NP
Puji Tuhan, Isi Surga!
Praise the Lord! Ye Heavens, Adore Him
Informasi Lagu
14
Nomor
Kode
NP 14
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Rowland H. Pritchard
Pencipta Syair
tak dikenal
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
2 bait
Puji Tuhan, isi surga! Puji Allah Tuhanmu!
Bulan, bintang, dan surya, Nyatakan pujaanmu!
Puji Tuhan yang bersabda: Bumi turut printahNya,
HukumNya di alam raya Yang berlaku slamanya.
Puji Tuhan yang setiawan Pada tiap janjiNya;
Umat-Nya tlah dimenangkan Dari maut serta dosa.
Puji Tuhan. Pohon slamat, Dan masyhurkan kuasaNya!
Langit, bumi, sluruh jagat, Muliakanlah namaNya! Amin.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu pujian **"Praise the Lord! Ye Heavens, Adore Him"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi **"Puji Tuhan, Isi Surga!"**) adalah salah satu himne yang paling agung dan megah dalam tradisi Kristen.
Menariknya, lagu ini memiliki latar belakang yang cukup misterius karena melibatkan dua tokoh yang berbeda: penulis liriknya yang berasal dari abad ke-18 dan komposer musiknya yang berasal dari abad ke-19.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Francis Wrangham (1769–1842)
Lirik dari lagu ini pertama kali muncul dalam sebuah koleksi berjudul *“Poems”* yang diterbitkan pada tahun 1795. Penulisnya adalah **Francis Wrangham**, seorang pendeta Anglikan dan sarjana klasik asal Inggris.
* **Inspirasi:** Lirik lagu ini merupakan parafrase (penulisan ulang dengan gaya puitis) dari **Mazmur 148**. Dalam Mazmur tersebut, pemazmur menyerukan seluruh ciptaan—mulai dari malaikat di surga, matahari, bulan, bintang, hingga makhluk hidup di bumi—untuk memuji nama Tuhan.
* **Konteks:** Wrangham menulis ini di masa mudanya. Ia adalah sosok yang sangat terpelajar dan produktif dalam menulis puisi serta esai. Liriknya sangat menekankan kemegahan penciptaan sebagai cermin keagungan Sang Pencipta.
### 2. Komposer Musik: Rowland Hugh Prichard (1811–1887)
Meskipun liriknya sudah ada sejak akhir abad ke-18, melodi yang kita kenal sekarang baru diciptakan puluhan tahun kemudian oleh **Rowland H. Prichard**.
* **Asal-usul Melodi:** Prichard adalah seorang komposer asal Wales. Ia menulis lagu ini pada tahun 1830, saat ia baru berusia sekitar 19 tahun. Melodi ini awalnya diberi judul **"Hyfrydol"** (bahasa Wales untuk "menyenangkan").
* **Karakter Melodi:** "Hyfrydol" dikenal sebagai salah satu melodi himne paling populer di dunia karena nadanya yang sangat bersemangat, megah, dan mudah diingat. Prichard menulis melodi ini untuk digunakan dalam ibadah di gereja-gereja di Wales.
* **Fakta Menarik:** Prichard tidak pernah menyangka bahwa lagu ciptaannya akan menjadi standar global. Melodi *Hyfrydol* ini sangat fleksibel sehingga sering digunakan untuk berbagai lirik lagu pujian lain, seperti *"Love Divine, All Loves Excelling"* karya Charles Wesley.
### 3. Penyatuan Lirik dan Melodi
Selama beberapa dekade, lirik karya Wrangham dan melodi karya Prichard berjalan di jalur yang berbeda. Baru pada akhir abad ke-19, ketika buku-buku nyanyian (hymnal) mulai dikompilasi secara masif, lirik "Praise the Lord! Ye Heavens, Adore Him" dipasangkan dengan melodi "Hyfrydol".
Kombinasi ini dianggap "sempurna" oleh para ahli musik gerejawi karena:
* **Struktur:** Meter lagu ini (8.7.8.7.D) sangat cocok dengan melodi *Hyfrydol* yang memiliki ritme yang kuat dan optimis.
* **Efek:** Nada musik yang megah dan penuh kemenangan dari Prichard berhasil mengangkat pesan teologis dari Mazmur 148 yang ditulis oleh Wrangham.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"pertemuan lintas generasi"**. Seorang pendeta Inggris (Wrangham) menangkap keindahan wahyu Mazmur 148 dalam bentuk puisi, lalu seorang pemuda Wales (Prichard) menciptakan musik yang memberikan "suara" bagi puisi tersebut.
Hingga saat ini, lagu tersebut tetap dinyanyikan di berbagai gereja di seluruh dunia—termasuk di Indonesia—sebagai pengingat bahwa tidak hanya manusia, tetapi seluruh alam semesta memiliki kewajiban dan hak untuk memuji penciptanya.
