BE
O Tuhanku, Ho Jambarhu
Informasi Lagu
456
Nomor
Kode
BE 456
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KP 54, KJ 364, KK 449, NKI 185, NP 230, BN 456
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
7 bait
O Tuhanku, Ho jambar hu, las ni rohangki
Ho damengku, Ho ngolungku, hatuaonki
Aut so Ho jambarhu, Jesus, tung tu dia au?
Hamagoan bagianku, ingkon mago au.
So padohot Ho Tuhanku ingkon lonong au
Tu bagasan gambo lisop, ingkon mago au.
Sai baluti ma rohangku dohot holongMi,
Asa sonang maradian au hinophopMi.
Ro pe dohot pangunjunan, boi do sonang au,
Martabuni au tu Jesus, na mangkophop au.
Ho, o Jesus, do marporang, au hohom nama.
Diondihon Ho, Tuhanku, au tu Debata.
IringiringonMu ahu dohot tanganMi.
Paima sahat au tu surgo, na di ginjang i.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
"Berserah Kepada Yesus," atau judul aslinya "All To Jesus I Surrender," adalah salah satu himne Kristen yang paling menyentuh dan dikenal luas di seluruh dunia. Lagu ini bukan sekadar rangkaian kata dan melodi yang indah, melainkan cerminan dari pergumulan pribadi yang mendalam dan sebuah momen penyerahan total yang mengubah hidup salah satu penulisnya. Kisah di baliknya adalah tentang panggilan Ilahi, keraguan manusiawi, dan akhirnya, iman yang tak tergoyahkan.
Mari kita selami kisah di balik lagu ini, yang melibatkan dua sosok penting: Judson Wheeler Van De Venter (penulis lirik) dan Winfield Scott Weeden (komposer melodi).
---
### Judson Wheeler Van De Venter: Kisah di Balik Lirik (1896)
**Latar Belakang dan Panggilan:**
Judson Wheeler Van De Venter lahir pada tahun 1855 di Dundee, Michigan, Amerika Serikat. Ia adalah seorang pria yang diberkahi dengan berbagai talenta. Ia memiliki pendidikan tinggi dan awalnya bekerja sebagai guru seni di sebuah perguruan tinggi. Van De Venter juga seorang seniman yang berbakat, dan ia sangat mencintai pekerjaannya serta menikmati kehidupan yang nyaman dan terpandang di komunitasnya. Ia dikenal sebagai seorang Kristen yang saleh, namun ada sesuatu yang terus-menerus mengusik jiwanya.
Di masa itu, gerakan kebangunan rohani (revival) sangat marak di Amerika, dan Van De Venter sering terlibat dalam pertemuan-pertemuan evangelis. Selama bertahun-tahun, ia merasakan panggilan yang kuat dari Tuhan untuk meninggalkan kariernya yang nyaman dan mengabdikan dirinya sepenuhnya sebagai seorang penginjil atau evangelis purna waktu.
**Pergumulan Batin yang Hebat:**
Panggilan ini menimbulkan pergumulan batin yang hebat dalam diri Van De Venter. Di satu sisi, ia memiliki passion untuk seni dan merasa betah dengan kehidupan yang stabil dan terhormat. Meninggalkan semua itu untuk menjadi penginjil purna waktu berarti menghadapi ketidakpastian finansial, kritik dari beberapa pihak, dan pengorbanan yang besar. Ia berjuang dengan keraguan, kekhawatiran tentang masa depan, dan godaan untuk tetap berada di zona nyamannya.
Ia mencoba menegosiasikan dengan Tuhan, ingin menahan sebagian dari dirinya, sebagian dari ambisinya, sebagian dari keinginannya. Ia mungkin berpikir, "Aku akan melayani Tuhan, tetapi aku juga ingin menjaga sebagian dari hidupku untuk diriku sendiri." Namun, setiap kali ia mencoba menahan sesuatu, ia merasakan kegelisahan yang mendalam. Ia merasa tidak sepenuhnya damai.
**Momen Penyerahan Total:**
Pergumulan ini mencapai puncaknya pada suatu malam di tahun 1896. Judson Van De Venter berada di rumahnya setelah menghadiri sebuah kebaktian kebangunan rohani yang intens, atau mungkin di tengah-tengah salah satu pertemuan tersebut. Di tengah kesunyian atau mungkin di antara keramaian, ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menunda atau menahan diri. Ia harus membuat keputusan final: menyerahkan *semuanya* kepada Yesus, tanpa syarat.
