BE
Puji Jahowa Na Sangap
Informasi Lagu
6
Nomor
Kode
BE 6
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
BL 56, KJ 10 , NR 10 , KC 12 , BN 6, KPJ 23
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Puji Jahowa na sangap huhut marmulia
Hamu sude na parroha na ringgas na ria
Marpungu be, marolopolop sude, hamu sude manisia
Puji Jahowa Sigomgom sude parluhutan
Na manogihon ho songon niiring ni tangan
Dohot hosam, songon hombar tu roham sai diramoti Ibana
Puji Jahowa naung tipak manompa dagingmu
Jala na tongtong manumpak hisar pamatangmu Jotjot do ro
pangurupiNa tu ho, uju na ro hagogotan
Puji Jahowa situmpak sude ulaonmu
Ai ditumpakhon tu ho tongtong hangoluanmu
Ingot ma i, denggan basaNa do i, tomutomuNa sambing do
Puji Jahowa tondingku pasangap goarNa
Dohot sude na marhosa mamuji Ibana
I do ture baenon ni hita sude, sai taendehon ma amen.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
"Pujilah Tuhan, Sang Raja" (as known in Indonesian hymnody) atau aslinya "Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren" adalah salah satu lagu pujian Kristen yang paling agung dan abadi. Kisah di balik lagu ini melibatkan seorang penyair saleh yang hidup dalam periode pergolakan spiritual, sebuah melodi kuno yang megah, dan penyebaran luas melalui gerakan kebangunan rohani. Mari kita selami lebih dalam kisah detailnya.
---
### I. Sang Penulis Lirik: Joachim Neander (1650-1680)
Kisah ini dimulai dengan seorang tokoh bernama **Joachim Neander**. Nama ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang akrab dengan sejarah geologi dan evolusi, nama "Neanderthal" akan berdering. Ya, Lembah Neander (Neandertal) di Jerman, tempat fosil Homo neanderthalensis ditemukan, dinamai dari lembah sungai tempat Joachim Neander sering menghabiskan waktu dalam kontemplasi dan penulisan kidung.
1. **Masa Muda yang Bergelora:** Joachim Neander lahir pada tahun 1650 di Bremen, Jerman. Masa mudanya ditandai dengan semangat pemberontakan dan ketidakpedulian terhadap agama. Ia dikenal sebagai seorang pemuda yang liar, sering berpesta dan tidak menunjukkan minat pada ajaran gereja.
2. **Titik Balik Spiritual:** Kehidupan Neander berubah drastis setelah ia menghadiri khotbah seorang pengkhotbah Pietis terkemuka, Theodor Undereyk. Awalnya, ia pergi ke gereja hanya untuk mengolok-olok. Namun, khotbah Undereyk begitu mengena di hatinya, memimpinnya pada pertobatan yang mendalam dan pengalaman spiritual yang mengubah hidup.
3. **Jalan Menuju Pelayanan:** Setelah pertobatannya, Neander menjadi seorang siswa yang tekun dan kemudian menjadi guru privat di sebuah keluarga di Heidelberg. Pada tahun 1674, ia diangkat sebagai rektor atau kepala sekolah di Latin School of the Reformed Church di Düsseldorf.
4. **Kontroversi dan Pengungsian:** Neander adalah penganut kuat Pietisme, sebuah gerakan dalam Protestanisme yang menekankan pengalaman spiritual pribadi, kesalehan, dan studi Alkitab, seringkali berbeda dengan ortodoksi gereja yang kaku pada masa itu. Pandangannya yang Pietis dan praktiknya mengadakan pertemuan-pertemuan doa terpisah dari gereja resmi, membuatnya berselisih dengan para pemimpin gereja yang lebih ortodoks di Düsseldorf. Akibatnya, ia diberhentikan dari jabatannya pada tahun 1677.
5. **Di Lembah Neander:** Selama periode pengungsian dan pengasingannya inilah, Joachim Neander sering mengasingkan diri ke lembah sungai Düssel yang indah di dekat Düsseldorf. Di sana, di antara bebatuan dan gua-gua, ia merenung, berdoa, dan menuangkan perasaannya dalam bentuk kidung-kidung pujian. Lembah ini kemudian dinamai "Neandertal" untuk menghormatinya.
