PKJ
Aku Tuhan Semesta
I the Lord of Sea and Sky
Informasi Lagu
177
Nomor
Do = A
Nada Dasar
Kode
PKJ 177
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Nada Dasar
Do = A
Ketukan
4 ketuk ketuk
Metronom
100
Jumlah Bait
3 bait
Style
WestCoastPop
Pencipta Lagu
Daniel W. Schutte (1991)
Pencipta Syair
Daniel W. Schutte (1991)
Penerjemah
Yamuger (1998)
Cross Ref.
BLP 238
Syair / Lirik
3 bait
Aku Tuhan semesta, jeritanmu Kudengar.
Kau di dunia yang gelap ‘Ku s’lamatkan.
Akulah Pencipta t’rang; malam jadi benderang.
Siapakah utusanKu membawa t’rang?
Reff
Ini aku, utus aku!
Kudengar Engkau memanggilku.
Utus aku; tuntun aku;
‘Ku prihatin akan umatMu.
Aku Tuhan semesta. ‘Ku menanggung sakitmu
dan menangis kar’na kau tak mau dengar.
‘Kan Kurobah hatimu yang keras jadi lembut.
Siapa bawa firmanKu? UtusanKu?
Reff
Aku Tuhan semesta. ‘Ku melihat yang resah.
Orang miskin dan lesu Aku jenguk.
Aku ingin memberi perjamuan sorgawi.
Siapa mewartakannya? Siapakah?
Reff
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Aku Tuhan Semesta"** (judul asli: ***"I, the Lord of Sea and Sky"***, sering juga dikenal dengan judul ***"Here I Am, Lord"***) adalah salah satu lagu rohani paling populer di dunia. Lagu ini diciptakan oleh seorang imam Yesuit asal Amerika Serikat bernama **Dan Schutte** pada tahun 1981.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Latar Belakang Penciptaan
Pada tahun 1981, Dan Schutte sedang berada di sebuah rumah retret di daerah perbukitan terpencil di California. Saat itu, dia diminta oleh seorang rekannya untuk menciptakan sebuah lagu untuk acara penahbisan diakon (calon imam).
Lagu ini sebenarnya lahir dari kebutuhan yang sangat mendesak. Schutte tidak memiliki banyak waktu, dan dia harus menciptakan sesuatu yang bermakna untuk upacara tersebut.
### 2. Inspirasi Alkitabiah
Lagu ini didasarkan pada **Kitab Nabi Yesaya pasal 6:8**, yang berbunyi:
> *"Lalu aku mendengar suara Tuhan berfirman: 'Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?' Maka sahutku: 'Ini aku, utuslah aku!'"*
Schutte ingin menangkap esensi dari "panggilan" Tuhan. Ia merenungkan bagaimana Tuhan memanggil manusia bukan melalui suara guntur atau kemegahan yang menakutkan, melainkan melalui kelembutan yang menantang seseorang untuk berani melangkah keluar dari zona nyamannya.
### 3. Proses Penulisan yang Unik
Dalam berbagai wawancara, Dan Schutte menceritakan bahwa lagu ini ditulis dalam kondisi yang sangat sederhana:
* Ia duduk di sebuah piano tua di rumah retret tersebut.
* Ia membayangkan sosok Tuhan yang berbicara kepada manusia, namun tidak dengan cara mendikte. Ia membayangkan Tuhan yang menanyakan kebutuhan dunia—kegelapan, penderitaan, dan keputusasaan—kemudian Tuhan bertanya, "Siapa yang akan membawa cahaya dan harapan?"
* Kalimat-kalimat dalam lagu itu ditulis sebagai dialog antara Tuhan dan manusia. Bait pertama adalah suara Tuhan, dan bagian *refrain* (chorus) adalah jawaban manusia yang bersedia diutus.
### 4. Makna di Balik Liriknya
* **Bait 1:** Menggambarkan Tuhan yang menciptakan alam semesta (laut dan langit, salju dan hujan). Ini menegaskan bahwa Tuhan yang begitu besar dan kuat, adalah Tuhan yang sama yang merendahkan diri untuk memanggil manusia yang rapuh.
* **Bait 2:** Menggambarkan Tuhan yang melihat penderitaan manusia (mereka yang berduka, yang tidak punya harapan). Ini adalah ajakan untuk berbelas kasih.
* **Bait 3:** Menggambarkan Tuhan sebagai penyedia roti (makanan) bagi mereka yang lapar dan pelindung bagi mereka yang lemah.
* **Refrain ("Here I Am, Lord"):** Inilah inti dari lagu tersebut. Ini adalah deklarasi kesediaan seseorang untuk melepaskan keinginan diri sendiri dan menyerahkan hidup untuk pelayanan.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Lagu ini menjadi lagu pujian yang sangat dicintai di seluruh dunia, tidak hanya di Gereja Katolik, tetapi juga di berbagai denominasi Kristen lainnya, karena beberapa alasan:
* **Keintiman:** Melodinya lembut dan kontemplatif, membuat orang merasa sedang berbicara langsung dengan Tuhan secara pribadi.
* **Universalitas:** Liriknya tidak spesifik hanya untuk imam atau biarawan, tetapi berlaku untuk siapa saja yang merasa terpanggil untuk berbuat baik atau membantu sesama dalam kehidupan sehari-hari.