Dalam momen pencerahan rohani itu, ia merasakan damai sejahtera yang luar biasa saat ia benar-benar melepaskan genggamannya dari semua yang ia pegang – karier, ambisi pribadi, kenyamanan, bahkan ketakutan akan masa depan. Ia menyerahkan *seluruh* hidupnya kepada Kristus.
Saat momen penyerahan diri itu terjadi, kata-kata yang kini kita kenal sebagai lirik "All To Jesus I Surrender" mulai mengalir dari hatinya. Ia segera mengambil pena dan kertas dan menuliskan baris-baris tersebut:
* *All to Jesus I surrender,* (Kepada Yesus ku berserah)
* *All to Him I freely give;* (Kepada-Nya semua ku beri)
* *I will ever love and trust Him,* (Ku kan s’lalu kasih dan percaya)
* *In His presence daily live.* (Dalam hadirat-Nya ku hidup)
Setiap bait mencerminkan perjalanannya, dari pengakuan keinginan untuk berserah, janji untuk melayani, hingga penemuan damai sejahtera dan sukacita dalam penyerahan diri. Kata "All" (semua) diulang-ulang, menekankan bahwa penyerahan yang ia alami dan tuliskan adalah penyerahan total, tanpa reservasi.
Setelah momen penulisan itu, Judson Van De Venter benar-benar meninggalkan karier seninya dan mengabdikan sisa hidupnya sebagai penginjil purna waktu. Ia melakukan perjalanan ekstensif, memimpin berbagai pertemuan kebangunan rohani di seluruh Amerika dan juga di Inggris, membawa banyak orang kepada Kristus.
---
### Winfield Scott Weeden: Melodi yang Mengangkat Lirik (1901)
**Latar Belakang dan Kolaborasi:**
Winfield Scott Weeden (lahir 1847) adalah seorang komposer, guru musik, dan penerbit himne yang produktif pada masanya. Ia dikenal karena kemampuannya menciptakan melodi yang sederhana, indah, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat, yang sangat cocok untuk pertemuan-pertemuan kebangunan rohani.
Ketika lirik "All To Jesus I Surrender" oleh Judson Van De Venter mulai dikenal luas dalam lingkup pertemuan-pertemuan Kristen, Weeden tergerak oleh kekuatan pesannya. Pada tahun 1901, Weeden menciptakan melodi yang kini kita kenal untuk lirik-lirik tersebut.
Melodi yang diciptakan Weeden adalah perpaduan sempurna dengan lirik Van De Venter. Musiknya yang tenang namun penuh semangat, sederhana namun kuat, sangat mendukung pesan penyerahan diri yang tulus. Paduan melodi dan lirik ini menciptakan sebuah himne yang sangat kuat dan menyentuh jiwa.
**Publikasi dan Penyebaran:**
Lagu ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1896 (lirik) dan dengan melodi Weeden pada tahun 1901 dalam sebuah buku lagu berjudul "Songs of the Coming King" yang diterbitkan oleh Weeden sendiri. Sejak saat itu, "All To Jesus I Surrender" segera menyebar luas. Himne ini ditemukan di hampir setiap buku nyanyian gereja dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia.
---
### Warisan dan Dampak Lagu
Kisah di balik "All To Jesus I Surrender" adalah pengingat bahwa penyerahan diri total kepada Yesus bukanlah suatu kelemahan, melainkan sumber kekuatan, damai sejahtera, dan sukacita sejati. Lagu ini terus menginspirasi jutaan orang untuk merenungkan kehidupan mereka sendiri dan menjawab panggilan Tuhan untuk penyerahan diri yang tak bersyarat.
Dari pergumulan pribadi seorang seniman dan guru yang berbakat, lahir sebuah himne abadi yang terus menggema di hati orang-orang percaya, mendorong mereka untuk menyerahkan "semuanya" kepada Yesus.
Mari kita selami kisah di balik lagu ini, yang melibatkan dua sosok penting: Judson Wheeler Van De Venter (penulis lirik) dan Winfield Scott Weeden (komposer melodi).
