BE
Ngot Ma Ho, O Tondingki
Informasi Lagu
249
Nomor
Kode
BE 249
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
7 bait
Ngot ma ho, o tondingki, dungo martangiang
Asa unang musu i, tole so tinagam
Bisuk ni setan i, do manait tu dosa, lan na bonar roha.
Ngot ma ho na modom i, dibagasan dosa
Asa unang ala ni, ho marutang hosa
Ai hatop, nang tahop, ro ma pangunjunan, tu naso managam
Dungo, ai na so tarbaen tondi ni Jahowa
Manorangi ho, mambaen sirang sian dosa
Ingkon do dungo ho, asa lehononNa denggan ni basaNa
Dungo jaga rohami unang dililuhon
Hisap ni dagingmu i jala ditaluhon
Ginjang ni roha i do jumotjot ala pangalapan sala
Martangiang ho huhut asa saut malua
Sian jea saluhut gabe ho martua
Jesus do na gogo jala tau mangalo saluhut pangago
Ala ni sai jouhon ma goar ni Tuhanta
Na binaen ni Debata parsigantunganta
Meleng do dompak ho pinggol ni Jesusmu mangoloi sangkapmu.
Ala ni manongtong ma hita martangiang
Tu Amanta Debata di banuaginjang
Lam tibu ro tutu tingki binuhulNa manguhumi jolma
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Tuhan Allah, Janganlah" atau "Straf mich nicht in deinem Zorn" (Janganlah Menghukum Aku dalam Murka-Mu) karya Johann Georg Albinus adalah sebuah narasi yang mendalam, lahir dari penderitaan kolektif dan krisis spiritual di Jerman pasca-Perang Tiga Puluh Tahun yang menghancurkan.
Untuk memahami lagu ini, kita harus menyelami konteks sejarah dan pribadi Albinus:
**1. Johann Georg Albinus: Penyair di Tengah Puing-Puing Perang (1629-1679)**
* **Kehidupan yang Diselimuti Perang:** Johann Georg Albinus lahir pada tahun 1629, tepat di tengah-tengah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648), salah satu konflik paling brutal dan merusak dalam sejarah Eropa. Ia tumbuh dewasa di tengah bayang-bayang kematian, kelaparan, wabah penyakit, dan kehancuran yang tak terlukiskan di tanah kelahirannya, Jerman. Pada saat perang berakhir tahun 1648, ia berusia 19 tahun, seorang pemuda yang telah menyaksikan kengerian yang membentuk seluruh generasinya.
* **Pendidikan dan Panggilan:** Meskipun kondisi kacau, Albinus berhasil mengejar pendidikan teologi dan menjadi seorang pastor Lutheran. Ia melayani di berbagai gereja, termasuk sebagai rektor sekolah di Naumburg. Sebagai seorang rohaniwan, ia bertanggung jawab untuk memberikan penghiburan, harapan, dan bimbingan spiritual kepada jemaatnya yang trauma dan putus asa.
* **Seorang Penyair Rohani:** Albinus adalah seorang penulis himne (chorale) yang produktif. Ia menggunakan bakat puitisnya untuk mengekspresikan pergolakan iman, penyesalan, dan harapan di tengah kehancuran. Hymne-hymnenya sering kali mencerminkan pengalaman pahit bangsanya namun selalu berujung pada kepercayaan teguh akan kasih karunia ilahi.
**2. Latar Belakang Sejarah: Jerman Pasca-Perang Tiga Puluh Tahun**
* **Kehancuran Total:** Perang Tiga Puluh Tahun bukan hanya konflik politik atau agama; itu adalah bencana demografi dan ekonomi. Diperkirakan 25% hingga 40% populasi Jerman tewas akibat pertempuran, kelaparan, dan wabah penyakit. Kota-kota hancur, desa-desa terbakar, lahan pertanian terlantar. Generasi muda lenyap, perekonomian lumpuh, dan struktur sosial amburadul.
* **Trauma Kolektif dan Krisis Spiritual:** Kehancuran fisik ini diiringi oleh trauma psikologis dan krisis spiritual yang mendalam. Banyak orang bertanya, "Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?" Apakah ini hukuman ilahi atas dosa-dosa mereka? Perasaan bersalah kolektif, ketakutan akan murka Tuhan, dan keputusasaan menjadi sentimen yang umum. Gereja-gereja, yang seharusnya menjadi sumber penghiburan, juga berjuang untuk memberikan jawaban di tengah kehancuran moral dan fisik.
