Informasi Lagu
306
Nomor
Kode
KK 306
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Robert Lowry
Pencipta Syair
Robert Lowy
Cross Ref.
KMM 86, NKB 114, GB 303
Dengarkan di YouTube
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KK 306 1
Slide 2 — KK 306 2
Slide 3 — KK 306 3
Slide 4 — KK 306 4
Partitur / Not
Partitur Chord KK 306
Sejarah Lagu
Kisah detail di balik lagu rohani yang sangat dicintai, "Apa Kita 'Kan Berhimpun/Shall We Gather at the River?". Lagu ini bukan sekadar melodi dan lirik, melainkan sebuah respons emosional dan spiritual terhadap realitas kehidupan dan kerinduan akan penghiburan ilahi.

**Komposer: Robert Lowry (1826-1899)**

Sebelum masuk ke kisah lagunya, penting untuk mengenal sosok di baliknya. Robert Lowry adalah seorang pendeta Baptis Amerika yang berpendidikan tinggi, profesor sastra, dan yang terpenting, seorang komposer himne yang sangat produktif dan berbakat. Ia memiliki kemampuan langka untuk tidak hanya menulis lirik yang puitis dan penuh makna, tetapi juga menggubah melodi yang indah dan mudah diingat untuk lirik-lirik tersebut. Karya-karyanya seringkali bersifat evangelis, menjangkau hati banyak orang dengan pesan harapan dan iman. Beberapa karyanya yang terkenal selain "Shall We Gather at the River?" antara lain "I Need Thee Every Hour" (dengan Annie S. Hawks), "Christ Arose!", dan "Nothing but the Blood of Jesus" (dengan Robert Lowry sendiri menulis musik).

**Kisah di Balik Lagu: Musim Panas yang Terik di Brooklyn, 1864**

Kisah inspirasi di balik "Shall We Gather at the River?" terjadi pada tahun **1864**, di tengah-tengah Perang Saudara Amerika yang brutal dan memecah belah bangsa. Robert Lowry saat itu menjabat sebagai pendeta di First Baptist Church di Brooklyn, New York.

Saat itu adalah **hari musim panas yang sangat panas dan lembap**. Lowry merasa tidak enak badan, lelah, dan lesu karena cuaca yang panas dan mungkin juga beban emosional dari kondisi negara yang sedang berperang. Ia duduk di mejanya di rumah, berusaha berkonsentrasi, namun pikirannya terusik oleh rasa tidak nyaman.

Ia mulai merenungkan berbagai hal yang bisa memberikan kesegaran. Secara fisik, ia mungkin memikirkan sungai atau mata air yang dingin dan jernih. Namun, pikirannya dengan cepat beralih dari kesegaran fisik ke **kesegaran spiritual**.

Lowry kemudian mulai memvisualisasikan sebuah "sungai" yang berbeda – sebuah sungai yang mengalir dari takhta Allah, seperti yang digambarkan dalam Kitab Wahyu (Wahyu 22:1: "Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagai kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan dari takhta Anak Domba"). Sungai ini bukan hanya memberikan kesegaran, tetapi juga kehidupan, kedamaian, dan keabadian.

Dari perenungan ini, sebuah pertanyaan spiritual muncul di benaknya dengan sangat kuat: **"Shall we gather at the river?"** (Apakah kita akan berhimpun di sungai itu?). Pertanyaan ini bukan hanya tentang berkumpul di sungai secara harfiah, melainkan tentang berkumpul di hadirat Allah, di tempat kedamaian abadi, di surga. Ini adalah kerinduan akan persekutuan ilahi dan akhir dari segala penderitaan.

Lowry menggambarkan pengalaman ini sebagai berikut:
*"Suatu sore yang sangat panas di bulan Juli, saat saya merasa sedikit tidak sehat dan agak sedih, saya duduk di meja saya di Brooklyn, dan pikiran saya melayang ke berbagai hal yang bisa memberikan kesegaran. Secara fisik, saya memikirkan sungai, dan secara mental, sungai itu menjadi sungai dari kehidupan yang abadi. Saya bertanya pada diri sendiri, 'Mengapa seseorang tidak boleh menulis lagu tentang sungai yang indah itu yang di sana orang-orang kudus akan berkumpul?'"*

Begitu ide itu datang, lirik dan melodi mengalir keluar darinya hampir secara spontan. Ia mengatakan bahwa baik lirik maupun musik datang kepadanya sekaligus, seolah-olah ia bisa "melihat" adegan itu. Dalam waktu singkat, lagu itu selesai. Ia bahkan tidak menyangka lagu itu akan menjadi sepopuler sekarang.

