshine Singer" karena melodi-melodinya yang ceria, optimis, dan lirik-liriknya yang penuh harapan. Ia adalah seorang figur populer dalam gerakan kebangunan rohani di komunitas Swedia-Amerika pada awal abad ke-20.
Hultman memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan melodi yang mudah diingat, menghibur, dan sekaligus memiliki pesan spiritual yang kuat. Ia sering kali menemukan lirik-lirik indah yang ditulis oleh orang lain dan kemudian menggubah musik untuk lirik tersebut, memberikannya "sayap" agar dapat terbang dan menyentuh hati lebih banyak orang.
**Pertemuan Lirik dan Melodi**
Tidak jelas kapan dan bagaimana Hultman pertama kali menemukan lirik "Tack, O Gud!" karya August Ludvig Storm. Namun, kemungkinan besar ia menjumpainya melalui publikasi Bala Keselamatan atau himne-himne populer yang beredar di komunitas Swedia pada masa itu.
Ketika Hultman membaca lirik Storm, ia pasti merasakan kedalaman dan ketulusan hati yang luar biasa di baliknya. Lirik dari seorang pria buta yang bersyukur atas *segala-galanya* adalah pesan yang kuat dan universal. Hultman menyadari bahwa lirik tersebut membutuhkan melodi yang dapat membawa pesan tersebut dengan terang, ceria, namun tetap penuh penghayatan.
Ia kemudian menggubah melodi untuk "Tack, O Gud!" yang kita kenal sekarang. Melodi Hultman sangat cocok dengan lirik Storm—sederhana, mudah dinyanyikan, namun memiliki alunan yang mengangkat dan menguatkan. Melodi ini tidak terlalu rumit, sehingga mudah dihafal dan dinyanyikan oleh jemaat, memungkinkan pesan syukur Storm menyebar luas.
---
### Bagian 3: Penyebaran dan Warisan Lagu
Kombinasi lirik Storm yang tulus dan mendalam dengan melodi Hultman yang ceria dan mudah diingat menjadikan "Tack, O Gud!" sebuah lagu yang sangat populer. Lagu ini dengan cepat menyebar di antara jemaat gereja-gereja Swedia di Amerika dan Swedia sendiri. Hultman sering membawakan lagu ini dalam pertemuan-pertemuan kebangunan rohani, dan ia adalah salah satu alasan utama mengapa lagu ini dikenal luas.
**"Syukur Padamu, Ya Allah" di Indonesia**
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan judul "Syukur Padamu, Ya Allah" dan menjadi salah satu lagu rohani yang sangat dicintai dan sering dinyanyikan. Lirik terjemahannya berhasil menangkap esensi dan semangat asli dari lagu tersebut:
* "Syukur padamu ya Allah, atas kasih karuniaMu"
* "Syukur padamu ya Allah, atas hidupku s’lamanya"
* "Syukur padamu ya Allah, atas salib dan rahmatMu"
* "Syukur padamu ya Allah, atas segalanya"
* "Walau susah hatiku s’lalu, bersyukur padaMu, ya Allah"
Lagu ini menjadi pengingat yang kuat bagi umat Kristen di Indonesia—dan di seluruh dunia—untuk senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan, bukan hanya ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi juga di tengah kesulitan dan tantangan. Ini adalah seruan untuk mempraktikkan syukur secara radikal, seperti yang dicontohkan oleh August Ludvig Storm.
---
### Kesimpulan
Kisah di balik "Syukur Padamu, Ya Allah / Tack, O Gud!" adalah sebuah testimoni yang indah tentang iman, ketahanan, dan kekuatan rasa syukur. Dari kegelapan fisik seorang pria buta yang menemukan cahaya rohani yang luar biasa (August Ludvig Storm) hingga sentuhan melodi ceria dari seorang "penyanyi mentari" (Johannes Alfred Hultman), lagu ini terus menginspirasi jutaan orang untuk mengangkat hati dalam syukur yang tulus kepada Tuhan, atas *segala-galanya*. Ini adalah himne yang mengajarkan bahwa syukur sejati tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada perspektif hati yang melihat kebaikan Tuhan di setiap momen kehidupan.