---
### Judson Wheeler Van De Venter: Kisah di Balik Lirik (1896)
**Latar Belakang dan Panggilan:**
Judson Wheeler Van De Venter lahir pada tahun 1855 di Dundee, Michigan, Amerika Serikat. Ia adalah seorang pria yang diberkahi dengan berbagai talenta. Ia memiliki pendidikan tinggi dan awalnya bekerja sebagai guru seni di sebuah perguruan tinggi. Van De Venter juga seorang seniman yang berbakat, dan ia sangat mencintai pekerjaannya serta menikmati kehidupan yang nyaman dan terpandang di komunitasnya. Ia dikenal sebagai seorang Kristen yang saleh, namun ada sesuatu yang terus-menerus mengusik jiwanya.
Di masa itu, gerakan kebangunan rohani (revival) sangat marak di Amerika, dan Van De Venter sering terlibat dalam pertemuan-pertemuan evangelis. Selama bertahun-tahun, ia merasakan panggilan yang kuat dari Tuhan untuk meninggalkan kariernya yang nyaman dan mengabdikan dirinya sepenuhnya sebagai seorang penginjil atau evangelis purna waktu.
**Pergumulan Batin yang Hebat:**
Panggilan ini menimbulkan pergumulan batin yang hebat dalam diri Van De Venter. Di satu sisi, ia memiliki passion untuk seni dan merasa betah dengan kehidupan yang stabil dan terhormat. Meninggalkan semua itu untuk menjadi penginjil purna waktu berarti menghadapi ketidakpastian finansial, kritik dari beberapa pihak, dan pengorbanan yang besar. Ia berjuang dengan keraguan, kekhawatiran tentang masa depan, dan godaan untuk tetap berada di zona nyamannya.
Ia mencoba menegosiasikan dengan Tuhan, ingin menahan sebagian dari dirinya, sebagian dari ambisinya, sebagian dari keinginannya. Ia mungkin berpikir, "Aku akan melayani Tuhan, tetapi aku juga ingin menjaga sebagian dari hidupku untuk diriku sendiri." Namun, setiap kali ia mencoba menahan sesuatu, ia merasakan kegelisahan yang mendalam. Ia merasa tidak sepenuhnya damai.
**Momen Penyerahan Total:**
Pergumulan ini mencapai puncaknya pada suatu malam di tahun 1896. Judson Van De Venter berada di rumahnya setelah menghadiri sebuah kebaktian kebangunan rohani yang intens, atau mungkin di tengah-tengah salah satu pertemuan tersebut. Di tengah kesunyian atau mungkin di antara keramaian, ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menunda atau menahan diri. Ia harus membuat keputusan final: menyerahkan *semuanya* kepada Yesus, tanpa syarat.
Dalam momen pencerahan rohani itu, ia merasakan damai sejahtera yang luar biasa saat ia benar-benar melepaskan genggamannya dari semua yang ia pegang – karier, ambisi pribadi, kenyamanan, bahkan ketakutan akan masa depan. Ia menyerahkan *seluruh* hidupnya kepada Kristus.
Saat momen penyerahan diri itu terjadi, kata-kata yang kini kita kenal sebagai lirik "All To Jesus I Surrender" mulai mengalir dari hatinya. Ia segera mengambil pena dan kertas dan menuliskan baris-baris tersebut:
* *All to Jesus I surrender,* (Kepada Yesus ku berserah)
* *All to Him I freely give;* (Kepada-Nya semua ku beri)
* *I will ever love and trust Him,* (Ku kan s’lalu kasih dan percaya)
* *In His presence daily live.* (Dalam hadirat-Nya ku hidup)
Setiap bait mencerminkan perjalanannya, dari pengakuan keinginan untuk berserah, janji untuk melayani, hingga penemuan damai sejahtera dan sukacita dalam penyerahan diri. Kata "All" (semua) diulang-ulang, menekankan bahwa penyerahan yang ia alami dan tuliskan adalah penyerahan total, tanpa reservasi.
Setelah momen penulisan itu, Judson Van De Venter benar-benar meninggalkan karier seninya dan mengabdikan sisa hidupnya sebagai penginjil purna waktu. Ia melakukan perjalanan ekstensif, memimpin berbagai pertemuan kebangunan rohani di seluruh Amerika dan juga di Inggris, membawa banyak orang kepada Kristus.
