BE
Tu Jolo Ni Tuhanku
Informasi Lagu
222
Nomor
Kode
BE 222
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
BL 163, BN 222, KJ 441, KK 397
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Tu jolo ni Tuhanku, huboan diringkon
Ibana do Rajangku, sigomgom rohangkon
Sai guru di Ibana sudena langkangki
Sai asi ni rohaNa pature bogashi.
Ai nang pe au targogot, hutatap Rajangki
Sai ro do ganup sogot, pangurupiNa i
Na so pasombuonNa, di pangunjunan i
Sai saut paluaonNa, na hinophopNa i.
Tutu, ndang sai mansohot, tompu na mohop i
Sipata leleng lohot, tu au na dokdok i
Alai gogongku ganda, mamorsan silang i
Tuhanku do hutanda, jonok di lambungki
Ditiop do tanganku, sai dihehei do au
Sai tong jonok Tuhanku, ndang dung Ibana dao
TondiNa patorangkon, tu au holongNa i
Sai lam huhadengganhon, hansit ni silang i.
Di holong ni rohaNa, dibuhul tingkingki
Disi do alaponNa, au tu lambungNa i
HolongNa pujionku, tung salelengna i
Siala sitaonon, niampehonNa i.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Ku Ingin Menyerahkan"** (dalam bahasa Jerman berjudul asli ***"Vor meines Herzens König"***) adalah salah satu himne (kidung) Kristen yang sangat mendalam maknanya. Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan sebuah pernyataan komitmen iman yang total.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis: Siapa di Balik Lagu Ini?
Lagu ini merupakan kolaborasi antara dua tokoh yang hidup pada abad ke-19:
* **Dora Rappard (Penulis Lirik):** Lahir dengan nama Dora von Rodt (1842–1923) di Swiss. Ia berasal dari keluarga bangsawan, namun ia memilih untuk mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan penginjilan. Ia dikenal sebagai seorang penulis lagu rohani yang produktif di eranya. Kehidupan pribadinya penuh dengan dedikasi untuk misi dan pelayanan kasih.
* **Karl Voigtländer (Komposer):** Ia adalah seorang musisi dan komponis yang banyak mengaransemen musik untuk himne-himne Kristen di Jerman pada masa itu.
### 2. Latar Belakang Spiritual (Konteks Lirik)
Kisah di balik lagu ini berakar pada **pengalaman penyerahan diri yang radikal**. Dalam tradisi teologi Pietisme (gerakan pembaruan spiritual yang menekankan hubungan pribadi dengan Tuhan), konsep "menyerahkan diri" adalah tema sentral.
Dora Rappard menulis lirik ini sebagai ungkapan hati seseorang yang menyadari bahwa hidupnya tidak lagi miliknya sendiri, melainkan milik "Raja" dari hatinya, yaitu Yesus Kristus.
Secara detail, lirik aslinya (*Vor meines Herzens König*) mencerminkan poin-poin berikut:
* **Pengakuan Kedaulatan:** Kalimat "Vor meines Herzens König" (Di hadapan Raja hatiku) menunjukkan bahwa posisi tertinggi dalam hidupnya telah diberikan kepada Tuhan.
* **Pembersihan Diri:** Lagu ini sering kali dinyanyikan dalam konteks doa penyucian diri. Penulis mengungkapkan kerinduan agar setiap aspek hidupnya—baik pikiran, keinginan, maupun tindakan—dibersihkan oleh kuasa Tuhan agar layak di hadapan-Nya.
* **Ketaatan Tanpa Syarat:** Lagu ini ditulis pada masa di mana komitmen Kristen diuji oleh perubahan zaman, dan lagu ini menjadi pengingat bagi jemaat untuk tetap teguh dalam kesetiaan kepada Kristus, terlepas dari apa yang terjadi di dunia luar.
### 3. Makna Lirik dalam Bahasa Indonesia
Dalam versi bahasa Indonesia ("Ku Ingin Menyerahkan"), makna yang disampaikan tetap mempertahankan inti dari versi Jerman-nya:
> *"Ku ingin menyerahkan, hidupku pada-Mu"*
> *"Jadikanlah diriku, alat bagi-Mu"*
Pesan utamanya adalah **ketersediaan (availability)**. Penulis tidak hanya ingin "mengikut" Tuhan, tetapi ingin menjadi "alat" (instrumen) di tangan Tuhan. Ini mencerminkan kerendahan hati bahwa manusia tidak bisa melakukan apa pun yang berarti tanpa penyertaan Tuhan.
