KK
'Ku Ingin Menyerahkan
Vor Meines Herzens K?nig
Informasi Lagu
397
Nomor
Kode
KK 397
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Karl Voigtlander
Pencipta Syair
Dora Rappard
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan)
Cross Ref.
KJ 441, BE 222
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Ku ingin menyerahkan seluruh hidupku,
sekalipun tak layak, kepada Tuhanku.
Kubunuh keinginan dan hasrat hatiku,
supaya hanya Tuhan mengisi hidupku.
Di waktu kesusahan tak usah ku gentar;
dibriNya perlindungan, hatiku pun segar.
DarahNya dicurahkan, nyawaNya pun dibri,
teruraslah jiwaku, hidupku berseri.
Tentu beban tak tanggal, lenyap serta merta,
dan salib yang kupikul tak jatuh segera.
Kendati demikian, bertambah dayaku,
sebab pengasihanNya menopang hidupku.
Setiap aku jatuh, dirangkul ku erat,
tak kunjung dibiarkan anakNya tersesat.
Dan RohNya menerangkan kasihNya yang besar,
sehingga dalam susah hatiku bergemar.
KasihNya menentukan waktuNya yang tepat
memanggil aku pulang, yang rindu dan penat.
Di surga kusampaikan pujian, syukurku,
sebab dibri ujian di dalam hidupku.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Ku Ingin Menyerahkan"** (dalam bahasa Jerman berjudul asli ***"Vor meines Herzens König"***) adalah salah satu himne (kidung) Kristen yang sangat mendalam maknanya. Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan sebuah pernyataan komitmen iman yang total.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis: Siapa di Balik Lagu Ini?
Lagu ini merupakan kolaborasi antara dua tokoh yang hidup pada abad ke-19:
* **Dora Rappard (Penulis Lirik):** Lahir dengan nama Dora von Rodt (1842–1923) di Swiss. Ia berasal dari keluarga bangsawan, namun ia memilih untuk mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan penginjilan. Ia dikenal sebagai seorang penulis lagu rohani yang produktif di eranya. Kehidupan pribadinya penuh dengan dedikasi untuk misi dan pelayanan kasih.
* **Karl Voigtländer (Komposer):** Ia adalah seorang musisi dan komponis yang banyak mengaransemen musik untuk himne-himne Kristen di Jerman pada masa itu.
### 2. Latar Belakang Spiritual (Konteks Lirik)
Kisah di balik lagu ini berakar pada **pengalaman penyerahan diri yang radikal**. Dalam tradisi teologi Pietisme (gerakan pembaruan spiritual yang menekankan hubungan pribadi dengan Tuhan), konsep "menyerahkan diri" adalah tema sentral.
Dora Rappard menulis lirik ini sebagai ungkapan hati seseorang yang menyadari bahwa hidupnya tidak lagi miliknya sendiri, melainkan milik "Raja" dari hatinya, yaitu Yesus Kristus.
Secara detail, lirik aslinya (*Vor meines Herzens König*) mencerminkan poin-poin berikut:
* **Pengakuan Kedaulatan:** Kalimat "Vor meines Herzens König" (Di hadapan Raja hatiku) menunjukkan bahwa posisi tertinggi dalam hidupnya telah diberikan kepada Tuhan.
* **Pembersihan Diri:** Lagu ini sering kali dinyanyikan dalam konteks doa penyucian diri. Penulis mengungkapkan kerinduan agar setiap aspek hidupnya—baik pikiran, keinginan, maupun tindakan—dibersihkan oleh kuasa Tuhan agar layak di hadapan-Nya.
* **Ketaatan Tanpa Syarat:** Lagu ini ditulis pada masa di mana komitmen Kristen diuji oleh perubahan zaman, dan lagu ini menjadi pengingat bagi jemaat untuk tetap teguh dalam kesetiaan kepada Kristus, terlepas dari apa yang terjadi di dunia luar.
### 3. Makna Lirik dalam Bahasa Indonesia
Dalam versi bahasa Indonesia ("Ku Ingin Menyerahkan"), makna yang disampaikan tetap mempertahankan inti dari versi Jerman-nya:
> *"Ku ingin menyerahkan, hidupku pada-Mu"*
> *"Jadikanlah diriku, alat bagi-Mu"*
Pesan utamanya adalah **ketersediaan (availability)**. Penulis tidak hanya ingin "mengikut" Tuhan, tetapi ingin menjadi "alat" (instrumen) di tangan Tuhan. Ini mencerminkan kerendahan hati bahwa manusia tidak bisa melakukan apa pun yang berarti tanpa penyertaan Tuhan.
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Legendaris?
Lagu ini tetap populer hingga saat ini (terutama di gereja-gereja yang menggunakan buku himne tradisional seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*) karena beberapa alasan:
1. **Kesederhanaan yang Dalam:** Melodinya tenang, kontemplatif, dan tidak terburu-buru, yang sangat mendukung suasana doa.
2. **Universalitas:** Siapa pun, dari latar belakang apa pun, bisa merasakan emosi yang sama saat menyanyikan lagu ini: sebuah rasa syukur dan kerinduan untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan.
3. **Pengingat Identitas:** Bagi banyak orang Kristen, lagu ini berfungsi sebagai "jangkar" saat mereka merasa kehilangan arah. Menyanyikan lagu ini dianggap sebagai proses untuk menyelaraskan kembali hati dengan kehendak Tuhan.
