NP
Ya Firman dari Surga
O Word of God Incarnate
Informasi Lagu
99
Nomor
Kode
NP 99
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
tak dikenal
Pencipta Syair
William W. How
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Ya Firman dari surga, Penyataan Allah,
Terang dan kebenaran Yang tidak berubah:
Betapa trang cahaya Dari Kitab Suci,
Penyuluh perjalanan UmatMu, Almasih.
Gereja tubuh Kristus, Telah menrimanya
Anugerah surgawi Bagi manusia:
Alkitab peremasan, Harta yang abadi,
Dan gambar Firman hidup, Ciptaan ilahi.
Alkitab bagai panji Bala tentra Allah;
Mercusuar di dalam Keglapan dunia;
Dalam laut kehidupan Gelombang menderu:
Alkitablah pedoman, Pengantar padaMu.
Jadikanlah grejaMu Pelita yang cerah,
Pemancar Firman Tuhan yang padam tak pernah;
Ajarlah tiap musafir Mengikut sinarnya,
Melintas hidup fana Ke surga yang baka. Amin.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu pujian **"O Word of God Incarnate"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai **"Ya Firman dari Surga"**) adalah salah satu himne klasik yang sangat dihormati dalam tradisi gereja Inggris (Anglikan).
Berikut adalah kisah mendalam di balik penulisan lagu ini:
### 1. Penulis: William Walsham How
Lagu ini ditulis oleh **William Walsham How** (1823–1897), seorang uskup dari Gereja Inggris yang dikenal sebagai sosok yang sangat peduli pada rakyat kecil. Ia dijuluki sebagai "Uskup Rakyat Miskin" karena dedikasinya melayani daerah-daerah kumuh di East End, London.
Selain seorang rohaniwan yang aktif, How adalah seorang penyair himne yang berbakat. Ia menulis lagu ini pada tahun **1867**.
### 2. Konteks Penulisan
Pada pertengahan abad ke-19, gereja di Inggris sedang mengalami perdebatan teologis yang cukup panas mengenai **otoritas Alkitab**. Di satu sisi, ada kelompok yang mulai meragukan keaslian historis Alkitab karena perkembangan ilmu pengetahuan dan kritik sastra pada masa itu. Di sisi lain, ada kelompok yang sangat menekankan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang hidup.
William Walsham How menulis lagu ini bukan sebagai tanggapan defensif yang keras, melainkan sebagai **pengakuan iman yang puitis dan indah tentang bagaimana Tuhan berbicara kepada manusia**.
### 3. Makna di Balik Liriknya
Lirik lagu ini berpusat pada dualitas yang unik: **Firman yang menjadi daging (Yesus Kristus)** dan **Firman yang tertulis (Alkitab)**.
* **Bait Pertama:** How membandingkan Yesus Kristus sebagai "Firman yang Menjadi Daging" dengan Alkitab sebagai "Firman yang tertulis". Ia menekankan bahwa Alkitab adalah "cahaya bagi jalan kita" dan "pelita bagi kaki kita".
* **Metafora "Matahari dan Lentera":** Salah satu baitnya yang paling terkenal menggunakan metafora bahwa Alkitab bagaikan cahaya yang menuntun manusia di tengah kegelapan dunia.
* **Tujuan Penulisan:** Tujuan utama How adalah untuk mengingatkan jemaat bahwa membaca Alkitab bukanlah sekadar aktivitas intelektual, melainkan cara untuk berjumpa dengan Kristus itu sendiri. Alkitab dianggap sebagai "cermin" yang memantulkan wajah Tuhan kepada orang percaya.
### 4. Melodi yang Menyertainya
Lagu ini paling sering dinyanyikan dengan melodi bernama **"Munich"**. Menariknya, melodi ini berasal dari kumpulan nyanyian Jerman abad ke-17 (*Neuvermehrtes Meiningisches Gesangbuch*, 1693). Penggabungan lirik How yang elegan dengan melodi *chorale* Jerman yang kuat dan megah memberikan kesan yang sangat khidmat dan berwibawa.
### 5. Warisan Lagu Ini
"O Word of God Incarnate" menjadi sangat populer karena ia berhasil menjembatani dua konsep teologis yang sulit:
1. **Inkarnasi (Yesus yang menjadi manusia):** Menekankan kasih Allah yang turun ke dunia.
2. **Wahyu (Alkitab):** Menekankan bahwa Allah masih berkomunikasi dengan manusia melalui teks.
Di dalam buku nyanyian gereja (seperti *Hymns Ancient and Modern*), lagu ini sering ditempatkan pada bagian awal ibadah atau dalam kebaktian yang khusus merayakan firman Tuhan.
### Intisari Pesan bagi Kita
Kisah di balik lagu ini adalah pengingat bahwa Alkitab bukanlah buku biasa. Bagi William Walsham How, Alkitab adalah **"surat cinta"** yang di dalamnya kita menemukan sosok Yesus Kristus secara nyata.