**Lirik pembuka yang ikonik:**
*"Praise the Lord! Ye heavens, adore Him;*
*Praise Him, angels, in the height;*
*Sun and moon, rejoice before Him,*
*Praise Him, all ye stars of light."*
(Puji Tuhan, isi surga! / Pujilah Dia, malaikat-Nya! / Surya, bulan, puji Dia, / Bintang-bintang yang benderang.)
Menariknya, lagu ini memiliki latar belakang yang cukup misterius karena melibatkan dua tokoh yang berbeda: penulis liriknya yang berasal dari abad ke-18 dan komposer musiknya yang berasal dari abad ke-19.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Francis Wrangham (1769–1842)
Lirik dari lagu ini pertama kali muncul dalam sebuah koleksi berjudul *“Poems”* yang diterbitkan pada tahun 1795. Penulisnya adalah **Francis Wrangham**, seorang pendeta Anglikan dan sarjana klasik asal Inggris.
* **Inspirasi:** Lirik lagu ini merupakan parafrase (penulisan ulang dengan gaya puitis) dari **Mazmur 148**. Dalam Mazmur tersebut, pemazmur menyerukan seluruh ciptaan—mulai dari malaikat di surga, matahari, bulan, bintang, hingga makhluk hidup di bumi—untuk memuji nama Tuhan.
* **Konteks:** Wrangham menulis ini di masa mudanya. Ia adalah sosok yang sangat terpelajar dan produktif dalam menulis puisi serta esai. Liriknya sangat menekankan kemegahan penciptaan sebagai cermin keagungan Sang Pencipta.
### 2. Komposer Musik: Rowland Hugh Prichard (1811–1887)
Meskipun liriknya sudah ada sejak akhir abad ke-18, melodi yang kita kenal sekarang baru diciptakan puluhan tahun kemudian oleh **Rowland H. Prichard**.
* **Asal-usul Melodi:** Prichard adalah seorang komposer asal Wales. Ia menulis lagu ini pada tahun 1830, saat ia baru berusia sekitar 19 tahun. Melodi ini awalnya diberi judul **"Hyfrydol"** (bahasa Wales untuk "menyenangkan").
* **Karakter Melodi:** "Hyfrydol" dikenal sebagai salah satu melodi himne paling populer di dunia karena nadanya yang sangat bersemangat, megah, dan mudah diingat. Prichard menulis melodi ini untuk digunakan dalam ibadah di gereja-gereja di Wales.
* **Fakta Menarik:** Prichard tidak pernah menyangka bahwa lagu ciptaannya akan menjadi standar global. Melodi *Hyfrydol* ini sangat fleksibel sehingga sering digunakan untuk berbagai lirik lagu pujian lain, seperti *"Love Divine, All Loves Excelling"* karya Charles Wesley.
### 3. Penyatuan Lirik dan Melodi
Selama beberapa dekade, lirik karya Wrangham dan melodi karya Prichard berjalan di jalur yang berbeda. Baru pada akhir abad ke-19, ketika buku-buku nyanyian (hymnal) mulai dikompilasi secara masif, lirik "Praise the Lord! Ye Heavens, Adore Him" dipasangkan dengan melodi "Hyfrydol".
Kombinasi ini dianggap "sempurna" oleh para ahli musik gerejawi karena:
* **Struktur:** Meter lagu ini (8.7.8.7.D) sangat cocok dengan melodi *Hyfrydol* yang memiliki ritme yang kuat dan optimis.
* **Efek:** Nada musik yang megah dan penuh kemenangan dari Prichard berhasil mengangkat pesan teologis dari Mazmur 148 yang ditulis oleh Wrangham.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"pertemuan lintas generasi"**. Seorang pendeta Inggris (Wrangham) menangkap keindahan wahyu Mazmur 148 dalam bentuk puisi, lalu seorang pemuda Wales (Prichard) menciptakan musik yang memberikan "suara" bagi puisi tersebut.
Hingga saat ini, lagu tersebut tetap dinyanyikan di berbagai gereja di seluruh dunia—termasuk di Indonesia—sebagai pengingat bahwa tidak hanya manusia, tetapi seluruh alam semesta memiliki kewajiban dan hak untuk memuji penciptanya.
**Lirik pembuka yang ikonik:**
*"Praise the Lord! Ye heavens, adore Him;*
*Praise Him, angels, in the height;*
*Sun and moon, rejoice before Him,*
*Praise Him, all ye stars of light."*
(Puji Tuhan, isi surga! / Pujilah Dia, malaikat-Nya! / Surya, bulan, puji Dia, / Bintang-bintang yang benderang.)