**Lirik dan Makna yang Mendalam**

Lagu ini segera menjadi sangat populer, terutama di tengah kondisi masyarakat yang penuh duka dan ketidakpastian akibat perang. Liriknya menawarkan penghiburan, harapan, dan visi surga yang indah:

* **"Shall we gather at the river, Where bright angel feet have trod; With its crystal tide forever Flowing by the throne of God?"**
Ini adalah pertanyaan retoris yang mengundang pendengar untuk membayangkan dan merindukan tempat persekutuan surgawi. Sungai itu adalah "sungai air kehidupan" dari Kitab Wahyu, yang mengalir dari takhta Allah, melambangkan kehidupan abadi, kemurnian, dan hadirat ilahi. "Kaki malaikat yang terang telah melangkah" (bright angel feet have trod) menunjukkan kesucian dan kekudusan tempat itu.

* **"Yes, we'll gather at the river, The beautiful, beautiful river; Gather with the saints at the river That flows by the throne of God."**
Reffrain ini adalah jawaban afirmasi, sebuah janji dan keyakinan. Ini menekankan gagasan **"berhimpun dengan orang-orang kudus" (gather with the saints)**, menyoroti aspek komunitas dan persatuan dalam iman yang akan mereka temukan di akhirat. Sungai itu disebut "indah, indah" untuk menekankan daya tarik dan kedamaiannya.

* **Bait-bait selanjutnya** berbicara tentang sukacita, nyanyian pujian, dan harapan untuk bertemu Yesus di sungai itu. Ini adalah gambaran surga sebagai tempat kedamaian abadi, di mana tidak ada lagi penderitaan atau perpisahan, hanya persekutuan yang tak berkesudahan dengan Allah dan sesama orang percaya.

**Dampak dan Warisan**

"Shall We Gather at the River?" pertama kali diterbitkan pada tahun **1865** dalam buku nyanyian rohani berjudul *Happy Voices*. Lagu ini segera mendapatkan popularitas luar biasa di seluruh Amerika Serikat, terutama di pertemuan-pertemuan kebangunan rohani (revival meetings) dan kamp-kamp militer.

1. **Penghiburan di Masa Perang:** Lagu ini datang pada saat yang tepat. Setelah bertahun-tahun perang saudara yang brutal, dengan jutaan nyawa melayang dan keluarga-keluarga hancur, rakyat Amerika sangat membutuhkan penghiburan dan harapan. Visi tentang "sungai yang indah" di mana semua orang akan berkumpul dalam damai memberikan solace bagi hati yang terluka. Ini menawarkan pandangan yang menenangkan tentang surga, tempat di mana tidak ada lagi perpisahan atau konflik.

2. **Kesederhanaan dan Keindahan:** Baik melodi maupun liriknya sederhana, mudah dipelajari, dan sangat kuat dalam menyampaikan pesan. Melodinya yang mengalir dan ritmis mencerminkan gambaran sungai itu sendiri.

3. **Daya Tarik Universal:** Meskipun ditulis dalam konteks Kristen, tema harapan, kedamaian, dan persekutuan memiliki daya tarik universal. Lagu ini telah melintasi batas denominasi dan budaya, dinyanyikan di gereja-gereja, pemakaman, dan bahkan dalam konteks sekuler sebagai simbol penghiburan.

Hingga saat ini, "Apa Kita 'Kan Berhimpun/Shall We Gather at the River?" tetap menjadi salah satu lagu rohani paling dicintai dan dikenal di dunia. Ini adalah bukti kekuatan Robert Lowry dalam menangkap kerinduan terdalam hati manusia akan kedamaian, persekutuan, dan harapan akan kehidupan setelah ini, mengubahnya menjadi sebuah himne abadi yang terus menginspirasi dan menghibur generasi-generasi.
Kembali ke KK