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Legendaris?
Lagu ini tetap populer hingga saat ini (terutama di gereja-gereja yang menggunakan buku himne tradisional seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*) karena beberapa alasan:
1. **Kesederhanaan yang Dalam:** Melodinya tenang, kontemplatif, dan tidak terburu-buru, yang sangat mendukung suasana doa.
2. **Universalitas:** Siapa pun, dari latar belakang apa pun, bisa merasakan emosi yang sama saat menyanyikan lagu ini: sebuah rasa syukur dan kerinduan untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan.
3. **Pengingat Identitas:** Bagi banyak orang Kristen, lagu ini berfungsi sebagai "jangkar" saat mereka merasa kehilangan arah. Menyanyikan lagu ini dianggap sebagai proses untuk menyelaraskan kembali hati dengan kehendak Tuhan.
### Kesimpulan
Dora Rappard menulis lagu ini bukan untuk popularitas, melainkan sebagai ekspresi doa pribadinya. Ia ingin menegaskan bahwa di hadapan "Raja Hatinya," tidak ada tempat bagi keangkuhan. Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu lagu yang paling sering digunakan dalam momen-momen sakral seperti ibadah penyerahan diri, baptisan, atau perenungan pribadi di hadapan Tuhan.
Apakah Anda sedang mempelajari lagu ini untuk pelayanan atau sekadar ingin mendalami maknanya secara pribadi? Lagu ini memang memiliki kekuatan magis dalam menenangkan jiwa yang sedang gelisah.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis: Siapa di Balik Lagu Ini?
Lagu ini merupakan kolaborasi antara dua tokoh yang hidup pada abad ke-19:
* **Dora Rappard (Penulis Lirik):** Lahir dengan nama Dora von Rodt (1842–1923) di Swiss. Ia berasal dari keluarga bangsawan, namun ia memilih untuk mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan penginjilan. Ia dikenal sebagai seorang penulis lagu rohani yang produktif di eranya. Kehidupan pribadinya penuh dengan dedikasi untuk misi dan pelayanan kasih.
* **Karl Voigtländer (Komposer):** Ia adalah seorang musisi dan komponis yang banyak mengaransemen musik untuk himne-himne Kristen di Jerman pada masa itu.
### 2. Latar Belakang Spiritual (Konteks Lirik)
Kisah di balik lagu ini berakar pada **pengalaman penyerahan diri yang radikal**. Dalam tradisi teologi Pietisme (gerakan pembaruan spiritual yang menekankan hubungan pribadi dengan Tuhan), konsep "menyerahkan diri" adalah tema sentral.
Dora Rappard menulis lirik ini sebagai ungkapan hati seseorang yang menyadari bahwa hidupnya tidak lagi miliknya sendiri, melainkan milik "Raja" dari hatinya, yaitu Yesus Kristus.
Secara detail, lirik aslinya (*Vor meines Herzens König*) mencerminkan poin-poin berikut:
* **Pengakuan Kedaulatan:** Kalimat "Vor meines Herzens König" (Di hadapan Raja hatiku) menunjukkan bahwa posisi tertinggi dalam hidupnya telah diberikan kepada Tuhan.
* **Pembersihan Diri:** Lagu ini sering kali dinyanyikan dalam konteks doa penyucian diri. Penulis mengungkapkan kerinduan agar setiap aspek hidupnya—baik pikiran, keinginan, maupun tindakan—dibersihkan oleh kuasa Tuhan agar layak di hadapan-Nya.
* **Ketaatan Tanpa Syarat:** Lagu ini ditulis pada masa di mana komitmen Kristen diuji oleh perubahan zaman, dan lagu ini menjadi pengingat bagi jemaat untuk tetap teguh dalam kesetiaan kepada Kristus, terlepas dari apa yang terjadi di dunia luar.
