Informasi Lagu
104
Nomor
Kode
NP 104
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Franklin L. Sheppard
Pencipta Syair
Maltbie D. Babcock
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Ciptaan Bapaku, Memuji Khaliknya; Dendang riang berkumandang, Selalu bergema. Ciptaan Bapaku permai tak terperi; Lembah, bukit, laut, langit Bernyanyi tak henti.
Ciptaan Bapaku, Mentari yang cerah, Bunga bakung, Kicau burung Memuji Khaliknya. Ciptaan Bapaku permai tak terperi; Lembut merdu bisikanMu Di pagi berseri.
Ciptaan Bapaku, Ingatlah: Sang Raja Menciptakan perdamaian bagi manusia. Ciptaan Bapaku permai tak terperi; Sebab darah Domba Allah tercurah di bumi.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 104
Sejarah Lagu
Lagu **"This Is My Father's World"** (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi **"Ciptaan Bapaku"**) adalah salah satu himne yang paling dicintai di dunia. Di balik liriknya yang indah dan menenangkan, tersimpan kisah tentang perspektif seorang pria dalam menghadapi penderitaan dan keindahan dunia.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Sosok Penulis: Maltbie Davenport Babcock
Lirik lagu ini ditulis oleh **Maltbie D. Babcock** (1858–1901), seorang pendeta Presbyterian yang sangat populer di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Babcock dikenal sebagai pria yang enerjik, cerdas, atletis, dan memiliki kecintaan yang mendalam terhadap alam.

Babcock tinggal di Lockport, New York. Seringkali, ia berjalan kaki menuju lereng bukit di atas tebing yang menghadap ke Danau Ontario. Pemandangan dari sana sangat memukau, menampilkan keindahan alam yang luar biasa.

### 2. "Pergi Melihat Dunia Bapaku"
Babcock memiliki kebiasaan unik. Ketika ia hendak pergi berjalan-jalan menikmati keindahan alam di sekitar perbukitan Lockport, ia sering berpamitan kepada istrinya dengan kalimat:
> *"Aku pergi melihat dunia Bapaku."*

Kalimat inilah yang menjadi inspirasi utama. Baginya, alam bukan sekadar pemandangan, melainkan sebuah "buku" terbuka yang menuliskan keagungan Sang Pencipta. Ketika ia berjalan, ia sering mencatat bait-bait puisi di kepalanya yang kemudian ia tuliskan setelah kembali ke rumah.

### 3. Konteks Filosofis: Kedamaian di Tengah Dunia yang "Rusak"
Meskipun liriknya terdengar optimis dan penuh kekaguman, ada kedalaman teologis yang penting. Dalam bait kedua dan ketiga lagu ini, Babcock menulis:

> *"Though the wrong seems oft so strong, God is the ruler yet."*
> (Walau yang jahat seringkali tampak kuat, Tuhan tetaplah Sang Penguasa.)

Babcock menulis ini pada masa di mana dunia sedang mengalami banyak ketidakadilan sosial dan penderitaan. Ia mengakui bahwa dunia ini memang terlihat penuh dengan "kejahatan" dan penderitaan yang tampak menang, namun ia percaya bahwa dunia ini tetaplah milik Tuhan—dan pada akhirnya, kehendak-Nya akan menang. Ini adalah pengingat bagi setiap orang yang merasa putus asa dengan kondisi dunia.

### 4. Kematian yang Tragis dan Lagu yang Diterbitkan
Tak lama setelah ia menulis puisi tersebut, Babcock meninggal dunia pada usia yang sangat muda (43 tahun) di Naples, Italia, akibat infeksi saluran pernapasan setelah perjalanan ke Timur Tengah.

Kematiannya yang mendadak mengguncang banyak orang. Setelah kematiannya, istrinya, Katharine, mengumpulkan puisi-puisi yang ditulis oleh suaminya dan menerbitkannya dalam sebuah buku berjudul *Thoughts for Every-Day Living* (1901). Salah satu puisi yang ada di dalamnya adalah "This Is My Father's World".

### 5. Komposisi Musik oleh Franklin L. Sheppard
Setelah puisi itu diterbitkan, seorang teman Babcock yang bernama **Franklin L. Sheppard** merasa puisi tersebut sangat indah. Sheppard adalah seorang musisi yang juga sangat mencintai alam.

Sheppard menyusun musik (melodi) untuk puisi tersebut berdasarkan lagu rakyat Inggris tradisional yang pernah ia dengar. Melodi yang ia ciptakan memberikan nuansa yang megah, tenang, dan agung, sangat pas dengan lirik yang ditulis Babcock. Sejak saat itu, puisi "This Is My Father's World" resmi menjadi himne yang dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia.

### Ringkasan Pesan
Lagu ini menjadi pengingat yang kuat bagi kita:
* **Pertama**, bahwa alam semesta adalah "rumah" yang dirancang oleh Tuhan.
* **Kedua**, bahwa meskipun kita melihat penderitaan dan kejahatan di sekitar kita, kita tidak perlu takut karena Tuhan tetap memegang kendali atas sejarah dan semesta ini.

Setiap kali kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang meneladani kebiasaan Pendeta Babcock: berjalan di tengah dunia, mengakui segala keindahannya sebagai karya Tuhan, dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan meski dunia sedang tampak "rusak".