6. **Kembali dan Akhir Hidup:** Pada tahun 1679, setelah beberapa intervensi dan permohonan, Neander diizinkan kembali ke Bremen sebagai asisten pendeta. Namun, hidupnya singkat. Ia meninggal karena TBC pada tahun 1680, pada usia yang sangat muda, 30 tahun. Meskipun singkat, hidupnya sangat produktif. Ia menulis sekitar 60 kidung, menjadikannya salah satu penulis kidung Jerman yang paling penting pada abad ke-17.
### II. Lirik "Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren"
Diperkirakan Neander menulis "Lobe den Herren" sekitar tahun 1679, mungkin selama masa-masa sulitnya atau setelah ia kembali ke Bremen. Kidung ini adalah sebuah ekspresi agung dari keyakinannya akan kuasa dan pemeliharaan Tuhan, terinspirasi oleh Mazmur 103 dan 150.
**Beberapa tema utama dalam liriknya:**
* **Panggilan untuk Memuji:** Setiap bait adalah seruan untuk memuji Tuhan, mengagumi kebesaran-Nya sebagai Raja Kemuliaan.
* **Keagungan Penciptaan:** Neander mengingatkan umat percaya akan ciptaan Tuhan yang megah dan bagaimana Dia menopang segala sesuatu.
* **Pemeliharaan Ilahi:** Liriknya dengan indah menggambarkan bagaimana Tuhan seperti elang yang melindungi anak-anaknya, menopang dengan sayap-Nya, dan memberkati dengan rahmat-Nya. Ini adalah inti dari iman dan pengharapan dalam menghadapi kesulitan.
* **Penebusan dan Anugerah:** Lagu ini juga menyinggung tentang penebusan dosa dan anugerah tak terbatas yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya.
* **Kesetiaan yang Tak Berkesudahan:** Sebuah pengingat akan janji-janji Tuhan yang kekal dan kesetiaan-Nya dari generasi ke generasi.
Kidung ini adalah sebuah mahakarya dari iman yang berakar dalam Alkitab dan pengalaman pribadi akan anugerah Tuhan.
### III. Melodi: "STRALSUND" atau "Lobe den Herren" (1665)
Melodi yang kita kenal dan cintai untuk "Lobe den Herren" berasal dari sumber yang sedikit lebih tua dari liriknya. Melodi ini pertama kali diterbitkan pada tahun **1665** dalam sebuah buku himne yang dikenal sebagai **Praxis Pietatis Melica** atau **Stralsund Gesangbuch**, yang disusun oleh Johann Crüger dan diterbitkan di Stralsund.
Melodi ini adalah salah satu yang paling populer pada masanya. Karakternya yang kuat, agung, dan mudah dinyanyikan membuatnya sempurna untuk dinyanyikan oleh jemaat. Meskipun aslinya mungkin ditulis untuk lirik yang berbeda, kombinasi melodi "STRALSUND" dengan lirik puitis Neander adalah sebuah pernikahan musik dan puisi yang sempurna, menciptakan simfoni pujian yang beresonansi kuat.
### IV. Penyebaran Melalui Kitab Nyanyian Freylinghausen (1704)
Setelah kematian Neander, kidung-kidungnya, termasuk "Lobe den Herren," mulai mendapatkan pengakuan yang luas. Peran kunci dalam penyebaran ini dimainkan oleh **Johann Anastasius Freylinghausen** (1670-1739).
Freylinghausen adalah seorang teolog dan penulis kidung Pietis yang merupakan menantu dari August Hermann Francke, salah satu tokoh utama Pietisme di Halle. Pada tahun 1704, Freylinghausen menerbitkan sebuah buku himne yang sangat berpengaruh berjudul **"Geistreiches Gesangbuch"** (Kidung Rohani yang Penuh Roh).
Buku ini menjadi salah satu koleksi kidung Pietis paling penting pada masanya dan sangat membantu mempopulerkan banyak kidung yang sebelumnya kurang dikenal, termasuk karya-karya Neander. "Geistreiches Gesangbuch" memiliki banyak edisi dan menjadi buku himne rumah tangga di banyak keluarga Protestan Jerman, yang secara efektif menyebarkan "Lobe den Herren" ke seluruh Jerman dan seterusnya.
