NKB
Di Sini, Tuhan 'Ku MemandangMu
Here, O My Lord, I See Thee Face to Face
Informasi Lagu
157
Nomor
Kode
NKB 157
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
85
Jumlah Bait
7 bait
Style
Live8Beat
Pencipta Lagu
James Langran
Pencipta Syair
Horatius Bonar
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI / B. Maruta
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
7 bait
Di sini, Tuhan, ‘ku memandangMu,
ingin ‘ku t’rima sakramen kudus.
Kini peganglah tanganku teguh,
dan jiwaku segarkanlah terus.
Ingin ‘ku makan roti sorgawi,
juga meminum anggur yang kudus,
ingin ‘ku buang nafsu duniawi,
karna dosaku sudah ditebus.
Inilah jam perjamuan kudus,
mejaMu, Tuhan, sudah sedia,
biarlah ‘ku merayakannya t’rus,
di dalam sukacita s’lamanya.
Ibadah ini hampir usailah,
namun ‘Kau, Tuhan, tinggal sertaku.
Roti dan anggur barang yang fana,
‘Kau Surya Hidup dan Perisaiku.
Bantuan lain tiada ‘ku temu,
Dikaulah, Tuhan, Gunung Batuku.
Kuat-kuasa hanya padaMu,
itu cukuplah dalam hidupku
Dosa dan aib itu milikku,
namun Engkau berlimpah anug’rah.
Basuhlah daku oleh darahMu,
o Tuhan, doaku kabulkanlah!
Sakramen ini datang dan pergi,
namun menunjuk pesta sorgawi,
memb’ri kecapan nikmat abadi
dan kasih sukacita samawi.
Slide Lirik
7 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Di Sini, Tuhan, 'Ku Memandang-Mu"** (*Here, O My Lord, I See Thee Face to Face*) adalah kisah tentang kedalaman teologi, kerendahan hati, dan pengabdian yang tulus dari seorang pelayan Tuhan.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Horatius Bonar (1808–1889)
Horatius Bonar adalah seorang pendeta Gereja Skotlandia yang dikenal sebagai "Pangeran Penulis Lagu Rohani Skotlandia." Ia adalah seorang pria yang sangat intelek, berwibawa, namun memiliki hati yang sangat lembut dan tertuju pada kekekalan.
Lagu ini ditulis oleh Bonar pada tahun **1855**. Kisahnya bermula ketika ia menerima permintaan dari seorang rekan pendeta di gerejanya di Kelso, Skotlandia. Rekan tersebut meminta Bonar untuk menuliskan sebuah lagu pujian khusus yang akan digunakan jemaat **sebelum merayakan Perjamuan Kudus (Sakramen Perjamuan Malam Tuhan).**
### 2. Konteks Penulisan: Perjamuan Kudus
Bonar menulis lagu ini bukan untuk sekadar "menyanyi," melainkan sebagai persiapan batin bagi jemaat untuk menghadapi momen sakral perjamuan. Ia ingin umat kristiani merenungkan makna mendalam dari roti dan anggur sebagai simbol tubuh dan darah Kristus.
Lirik asli dalam bahasa Inggrisnya mengungkapkan kerinduan pribadi yang sangat intim antara manusia dengan Tuhan:
* *Here, O my Lord, I see Thee face to face* (Di sini, Tuhan, aku memandang-Mu muka dengan muka)
* *Here would I touch and handle things unseen* (Di sini aku ingin menyentuh hal-hal yang tak terlihat)
* *Here grasp with firmer hand the eternal grace* (Di sini aku menggenggam kasih karunia kekal dengan tangan yang lebih teguh)
* *And all my weariness upon Thee lean* (Dan menyandarkan segala keletihanku pada-Mu)
Bonar menekankan bahwa saat kita berada di meja perjamuan, kita tidak hanya melakukan ritual, tetapi sedang berhadapan langsung dengan realitas kehadiran Tuhan yang membawa kekuatan bagi jiwa yang lelah.
### 3. Komposer Musik: James George Langran (1835–1909)
Meskipun liriknya ditulis oleh Bonar pada 1855, melodi yang kita kenal sekarang (yang berjudul *Penitence*) baru digubah oleh **James Langran** pada tahun **1861**.
Langran adalah seorang organis dan komposer gereja di Inggris. Ia menggubah melodi ini khusus untuk lirik karya Bonar tersebut. Nama melodi *"Penitence"* (yang berarti pertobatan) dipilih karena sangat mencerminkan suasana reflektif dan pengakuan dosa yang mendalam saat seseorang merenungkan pengorbanan Kristus di kayu salib.
### 4. Makna Teologis yang Kuat
Mengapa lagu ini bertahan selama lebih dari 160 tahun? Karena liriknya menyentuh tiga poin penting dalam kehidupan kristiani:
1. **Kepastian Iman:** Bonar menulis tentang *"grasp with firmer hand the eternal grace"* (menggenggam kasih karunia dengan tangan yang lebih teguh). Ini adalah pengakuan bahwa iman kita seringkali lemah dan goyah, namun perjamuan Tuhan adalah tempat di mana kita mendapatkan kembali kekuatan.
2. **Penerimaan Kelemahan:** Kalimat *"And all my weariness upon Thee lean"* (menyandarkan keletihan pada-Mu) menjadi penghiburan bagi mereka yang datang ke gereja dengan beban hidup yang berat.