---
### Winfield Scott Weeden: Melodi yang Mengangkat Lirik (1901)
**Latar Belakang dan Kolaborasi:**
Winfield Scott Weeden (lahir 1847) adalah seorang komposer, guru musik, dan penerbit himne yang produktif pada masanya. Ia dikenal karena kemampuannya menciptakan melodi yang sederhana, indah, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat, yang sangat cocok untuk pertemuan-pertemuan kebangunan rohani.
Ketika lirik "All To Jesus I Surrender" oleh Judson Van De Venter mulai dikenal luas dalam lingkup pertemuan-pertemuan Kristen, Weeden tergerak oleh kekuatan pesannya. Pada tahun 1901, Weeden menciptakan melodi yang kini kita kenal untuk lirik-lirik tersebut.
Melodi yang diciptakan Weeden adalah perpaduan sempurna dengan lirik Van De Venter. Musiknya yang tenang namun penuh semangat, sederhana namun kuat, sangat mendukung pesan penyerahan diri yang tulus. Paduan melodi dan lirik ini menciptakan sebuah himne yang sangat kuat dan menyentuh jiwa.
**Publikasi dan Penyebaran:**
Lagu ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1896 (lirik) dan dengan melodi Weeden pada tahun 1901 dalam sebuah buku lagu berjudul "Songs of the Coming King" yang diterbitkan oleh Weeden sendiri. Sejak saat itu, "All To Jesus I Surrender" segera menyebar luas. Himne ini ditemukan di hampir setiap buku nyanyian gereja dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia.
---
### Warisan dan Dampak Lagu
Kisah di balik "All To Jesus I Surrender" adalah pengingat bahwa penyerahan diri total kepada Yesus bukanlah suatu kelemahan, melainkan sumber kekuatan, damai sejahtera, dan sukacita sejati. Lagu ini terus menginspirasi jutaan orang untuk merenungkan kehidupan mereka sendiri dan menjawab panggilan Tuhan untuk penyerahan diri yang tak bersyarat.
Dari pergumulan pribadi seorang seniman dan guru yang berbakat, lahir sebuah himne abadi yang terus menggema di hati orang-orang percaya, mendorong mereka untuk menyerahkan "semuanya" kepada Yesus.
Cross Reference
KP 54, KJ 364, KK 449, NKI 185, NP 230, BN 456
Ya Tuhan Kau Milikku
BN
Berserah Kepada Yesus
KJ
Berserah Kepada Yesus
KK
Duh Hyang Yesus Titiang Sukserah
KP
Aku Berserah
NKI
Kuserahkan pada Tuhan
NP
Sama Tema
Puji-Pujian Dohot Panombaon Tu Debata
Ringgas Ma Ho Tondingku
BE
Naeng Pujionku Ho Jahowa
BE
Puji Jahowa Ale Tondingku
BE
Sai Puji Debata
BE
Sai Tapuji Ma Jahowa
BE
Puji Jahowa Na Sangap
BE
Puji Hamu Ma Asi Ni Roha
BE
Jahowa, Jahowa
BE
Hupuji Holong Ni
BE
Hupuji Hupasangap Ho
BE
Aha Ma Endehononku
BE
Dipuji Rohangkon Do Ho
BE
Nda Tama Endehononku
BE
Puji Hamu Jahowa Tutu
BE
Aut Na Saribu Hali Ganda
BE
Tapuji Ma Tuhanta
BE
Raja Na Tumimbul
BE
Marolopolop Tondingki
BE
Ai Adong Do Tuhanku
BE
Tung Na Muba Rohangku
BE
Beta Sai Taendehon Ma
BE
Las Ni Rohangkon
BE
Sai Puji Ma Tuhanta
BE
Di Au Tuhan Jesus
BE
Najolo Tung Na Loja
BE
Dung Tuhan Jesus
BE
Bona Ni Ngolungku
BE
Sai Ingoton Ni Rohangku
BE
Ho Ma Di Au
BE
Ho Mual Hangoluan I
BE
O Tuhan Jesus Ho Do
BE
Sai Solhot Tu Silangmi
BE
Tung Na Tarapul Do
BE
O Tuhanki Di Goarmi
BE
Na Ro Pandaoni Bolon
BE
Sada Goar Na Umuli
BE
O Tuhan Jesus Holong
BE
Tung Na Ringkot
BE
Bagas Ni Haholongan
BE
Barita Na Umuli
BE
Sonang Do Langkangku
BE
Ala Ni Tuhan Jesus
BE