### V. Joachim Neander-Neumann: Klarifikasi Nama
Mengenai nama "Joachim Neander-Neumann" dalam pertanyaan:
Joachim Neander adalah nama aslinya. Nama "Neander" sendiri berasal dari kata Yunani "????????" (neandros) yang berarti "orang baru" atau "new man". Terkadang, dalam tradisi ilmiah atau puitis pada masa itu, nama seseorang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin atau Yunani. "Neumann" adalah terjemahan langsung dari "Neander" ke dalam bahasa Jerman (Neu = baru, Mann = orang/manusia).
Jadi, **Joachim Neander dan Joachim Neumann sebenarnya merujuk pada orang yang sama**. Penambahan "Neumann" setelah "Neander" seringkali hanya untuk memberikan klarifikasi etimologis atau sebagai variasi nama yang tidak umum. Dia paling dikenal secara historis sebagai Joachim Neander.
### VI. Warisan dan Pengaruh
"Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren" telah menjadi pilar dalam tradisi himne Kristen di seluruh dunia.
* **Penerjemahan ke Bahasa Inggris:** Kidung ini mendapatkan popularitas besar di dunia berbahasa Inggris melalui terjemahan yang indah dan kuat oleh **Catherine Winkworth** pada tahun 1863, dengan judul "Praise to the Lord, the Almighty, the King of Creation." Terjemahan Winkworth mempertahankan kekuatan puitis dan teologis dari lirik aslinya.
* **Penggunaan Lintas Denominasi:** Lagu ini ditemukan di hampir setiap buku himne Protestan, dari Lutheran hingga Reformed, Metodis, Baptis, dan banyak lagi. Kekuatan melodinya yang megah dan liriknya yang berpusat pada Tuhan membuatnya relevan dan dicintai oleh berbagai denominasi.
* **Keabadian Pesan:** Lebih dari 300 tahun setelah ditulis, pesan "Pujilah Tuhan, Sang Raja" tetap relevan. Ini adalah pengingat yang kuat akan kebesaran Tuhan, pemeliharaan-Nya yang penuh kasih, dan undangan untuk merayakan kebaikan-Nya dalam segala keadaan.
---
Singkatnya, "Pujilah Tuhan, Sang Raja" adalah sebuah simfoni iman yang lahir dari pengalaman pribadi seorang pemuda yang bergolak menjadi hamba Tuhan yang saleh (Joachim Neander), dipadukan dengan melodi kuno yang agung (dari Stralsund Gesangbuch 1665), dan disebarkan luas melalui gerakan kebangunan rohani (melalui Kitab Nyanyian Freylinghausen). Ini adalah testimoni abadi akan kuasa pujian dan pemeliharaan Tuhan yang tak berkesudahan.
---
### I. Sang Penulis Lirik: Joachim Neander (1650-1680)
Kisah ini dimulai dengan seorang tokoh bernama **Joachim Neander**. Nama ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang akrab dengan sejarah geologi dan evolusi, nama "Neanderthal" akan berdering. Ya, Lembah Neander (Neandertal) di Jerman, tempat fosil Homo neanderthalensis ditemukan, dinamai dari lembah sungai tempat Joachim Neander sering menghabiskan waktu dalam kontemplasi dan penulisan kidung.
1. **Masa Muda yang Bergelora:** Joachim Neander lahir pada tahun 1650 di Bremen, Jerman. Masa mudanya ditandai dengan semangat pemberontakan dan ketidakpedulian terhadap agama. Ia dikenal sebagai seorang pemuda yang liar, sering berpesta dan tidak menunjukkan minat pada ajaran gereja.
2. **Titik Balik Spiritual:** Kehidupan Neander berubah drastis setelah ia menghadiri khotbah seorang pengkhotbah Pietis terkemuka, Theodor Undereyk. Awalnya, ia pergi ke gereja hanya untuk mengolok-olok. Namun, khotbah Undereyk begitu mengena di hatinya, memimpinnya pada pertobatan yang mendalam dan pengalaman spiritual yang mengubah hidup.
3. **Jalan Menuju Pelayanan:** Setelah pertobatannya, Neander menjadi seorang siswa yang tekun dan kemudian menjadi guru privat di sebuah keluarga di Heidelberg. Pada tahun 1674, ia diangkat sebagai rektor atau kepala sekolah di Latin School of the Reformed Church di Düsseldorf.