3. **Fokus pada Kristus:** Lagu ini mengalihkan perhatian dari dosa-dosa manusia kepada kesempurnaan Kristus. Bait yang berbunyi: *"I have no help but Thine; nor do I need another arm save Thine to lean upon"* (Aku tak punya penolong selain Engkau, tak perlu tangan lain untuk bersandar) adalah inti dari teologi kasih karunia.
### Kesimpulan
Lagu *Di Sini, Tuhan, 'Ku Memandang-Mu* adalah contoh sempurna bagaimana sebuah karya seni lahir dari kebutuhan praktis ibadah. Horatius Bonar tidak menulis lagu ini untuk menjadi terkenal, melainkan sebagai alat bantu agar jemaatnya bisa "melihat" Kristus di tengah kesibukan hidup mereka.
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu lagu paling sakral dan menyentuh di berbagai gereja di seluruh dunia saat umat Tuhan berkumpul untuk merayakan Perjamuan Kudus, mengingatkan kita bahwa di meja-Nya, kita menemukan pengampunan, kekuatan, dan persekutuan yang intim dengan Sang Juruselamat.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: Horatius Bonar (1808–1889)
Horatius Bonar adalah seorang pendeta Gereja Skotlandia yang dikenal sebagai "Pangeran Penulis Lagu Rohani Skotlandia." Ia adalah seorang pria yang sangat intelek, berwibawa, namun memiliki hati yang sangat lembut dan tertuju pada kekekalan.
Lagu ini ditulis oleh Bonar pada tahun **1855**. Kisahnya bermula ketika ia menerima permintaan dari seorang rekan pendeta di gerejanya di Kelso, Skotlandia. Rekan tersebut meminta Bonar untuk menuliskan sebuah lagu pujian khusus yang akan digunakan jemaat **sebelum merayakan Perjamuan Kudus (Sakramen Perjamuan Malam Tuhan).**
### 2. Konteks Penulisan: Perjamuan Kudus
Bonar menulis lagu ini bukan untuk sekadar "menyanyi," melainkan sebagai persiapan batin bagi jemaat untuk menghadapi momen sakral perjamuan. Ia ingin umat kristiani merenungkan makna mendalam dari roti dan anggur sebagai simbol tubuh dan darah Kristus.
Lirik asli dalam bahasa Inggrisnya mengungkapkan kerinduan pribadi yang sangat intim antara manusia dengan Tuhan:
* *Here, O my Lord, I see Thee face to face* (Di sini, Tuhan, aku memandang-Mu muka dengan muka)
* *Here would I touch and handle things unseen* (Di sini aku ingin menyentuh hal-hal yang tak terlihat)
* *Here grasp with firmer hand the eternal grace* (Di sini aku menggenggam kasih karunia kekal dengan tangan yang lebih teguh)
* *And all my weariness upon Thee lean* (Dan menyandarkan segala keletihanku pada-Mu)
Bonar menekankan bahwa saat kita berada di meja perjamuan, kita tidak hanya melakukan ritual, tetapi sedang berhadapan langsung dengan realitas kehadiran Tuhan yang membawa kekuatan bagi jiwa yang lelah.
### 3. Komposer Musik: James George Langran (1835–1909)
Meskipun liriknya ditulis oleh Bonar pada 1855, melodi yang kita kenal sekarang (yang berjudul *Penitence*) baru digubah oleh **James Langran** pada tahun **1861**.
Langran adalah seorang organis dan komposer gereja di Inggris. Ia menggubah melodi ini khusus untuk lirik karya Bonar tersebut. Nama melodi *"Penitence"* (yang berarti pertobatan) dipilih karena sangat mencerminkan suasana reflektif dan pengakuan dosa yang mendalam saat seseorang merenungkan pengorbanan Kristus di kayu salib.
### 4. Makna Teologis yang Kuat
Mengapa lagu ini bertahan selama lebih dari 160 tahun? Karena liriknya menyentuh tiga poin penting dalam kehidupan kristiani:
1. **Kepastian Iman:** Bonar menulis tentang *"grasp with firmer hand the eternal grace"* (menggenggam kasih karunia dengan tangan yang lebih teguh). Ini adalah pengakuan bahwa iman kita seringkali lemah dan goyah, namun perjamuan Tuhan adalah tempat di mana kita mendapatkan kembali kekuatan.
2. **Penerimaan Kelemahan:** Kalimat *"And all my weariness upon Thee lean"* (menyandarkan keletihan pada-Mu) menjadi penghiburan bagi mereka yang datang ke gereja dengan beban hidup yang berat.
3. **Fokus pada Kristus:** Lagu ini mengalihkan perhatian dari dosa-dosa manusia kepada kesempurnaan Kristus. Bait yang berbunyi: *"I have no help but Thine; nor do I need another arm save Thine to lean upon"* (Aku tak punya penolong selain Engkau, tak perlu tangan lain untuk bersandar) adalah inti dari teologi kasih karunia.
### Kesimpulan
Lagu *Di Sini, Tuhan, 'Ku Memandang-Mu* adalah contoh sempurna bagaimana sebuah karya seni lahir dari kebutuhan praktis ibadah. Horatius Bonar tidak menulis lagu ini untuk menjadi terkenal, melainkan sebagai alat bantu agar jemaatnya bisa "melihat" Kristus di tengah kesibukan hidup mereka.
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu lagu paling sakral dan menyentuh di berbagai gereja di seluruh dunia saat umat Tuhan berkumpul untuk merayakan Perjamuan Kudus, mengingatkan kita bahwa di meja-Nya, kita menemukan pengampunan, kekuatan, dan persekutuan yang intim dengan Sang Juruselamat.