Mari kita selami kisah detail di balik terciptanya lagu yang penuh makna ini:
---
### Bagian 1: Sang Penulis Lirik – August Ludvig Storm (1859-1914)
Kisah lagu ini berawal dari kehidupan seorang pria sederhana namun luar biasa bernama August Ludvig Storm. Lahir di Småland, Swedia pada tahun 1859, kehidupan Storm jauh dari kata mudah. Sejak usia muda, ia harus menghadapi cobaan berat. Pada usia sekitar 12 tahun, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkannya kehilangan penglihatan secara total, menjadikannya buta permanen.
Kegelapan fisik ini bisa saja merenggut semangat hidupnya, namun bagi Storm, kegelapan justru membuka mata spiritualnya lebih lebar. Ia tumbuh dalam kemiskinan dan menghadapi keterbatasan yang sangat besar akibat kebutaannya. Namun, ia tidak pernah membiarkan kondisi fisiknya meredupkan imannya atau memadamkan api syukurnya.
Storm menemukan penghiburan dan tujuan hidupnya ketika ia bergabung dengan Bala Keselamatan (Frälsningsarmén) di Swedia. Di sana, ia menjadi seorang sersan lokal dan aktif dalam pelayanan. Meskipun buta dan hidup dalam kemiskinan, Storm dikenal karena imannya yang teguh, kerendahan hati, dan sikapnya yang selalu bersyukur atas segala hal. Ia adalah contoh nyata seseorang yang melihat berkat Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya, sekecil apa pun itu.
**Inspirasi di Balik "Tack, O Gud!"**
Lirik "Tack, O Gud!" lahir dari kedalaman hati Storm yang penuh dengan rasa syukur yang tak tergoyahkan. Ia menulis lagu ini bukan sebagai tangisan kesusahan atau keluhan atas nasibnya, melainkan sebagai deklarasi iman dan terima kasih yang tulus kepada Tuhan untuk *segala-galanya*.
Ia tidak hanya bersyukur atas berkat-berkat yang jelas terlihat, tetapi juga untuk hal-hal yang mungkin dianggap biasa saja, atau bahkan untuk kesulitan yang ia alami. Baginya, setiap detik kehidupan, setiap nafas, setiap pengalaman—baik suka maupun duka—adalah anugerah dari Tuhan. Kebutaan, kemiskinan, dan keterbatasan fisiknya tidak membuatnya berhenti melihat kebaikan Tuhan yang tak terbatas. Sebaliknya, hal-hal tersebut mungkin justru memperkuat keyakinannya bahwa Tuhan selalu hadir dan memelihara.
Liriknya sederhana, langsung, dan sangat jujur, mencerminkan karakter Storm sendiri:
* *"Tack, o Gud, för vad du är!"* (Terima kasih, Ya Tuhan, atas diri-Mu!)
* *"Tack för livet, tack för allt!"* (Terima kasih untuk hidup, terima kasih untuk segalanya!)
* *"Tack för korset, tack för nåden, tack för himlen!"* (Terima kasih untuk salib, terima kasih untuk kasih karunia, terima kasih untuk surga!)
* Dan yang paling mendalam: *"Tack för allt, ja tack för allt, som du ger mig!"* (Terima kasih untuk segalanya, ya terima kasih untuk segalanya, yang Kau berikan padaku!)
Lirik-lirik ini bukan hanya sekadar kata-kata; itu adalah cerminan dari filosofi hidup Storm yang mempraktikkan rasa syukur setiap hari, dalam setiap keadaan.
---
### Bagian 2: Sang Komposer – Johannes Alfred Hultman (1861-1942)
Beberapa tahun setelah August Ludvig Storm menulis liriknya yang menyentuh, seorang musisi dan evangelis Swedia-Amerika bernama Johannes Alfred Hultman memasuki panggung. Hultman, yang lahir di Ryarum, Swedia, pada tahun 1861, berimigrasi ke Amerika Serikat bersama keluarganya saat masih kecil. Ia dikenal luas sebagai "The Sunshine Singer" karena melodi-melodinya yang ceria, optimis, dan lirik-liriknya yang penuh harapan. Ia adalah seorang figur populer dalam gerakan kebangunan rohani di komunitas Swedia-Amerika pada awal abad ke-20.
