BE
Na Monang I Do
Informasi Lagu
251
Nomor
Kode
BE 251
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 263
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
8 bait
Na monang i do na muse manganhon
Parbue ni hau hangoluan i
Ndang jadi idaonna hamagoan
Nang hamatean paduahon i
Ai Debatana papos rohana
Mambaen langkana tongtong tiur,
Mambaen langkana tongtong tiur
Na monang i ndang tupa hahuaon
Ni hamatean paduahon i
Sai jongjong do ibana maradophon
Bohingku di banuaginjang i
Sai idaonna disi Tuhanna
Ro di donganna na monang i,
Ro di donganna na monang i.
Na monang i do lehononku mangan
Di surgo manna na buni dope
Pangalahona do tongtong ingoton
Margoar na imbaru do muse
Na sinurathon tu batu intan
Tongtong martua panjalo i,
Tongtong martua panjalo i.
Na monang i marnida pambaenanKu
I do na marmahani bangso i
PasahatonKu deba sahalangKu
Tu tangan ni sude na monang i.
Sai rosahanna muse alona
Patunduhonna do musungki,
Patunduhonna do musungki
Na monang i do na manjalo ulos
Na saksak di banuaginjang i
Goarna i do na so jadi mosos
Sian pustaha hangoluan i
Taringotanku di Debatangku
Sude donganku na monang i.
Sude donganku na monang i.
Na monang i do ingkon gabe tiang
Di bagasjoro ni Debatangki
Di bagas i tongtong ibana mian
Jumujung goar ni Jahowa i
Uhirhononku tusi goarhu
Sijujungonku di surgo i,
Sijujungonku di surgo i
Na monang i do hundul raphon Ahu
Di habangsakKu na di surgo i
Tudoshon Au di lambung ni Amangku
Partohap do di hasonangan i
Na maradian di hasonangan
Sude na monang na burju i,
Sude na monang na burju i
Urupi au, o Jesus asa monang
Au maralohon angka musungki
Portibi on sibolis nang pamatang
Do na manaiti au tu dosa i
Pasangaponku tongtong goarMu
Di ingananku di surgo i,
Di ingananku di surgo i.
Slide Lirik
16 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Yang T’lah Menang"** (judul asli bahasa Jerman: ***Wer überwindet, soll vom Holz genießen***) adalah sebuah perjalanan sejarah panjang yang melibatkan teologi Pietisme Jerman, tradisi Kidung Jemaat, dan evolusi makna spiritual selama berabad-abad.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu ini:
### 1. Asal-Usul Penulis (Konteks Sejarah)
Lagu ini berakar dari tradisi gereja Lutheran Jerman. Dua nama yang sering dikaitkan dalam penyusunan teksnya adalah **Wilhelm Amandus Auberlen** (penulis teks) dan **Philipp Balthasar Sinold** (yang sering dikaitkan dengan koleksi lagu tersebut di masa lampau).
* **Pietisme Jerman:** Lagu ini lahir dari semangat gerakan Pietisme di Jerman pada abad ke-17 dan ke-18. Pietisme menekankan pada kesalehan pribadi, kerinduan akan persekutuan dengan Kristus, dan harapan akan kehidupan kekal setelah penderitaan di dunia. Lagu-lagu pada masa ini sering menggunakan bahasa metaforis yang kuat untuk menggambarkan perjuangan orang percaya.
### 2. Dasar Alkitabiah (Inspirasi Utama)
Judul asli lagu ini, *"Wer überwindet, soll vom Holz genießen"* (Siapa yang menang, akan menikmati dari kayu/pohon), diambil langsung dari **Wahyu 2:7b**:
> *"Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."*
Kisah di balik lagu ini adalah **refleksi teologis tentang janji Tuhan kepada orang Kristen yang setia sampai akhir.** Dalam konteks zaman tersebut, kehidupan dianggap sebagai sebuah peperangan (perjuangan iman). "Menang" di sini bukan berarti kemenangan duniawi, melainkan keteguhan iman di tengah pencobaan, penganiayaan, atau godaan dosa.
