NP
Akan Berhimpun Kita?
Shall We Gather at the River?
Informasi Lagu
340
Nomor
Kode
NP 340
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Robert Lowry
Pencipta Syair
Robert Lowry
Cross Ref.
KMM 86, NKB 114, GB 303, KK 306
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Akan berhimpunkah kita
Di pinggir sungai di surga,
Yang jernih mengalir airnya
Di dekat takhta Allah?
Tentu kita kan berhimpun,
Di pinggir sungai yang kekal berhimpun,
Serta para suci pun berhimpun
Di hadapan takhtaNya.
Kita bergemar di surga,
Ya, di pinggir sungai itu;
Kita kan memuji Allah
Dengan lagu yang merdu.
Hilanglah beban dan duka
Bila sampai klak di sungai;
Tuhan memberi pahala:
Mahkota indah permai.
Tidak lama lagi kita
Sampailah di pinggir sungai;
Hati kita sungguh ria
Dan penuh dengan damai.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Shall We Gather at the River?"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi **"Akan Berhimpun Kita?"**) adalah salah satu nyanyian rohani paling ikonik dalam tradisi Kristen. Di balik nadanya yang ceria dan liriknya yang penuh harapan, terdapat sebuah kisah yang lahir dari sebuah tragedi dan pergumulan batin sang pencipta.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu karya **Robert Lowry** tersebut:
### 1. Latar Belakang Pencipta
Robert Lowry (1826–1899) adalah seorang pendeta Baptis asal Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia bukan hanya seorang pengkhotbah, tetapi juga seorang komposer dan penulis lirik yang sangat produktif. Lowry dikenal sebagai sosok yang sangat introspektif dan sering kali menyusun melodi lagu-lagu rohani saat ia sedang duduk di ruang kerjanya.
### 2. Situasi yang Memicu Lahirnya Lagu
Lagu ini ditulis pada tahun **1865**, tahun yang sangat kelam bagi Amerika Serikat. Saat itu, negara tersebut sedang mengalami dua trauma besar:
* **Perang Saudara Amerika (Civil War):** Perang ini baru saja berakhir, meninggalkan ribuan orang tewas, keluarga yang hancur, dan suasana duka yang mendalam di seluruh negeri.
* **Wabah Penyakit:** Kota Brooklyn, tempat Lowry tinggal saat itu, sedang dilanda wabah penyakit yang sangat mematikan (banyak sejarawan menyebutkan kemungkinan wabah kolera atau tifus).
Di tengah suasana duka dan kematian yang merajalela di sekelilingnya, Lowry merasa tertekan secara psikologis. Ia mulai mempertanyakan banyak hal tentang kematian, perpisahan, dan kehidupan setelahnya.
### 3. Proses Penulisan yang Unik
Suatu hari di bulan Juli 1865, Lowry duduk di ruang kerjanya. Ia merenungkan ayat dari **Wahyu 22:1–2** dalam Alkitab, yang menggambarkan sungai air kehidupan yang jernih, mengalir dari takhta Allah.
Dalam sebuah wawancara bertahun-tahun kemudian, Lowry menceritakan proses penciptaannya:
> *"Saya bertanya-tanya pada diri sendiri, 'Kita sering berbicara tentang sungai kematian, tetapi mengapa kita jarang berbicara tentang sungai yang mengalir dari takhta Allah?'"*
Ia merasa bahwa orang-orang Kristen saat itu terlalu terpaku pada ketakutan akan kematian, bukannya berfokus pada sukacita pertemuan kembali di surga. Ia ingin menulis sebuah lagu yang mengubah perspektif kematian dari sesuatu yang menakutkan menjadi sebuah "pertemuan" (reuni) yang membahagiakan.
Hanya dalam waktu singkat di hari itu, ia menulis lirik dan melodinya sekaligus. Ia membayangkan sebuah "sungai kehidupan" di mana semua orang yang dikasihi akan bertemu kembali setelah melewati kesulitan hidup.
### 4. Makna di Balik Liriknya
* **Sungai:** Berbeda dengan konsep mitologi Yunani (Sungai Styx) yang melambangkan batas kematian yang kelam, Lowry menggunakan "sungai" sebagai simbol air kehidupan yang memberikan kesembuhan.
* **Pertemuan (Gathering):** Kata "Gather" (Berhimpun) adalah inti dari lagu ini. Bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga akibat Perang Saudara atau wabah, lagu ini memberikan penghiburan bahwa perpisahan hanyalah sementara.
* **Nada yang Ceria:** Banyak kritikus musik saat itu terkejut karena lirik tentang kematian diiringi dengan melodi yang sangat ritmis, optimis, dan bersemangat. Namun, itulah tujuan Lowry: ia ingin agar orang-orang tidak bersedih, melainkan bersukacita karena kepastian janji keselamatan.
### 5. Warisan Lagu Ini
Lagu ini pertama kali dipublikasikan dalam koleksi lagu sekolah Minggu berjudul *Happy Voices* pada tahun 1865. Dalam sekejap, lagu ini menjadi sangat populer di seluruh Amerika Serikat dan kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Hingga hari ini, "Shall We Gather at the River?" tetap dinyanyikan di gereja-gereja karena pesan universalnya tentang **harapan**. Lagu ini sering kali menjadi pengingat bahwa di balik penderitaan duniawi (penyakit, konflik, dan kehilangan), ada harapan akan kedamaian dan kebersamaan abadi.