Hultman memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan melodi yang mudah diingat, menghibur, dan sekaligus memiliki pesan spiritual yang kuat. Ia sering kali menemukan lirik-lirik indah yang ditulis oleh orang lain dan kemudian menggubah musik untuk lirik tersebut, memberikannya "sayap" agar dapat terbang dan menyentuh hati lebih banyak orang.
**Pertemuan Lirik dan Melodi**
Tidak jelas kapan dan bagaimana Hultman pertama kali menemukan lirik "Tack, O Gud!" karya August Ludvig Storm. Namun, kemungkinan besar ia menjumpainya melalui publikasi Bala Keselamatan atau himne-himne populer yang beredar di komunitas Swedia pada masa itu.
Ketika Hultman membaca lirik Storm, ia pasti merasakan kedalaman dan ketulusan hati yang luar biasa di baliknya. Lirik dari seorang pria buta yang bersyukur atas *segala-galanya* adalah pesan yang kuat dan universal. Hultman menyadari bahwa lirik tersebut membutuhkan melodi yang dapat membawa pesan tersebut dengan terang, ceria, namun tetap penuh penghayatan.
Ia kemudian menggubah melodi untuk "Tack, O Gud!" yang kita kenal sekarang. Melodi Hultman sangat cocok dengan lirik Storm—sederhana, mudah dinyanyikan, namun memiliki alunan yang mengangkat dan menguatkan. Melodi ini tidak terlalu rumit, sehingga mudah dihafal dan dinyanyikan oleh jemaat, memungkinkan pesan syukur Storm menyebar luas.
---
### Bagian 3: Penyebaran dan Warisan Lagu
Kombinasi lirik Storm yang tulus dan mendalam dengan melodi Hultman yang ceria dan mudah diingat menjadikan "Tack, O Gud!" sebuah lagu yang sangat populer. Lagu ini dengan cepat menyebar di antara jemaat gereja-gereja Swedia di Amerika dan Swedia sendiri. Hultman sering membawakan lagu ini dalam pertemuan-pertemuan kebangunan rohani, dan ia adalah salah satu alasan utama mengapa lagu ini dikenal luas.
**"Syukur Padamu, Ya Allah" di Indonesia**
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan judul "Syukur Padamu, Ya Allah" dan menjadi salah satu lagu rohani yang sangat dicintai dan sering dinyanyikan. Lirik terjemahannya berhasil menangkap esensi dan semangat asli dari lagu tersebut:
* "Syukur padamu ya Allah, atas kasih karuniaMu"
* "Syukur padamu ya Allah, atas hidupku s’lamanya"
* "Syukur padamu ya Allah, atas salib dan rahmatMu"
* "Syukur padamu ya Allah, atas segalanya"
* "Walau susah hatiku s’lalu, bersyukur padaMu, ya Allah"
Lagu ini menjadi pengingat yang kuat bagi umat Kristen di Indonesia—dan di seluruh dunia—untuk senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan, bukan hanya ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi juga di tengah kesulitan dan tantangan. Ini adalah seruan untuk mempraktikkan syukur secara radikal, seperti yang dicontohkan oleh August Ludvig Storm.
---
### Kesimpulan
Kisah di balik "Syukur Padamu, Ya Allah / Tack, O Gud!" adalah sebuah testimoni yang indah tentang iman, ketahanan, dan kekuatan rasa syukur. Dari kegelapan fisik seorang pria buta yang menemukan cahaya rohani yang luar biasa (August Ludvig Storm) hingga sentuhan melodi ceria dari seorang "penyanyi mentari" (Johannes Alfred Hultman), lagu ini terus menginspirasi jutaan orang untuk mengangkat hati dalam syukur yang tulus kepada Tuhan, atas *segala-galanya*. Ini adalah himne yang mengajarkan bahwa syukur sejati tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada perspektif hati yang melihat kebaikan Tuhan di setiap momen kehidupan.