Informasi Lagu
347
Nomor
Kode
NP 347
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Johann Cruger
Pencipta Syair
Martinus Rinkart, Catherine Winkworth, 1858 (Inggris)
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Sekarang bri syukur, Pada Tuhan Allahmu! Sempurna dan luhur, PimpinanNya selalu. Dibrikan olehNya, Anugrah dan berkah; Kita dijagaNya Selama-lamanya.
Yang Mahamulia, Membrikan sukacita, Damai sejahtera, Di dalam hidup kita. Bri umatMu, Tuhan, Kebijaksanaan; Walau di dalam prang, Bri hidup yang tenang.
Pada Allah Bapa, Segala kemuliaan! Pujilah PutraNya, Dialah Kebenaran. Marilah Roh Kudus, Ajar umatMu trus Memuji slamanya, Tritunggal yang mulia! Amin.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 347
Sejarah Lagu
Lagu **"Sekarang B'ri Syukur"** (judul asli Jerman: *Nun danket alle Gott*) adalah salah satu himne yang paling ikonik dalam sejarah Kristen. Kisah di balik lagu ini sangat kontras: lagu ini lahir dari "lembah kekelaman" yang luar biasa, namun justru menjadi luapan syukur yang tak tertandingi.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Latar Belakang: Perang Tiga Puluh Tahun
Lagu ini ditulis oleh **Martin Rinkart** (1586–1649), seorang pendeta Lutheran di Eilenburg, Jerman, sekitar tahun 1636. Saat itu, Eropa sedang dilanda **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618–1648), salah satu konflik paling mematikan dan destruktif dalam sejarah manusia.

Eilenburg, kota tempat Rinkart melayani, menjadi tempat pengungsian bagi warga sipil karena bentengnya yang kuat. Akibatnya, kota itu menjadi sangat padat, penuh sesak, dan terjebak dalam kelaparan hebat serta wabah pes.

### 2. Penderitaan Pribadi sang Penulis
Selama perang tersebut, Rinkart mengalami penderitaan yang luar biasa:
* **Wabah Pes:** Rinkart adalah satu-satunya pendeta yang bertahan di kota itu karena rekan-rekannya meninggal dunia atau melarikan diri. Ia harus melakukan pemakaman bagi 40 hingga 50 orang setiap hari, termasuk istrinya sendiri.
* **Kelaparan:** Kota itu beberapa kali dikepung oleh pasukan asing. Rinkart bahkan harus membagi persediaan makanannya yang terakhir untuk orang lain.
* **Beban Tugas:** Dalam satu tahun, Rinkart tercatat memimpin upacara pemakaman bagi lebih dari 4.000 warganya (termasuk banyak anggota jemaatnya).

Di tengah tumpukan mayat, kemiskinan, dan ancaman kematian yang nyata setiap detik, Rinkart tidak kehilangan imannya. Lagu ini ditulis sebagai **doa syukur bagi anak-anaknya sebelum makan** (sebuah tradisi keluarga di rumah Rinkart) di masa yang sangat sulit itu. Ini adalah bukti kekuatan syukur di tengah tragedi.

### 3. Komposisi Musik oleh Johann Crüger
Pada tahun 1647, **Johann Crüger**, seorang komposer gerejawi terkemuka, memasukkan syair Rinkart ke dalam bukunya, *Praxis Pietatis Melica*. Crüger memberikan melodi yang megah dan tenang, yang membuat lirik tersebut menjadi sebuah lagu jemaat yang sangat kuat. Melodi inilah yang kita kenal hingga hari ini.

### 4. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Catherine Winkworth
Dua abad kemudian, pada tahun 1858, **Catherine Winkworth**, seorang penerjemah himne asal Inggris yang sangat berbakat, menerjemahkan syair Jerman ini ke dalam bahasa Inggris.

Hasil terjemahannya, *"Now thank we all our God,"* mempertahankan semangat asli Rinkart—yaitu kesadaran bahwa Allah tetap memelihara manusia "dari kandungan ibu kita" hingga saat ini, tidak peduli seberapa buruk keadaan dunia di sekitar kita. Terjemahan Winkworth menjadikan lagu ini populer di dunia berbahasa Inggris, terutama di gereja-gereja Protestan.

### Makna Lirik: Mengapa Lagu Ini Begitu Kuat?
Lagu ini bukan sekadar ucapan terima kasih karena keadaan baik; lagu ini adalah **pernyataan iman yang menantang keadaan**.

* **Bait 1:** Mengajak seluruh umat untuk bersyukur kepada Allah yang luar biasa karena perbuatan-Nya yang ajaib.
* **Bait 2:** Mengakui pemeliharaan Allah sejak kita lahir hingga saat ini.
* **Bait 3:** Sebuah doa agar Allah menjaga kita dalam kasih-Nya dan membawa kita melalui segala tantangan hidup hingga akhirnya kita bersama-Nya.

### Kesimpulan
"Sekarang B'ri Syukur" adalah pengingat bahwa **syukur adalah sebuah pilihan.** Martin Rinkart tidak menulis lagu ini dari sebuah istana yang damai, melainkan dari sebuah kota yang hancur oleh perang dan wabah.

Ketika kita menyanyikan lagu ini di gereja-gereja saat ini—sering kali dalam perayaan sukacita seperti pernikahan atau syukur panen—kita sebenarnya sedang menyanyikan sebuah kesaksian tentang iman yang teguh: bahwa Allah tetap setia dan layak dipuji, tidak peduli seberapa gelap situasi yang sedang kita hadapi.