Informasi Lagu
180
Nomor
Kode
NP 180
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Wolfgang A. Mozart
Pencipta Syair
Henry F. Lyte
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Yesus, salibku kuangkat, Ku hendak mengikutMu; Skarang dunia tak mengikat, Hanya Kaulah milikku. Hilanglah segala nafsu Yang menyombongkan hati; Tuhan dan surga bagiku, Sungguh kaya ku kini!
Biar orang lain menghina Dan meninggalkan aku; Tuhan Yesus pun dihina; Juru Slamatku teguh. Walau dibenci lawanku Dan ditipu kawanku, Namun bahagia aku, Karna Yesus Tuhanku.
Makin manusia menggoda, Makin ku mencariMu; Makin susah dalam dunia, Makin ku memandangMu. Duka tak menyusahkanku, Karna kasihMu teguh; Dunia tak menarik aku, Kaulah sukacitaku.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 180
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Jesus, I My Cross Have Taken"** (Yesus, Salibku Kuangkat) adalah salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah musik rohani. Perlu diklarifikasi terlebih dahulu bahwa lagu ini **bukan diciptakan oleh Wolfgang A. Mozart**, melainkan liriknya ditulis oleh **Henry Francis Lyte** pada tahun 1824, dan melodi yang paling sering digunakan untuk lagu ini (dikenal dengan nama *Ellacombe*) berasal dari koleksi himne Jerman abad ke-18.

Berikut adalah detail kisah dibalik terciptanya lagu ini:

### 1. Sosok Henry Francis Lyte (Sang Penulis)
Henry Francis Lyte (1793–1847) adalah seorang pendeta Anglikan asal Skotlandia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya melayani di kota pesisir Brixham, Inggris. Ia dikenal sebagai sosok yang hidup dalam penderitaan fisik—ia mengidap penyakit tuberkulosis yang menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun.

Namun, di balik kelemahan fisiknya, Lyte memiliki iman yang sangat teguh. Baginya, mengikuti Yesus bukan tentang mencari kenyamanan duniawi, melainkan tentang penyerahan diri total.

### 2. Latar Belakang Penulisan (1824)
Lyte menulis lirik ini di tengah masa sulit dalam hidupnya. Pada tahun 1824, ia mengalami pengucilan dan kesulitan keuangan. Meskipun ia adalah seorang pendeta yang setia, banyak orang di lingkungannya tidak memahami dedikasinya. Ia merasa terasing, miskin, dan tidak dihargai oleh dunia.

Dalam kondisi itulah, ia menulis puisi yang kemudian menjadi lirik lagu ini. Pesan utama lagu ini adalah sebuah **pernyataan komitmen**: *Bahwa meskipun dunia mungkin membencinya, mengabaikannya, atau mengambil segala miliknya, ia tetap memilih untuk memegang salib Kristus.*

### 3. Makna Mendalam dalam Liriknya
Setiap bait dari lagu ini mencerminkan pergulatan batin Lyte yang diakhiri dengan kemenangan iman:

* **Bait 1:** *“Jesus, I my cross have taken, all to leave and follow Thee”* (Yesus, salibku kuangkat, tinggalkan semua demi-Mu). Ini adalah deklarasi bahwa ia telah melepaskan ambisi duniawi demi mengikuti jalan Tuhan.
* **Bait 2:** Ia mengakui bahwa dunia mungkin memandang rendah dirinya (*“Man may trouble and distress me, ‘twill but drive me to Thy breast”*). Baginya, penderitaan di dunia hanyalah cara Tuhan untuk membawanya lebih dekat ke dalam dekapan-Nya.
* **Bait 3:** Ini adalah bagian yang paling menyentuh, tentang ketidakpastian masa depan. Lyte menyadari bahwa nyawanya pendek, namun ia tidak takut karena ia memiliki kekekalan di dalam Tuhan.

### 4. Mengenai Melodi "Ellacombe"
Melodi yang populer digunakan untuk lirik ini adalah **"Ellacombe"**. Melodi ini berasal dari buku himne *Gesangbuch der Herzogl. Hofkapelle* yang diterbitkan di Württemberg, Jerman, pada tahun 1784. Tidak ada catatan pasti siapa komposer aslinya, namun melodi ini sangat megah, kuat, dan memberikan nuansa kemenangan di tengah pengabdian yang sunyi.

### 5. Warisan Henry Francis Lyte
Henry Francis Lyte memang tidak memiliki kehidupan yang mewah. Ia meninggal dunia di Prancis pada tahun 1847 saat mencoba mencari udara yang lebih sehat untuk paru-parunya.

Menariknya, Lyte juga merupakan penulis dari lagu rohani yang sangat terkenal lainnya, yaitu **"Abide with Me"** (*Tinggallah Sertaku*), yang ia tulis hanya beberapa minggu sebelum kematiannya. Kedua lagu ini (termasuk *Jesus, I My Cross Have Taken*) menjadi bukti nyata bahwa bagi Lyte, penderitaan bukanlah akhir, melainkan jembatan untuk semakin dekat dengan Kristus.

### Kesimpulan
Lagu ini tetap menjadi lagu bagi banyak orang Kristen yang merasa terpinggirkan, lelah, atau menderita. Ini bukan sekadar lagu pujian, melainkan **"kontrak" spiritual** antara seorang manusia dengan Tuhannya. Ketika kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menyatakan bahwa meskipun kita kehilangan "dunia", kita telah mendapatkan "segalanya" di dalam Yesus Kristus.

**Jadi, untuk meluruskan:**
* **Penulis Lirik:** Henry Francis Lyte (1824).
* **Komposer Musik (Ellacombe):** Anonim (dari koleksi himne Jerman 1784).
* **Hubungan dengan Mozart:** Tidak ada hubungan langsung; kekeliruan ini mungkin muncul karena banyaknya komposisi Mozart yang sering diaransemen ulang menjadi musik gerejawi di kemudian hari.