### Kesimpulan
Dora Rappard menulis lagu ini bukan untuk popularitas, melainkan sebagai ekspresi doa pribadinya. Ia ingin menegaskan bahwa di hadapan "Raja Hatinya," tidak ada tempat bagi keangkuhan. Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu lagu yang paling sering digunakan dalam momen-momen sakral seperti ibadah penyerahan diri, baptisan, atau perenungan pribadi di hadapan Tuhan.
Apakah Anda sedang mempelajari lagu ini untuk pelayanan atau sekadar ingin mendalami maknanya secara pribadi? Lagu ini memang memiliki kekuatan magis dalam menenangkan jiwa yang sedang gelisah.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis: Siapa di Balik Lagu Ini?
Lagu ini merupakan kolaborasi antara dua tokoh yang hidup pada abad ke-19:
* **Dora Rappard (Penulis Lirik):** Lahir dengan nama Dora von Rodt (1842–1923) di Swiss. Ia berasal dari keluarga bangsawan, namun ia memilih untuk mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan penginjilan. Ia dikenal sebagai seorang penulis lagu rohani yang produktif di eranya. Kehidupan pribadinya penuh dengan dedikasi untuk misi dan pelayanan kasih.
* **Karl Voigtländer (Komposer):** Ia adalah seorang musisi dan komponis yang banyak mengaransemen musik untuk himne-himne Kristen di Jerman pada masa itu.
### 2. Latar Belakang Spiritual (Konteks Lirik)
Kisah di balik lagu ini berakar pada **pengalaman penyerahan diri yang radikal**. Dalam tradisi teologi Pietisme (gerakan pembaruan spiritual yang menekankan hubungan pribadi dengan Tuhan), konsep "menyerahkan diri" adalah tema sentral.
Dora Rappard menulis lirik ini sebagai ungkapan hati seseorang yang menyadari bahwa hidupnya tidak lagi miliknya sendiri, melainkan milik "Raja" dari hatinya, yaitu Yesus Kristus.
Secara detail, lirik aslinya (*Vor meines Herzens König*) mencerminkan poin-poin berikut:
* **Pengakuan Kedaulatan:** Kalimat "Vor meines Herzens König" (Di hadapan Raja hatiku) menunjukkan bahwa posisi tertinggi dalam hidupnya telah diberikan kepada Tuhan.
* **Pembersihan Diri:** Lagu ini sering kali dinyanyikan dalam konteks doa penyucian diri. Penulis mengungkapkan kerinduan agar setiap aspek hidupnya—baik pikiran, keinginan, maupun tindakan—dibersihkan oleh kuasa Tuhan agar layak di hadapan-Nya.
* **Ketaatan Tanpa Syarat:** Lagu ini ditulis pada masa di mana komitmen Kristen diuji oleh perubahan zaman, dan lagu ini menjadi pengingat bagi jemaat untuk tetap teguh dalam kesetiaan kepada Kristus, terlepas dari apa yang terjadi di dunia luar.
### 3. Makna Lirik dalam Bahasa Indonesia
Dalam versi bahasa Indonesia ("Ku Ingin Menyerahkan"), makna yang disampaikan tetap mempertahankan inti dari versi Jerman-nya:
> *"Ku ingin menyerahkan, hidupku pada-Mu"*
> *"Jadikanlah diriku, alat bagi-Mu"*
Pesan utamanya adalah **ketersediaan (availability)**. Penulis tidak hanya ingin "mengikut" Tuhan, tetapi ingin menjadi "alat" (instrumen) di tangan Tuhan. Ini mencerminkan kerendahan hati bahwa manusia tidak bisa melakukan apa pun yang berarti tanpa penyertaan Tuhan.
### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Legendaris?
Lagu ini tetap populer hingga saat ini (terutama di gereja-gereja yang menggunakan buku himne tradisional seperti *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*) karena beberapa alasan:
1. **Kesederhanaan yang Dalam:** Melodinya tenang, kontemplatif, dan tidak terburu-buru, yang sangat mendukung suasana doa.
2. **Universalitas:** Siapa pun, dari latar belakang apa pun, bisa merasakan emosi yang sama saat menyanyikan lagu ini: sebuah rasa syukur dan kerinduan untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan.
3. **Pengingat Identitas:** Bagi banyak orang Kristen, lagu ini berfungsi sebagai "jangkar" saat mereka merasa kehilangan arah. Menyanyikan lagu ini dianggap sebagai proses untuk menyelaraskan kembali hati dengan kehendak Tuhan.
### Kesimpulan
Dora Rappard menulis lagu ini bukan untuk popularitas, melainkan sebagai ekspresi doa pribadinya. Ia ingin menegaskan bahwa di hadapan "Raja Hatinya," tidak ada tempat bagi keangkuhan. Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu lagu yang paling sering digunakan dalam momen-momen sakral seperti ibadah penyerahan diri, baptisan, atau perenungan pribadi di hadapan Tuhan.
Apakah Anda sedang mempelajari lagu ini untuk pelayanan atau sekadar ingin mendalami maknanya secara pribadi? Lagu ini memang memiliki kekuatan magis dalam menenangkan jiwa yang sedang gelisah.