NR
Ingat dalam Susah dan Bala
Informasi Lagu
135
Nomor
Kode
NR 135
Buku
Nyanyian Rohani
Metronom
0
Cross Ref.
KPKA 123, KPJ 146
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
2 bait
Ingat dalam susah dan di bala:
Jangan putus asa, Tuhan adalah!
Jangan gentar, Allahmu besar,
nanti, waktu siang, engkau bergemar.
Topan sengsara nanti teduh,
ngkau dipelihara Pelindungmu.
Tuhan ada lagi, percayalah!
Tiap-tiap pagi nyata kasih-Nya.
Meski sedih, hatimu pedih,
pertolongan Tuhan yang tentu lebih!
Apa yang jadi di dunia
Bapaku abadi, Ngkau adalah!
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Harre, meine Seele" atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai "Harap Akan Tuhan" adalah salah satu himne spiritual yang paling menyentuh dan memberikan penghiburan mendalam. Kisah di baliknya melibatkan dua tokoh utama dan latar belakang spiritual yang kaya.
Mari kita selami kisahnya secara detail:
---
### **1. Henri Auguste César Malan (1787-1864): Jiwa di Balik Kata-kata**
Malan adalah seorang pendeta Protestan dari Swiss yang memiliki pengaruh besar dalam gerakan kebangunan rohani (Revival) di Eropa pada awal abad ke-19, terutama di Swiss dan Perancis. Ia lahir di Jenewa, sebuah kota yang pada saat itu dikenal sebagai pusat pemikiran Reformasi Calvinis, namun juga sedang mengalami gelombang rasionalisme dan formalisme gerejawi.
**Latar Bel Belakang dan Konversi Spiritual:**
Malan awalnya adalah seorang pendeta yang berpegang pada ortodoksi gerejawi yang kering. Namun, pada sekitar tahun 1816, ia mengalami pengalaman konversi pribadi yang mendalam. Ia mulai menekankan pentingnya pertobatan pribadi, iman yang hidup kepada Kristus, dan kelahiran kembali rohani. Ini menempatkannya pada jalur yang bertentangan dengan kemapanan gereja Protestan Jenewa yang lebih liberal dan formal pada masanya.
**Perjuangan dan Penganiayaan:**
Karena khotbah-khotbahnya yang berapi-api dan penekanannya pada pengalaman rohani pribadi, Malan menghadapi perlawanan dan penganiayaan yang berat dari otoritas gereja. Ia dilarang berkhotbah di gereja-gereja resmi dan akhirnya dipecat dari jabatan resminya pada tahun 1823.
Namun, Malan tidak menyerah. Ia mendirikan gerejanya sendiri yang ia namakan **"Chapelle du Témoignage" (Kapel Kesaksian)** di kebun belakang rumahnya di Jenewa. Di sinilah ia melanjutkan pelayanannya, menarik jemaat yang haus akan kebenaran rohani yang hidup. Kapelnya menjadi pusat kebangunan rohani dan pengaruhnya menyebar jauh melampaui Jenewa.
**Inspirasi untuk Himne:**
Dalam konteks pergumulan pribadinya, penolakan, dan kesetiaannya yang teguh pada imannya, Malan menulis banyak himne. Ia adalah seorang penulis himne yang sangat produktif, menghasilkan lebih dari seribu himne, sebagian besar dalam bahasa Prancis. Himne-himne Malan sering kali mencerminkan pengalamannya tentang penderitaan, kesabaran, dan harapan yang teguh kepada Tuhan di tengah badai kehidupan.
Meskipun "Harre, meine Seele" secara spesifik dalam bentuk Jerman tidak selalu merupakan terjemahan langsung dari satu himne Prancis Malan, **semangat dan temanya** sangat selaras dengan teologi dan pengalaman hidup Malan. Pesan untuk "menunggu jiwa", "bersabar", dan "berharap pada Tuhan" di tengah kesulitan adalah inti dari ajarannya. Malan seringkali menulis tentang perlunya iman yang tidak goyah, kesabaran ilahi, dan penyerahan diri total kepada kehendak Tuhan, bahkan ketika jalan terasa gelap dan panjang. Karenanya, Malan secara luas dikreditkan sebagai penulis teks atau setidaknya inspirasi utama di balik himne ini.
