Informasi Lagu
595
Nomor
Kode
PS 595
Buku
Puji Syukur
Metronom
99
Jumlah Bait
2 bait
Style
FinalWaltz, 9-8Waltz
Pencipta Lagu
Georg Neumark (1641)
Pencipta Syair
Georg Neumark (1641)
Penerjemah
Yamuger (1984)
Cross Ref.
KJ 379, KK 402, NR 128, BE 281
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 2 bait
Yang mau dibimbing oleh Tuhan dan yang berharap tak henti, akan mendapat pertolongan, bahkan di saat terpedih. Tuhanlah dasar imannya, bukanlah pasir alasnya.
Tetaplah kau di jalan Tuhan, setia dalam tugasmu: dengan berkat yang tak berkurang dibaruiNya hidupmu. Yang kepadaNya berserah tak ditinggalkan olehNya.
Slide Lirik 2 slide
Slide 1 — PS 595 1
Slide 2 — PS 595 2
Partitur / Not
Partitur Chord PS 595
Sejarah Lagu
Lagu pujian **"Wer nur den lieben Gott läßt walten"** (Siapa yang Membiarkan Allah yang Mahakasih Memimpin) adalah salah satu lagu rohani Jerman yang paling terkenal dan dicintai sepanjang masa. Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **pengharapan di tengah penderitaan yang ekstrem.**

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaannya:

### 1. Latar Belakang: Masa Perang yang Kelam
Lagu ini ditulis oleh **Georg Neumark** pada tahun **1641**, di tengah masa **Perang Tiga Puluh Tahun** (*Thirty Years' War*). Ini adalah salah satu periode paling destruktif dan mematikan dalam sejarah Eropa yang meluluhlantakkan Jerman.

Pada saat itu, Neumark adalah seorang mahasiswa hukum muda yang sedang dalam perjalanan menuju Königsberg. Namun, nasib buruk menimpanya:

* **Dirampok:** Di tengah perjalanan, ia dirampok oleh sekelompok penjahat. Mereka mengambil semua harta bendanya, termasuk uang, pakaian, dan dokumen-dokumen penting miliknya.
* **Kemiskinan Ekstrem:** Neumark mendapati dirinya terdampar di tempat asing tanpa sepeser pun uang. Ia mengalami kelaparan dan hidup sebagai pengembara yang sangat menderita. Ia mencoba melamar pekerjaan sebagai guru rumah tangga atau tutor di beberapa rumah, tetapi berkali-kali ditolak.

### 2. Momen "Titik Balik" (September 1641)
Setelah berbulan-bulan hidup dalam kemelaratan, Neumark akhirnya mendapatkan secercah harapan. Setelah banyak penolakan, ia diterima bekerja di rumah seorang bangsawan di Kiel.

Sesaat setelah ia mendapatkan pekerjaan tersebut, ia merasa sangat bersyukur dan terharu. Dalam sebuah catatan otobiografinya, Neumark menulis bahwa pada saat itulah ia merasa Tuhan benar-benar memelihara hidupnya meski dalam situasi yang paling mustahil.

Sebagai luapan rasa syukur dan refleksi atas pergumulan imannya selama masa-masa sulit, ia duduk dan menulis lirik lagu tersebut. Ia ingin menyatakan bahwa **ketika manusia sudah tidak memiliki apa-apa, Tuhan tetap menjadi satu-satunya sandaran yang setia.**

### 3. Tema Lagu: Penyerahan Diri Total
Lirik lagu ini mencerminkan teologi **"Penyerahan Diri"** (*Gelassenheit*). Pesan utamanya adalah:

* **Jangan Cemas:** Neumark mengajak jiwanya sendiri untuk tenang. Ia menyadari bahwa kekhawatiran tidak akan mengubah keadaan, melainkan hanya menyiksa diri sendiri.
* **Waktu Tuhan:** Bait lagu ini menekankan bahwa Tuhan memiliki waktu yang tepat untuk menolong. Manusia sering kali tidak sabar, namun Neumark belajar bahwa Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang misterius namun indah.
* **Bukan Mengandalkan Kekuatan Sendiri:** Lagu ini mengakui bahwa usaha manusia memang penting, namun pada akhirnya, berkat Tuhanlah yang menentukan keberhasilan.

### 4. Pengaruh Lagu ini dalam Sejarah
Lagu ini kemudian menyebar luas dan menjadi salah satu pilar dalam ibadah gereja Lutheran di Jerman.

* **Johann Sebastian Bach:** Lagu ini menjadi sangat terkenal secara musikal karena Johann Sebastian Bach menggunakannya sebagai dasar untuk **Cantata BWV 93**. Bach menggunakan melodi Neumark dan mengembangkannya ke dalam komposisi musik yang megah dan sangat menyentuh.
* **Pesan bagi Dunia:** Lagu ini menjadi "jangkar" bagi banyak orang di masa perang, bencana, atau pandemi. Pesan bahwa "Siapa yang menaruh harapannya pada Tuhan, akan ditopang dengan kuat" telah memberikan kekuatan bagi generasi selama lebih dari 380 tahun.

### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini mengajarkan kita bahwa **karya seni yang paling dalam seringkali lahir dari "lembah kekelaman".** Georg Neumark tidak menulis lagu ini saat ia sedang sukses atau bergelimang harta; ia menulisnya saat ia adalah seorang pengembara yang lapar dan tidak punya masa depan.

Lagu ini adalah pengingat bahwa saat kita merasa dunia telah meninggalkan kita, Tuhan tidak pernah sedetik pun melupakan mereka yang berharap kepada-Nya.

**Cuplikan lirik (dalam terjemahan bebas):**
*"Siapa yang membiarkan Allah yang Mahakasih memimpin, dan menaruh pengharapannya pada Dia dalam segala hal, Dia akan menjaganya dengan luar biasa dalam segala kesusahan."*