### 3. Makna Lirik: "Pohon Kehidupan"
Dalam bahasa Jerman aslinya, *"Holz"* secara harfiah berarti kayu atau pohon. Ini merujuk pada "Pohon Kehidupan" yang ada di Taman Eden dan kemudian muncul kembali dalam penglihatan surgawi di kitab Wahyu.
* **Pesan lagu:** Lagu ini mengajak umat untuk tidak menyerah. Meskipun dunia ini penuh dengan "kayu salib" (penderitaan), mereka yang bertahan (menang) akan diizinkan untuk memakan buah dari "Pohon Kehidupan" (keselamatan kekal dan persekutuan penuh dengan Allah di surga).
### 4. Transformasi ke Bahasa Indonesia (Kidung Jemaat)
Lagu ini kemudian diterjemahkan dan masuk ke dalam buku **Kidung Jemaat (KJ) No. 433**, dengan judul **"Yang T'lah Menang"**.
Dalam versi bahasa Indonesia, fokusnya tetap pada tema pemuridan:
* Bait-baitnya menggambarkan bahwa menjadi pengikut Kristus adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan ketekunan.
* Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian Minggu atau ibadah pemakaman, karena liriknya memberikan penghiburan bahwa penderitaan di dunia hanyalah sementara, dan ada "upah" yang indah bagi mereka yang setia sampai garis finis.
### 5. Mengapa Lagu Ini Penting?
Kisah di balik lagu ini adalah **kisah tentang pengharapan.** Pada masa hidup Auberlen, Eropa sering dilanda perang dan wabah penyakit. Lagu ini berfungsi sebagai "jangkar" bagi orang percaya agar tidak kehilangan iman saat menghadapi kematian atau kesulitan hidup.
**Kesimpulan:**
Lagu *"Yang T’lah Menang"* bukan sekadar lagu pujian biasa, melainkan sebuah **nyanyian penguatan (kerygma)**. Ia mengingatkan bahwa "kemenangan" dalam perspektif iman Kristen bukanlah tentang menjadi yang terkuat di dunia, melainkan tentang kesetiaan memegang janji Kristus hingga akhir hidup, agar layak menerima kehidupan kekal (buah dari Pohon Kehidupan) di hadapan Allah.
Jika Anda mendengarkan melodi klasiknya yang megah namun syahdu, itu dirancang untuk membawa perasaan tenang sekaligus keberanian bagi mereka yang sedang berjuang dengan beban hidup.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu ini:
### 1. Asal-Usul Penulis (Konteks Sejarah)
Lagu ini berakar dari tradisi gereja Lutheran Jerman. Dua nama yang sering dikaitkan dalam penyusunan teksnya adalah **Wilhelm Amandus Auberlen** (penulis teks) dan **Philipp Balthasar Sinold** (yang sering dikaitkan dengan koleksi lagu tersebut di masa lampau).
* **Pietisme Jerman:** Lagu ini lahir dari semangat gerakan Pietisme di Jerman pada abad ke-17 dan ke-18. Pietisme menekankan pada kesalehan pribadi, kerinduan akan persekutuan dengan Kristus, dan harapan akan kehidupan kekal setelah penderitaan di dunia. Lagu-lagu pada masa ini sering menggunakan bahasa metaforis yang kuat untuk menggambarkan perjuangan orang percaya.
### 2. Dasar Alkitabiah (Inspirasi Utama)
Judul asli lagu ini, *"Wer überwindet, soll vom Holz genießen"* (Siapa yang menang, akan menikmati dari kayu/pohon), diambil langsung dari **Wahyu 2:7b**:
> *"Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."*
Kisah di balik lagu ini adalah **refleksi teologis tentang janji Tuhan kepada orang Kristen yang setia sampai akhir.** Dalam konteks zaman tersebut, kehidupan dianggap sebagai sebuah peperangan (perjuangan iman). "Menang" di sini bukan berarti kemenangan duniawi, melainkan keteguhan iman di tengah pencobaan, penganiayaan, atau godaan dosa.
### 3. Makna Lirik: "Pohon Kehidupan"
Dalam bahasa Jerman aslinya, *"Holz"* secara harfiah berarti kayu atau pohon. Ini merujuk pada "Pohon Kehidupan" yang ada di Taman Eden dan kemudian muncul kembali dalam penglihatan surgawi di kitab Wahyu.
