Informasi Lagu
88
Nomor
Kode
NKB 88
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional Belanda
Pencipta Syair
Nyanyian Paskah Belanda
Penerjemah
B. Maruta
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Hai, mari nyanyi bersenang, Haleluya! Memuji Yesus yang menang, Haleluya, haleluya, haleluya!
Mukhalis sudah bangkitlah, Haleluya! Dan sungguh kosong kuburNya, Haleluya, haleluya, haleluya!
Betapa juga jalanku, Haleluya! Jiwaku nyanyi tak jemu, Haleluya, haleluya, haleluya!
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 88
Sejarah Lagu
Lagu **"Daar het nu feest van Pasen is"** (yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai **"Hai, Mari Nyanyi Bersenang"** atau **"Kini Paskah Tiba"**) adalah salah satu lagu rohani Paskah yang paling ikonik di Belanda. Lagu ini memiliki sejarah panjang yang berakar pada tradisi Gereja Reformasi Belanda dan musik rakyat Eropa.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Asal-Usul dan Konteks Sejarah
Lagu ini bukan berasal dari satu pencipta tunggal yang tercatat dalam sejarah modern, melainkan merupakan bagian dari **tradisi nyanyian gerejawi tradisional Belanda**. Melodinya berakar pada abad ke-17 atau ke-18, masa di mana musik gereja di Belanda sangat dipengaruhi oleh tradisi nyanyian mazmur (psalter) dan lagu-lagu rakyat yang bersifat perayaan.

Dalam tradisi Belanda, lagu ini termasuk dalam kategori lagu-lagu sukacita (*Paasliederen*). Judul aslinya, *"Daar het nu feest van Pasen is"*, secara harfiah berarti *"Karena sekarang adalah pesta Paskah"*. Lagu ini diciptakan untuk merayakan kemenangan Kristus atas maut, yang menjadi tema sentral teologi Paskah dalam gereja-gereja Reformasi di Belanda.

### 2. Makna Teologis di Balik Lirik
Lirik aslinya menekankan pada transisi dari masa berkabung (Jumat Agung) menuju masa sukacita (Paskah). Poin-poin penting dalam liriknya adalah:
* **Kemenangan atas Kematian:** Liriknya mengajak umat untuk tidak lagi bersedih karena kubur sudah kosong.
* **Harapan Hidup Baru:** Kebangkitan Yesus dipandang sebagai sumber harapan bagi manusia untuk menjalani hidup baru yang penuh kasih.
* **Undangan untuk Bersukacita:** Kata-kata "Mari nyanyi bersenang" (atau dalam bahasa Belanda: *laat ons vrolijk zijn*) bukan sekadar ajakan berpesta, melainkan ungkapan syukur umat atas keselamatan yang telah digenapi.

### 3. Masuk ke Indonesia
Lagu ini masuk ke Indonesia dibawa oleh para misionaris Belanda, terutama melalui jalur **Gereja-gereja Reformasi (Gereja Protestan)** di Indonesia, seperti GKI (Gereja Kristen Indonesia) atau GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat).

Di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan dengan judul **"Hai, Mari Nyanyi Bersenang"** atau terkadang muncul dalam buku nyanyian gerejawi dengan judul **"Kini Paskah Tiba"**. Karena melodi lagu Belanda asli seringkali menggunakan tangga nada yang ceria dan ritme yang tegas (bergaya *folk song*), lagu ini menjadi sangat populer di kalangan jemaat karena mudah diingat dan dinyanyikan dengan semangat.

### 4. Karakteristik Musik
Secara musikal, lagu ini memiliki ciri khas:
* **Tempo:** *Allegro* atau moderat yang ceria.
* **Birama:** Biasanya menggunakan birama 4/4 atau 3/4 yang memberikan kesan "berbaris" atau "berarak", mencerminkan semangat pawai kemenangan Paskah.
* **Harmoni:** Meskipun disusun secara sederhana, harmoni lagu ini mengikuti aturan musik barok atau klasik awal yang menonjolkan nada-nada mayor untuk membangkitkan suasana gembira.

### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Melegenda?
Kekuatan lagu ini terletak pada **kesederhanaan pesannya**. Di tengah tradisi musik gereja yang terkadang berat dan teologis, *"Daar het nu feest van Pasen is"* menawarkan pendekatan yang langsung (direct) dan emosional. Lagu ini berhasil mengemas misteri kebangkitan yang agung ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh semua umur, dari anak-anak sekolah minggu hingga orang tua di gereja.

### Kesimpulan
Lagu "Hai, Mari Nyanyi Bersenang" adalah warisan budaya dan iman dari Belanda yang telah mengalami "naturalisasi" di Indonesia. Ia menjadi pengingat bahwa kebangkitan Yesus bukan sekadar doktrin, melainkan alasan untuk merayakan hidup. Hingga hari ini, lagu ini tetap dinyanyikan di banyak gereja di Indonesia setiap Minggu Paskah sebagai simbol kegembiraan yang melintasi batas negara dan generasi.