PKJ
Surya Kencana, Riang dan Ramah
Die guldne Sonne voll Freud und Wonne
Informasi Lagu
169
Nomor
Kode
PKJ 169
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Johann Georg Ebeling
Pencipta Syair
Paul Gerhardt
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
8 bait
Surya kencana, riang dan ramah,
sesudah malam membuat alam
bermandi cahya segar berseri.
Semalam suntuk terbaring tubuhku;
kini ‘ku bangun; dengan rasa kagum
kupandang langit ceria jernih.
Indah sempurna ciptaan Tuhan:
‘Ku terkesima takjub melihat karya
tanganNya yang agung megah.
Bukankah itu perlambang bagiku
yang di warnai semarak sorgawi:
KerajaanNya di cah’ya baka.
Angkatlah gita bagi Pencipta
dan persembahkan bermurah tangan
yang kepadaNya kudus berkenan.
Pemb’rian kita yang paling mulia
itulah hati bersyukur sejati;
kurban yang harum bagaikan menyan.
Siang dan malam umatNya aman:
tangan Ilahi ‘kan memberkahi
yang kepadaNya terus berserah.
Kita terbaring dan Tuhan pun hadir;
kita terjaga dan Ia siaga;
siang dan malam wajahNya cerah.
Bapa di sorga, padaMu jua
‘ku pasrah diri di pagi ini;
bersama Tuhan mulai langkahku.
Tolong kulawan segala godaan;
jauhkan itu, supaya ‘ku hidup
turut ajaran KerajaanMu.
Ingin kulihat dengan gembira
bahwa kawanku dapat berkatMu
dan kar’na itu kupuji Engkau.
Iri dan loba yang datang menggoda,
bisikan setan penuh kedengkian
dari hatiku buangkanlah jauh.
Bila hatiku Kauberi minum
anggur yang pahit derita salib;
biar kut’rima di dalam iman.
Takkan ‘ku hanyut di dukacitaku.
Tuhan, Engkaulah Bapaku di sorga;
Kau besertaku memikul beban.
Memikul salib akhirnya habis;
sesudah malam, seusai topan
surya kembali bersinar cerah.
Aku nantikan terang sukacita,
damai abadi di taman sorgawi,
memandang Tuhan, Sang Surya baka.
Slide Lirik
16 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Surya Kencana"** (atau dalam bahasa Jerman aslinya berjudul **"Die güldne Sonne voll Freud und Wonne"**) adalah sebuah mahakarya dari era Barok yang menyatukan puisi spiritual mendalam dengan komposisi musik yang megah.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Paul Gerhardt (1607–1676)
Puisi ini ditulis oleh **Paul Gerhardt**, seorang pendeta Jerman yang dianggap sebagai salah satu penulis himne (nyanyian gerejawi) terpenting dalam sejarah bahasa Jerman. Hidupnya penuh dengan penderitaan: ia hidup di masa Perang Tiga Puluh Tahun yang menghancurkan Eropa, kehilangan istri, dan banyak dari anak-anaknya.
Meski hidup dalam penderitaan, puisi-puisi Gerhardt justru dikenal karena **kegembiraan yang luar biasa** dan kepercayaan yang tak tergoyahkan kepada Tuhan. Lagu ini ditulis sekitar tahun 1666 sebagai doa pagi. Ia ingin mengungkapkan bahwa keindahan matahari terbit adalah cerminan dari kemuliaan Tuhan yang menembus kegelapan dunia.
### 2. Komposer: Johann Georg Ebeling (1637–1676)
Musik yang kita kenal sekarang diciptakan oleh **Johann Georg Ebeling**, seorang komposer dan direktur musik di Berlin. Ebeling adalah sahabat dekat Gerhardt. Ia adalah orang yang berjasa mengumpulkan dan menerbitkan puisi-puisi Gerhardt ke dalam bentuk lagu agar bisa dinyanyikan oleh jemaat.
Kerja sama mereka menandai era di mana musik gerejawi tidak lagi kaku, melainkan memiliki melodi yang lebih "mengalir" dan emosional, khas gaya musik Barok awal.
### 3. Makna dan Filosofi Lagu
Judul asli "Die güldne Sonne voll Freud und Wonne" secara harfiah berarti "Matahari keemasan yang penuh dengan sukacita dan kebahagiaan".
* **Metafora Cahaya:** Bagi Gerhardt, matahari bukanlah sekadar benda langit. Matahari adalah simbol dari "Cahaya Kristus" yang menghapus "malam" (dosa, kesedihan, dan ketakutan).
* **Apresiasi Alam:** Lirik lagu ini sangat deskriptif tentang keindahan alam ciptaan Tuhan—padang rumput yang berembun, kicauan burung, dan kesegaran pagi. Ini adalah bentuk teologi syukur: melihat Tuhan melalui keindahan alam.
* **Respons Manusia:** Inti dari lagu ini adalah bagaimana manusia seharusnya menyambut hari baru. Setelah memuji keindahan ciptaan, liriknya berlanjut pada komitmen untuk menjalani hari dengan rasa syukur dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada perlindungan Tuhan.
### 4. Adaptasi ke Indonesia: "Surya Kencana"
Dalam bahasa Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan atau diadaptasi dalam buku nyanyian gerejawi (seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyian Kidung Baru*).
