NP
Sudah Siapkah Kausambut Tuhan?
The Lord Is Coming
Informasi Lagu
85
Nomor
Kode
NP 85
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Elisha A. Hoffman
Pencipta Syair
Elisha A. Hoffman
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Tuhanmu pasti datanglah, Siapkan dirimu;
Ya, dari surga turunnya, Siapkan dirimu.
UmatNya dibenarkanNya, Dan diakui olehNya
Dihadapan takhta Bapa; Siapkan dirimu.
Sudah siapkah kau sambut Tuhan?
Sudah siapkah kau sambut Tuhan?
Biar lampumu terang, Malam ataupun siang;
Sudah siapkah kau sambut Tuhan?
Segra kedatangan Tuhan, Siapkan dirimu;
Dialah Raja tiap insan, Siapkan dirimu.
Kelak Anak Manusia Di atas awan datangnya
Di Dalam kebesaranNya; Siapkan dirimu.
Tuhanmu datanglah segra, Siapkan dirimu;
Berbunyi sangkakalaNya, Siapkan dirimu.
Tiap-tiap manusia Harus menghadap takhtaNya;
Berjagalah, berdoalah, Siapkan dirimu.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Sudah Siapkah Kausambut Tuhan?"** (judul asli: *Are You Ready for the Coming of the Lord?*) adalah sebuah himne klasik yang ditulis oleh **Elisha Albright Hoffman** (1839–1929).
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat konteks kehidupan penulisnya dan tujuan teologis yang ingin ia sampaikan. Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Sosok Penulis: Elisha A. Hoffman
Elisha Hoffman adalah seorang pendeta, komposer, dan penyunting lagu rohani yang sangat produktif dari Amerika Serikat. Ia menulis lebih dari 2.000 lagu rohani sepanjang hidupnya. Ia adalah tipe penulis lagu yang sangat terobsesi dengan penginjilan dan kedalaman pengalaman rohani pribadi.
Banyak lagunya lahir dari observasi pastoralnya—melihat pergumulan jemaat, ketakutan mereka akan kematian, dan kerinduan mereka akan kepastian keselamatan. Salah satu lagunya yang paling terkenal di dunia adalah *"Leaning on the Everlasting Arms"* (Bersandar pada Lengan yang Kekal).
### 2. Latar Belakang Penulisan
Lagu *"Are You Ready for the Coming of the Lord?"* ditulis pada akhir abad ke-19 (sekitar tahun 1890-an). Pada masa itu, teologi tentang **Eskatologi** (ajaran tentang akhir zaman) menjadi topik yang sangat hangat di gereja-gereja Protestan di Amerika.
* **Panggilan untuk Introspeksi:** Hoffman menulis lagu ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai "bel peringatan" yang penuh kasih. Ia merasa banyak orang Kristen hidup dalam kenyamanan duniawi dan melupakan tujuan utama kehidupan mereka, yaitu perjumpaan dengan Tuhan.
* **Pertanyaan Retoris:** Judul lagu ini merupakan pertanyaan yang sangat personal. Hoffman ingin setiap orang yang menyanyikannya berhenti sejenak dari kesibukan dan bertanya pada diri sendiri, "Jika Tuhan datang hari ini, apakah hidupku sudah selaras dengan kehendak-Nya?"
### 3. Makna Lirik dan Pesan Utama
Lagu ini memiliki struktur yang khas himne zaman itu:
* **Peringatan:** Liriknya mengingatkan bahwa waktu kedatangan Tuhan tidak diketahui siapa pun.
* **Pencucian Diri:** Pesan intinya adalah tentang kesiapan spiritual—bahwa seseorang harus hidup dalam kekudusan dan kasih.
* **Harapan:** Berbeda dengan lagu-lagu yang terkesan menakut-nakuti, Hoffman menyisipkan nada pengharapan. Jika seseorang sudah hidup di dalam kasih Tuhan, kedatangan-Nya bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dinantikan dengan sukacita (seperti seorang mempelai wanita yang menanti mempelai pria).
### 4. Konteks Budaya Saat Itu
Pada akhir 1800-an, dunia mengalami perubahan besar akibat Revolusi Industri. Banyak orang pindah ke kota, mengalami sekularisasi, dan mulai meninggalkan tradisi iman. Hoffman melihat ini sebagai tanda-tanda "ketidaksiapan" umat manusia. Ia menulis lagu ini agar gereja tetap memiliki orientasi pada kekekalan di tengah dunia yang makin materialistik.
### 5. Warisan Lagu Ini
Lagu ini menjadi populer di kalangan jemaat injili karena melodi dan liriknya yang mudah diingat namun sangat menusuk hati. Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan sangat baik sehingga pesannya tersampaikan dengan kuat di berbagai kebaktian.