Saat kita menyanyikan lagu ini, kita diajak untuk tidak hanya membaca Alkitab sebagai kumpulan peraturan atau sejarah, tetapi sebagai perjumpaan pribadi dengan Sang Firman (Yesus) itu sendiri.
***
**Bait populer dalam bahasa Inggris:**
*"O Word of God Incarnate, O Wisdom from on high,*
*O Truth unchanged, unchanging, O Light of our dark sky;*
*We praise Thee for the radiance that from the hallowed page,*
*A lantern to our footsteps, shines on from age to age."*
Berikut adalah kisah mendalam di balik penulisan lagu ini:
### 1. Penulis: William Walsham How
Lagu ini ditulis oleh **William Walsham How** (1823–1897), seorang uskup dari Gereja Inggris yang dikenal sebagai sosok yang sangat peduli pada rakyat kecil. Ia dijuluki sebagai "Uskup Rakyat Miskin" karena dedikasinya melayani daerah-daerah kumuh di East End, London.
Selain seorang rohaniwan yang aktif, How adalah seorang penyair himne yang berbakat. Ia menulis lagu ini pada tahun **1867**.
### 2. Konteks Penulisan
Pada pertengahan abad ke-19, gereja di Inggris sedang mengalami perdebatan teologis yang cukup panas mengenai **otoritas Alkitab**. Di satu sisi, ada kelompok yang mulai meragukan keaslian historis Alkitab karena perkembangan ilmu pengetahuan dan kritik sastra pada masa itu. Di sisi lain, ada kelompok yang sangat menekankan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang hidup.
William Walsham How menulis lagu ini bukan sebagai tanggapan defensif yang keras, melainkan sebagai **pengakuan iman yang puitis dan indah tentang bagaimana Tuhan berbicara kepada manusia**.
### 3. Makna di Balik Liriknya
Lirik lagu ini berpusat pada dualitas yang unik: **Firman yang menjadi daging (Yesus Kristus)** dan **Firman yang tertulis (Alkitab)**.
* **Bait Pertama:** How membandingkan Yesus Kristus sebagai "Firman yang Menjadi Daging" dengan Alkitab sebagai "Firman yang tertulis". Ia menekankan bahwa Alkitab adalah "cahaya bagi jalan kita" dan "pelita bagi kaki kita".
* **Metafora "Matahari dan Lentera":** Salah satu baitnya yang paling terkenal menggunakan metafora bahwa Alkitab bagaikan cahaya yang menuntun manusia di tengah kegelapan dunia.
* **Tujuan Penulisan:** Tujuan utama How adalah untuk mengingatkan jemaat bahwa membaca Alkitab bukanlah sekadar aktivitas intelektual, melainkan cara untuk berjumpa dengan Kristus itu sendiri. Alkitab dianggap sebagai "cermin" yang memantulkan wajah Tuhan kepada orang percaya.
### 4. Melodi yang Menyertainya
Lagu ini paling sering dinyanyikan dengan melodi bernama **"Munich"**. Menariknya, melodi ini berasal dari kumpulan nyanyian Jerman abad ke-17 (*Neuvermehrtes Meiningisches Gesangbuch*, 1693). Penggabungan lirik How yang elegan dengan melodi *chorale* Jerman yang kuat dan megah memberikan kesan yang sangat khidmat dan berwibawa.
### 5. Warisan Lagu Ini
"O Word of God Incarnate" menjadi sangat populer karena ia berhasil menjembatani dua konsep teologis yang sulit:
1. **Inkarnasi (Yesus yang menjadi manusia):** Menekankan kasih Allah yang turun ke dunia.
2. **Wahyu (Alkitab):** Menekankan bahwa Allah masih berkomunikasi dengan manusia melalui teks.
Di dalam buku nyanyian gereja (seperti *Hymns Ancient and Modern*), lagu ini sering ditempatkan pada bagian awal ibadah atau dalam kebaktian yang khusus merayakan firman Tuhan.
### Intisari Pesan bagi Kita
Kisah di balik lagu ini adalah pengingat bahwa Alkitab bukanlah buku biasa. Bagi William Walsham How, Alkitab adalah **"surat cinta"** yang di dalamnya kita menemukan sosok Yesus Kristus secara nyata.
Saat kita menyanyikan lagu ini, kita diajak untuk tidak hanya membaca Alkitab sebagai kumpulan peraturan atau sejarah, tetapi sebagai perjumpaan pribadi dengan Sang Firman (Yesus) itu sendiri.
***
**Bait populer dalam bahasa Inggris:**
*"O Word of God Incarnate, O Wisdom from on high,*
*O Truth unchanged, unchanging, O Light of our dark sky;*
*We praise Thee for the radiance that from the hallowed page,*
*A lantern to our footsteps, shines on from age to age."*