Teks Jermannya, yang diyakini berasal dari sekitar tahun 1830-an (periode aktif Malan), dengan indah menangkap esensi dari pesan pengharapan di tengah penantian:
* "Harre, meine Seele, harre des Herrn!" (Tunggu jiwaku, tunggu Tuhan!)
* "Alles wird gut, wenn du nur hoffst." (Semuanya akan baik, jika engkau hanya berharap.)
Ini adalah seruan untuk kesabaran, kepercayaan penuh, dan keyakinan bahwa Tuhan akan bertindak pada waktu-Nya yang sempurna, sebuah pesan yang sangat relevan dengan kehidupan Malan sendiri yang penuh tantangan.
---
### **2. Friedrich Rader (sekitar abad ke-19): Melodi yang Memberi Sayap**
Sementara Malan memberikan jiwa pada kata-kata, Friedrich Rader adalah komposer yang memberikan melodi indah yang membuat himne ini terbang tinggi dan mengena di hati jutaan orang.
**Siapakah Rader?**
Informasi mengenai Friedrich Rader tidak sebanyak Malan. Ia adalah seorang komposer Jerman, yang kemungkinan besar hidup di pertengahan abad ke-19. Ia dikenal sebagai seorang musisi gereja atau seorang yang aktif dalam komunitas himne di Jerman. Perannya yang paling signifikan dalam sejarah himne adalah mengkomposisikan melodi yang kini secara universal diasosiasikan dengan teks "Harre, meine Seele".
**Dampak Melodi:**
Melodi Rader sangat cocok dengan lirik Malan. Melodi tersebut memiliki kualitas yang menenangkan, serius, namun juga penuh harapan. Struktur melodinya yang sederhana namun kuat memungkinkan jemaat untuk dengan mudah mempelajari dan menyanyikannya, sehingga himne ini cepat menyebar di seluruh gereja-gereja berbahasa Jerman. Melodi ini memiliki irama yang mengalir, memberikan rasa stabilitas dan kedamaian, seolah-olah musik itu sendiri mengajak jiwa untuk berdiam diri dan menunggu Tuhan.
---
### **3. Pernikahan Kata dan Melodi: Lahirnya Sebuah Karya Abadi**
Ketika teks yang dalam dan penuh pengharapan dari Malan bertemu dengan melodi yang indah dan menenangkan dari Rader, lahirlah sebuah mahakarya. Himne ini menjadi pilar iman dan penghiburan bagi banyak orang Kristen yang menghadapi masa-masa sulit.
**Pesan Abadi:**
Pesan inti dari "Harre, meine Seele" adalah tentang **kesabaran ilahi, penantian yang penuh harap, dan kepercayaan mutlak pada kedaulatan serta kebaikan Tuhan**. Dalam dunia yang serba cepat dan seringkali penuh ketidakpastian, seruan untuk "menunggu Tuhan" adalah pengingat yang kuat bahwa ada kuasa yang lebih tinggi yang memegang kendali. Ini adalah himne yang berbicara tentang:
* **Ketahanan dalam Iman:** Menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan.
* **Penyerahan Diri:** Melepaskan kekhawatiran dan memercayakan segalanya kepada Tuhan.
* **Visi Kekal:** Memahami bahwa waktu Tuhan adalah yang terbaik, dan segala sesuatu pada akhirnya akan menjadi baik bagi mereka yang mengasihi Dia.
**Warisan dan Pengaruh:**
"Harre, meine Seele" telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia sebagai "Harap Akan Tuhan". Himne ini sering dinyanyikan dalam ibadah gereja, saat-saat kesedihan, atau sebagai lagu pengantar tidur bagi jiwa yang gelisah. Melalui kata-kata Malan dan melodi Rader, himne ini terus menjadi oase ketenangan dan sumber kekuatan bagi generasi-generasi orang percaya di seluruh dunia, mengingatkan kita semua untuk "berharap akan Tuhan" dalam setiap situasi kehidupan.
Kisah di balik lagu ini adalah testimoni akan kekuatan iman yang diuji, ketekunan dalam pelayanan, dan bagaimana seni—baik puisi maupun musik—dapat menjadi sarana yang ampuh untuk menyampaikan kebenaran ilahi dan memberikan penghiburan abadi.