**Kesimpulannya:**
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **kerinduan seorang pendeta agar jemaatnya tidak hidup dalam "tidur rohani."** Hoffman ingin memastikan bahwa setiap orang Kristen tidak hanya sibuk dengan urusan dunia, tetapi juga memiliki "pelita" yang tetap menyala, sehingga ketika saatnya tiba, mereka tidak merasa asing atau takut saat bertemu dengan Sang Pencipta.
Lagu ini adalah pengingat bahwa bagi seorang beriman, kedatangan Tuhan bukanlah sebuah akhir dari segalanya, melainkan puncak dari sebuah perjalanan iman.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat konteks kehidupan penulisnya dan tujuan teologis yang ingin ia sampaikan. Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Sosok Penulis: Elisha A. Hoffman
Elisha Hoffman adalah seorang pendeta, komposer, dan penyunting lagu rohani yang sangat produktif dari Amerika Serikat. Ia menulis lebih dari 2.000 lagu rohani sepanjang hidupnya. Ia adalah tipe penulis lagu yang sangat terobsesi dengan penginjilan dan kedalaman pengalaman rohani pribadi.
Banyak lagunya lahir dari observasi pastoralnya—melihat pergumulan jemaat, ketakutan mereka akan kematian, dan kerinduan mereka akan kepastian keselamatan. Salah satu lagunya yang paling terkenal di dunia adalah *"Leaning on the Everlasting Arms"* (Bersandar pada Lengan yang Kekal).
### 2. Latar Belakang Penulisan
Lagu *"Are You Ready for the Coming of the Lord?"* ditulis pada akhir abad ke-19 (sekitar tahun 1890-an). Pada masa itu, teologi tentang **Eskatologi** (ajaran tentang akhir zaman) menjadi topik yang sangat hangat di gereja-gereja Protestan di Amerika.
* **Panggilan untuk Introspeksi:** Hoffman menulis lagu ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai "bel peringatan" yang penuh kasih. Ia merasa banyak orang Kristen hidup dalam kenyamanan duniawi dan melupakan tujuan utama kehidupan mereka, yaitu perjumpaan dengan Tuhan.
* **Pertanyaan Retoris:** Judul lagu ini merupakan pertanyaan yang sangat personal. Hoffman ingin setiap orang yang menyanyikannya berhenti sejenak dari kesibukan dan bertanya pada diri sendiri, "Jika Tuhan datang hari ini, apakah hidupku sudah selaras dengan kehendak-Nya?"
### 3. Makna Lirik dan Pesan Utama
Lagu ini memiliki struktur yang khas himne zaman itu:
* **Peringatan:** Liriknya mengingatkan bahwa waktu kedatangan Tuhan tidak diketahui siapa pun.
* **Pencucian Diri:** Pesan intinya adalah tentang kesiapan spiritual—bahwa seseorang harus hidup dalam kekudusan dan kasih.
* **Harapan:** Berbeda dengan lagu-lagu yang terkesan menakut-nakuti, Hoffman menyisipkan nada pengharapan. Jika seseorang sudah hidup di dalam kasih Tuhan, kedatangan-Nya bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dinantikan dengan sukacita (seperti seorang mempelai wanita yang menanti mempelai pria).
### 4. Konteks Budaya Saat Itu
Pada akhir 1800-an, dunia mengalami perubahan besar akibat Revolusi Industri. Banyak orang pindah ke kota, mengalami sekularisasi, dan mulai meninggalkan tradisi iman. Hoffman melihat ini sebagai tanda-tanda "ketidaksiapan" umat manusia. Ia menulis lagu ini agar gereja tetap memiliki orientasi pada kekekalan di tengah dunia yang makin materialistik.
### 5. Warisan Lagu Ini
Lagu ini menjadi populer di kalangan jemaat injili karena melodi dan liriknya yang mudah diingat namun sangat menusuk hati. Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan sangat baik sehingga pesannya tersampaikan dengan kuat di berbagai kebaktian.
**Kesimpulannya:**
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **kerinduan seorang pendeta agar jemaatnya tidak hidup dalam "tidur rohani."** Hoffman ingin memastikan bahwa setiap orang Kristen tidak hanya sibuk dengan urusan dunia, tetapi juga memiliki "pelita" yang tetap menyala, sehingga ketika saatnya tiba, mereka tidak merasa asing atau takut saat bertemu dengan Sang Pencipta.
Lagu ini adalah pengingat bahwa bagi seorang beriman, kedatangan Tuhan bukanlah sebuah akhir dari segalanya, melainkan puncak dari sebuah perjalanan iman.