### 3. Makna Lirik dalam Bahasa Indonesia
Dalam versi bahasa Indonesia ("Ku Ingin Menyerahkan"), makna yang disampaikan tetap mempertahankan inti dari versi Jerman-nya:
> *"Ku ingin menyerahkan, hidupku pada-Mu"*
> *"Jadikanlah diriku, alat bagi-Mu"*
Pesan utamanya adalah **ketersediaan (availability)**. Penulis tidak hanya ingin "mengikut" Tuhan, tetapi ingin menjadi "alat" (instrumen) di tangan Tuhan. Ini mencerminkan kerendahan hati bahwa manusia tidak bisa melakukan apa pun yang berarti tanpa penyertaan Tuhan.
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Legendaris?
Lagu ini tetap populer hingga saat ini (terutama di gereja-gereja yang menggunakan buku himne tradisional seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*) karena beberapa alasan:
1. **Kesederhanaan yang Dalam:** Melodinya tenang, kontemplatif, dan tidak terburu-buru, yang sangat mendukung suasana doa.
2. **Universalitas:** Siapa pun, dari latar belakang apa pun, bisa merasakan emosi yang sama saat menyanyikan lagu ini: sebuah rasa syukur dan kerinduan untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan.
3. **Pengingat Identitas:** Bagi banyak orang Kristen, lagu ini berfungsi sebagai "jangkar" saat mereka merasa kehilangan arah. Menyanyikan lagu ini dianggap sebagai proses untuk menyelaraskan kembali hati dengan kehendak Tuhan.
### Kesimpulan
Dora Rappard menulis lagu ini bukan untuk popularitas, melainkan sebagai ekspresi doa pribadinya. Ia ingin menegaskan bahwa di hadapan "Raja Hatinya," tidak ada tempat bagi keangkuhan. Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu lagu yang paling sering digunakan dalam momen-momen sakral seperti ibadah penyerahan diri, baptisan, atau perenungan pribadi di hadapan Tuhan.
Apakah Anda sedang mempelajari lagu ini untuk pelayanan atau sekadar ingin mendalami maknanya secara pribadi? Lagu ini memang memiliki kekuatan magis dalam menenangkan jiwa yang sedang gelisah.
Cross Reference
BL 163, BN 222, KJ 441, KK 397
Kepada Tuhan Yesus
BN
'Ku Ingin Menyerahkan
KJ
'Ku Ingin Menyerahkan
KK
Sama Tema
Haporseaon Dohot Ngolu Na Imbaru
Na Jumpang Au
BE
Aut Na Saribu Hali Ganda
BE
Holan Sada Debatanta
BE
Tongtong Tutu Na Denggan Do
BE
Denggan Do Panogum
BE
Jahowa Siparmahan Au
BE
O Jesus Na Pangolu Au
BE
Las Rohangku Situtu
BE
Hosana Do Nilehon Ni
BE
O Tuhan Jesus, Raja
BE
Maribak Langit
BE
Aut So Asi Roham
BE
Holong Do Roha
BE
Sai Hujaha Di Pustaha
BE
Na Marmahani Hita
BE
Aut Unang Ho
BE
Tibu Ma Jumpang Tingki
BE
Di Surgo Do Alealenta
BE
Na Martungkot Sere Au
BE
Huhaholongi Ho
BE
Holong Do Rohangkon Di Ho
BE
Ndang Tadingkononku Ho
BE
Na Dison Do Au Tuhanku
BE
Na Dison Do Au Tuhanku
BE
Sai Tiop Ma Tanganku
BE
Ale Dongan Na Saroha
BE
Na Sonang Au
BE
O Tuhan Na Marasi Roha
BE
Tuhan Jesus Siparmahan
BE
Haholongon Na Badia
BE
Dung Sonang Rohangku
BE
Sonang Di Lambung Jesus
BE
Na Martua Ninna Jesus
BE
Gargar Dolok
BE
Jahowa Do Donganku
BE
Tong Do Tau Haposan
BE
Ise Do Alealenta
BE
Ndang Jumpang Hian
BE
Saleleng Jesuski
BE
Husomba Ho Tuhan
BE
Jalo Tanganku
BE
Ai Beasa Tung Humolso
BE
Adong Do Hasonangan
BE
Jesus Ngolu Ni Tondingku
BE
Jesus Haposanku
BE
Hatami Ale Tuhanku
BE
Ho Tongtong Ihuthononku
BE
On Ma Na Di Rohangki
BE
Sian Sude Parulian Na Arga
BE
Turena I Manodo
BE
O Jesus Tatap Ma Tuson
BE
Tumpalhu Na Ummuli Ho
BE