* **Kebutuhan akan Ratapan dan Harapan:** Dalam situasi seperti itu, masyarakat sangat membutuhkan cara untuk menyalurkan kesedihan, penyesalan, dan permohonan mereka kepada Tuhan. Hymne-hymne, dengan bahasanya yang lugas dan melodi yang akrab, menjadi saluran vital untuk ekspresi spiritual ini.
**3. Kisah di Balik "Straf mich nicht in deinem Zorn" (Diterbitkan 1649)**
* **Tahun Penerbitan yang Signifikan:** Albinus menulis dan menerbitkan "Straf mich nicht in deinem Zorn" pada tahun 1649, hanya setahun setelah Perjanjian Westphalia mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun. Momen ini sangat krusial: luka-luka perang masih menganga, dan bangsa Jerman masih dalam fase duka dan penyembuhan awal.
* **Inspirasi Alkitabiah:** Lagu ini secara langsung terinspirasi oleh Mazmur-Mazmur Pertobatan (Penitential Psalms), khususnya **Mazmur 6:2** ("Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, janganlah menghajar aku dalam panas amarah-Mu.") dan **Mazmur 38:2** ("Sebab panah-panah-Mu menembus aku, tangan-Mu menekan aku."). Mazmur-mazmur ini adalah ratapan seorang yang menderita, mengakui dosa, dan memohon belas kasihan Tuhan di tengah penderitaan yang dirasakan sebagai akibat dari murka ilahi.
* **Ratapan Kolektif Jerman:** Albinus, sebagai seorang pastor yang tumbuh dewasa dalam kengerian perang, tidak hanya menulis doa pribadinya, tetapi ia menyuarakan ratapan seluruh bangsanya. Kata-kata "Janganlah menghukum aku dalam murka-Mu" bukan hanya permohonan individu, melainkan jeritan keputusasaan dan penyesalan kolektif dari orang-orang Jerman yang merasa bahwa mereka telah menderita hukuman yang berat dari Tuhan.
* **Pengakuan Dosa dan Permohonan Pengampunan:** Lagu ini adalah pengakuan jujur atas dosa-dosa – baik pribadi maupun kolektif – yang diyakini telah memicu murka ilahi. Namun, di balik rasa takut akan murka, ada kepercayaan yang teguh pada kasih dan pengampunan Tuhan. Ini adalah doa untuk disembuhkan, diampuni, dan dibebaskan dari penderitaan yang berkepanjangan.
* **Harapan di Tengah Keputusasaan:** Meskipun liriknya dimulai dengan nada keputusasaan dan ketakutan akan penghukuman, hymne ini secara bertahap beralih ke nada harapan dan kepercayaan pada kasih karunia Tuhan. Ini adalah cara Albinus untuk mengingatkan jemaatnya bahwa meskipun mereka pantas mendapatkan hukuman, Tuhan lebih besar dalam belas kasihan-Nya.
**Makna dan Warisan:**
"Straf mich nicht in deinem Zorn" dengan cepat menjadi salah satu chorale Lutheran yang paling dicintai. Melodinya yang khusyuk (sering menggunakan melodi yang sudah ada sebelumnya oleh Johann Crüger), ditambah dengan liriknya yang menyentuh dan relevan secara emosional, membuatnya menjadi nyanyian yang kuat dalam ibadah dan refleksi pribadi.
Lagu ini berfungsi sebagai:
* **Sarana Pengakuan:** Memberikan ruang bagi jemaat untuk mengakui dosa dan penderitaan mereka.
* **Sumber Penghiburan:** Menawarkan penghiburan bahwa Tuhan, meskipun adil, juga penuh belas kasihan.
* **Pengajaran Teologis:** Mengingatkan umat percaya tentang sifat Tuhan yang adil sekaligus penyayang.
Hingga hari ini, "Straf mich nicht in deinem Zorn" tetap menjadi himne penting dalam tradisi Lutheran, terutama selama masa Prapaskah atau ketika jemaat merenungkan dosa, penyesalan, dan kebutuhan akan belas kasihan Tuhan. Lagu ini adalah kesaksian abadi tentang kekuatan iman untuk menemukan harapan bahkan di tengah kehancuran yang paling parah, dan suara seorang penyair yang berani menyuarakan penderitaan bangsanya dan mengarahkannya kepada Sang Mahakuasa yang penuh kasih.