Judul "Surya Kencana" dipilih untuk menggambarkan kemegahan matahari yang bersinar keemasan. Meskipun bahasanya telah disesuaikan dengan konteks budaya lokal, esensi pesannya tetap sama:
* **Kegembiraan (Riang):** Sikap positif menghadapi hari.
* **Kerahiman (Ramah):** Menekankan pada karakter Tuhan yang penuh kasih kepada ciptaan-Nya.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Lagu ini menjadi bukti sejarah tentang **ketangguhan iman**. Ditulis di tengah-tengah era perang dan wabah penyakit yang melanda Eropa abad ke-17, Gerhardt memilih untuk tidak menulis tentang kehancuran, melainkan tentang "Matahari yang terus bersinar".
Hingga saat ini, "Die güldne Sonne" tetap menjadi salah satu lagu pagi paling populer di gereja-gereja Lutheran di seluruh dunia. Lagu ini mengajarkan bahwa terlepas dari betapa gelapnya malam atau masa lalu seseorang, matahari akan selalu terbit kembali, membawa harapan dan kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru dengan sukacita.
**Intisari lirik yang paling terkenal (dalam terjemahan bebas):**
> *"Matahari keemasan penuh sukacita, kini memancarkan cahayanya di atas dunia... Oh Tuhan, biarkanlah hatiku menjadi terang karena-Mu, agar aku bisa memuji-Mu sepanjang hari."*
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Paul Gerhardt (1607–1676)
Puisi ini ditulis oleh **Paul Gerhardt**, seorang pendeta Jerman yang dianggap sebagai salah satu penulis himne (nyanyian gerejawi) terpenting dalam sejarah bahasa Jerman. Hidupnya penuh dengan penderitaan: ia hidup di masa Perang Tiga Puluh Tahun yang menghancurkan Eropa, kehilangan istri, dan banyak dari anak-anaknya.
Meski hidup dalam penderitaan, puisi-puisi Gerhardt justru dikenal karena **kegembiraan yang luar biasa** dan kepercayaan yang tak tergoyahkan kepada Tuhan. Lagu ini ditulis sekitar tahun 1666 sebagai doa pagi. Ia ingin mengungkapkan bahwa keindahan matahari terbit adalah cerminan dari kemuliaan Tuhan yang menembus kegelapan dunia.
### 2. Komposer: Johann Georg Ebeling (1637–1676)
Musik yang kita kenal sekarang diciptakan oleh **Johann Georg Ebeling**, seorang komposer dan direktur musik di Berlin. Ebeling adalah sahabat dekat Gerhardt. Ia adalah orang yang berjasa mengumpulkan dan menerbitkan puisi-puisi Gerhardt ke dalam bentuk lagu agar bisa dinyanyikan oleh jemaat.
Kerja sama mereka menandai era di mana musik gerejawi tidak lagi kaku, melainkan memiliki melodi yang lebih "mengalir" dan emosional, khas gaya musik Barok awal.
### 3. Makna dan Filosofi Lagu
Judul asli "Die güldne Sonne voll Freud und Wonne" secara harfiah berarti "Matahari keemasan yang penuh dengan sukacita dan kebahagiaan".
* **Metafora Cahaya:** Bagi Gerhardt, matahari bukanlah sekadar benda langit. Matahari adalah simbol dari "Cahaya Kristus" yang menghapus "malam" (dosa, kesedihan, dan ketakutan).
* **Apresiasi Alam:** Lirik lagu ini sangat deskriptif tentang keindahan alam ciptaan Tuhan—padang rumput yang berembun, kicauan burung, dan kesegaran pagi. Ini adalah bentuk teologi syukur: melihat Tuhan melalui keindahan alam.
* **Respons Manusia:** Inti dari lagu ini adalah bagaimana manusia seharusnya menyambut hari baru. Setelah memuji keindahan ciptaan, liriknya berlanjut pada komitmen untuk menjalani hari dengan rasa syukur dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada perlindungan Tuhan.
### 4. Adaptasi ke Indonesia: "Surya Kencana"
Dalam bahasa Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan atau diadaptasi dalam buku nyanyian gerejawi (seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyian Kidung Baru*).
Judul "Surya Kencana" dipilih untuk menggambarkan kemegahan matahari yang bersinar keemasan. Meskipun bahasanya telah disesuaikan dengan konteks budaya lokal, esensi pesannya tetap sama:
* **Kegembiraan (Riang):** Sikap positif menghadapi hari.
* **Kerahiman (Ramah):** Menekankan pada karakter Tuhan yang penuh kasih kepada ciptaan-Nya.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Lagu ini menjadi bukti sejarah tentang **ketangguhan iman**. Ditulis di tengah-tengah era perang dan wabah penyakit yang melanda Eropa abad ke-17, Gerhardt memilih untuk tidak menulis tentang kehancuran, melainkan tentang "Matahari yang terus bersinar".
Hingga saat ini, "Die güldne Sonne" tetap menjadi salah satu lagu pagi paling populer di gereja-gereja Lutheran di seluruh dunia. Lagu ini mengajarkan bahwa terlepas dari betapa gelapnya malam atau masa lalu seseorang, matahari akan selalu terbit kembali, membawa harapan dan kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru dengan sukacita.
**Intisari lirik yang paling terkenal (dalam terjemahan bebas):**
> *"Matahari keemasan penuh sukacita, kini memancarkan cahayanya di atas dunia... Oh Tuhan, biarkanlah hatiku menjadi terang karena-Mu, agar aku bisa memuji-Mu sepanjang hari."*