* **Kejujuran:** Lagu ini mengakui bahwa Tuhanlah yang melakukan pekerjaan-Nya melalui tangan manusia, bukan karena kekuatan manusia itu sendiri.
### Fakta Menarik:
Meskipun ditulis dalam situasi yang terburu-buru, Dan Schutte mengaku bahwa ia tidak pernah menyangka lagu tersebut akan menjadi lagu "panggilan" paling terkenal di era modern. Ia sering mendengar cerita dari orang-orang di seluruh dunia—mulai dari tenaga medis, relawan bencana, hingga misionaris—yang mengatakan bahwa lagu ini adalah lagu yang menguatkan mereka di saat-saat tersulit dalam pelayanan mereka.
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan judul **"Aku Tuhan Semesta"** dan menjadi salah satu lagu wajib dalam misa penahbisan imam atau kegiatan retret kaum muda karena kekuatan liriknya yang menggugah semangat pelayanan.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Latar Belakang Penciptaan
Pada tahun 1981, Dan Schutte sedang berada di sebuah rumah retret di daerah perbukitan terpencil di California. Saat itu, dia diminta oleh seorang rekannya untuk menciptakan sebuah lagu untuk acara penahbisan diakon (calon imam).
Lagu ini sebenarnya lahir dari kebutuhan yang sangat mendesak. Schutte tidak memiliki banyak waktu, dan dia harus menciptakan sesuatu yang bermakna untuk upacara tersebut.
### 2. Inspirasi Alkitabiah
Lagu ini didasarkan pada **Kitab Nabi Yesaya pasal 6:8**, yang berbunyi:
> *"Lalu aku mendengar suara Tuhan berfirman: 'Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?' Maka sahutku: 'Ini aku, utuslah aku!'"*
Schutte ingin menangkap esensi dari "panggilan" Tuhan. Ia merenungkan bagaimana Tuhan memanggil manusia bukan melalui suara guntur atau kemegahan yang menakutkan, melainkan melalui kelembutan yang menantang seseorang untuk berani melangkah keluar dari zona nyamannya.
### 3. Proses Penulisan yang Unik
Dalam berbagai wawancara, Dan Schutte menceritakan bahwa lagu ini ditulis dalam kondisi yang sangat sederhana:
* Ia duduk di sebuah piano tua di rumah retret tersebut.
* Ia membayangkan sosok Tuhan yang berbicara kepada manusia, namun tidak dengan cara mendikte. Ia membayangkan Tuhan yang menanyakan kebutuhan dunia—kegelapan, penderitaan, dan keputusasaan—kemudian Tuhan bertanya, "Siapa yang akan membawa cahaya dan harapan?"
* Kalimat-kalimat dalam lagu itu ditulis sebagai dialog antara Tuhan dan manusia. Bait pertama adalah suara Tuhan, dan bagian *refrain* (chorus) adalah jawaban manusia yang bersedia diutus.
### 4. Makna di Balik Liriknya
* **Bait 1:** Menggambarkan Tuhan yang menciptakan alam semesta (laut dan langit, salju dan hujan). Ini menegaskan bahwa Tuhan yang begitu besar dan kuat, adalah Tuhan yang sama yang merendahkan diri untuk memanggil manusia yang rapuh.
* **Bait 2:** Menggambarkan Tuhan yang melihat penderitaan manusia (mereka yang berduka, yang tidak punya harapan). Ini adalah ajakan untuk berbelas kasih.
* **Bait 3:** Menggambarkan Tuhan sebagai penyedia roti (makanan) bagi mereka yang lapar dan pelindung bagi mereka yang lemah.
* **Refrain ("Here I Am, Lord"):** Inilah inti dari lagu tersebut. Ini adalah deklarasi kesediaan seseorang untuk melepaskan keinginan diri sendiri dan menyerahkan hidup untuk pelayanan.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Lagu ini menjadi lagu pujian yang sangat dicintai di seluruh dunia, tidak hanya di Gereja Katolik, tetapi juga di berbagai denominasi Kristen lainnya, karena beberapa alasan:
* **Keintiman:** Melodinya lembut dan kontemplatif, membuat orang merasa sedang berbicara langsung dengan Tuhan secara pribadi.
* **Universalitas:** Liriknya tidak spesifik hanya untuk imam atau biarawan, tetapi berlaku untuk siapa saja yang merasa terpanggil untuk berbuat baik atau membantu sesama dalam kehidupan sehari-hari.
* **Kejujuran:** Lagu ini mengakui bahwa Tuhanlah yang melakukan pekerjaan-Nya melalui tangan manusia, bukan karena kekuatan manusia itu sendiri.
### Fakta Menarik:
Meskipun ditulis dalam situasi yang terburu-buru, Dan Schutte mengaku bahwa ia tidak pernah menyangka lagu tersebut akan menjadi lagu "panggilan" paling terkenal di era modern. Ia sering mendengar cerita dari orang-orang di seluruh dunia—mulai dari tenaga medis, relawan bencana, hingga misionaris—yang mengatakan bahwa lagu ini adalah lagu yang menguatkan mereka di saat-saat tersulit dalam pelayanan mereka.
Di Indonesia, lagu ini diterjemahkan dengan judul **"Aku Tuhan Semesta"** dan menjadi salah satu lagu wajib dalam misa penahbisan imam atau kegiatan retret kaum muda karena kekuatan liriknya yang menggugah semangat pelayanan.