Dalam tradisi musik populer, lagu ini bahkan sering muncul dalam film-film berlatar sejarah Amerika, menjadi simbol klasik dari iman dan ketabahan masyarakat di masa-masa sulit.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu karya **Robert Lowry** tersebut:
### 1. Latar Belakang Pencipta
Robert Lowry (1826–1899) adalah seorang pendeta Baptis asal Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia bukan hanya seorang pengkhotbah, tetapi juga seorang komposer dan penulis lirik yang sangat produktif. Lowry dikenal sebagai sosok yang sangat introspektif dan sering kali menyusun melodi lagu-lagu rohani saat ia sedang duduk di ruang kerjanya.
### 2. Situasi yang Memicu Lahirnya Lagu
Lagu ini ditulis pada tahun **1865**, tahun yang sangat kelam bagi Amerika Serikat. Saat itu, negara tersebut sedang mengalami dua trauma besar:
* **Perang Saudara Amerika (Civil War):** Perang ini baru saja berakhir, meninggalkan ribuan orang tewas, keluarga yang hancur, dan suasana duka yang mendalam di seluruh negeri.
* **Wabah Penyakit:** Kota Brooklyn, tempat Lowry tinggal saat itu, sedang dilanda wabah penyakit yang sangat mematikan (banyak sejarawan menyebutkan kemungkinan wabah kolera atau tifus).
Di tengah suasana duka dan kematian yang merajalela di sekelilingnya, Lowry merasa tertekan secara psikologis. Ia mulai mempertanyakan banyak hal tentang kematian, perpisahan, dan kehidupan setelahnya.
### 3. Proses Penulisan yang Unik
Suatu hari di bulan Juli 1865, Lowry duduk di ruang kerjanya. Ia merenungkan ayat dari **Wahyu 22:1–2** dalam Alkitab, yang menggambarkan sungai air kehidupan yang jernih, mengalir dari takhta Allah.
Dalam sebuah wawancara bertahun-tahun kemudian, Lowry menceritakan proses penciptaannya:
> *"Saya bertanya-tanya pada diri sendiri, 'Kita sering berbicara tentang sungai kematian, tetapi mengapa kita jarang berbicara tentang sungai yang mengalir dari takhta Allah?'"*
Ia merasa bahwa orang-orang Kristen saat itu terlalu terpaku pada ketakutan akan kematian, bukannya berfokus pada sukacita pertemuan kembali di surga. Ia ingin menulis sebuah lagu yang mengubah perspektif kematian dari sesuatu yang menakutkan menjadi sebuah "pertemuan" (reuni) yang membahagiakan.
Hanya dalam waktu singkat di hari itu, ia menulis lirik dan melodinya sekaligus. Ia membayangkan sebuah "sungai kehidupan" di mana semua orang yang dikasihi akan bertemu kembali setelah melewati kesulitan hidup.
### 4. Makna di Balik Liriknya
* **Sungai:** Berbeda dengan konsep mitologi Yunani (Sungai Styx) yang melambangkan batas kematian yang kelam, Lowry menggunakan "sungai" sebagai simbol air kehidupan yang memberikan kesembuhan.
* **Pertemuan (Gathering):** Kata "Gather" (Berhimpun) adalah inti dari lagu ini. Bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga akibat Perang Saudara atau wabah, lagu ini memberikan penghiburan bahwa perpisahan hanyalah sementara.
* **Nada yang Ceria:** Banyak kritikus musik saat itu terkejut karena lirik tentang kematian diiringi dengan melodi yang sangat ritmis, optimis, dan bersemangat. Namun, itulah tujuan Lowry: ia ingin agar orang-orang tidak bersedih, melainkan bersukacita karena kepastian janji keselamatan.
### 5. Warisan Lagu Ini
Lagu ini pertama kali dipublikasikan dalam koleksi lagu sekolah Minggu berjudul *Happy Voices* pada tahun 1865. Dalam sekejap, lagu ini menjadi sangat populer di seluruh Amerika Serikat dan kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Hingga hari ini, "Shall We Gather at the River?" tetap dinyanyikan di gereja-gereja karena pesan universalnya tentang **harapan**. Lagu ini sering kali menjadi pengingat bahwa di balik penderitaan duniawi (penyakit, konflik, dan kehilangan), ada harapan akan kedamaian dan kebersamaan abadi.
Dalam tradisi musik populer, lagu ini bahkan sering muncul dalam film-film berlatar sejarah Amerika, menjadi simbol klasik dari iman dan ketabahan masyarakat di masa-masa sulit.
Cross Reference
KMM 86, NKB 114, GB 303, KK 306
Apa Kita 'Kan Berhimpun
GB
Apa Kita 'Kan Berhimpun
KK
Apa Kita Kan Berhimpun
KMM
Apa Kita 'Kan Berhimpun
NKB
Sama Tema
Surga