Mari kita selami kisahnya secara detail:
---
### **1. Henri Auguste César Malan (1787-1864): Jiwa di Balik Kata-kata**
Malan adalah seorang pendeta Protestan dari Swiss yang memiliki pengaruh besar dalam gerakan kebangunan rohani (Revival) di Eropa pada awal abad ke-19, terutama di Swiss dan Perancis. Ia lahir di Jenewa, sebuah kota yang pada saat itu dikenal sebagai pusat pemikiran Reformasi Calvinis, namun juga sedang mengalami gelombang rasionalisme dan formalisme gerejawi.
**Latar Bel Belakang dan Konversi Spiritual:**
Malan awalnya adalah seorang pendeta yang berpegang pada ortodoksi gerejawi yang kering. Namun, pada sekitar tahun 1816, ia mengalami pengalaman konversi pribadi yang mendalam. Ia mulai menekankan pentingnya pertobatan pribadi, iman yang hidup kepada Kristus, dan kelahiran kembali rohani. Ini menempatkannya pada jalur yang bertentangan dengan kemapanan gereja Protestan Jenewa yang lebih liberal dan formal pada masanya.
**Perjuangan dan Penganiayaan:**
Karena khotbah-khotbahnya yang berapi-api dan penekanannya pada pengalaman rohani pribadi, Malan menghadapi perlawanan dan penganiayaan yang berat dari otoritas gereja. Ia dilarang berkhotbah di gereja-gereja resmi dan akhirnya dipecat dari jabatan resminya pada tahun 1823.
Namun, Malan tidak menyerah. Ia mendirikan gerejanya sendiri yang ia namakan **"Chapelle du Témoignage" (Kapel Kesaksian)** di kebun belakang rumahnya di Jenewa. Di sinilah ia melanjutkan pelayanannya, menarik jemaat yang haus akan kebenaran rohani yang hidup. Kapelnya menjadi pusat kebangunan rohani dan pengaruhnya menyebar jauh melampaui Jenewa.
**Inspirasi untuk Himne:**
Dalam konteks pergumulan pribadinya, penolakan, dan kesetiaannya yang teguh pada imannya, Malan menulis banyak himne. Ia adalah seorang penulis himne yang sangat produktif, menghasilkan lebih dari seribu himne, sebagian besar dalam bahasa Prancis. Himne-himne Malan sering kali mencerminkan pengalamannya tentang penderitaan, kesabaran, dan harapan yang teguh kepada Tuhan di tengah badai kehidupan.
Meskipun "Harre, meine Seele" secara spesifik dalam bentuk Jerman tidak selalu merupakan terjemahan langsung dari satu himne Prancis Malan, **semangat dan temanya** sangat selaras dengan teologi dan pengalaman hidup Malan. Pesan untuk "menunggu jiwa", "bersabar", dan "berharap pada Tuhan" di tengah kesulitan adalah inti dari ajarannya. Malan seringkali menulis tentang perlunya iman yang tidak goyah, kesabaran ilahi, dan penyerahan diri total kepada kehendak Tuhan, bahkan ketika jalan terasa gelap dan panjang. Karenanya, Malan secara luas dikreditkan sebagai penulis teks atau setidaknya inspirasi utama di balik himne ini.
Teks Jermannya, yang diyakini berasal dari sekitar tahun 1830-an (periode aktif Malan), dengan indah menangkap esensi dari pesan pengharapan di tengah penantian:
* "Harre, meine Seele, harre des Herrn!" (Tunggu jiwaku, tunggu Tuhan!)
* "Alles wird gut, wenn du nur hoffst." (Semuanya akan baik, jika engkau hanya berharap.)
Ini adalah seruan untuk kesabaran, kepercayaan penuh, dan keyakinan bahwa Tuhan akan bertindak pada waktu-Nya yang sempurna, sebuah pesan yang sangat relevan dengan kehidupan Malan sendiri yang penuh tantangan.
---
### **2. Friedrich Rader (sekitar abad ke-19): Melodi yang Memberi Sayap**
Sementara Malan memberikan jiwa pada kata-kata, Friedrich Rader adalah komposer yang memberikan melodi indah yang membuat himne ini terbang tinggi dan mengena di hati jutaan orang.