* **Pesan lagu:** Lagu ini mengajak umat untuk tidak menyerah. Meskipun dunia ini penuh dengan "kayu salib" (penderitaan), mereka yang bertahan (menang) akan diizinkan untuk memakan buah dari "Pohon Kehidupan" (keselamatan kekal dan persekutuan penuh dengan Allah di surga).
### 4. Transformasi ke Bahasa Indonesia (Kidung Jemaat)
Lagu ini kemudian diterjemahkan dan masuk ke dalam buku **Kidung Jemaat (KJ) No. 433**, dengan judul **"Yang T'lah Menang"**.
Dalam versi bahasa Indonesia, fokusnya tetap pada tema pemuridan:
* Bait-baitnya menggambarkan bahwa menjadi pengikut Kristus adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan ketekunan.
* Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian Minggu atau ibadah pemakaman, karena liriknya memberikan penghiburan bahwa penderitaan di dunia hanyalah sementara, dan ada "upah" yang indah bagi mereka yang setia sampai garis finis.
### 5. Mengapa Lagu Ini Penting?
Kisah di balik lagu ini adalah **kisah tentang pengharapan.** Pada masa hidup Auberlen, Eropa sering dilanda perang dan wabah penyakit. Lagu ini berfungsi sebagai "jangkar" bagi orang percaya agar tidak kehilangan iman saat menghadapi kematian atau kesulitan hidup.
**Kesimpulan:**
Lagu *"Yang T’lah Menang"* bukan sekadar lagu pujian biasa, melainkan sebuah **nyanyian penguatan (kerygma)**. Ia mengingatkan bahwa "kemenangan" dalam perspektif iman Kristen bukanlah tentang menjadi yang terkuat di dunia, melainkan tentang kesetiaan memegang janji Kristus hingga akhir hidup, agar layak menerima kehidupan kekal (buah dari Pohon Kehidupan) di hadapan Allah.
Jika Anda mendengarkan melodi klasiknya yang megah namun syahdu, itu dirancang untuk membawa perasaan tenang sekaligus keberanian bagi mereka yang sedang berjuang dengan beban hidup.
Cross Reference
KJ 263
Yang T'lah Menang
KJ
Sama Tema
Parungkilon
Jotjot Do Marsak
BE
Jesus Kristus Do Manobus
BE
Ihuthon Au Sude Hamu
BE
Binsan Ro Asi Ni Roha
BE
Ngot Ma Ho Dijou Soara
BE
Asal Ma Ibana
BE
Rahis Jala Maol
BE
Sai Berengi Partonggolan
BE
Binsan Ro Asi Ni Roha
BE
Asal Ma Ibana
BE
Jesus Urupi
BE
Sai Hehe Ma Hamuna, Hamu,
BE
Saleleng Ho Di Tano On
BE
Ngot Ma Ho, O Tondingki
BE
Hatami Ale Tuhanku
BE
O Jesus Sai Dongani
BE
Ale Debatangki
BE
Di Na Ponjot Rohangku
BE
Holan Sada Do Na Ringkot
BE
Jesus Kristus I Do Raja
BE
Jonok Debatanta
BE
Sai Hutuju
BE
Sai Beta Ma Tondingku
BE
Holan Jesus Do Hubaen
BE
Bintang Sipartogi
BE
Jahowa Tuhanki
BE
Tudos Tu Galumbang I
BE
Adong Dope Paradianan
BE
Naung Moru Do Muse Sataon
BE
Tu Banuaginjang Do
BE
O Tuhan Sulingkit
BE
Debatangku Do Donganku
BE
Tu Jolo Ni Tuhanku
BE
Ngot Ai Torang Do Ari
BE
Beta, Beta Hita
BE
Sai Tole, Tole Ro Sude
BE
Jesus Tuhanku, Rajai Ma Au
BE
Sai Hehe Ma Hamuna, Hamu
BE
O Jesus Tuhanhi
BE
O Jesus Siparmonang I
BE
Marsada Roha Hita
BE
Bangso Na Sumurung I
BE