Untuk memahami lagu ini, kita harus menyelami konteks sejarah dan pribadi Albinus:
**1. Johann Georg Albinus: Penyair di Tengah Puing-Puing Perang (1629-1679)**
* **Kehidupan yang Diselimuti Perang:** Johann Georg Albinus lahir pada tahun 1629, tepat di tengah-tengah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648), salah satu konflik paling brutal dan merusak dalam sejarah Eropa. Ia tumbuh dewasa di tengah bayang-bayang kematian, kelaparan, wabah penyakit, dan kehancuran yang tak terlukiskan di tanah kelahirannya, Jerman. Pada saat perang berakhir tahun 1648, ia berusia 19 tahun, seorang pemuda yang telah menyaksikan kengerian yang membentuk seluruh generasinya.
* **Pendidikan dan Panggilan:** Meskipun kondisi kacau, Albinus berhasil mengejar pendidikan teologi dan menjadi seorang pastor Lutheran. Ia melayani di berbagai gereja, termasuk sebagai rektor sekolah di Naumburg. Sebagai seorang rohaniwan, ia bertanggung jawab untuk memberikan penghiburan, harapan, dan bimbingan spiritual kepada jemaatnya yang trauma dan putus asa.
* **Seorang Penyair Rohani:** Albinus adalah seorang penulis himne (chorale) yang produktif. Ia menggunakan bakat puitisnya untuk mengekspresikan pergolakan iman, penyesalan, dan harapan di tengah kehancuran. Hymne-hymnenya sering kali mencerminkan pengalaman pahit bangsanya namun selalu berujung pada kepercayaan teguh akan kasih karunia ilahi.
**2. Latar Belakang Sejarah: Jerman Pasca-Perang Tiga Puluh Tahun**
* **Kehancuran Total:** Perang Tiga Puluh Tahun bukan hanya konflik politik atau agama; itu adalah bencana demografi dan ekonomi. Diperkirakan 25% hingga 40% populasi Jerman tewas akibat pertempuran, kelaparan, dan wabah penyakit. Kota-kota hancur, desa-desa terbakar, lahan pertanian terlantar. Generasi muda lenyap, perekonomian lumpuh, dan struktur sosial amburadul.
* **Trauma Kolektif dan Krisis Spiritual:** Kehancuran fisik ini diiringi oleh trauma psikologis dan krisis spiritual yang mendalam. Banyak orang bertanya, "Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?" Apakah ini hukuman ilahi atas dosa-dosa mereka? Perasaan bersalah kolektif, ketakutan akan murka Tuhan, dan keputusasaan menjadi sentimen yang umum. Gereja-gereja, yang seharusnya menjadi sumber penghiburan, juga berjuang untuk memberikan jawaban di tengah kehancuran moral dan fisik.
* **Kebutuhan akan Ratapan dan Harapan:** Dalam situasi seperti itu, masyarakat sangat membutuhkan cara untuk menyalurkan kesedihan, penyesalan, dan permohonan mereka kepada Tuhan. Hymne-hymne, dengan bahasanya yang lugas dan melodi yang akrab, menjadi saluran vital untuk ekspresi spiritual ini.
**3. Kisah di Balik "Straf mich nicht in deinem Zorn" (Diterbitkan 1649)**
* **Tahun Penerbitan yang Signifikan:** Albinus menulis dan menerbitkan "Straf mich nicht in deinem Zorn" pada tahun 1649, hanya setahun setelah Perjanjian Westphalia mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun. Momen ini sangat krusial: luka-luka perang masih menganga, dan bangsa Jerman masih dalam fase duka dan penyembuhan awal.
* **Inspirasi Alkitabiah:** Lagu ini secara langsung terinspirasi oleh Mazmur-Mazmur Pertobatan (Penitential Psalms), khususnya **Mazmur 6:2** ("Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, janganlah menghajar aku dalam panas amarah-Mu.") dan **Mazmur 38:2** ("Sebab panah-panah-Mu menembus aku, tangan-Mu menekan aku."). Mazmur-mazmur ini adalah ratapan seorang yang menderita, mengakui dosa, dan memohon belas kasihan Tuhan di tengah penderitaan yang dirasakan sebagai akibat dari murka ilahi.
* **Ratapan Kolektif Jerman:** Albinus, sebagai seorang pastor yang tumbuh dewasa dalam kengerian perang, tidak hanya menulis doa pribadinya, tetapi ia menyuarakan ratapan seluruh bangsanya. Kata-kata "Janganlah menghukum aku dalam murka-Mu" bukan hanya permohonan individu, melainkan jeritan keputusasaan dan penyesalan kolektif dari orang-orang Jerman yang merasa bahwa mereka telah menderita hukuman yang berat dari Tuhan.