**Siapakah Rader?**
Informasi mengenai Friedrich Rader tidak sebanyak Malan. Ia adalah seorang komposer Jerman, yang kemungkinan besar hidup di pertengahan abad ke-19. Ia dikenal sebagai seorang musisi gereja atau seorang yang aktif dalam komunitas himne di Jerman. Perannya yang paling signifikan dalam sejarah himne adalah mengkomposisikan melodi yang kini secara universal diasosiasikan dengan teks "Harre, meine Seele".
**Dampak Melodi:**
Melodi Rader sangat cocok dengan lirik Malan. Melodi tersebut memiliki kualitas yang menenangkan, serius, namun juga penuh harapan. Struktur melodinya yang sederhana namun kuat memungkinkan jemaat untuk dengan mudah mempelajari dan menyanyikannya, sehingga himne ini cepat menyebar di seluruh gereja-gereja berbahasa Jerman. Melodi ini memiliki irama yang mengalir, memberikan rasa stabilitas dan kedamaian, seolah-olah musik itu sendiri mengajak jiwa untuk berdiam diri dan menunggu Tuhan.
---
### **3. Pernikahan Kata dan Melodi: Lahirnya Sebuah Karya Abadi**
Ketika teks yang dalam dan penuh pengharapan dari Malan bertemu dengan melodi yang indah dan menenangkan dari Rader, lahirlah sebuah mahakarya. Himne ini menjadi pilar iman dan penghiburan bagi banyak orang Kristen yang menghadapi masa-masa sulit.
**Pesan Abadi:**
Pesan inti dari "Harre, meine Seele" adalah tentang **kesabaran ilahi, penantian yang penuh harap, dan kepercayaan mutlak pada kedaulatan serta kebaikan Tuhan**. Dalam dunia yang serba cepat dan seringkali penuh ketidakpastian, seruan untuk "menunggu Tuhan" adalah pengingat yang kuat bahwa ada kuasa yang lebih tinggi yang memegang kendali. Ini adalah himne yang berbicara tentang:
* **Ketahanan dalam Iman:** Menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan.
* **Penyerahan Diri:** Melepaskan kekhawatiran dan memercayakan segalanya kepada Tuhan.
* **Visi Kekal:** Memahami bahwa waktu Tuhan adalah yang terbaik, dan segala sesuatu pada akhirnya akan menjadi baik bagi mereka yang mengasihi Dia.
**Warisan dan Pengaruh:**
"Harre, meine Seele" telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia sebagai "Harap Akan Tuhan". Himne ini sering dinyanyikan dalam ibadah gereja, saat-saat kesedihan, atau sebagai lagu pengantar tidur bagi jiwa yang gelisah. Melalui kata-kata Malan dan melodi Rader, himne ini terus menjadi oase ketenangan dan sumber kekuatan bagi generasi-generasi orang percaya di seluruh dunia, mengingatkan kita semua untuk "berharap akan Tuhan" dalam setiap situasi kehidupan.
Kisah di balik lagu ini adalah testimoni akan kekuatan iman yang diuji, ketekunan dalam pelayanan, dan bagaimana seni—baik puisi maupun musik—dapat menjadi sarana yang ampuh untuk menyampaikan kebenaran ilahi dan memberikan penghiburan abadi.
Cross Reference
Sama Tema
Kejadian Dunia Dan Pemeliharaan Tuhan
Besarlah Khalik Dunia
NR
Ya Khalik Dunia
NR
Setia Hu, Tak Gagal Niat-Nya
NR
Di Gunung dan di Lembah
NR
Selalu Hu, Gembalaku
NR
Selalu Hu, Gembalaku
NR
Jemaat Memuji Tuhannya
NR
Betapa Indah Bumi Ini
NR
Selamat Tanah, yang dilindung Tuhan Hu
NR
Tuhan yang Rumah-Mu Sorga Terang
NR
Hai, Bertepuk Tangan dan Tari
NR
Ya Allah Abad dan Zaman
NR
Makin Tambah Murka Laut
NR
Hatiku, Teduhkan Diri
NR
Benar dan Baik Semuanya
NR
Biarkan Tuhan Menyenggara
NR
Karunia Baik Semua
NR
Kepada Tuhan jua
NR
Pimpin Aku, Tuhan Hua
NR
Ya Tuhan, Murah-Mu Baka
NR
Jiwa, Puji Raja Sorga
NR
Tersembunyi Ujung Jalan
NR