* **Pengakuan Dosa dan Permohonan Pengampunan:** Lagu ini adalah pengakuan jujur atas dosa-dosa – baik pribadi maupun kolektif – yang diyakini telah memicu murka ilahi. Namun, di balik rasa takut akan murka, ada kepercayaan yang teguh pada kasih dan pengampunan Tuhan. Ini adalah doa untuk disembuhkan, diampuni, dan dibebaskan dari penderitaan yang berkepanjangan.
* **Harapan di Tengah Keputusasaan:** Meskipun liriknya dimulai dengan nada keputusasaan dan ketakutan akan penghukuman, hymne ini secara bertahap beralih ke nada harapan dan kepercayaan pada kasih karunia Tuhan. Ini adalah cara Albinus untuk mengingatkan jemaatnya bahwa meskipun mereka pantas mendapatkan hukuman, Tuhan lebih besar dalam belas kasihan-Nya.
**Makna dan Warisan:**
"Straf mich nicht in deinem Zorn" dengan cepat menjadi salah satu chorale Lutheran yang paling dicintai. Melodinya yang khusyuk (sering menggunakan melodi yang sudah ada sebelumnya oleh Johann Crüger), ditambah dengan liriknya yang menyentuh dan relevan secara emosional, membuatnya menjadi nyanyian yang kuat dalam ibadah dan refleksi pribadi.
Lagu ini berfungsi sebagai:
* **Sarana Pengakuan:** Memberikan ruang bagi jemaat untuk mengakui dosa dan penderitaan mereka.
* **Sumber Penghiburan:** Menawarkan penghiburan bahwa Tuhan, meskipun adil, juga penuh belas kasihan.
* **Pengajaran Teologis:** Mengingatkan umat percaya tentang sifat Tuhan yang adil sekaligus penyayang.
Hingga hari ini, "Straf mich nicht in deinem Zorn" tetap menjadi himne penting dalam tradisi Lutheran, terutama selama masa Prapaskah atau ketika jemaat merenungkan dosa, penyesalan, dan kebutuhan akan belas kasihan Tuhan. Lagu ini adalah kesaksian abadi tentang kekuatan iman untuk menemukan harapan bahkan di tengah kehancuran yang paling parah, dan suara seorang penyair yang berani menyuarakan penderitaan bangsanya dan mengarahkannya kepada Sang Mahakuasa yang penuh kasih.
Sama Tema
Parungkilon
Jotjot Do Marsak
BE
Jesus Kristus Do Manobus
BE
Ihuthon Au Sude Hamu
BE
Binsan Ro Asi Ni Roha
BE
Ngot Ma Ho Dijou Soara
BE
Asal Ma Ibana
BE
Rahis Jala Maol
BE
Sai Berengi Partonggolan
BE
Binsan Ro Asi Ni Roha
BE
Asal Ma Ibana
BE
Jesus Urupi
BE
Sai Hehe Ma Hamuna, Hamu,
BE
Saleleng Ho Di Tano On
BE
Hatami Ale Tuhanku
BE
Na Monang I Do
BE
O Jesus Sai Dongani
BE
Ale Debatangki
BE
Di Na Ponjot Rohangku
BE
Holan Sada Do Na Ringkot
BE
Jesus Kristus I Do Raja
BE
Jonok Debatanta
BE
Sai Hutuju
BE
Sai Beta Ma Tondingku
BE
Holan Jesus Do Hubaen
BE
Bintang Sipartogi
BE
Jahowa Tuhanki
BE
Tudos Tu Galumbang I
BE
Adong Dope Paradianan
BE
Naung Moru Do Muse Sataon
BE
Tu Banuaginjang Do
BE
O Tuhan Sulingkit
BE
Debatangku Do Donganku
BE
Tu Jolo Ni Tuhanku
BE
Ngot Ai Torang Do Ari
BE
Beta, Beta Hita
BE
Sai Tole, Tole Ro Sude
BE
Jesus Tuhanku, Rajai Ma Au
BE
Sai Hehe Ma Hamuna, Hamu
BE
O Jesus Tuhanhi
BE
O Jesus Siparmonang I
BE
Marsada Roha Hita
BE
Bangso Na Sumurung I
BE