4. **Kontroversi dan Pengungsian:** Neander adalah penganut kuat Pietisme, sebuah gerakan dalam Protestanisme yang menekankan pengalaman spiritual pribadi, kesalehan, dan studi Alkitab, seringkali berbeda dengan ortodoksi gereja yang kaku pada masa itu. Pandangannya yang Pietis dan praktiknya mengadakan pertemuan-pertemuan doa terpisah dari gereja resmi, membuatnya berselisih dengan para pemimpin gereja yang lebih ortodoks di Düsseldorf. Akibatnya, ia diberhentikan dari jabatannya pada tahun 1677.
5. **Di Lembah Neander:** Selama periode pengungsian dan pengasingannya inilah, Joachim Neander sering mengasingkan diri ke lembah sungai Düssel yang indah di dekat Düsseldorf. Di sana, di antara bebatuan dan gua-gua, ia merenung, berdoa, dan menuangkan perasaannya dalam bentuk kidung-kidung pujian. Lembah ini kemudian dinamai "Neandertal" untuk menghormatinya.
6. **Kembali dan Akhir Hidup:** Pada tahun 1679, setelah beberapa intervensi dan permohonan, Neander diizinkan kembali ke Bremen sebagai asisten pendeta. Namun, hidupnya singkat. Ia meninggal karena TBC pada tahun 1680, pada usia yang sangat muda, 30 tahun. Meskipun singkat, hidupnya sangat produktif. Ia menulis sekitar 60 kidung, menjadikannya salah satu penulis kidung Jerman yang paling penting pada abad ke-17.
### II. Lirik "Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren"
Diperkirakan Neander menulis "Lobe den Herren" sekitar tahun 1679, mungkin selama masa-masa sulitnya atau setelah ia kembali ke Bremen. Kidung ini adalah sebuah ekspresi agung dari keyakinannya akan kuasa dan pemeliharaan Tuhan, terinspirasi oleh Mazmur 103 dan 150.
**Beberapa tema utama dalam liriknya:**
* **Panggilan untuk Memuji:** Setiap bait adalah seruan untuk memuji Tuhan, mengagumi kebesaran-Nya sebagai Raja Kemuliaan.
* **Keagungan Penciptaan:** Neander mengingatkan umat percaya akan ciptaan Tuhan yang megah dan bagaimana Dia menopang segala sesuatu.
* **Pemeliharaan Ilahi:** Liriknya dengan indah menggambarkan bagaimana Tuhan seperti elang yang melindungi anak-anaknya, menopang dengan sayap-Nya, dan memberkati dengan rahmat-Nya. Ini adalah inti dari iman dan pengharapan dalam menghadapi kesulitan.
* **Penebusan dan Anugerah:** Lagu ini juga menyinggung tentang penebusan dosa dan anugerah tak terbatas yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya.
* **Kesetiaan yang Tak Berkesudahan:** Sebuah pengingat akan janji-janji Tuhan yang kekal dan kesetiaan-Nya dari generasi ke generasi.
Kidung ini adalah sebuah mahakarya dari iman yang berakar dalam Alkitab dan pengalaman pribadi akan anugerah Tuhan.
### III. Melodi: "STRALSUND" atau "Lobe den Herren" (1665)
Melodi yang kita kenal dan cintai untuk "Lobe den Herren" berasal dari sumber yang sedikit lebih tua dari liriknya. Melodi ini pertama kali diterbitkan pada tahun **1665** dalam sebuah buku himne yang dikenal sebagai **Praxis Pietatis Melica** atau **Stralsund Gesangbuch**, yang disusun oleh Johann Crüger dan diterbitkan di Stralsund.
Melodi ini adalah salah satu yang paling populer pada masanya. Karakternya yang kuat, agung, dan mudah dinyanyikan membuatnya sempurna untuk dinyanyikan oleh jemaat. Meskipun aslinya mungkin ditulis untuk lirik yang berbeda, kombinasi melodi "STRALSUND" dengan lirik puitis Neander adalah sebuah pernikahan musik dan puisi yang sempurna, menciptakan simfoni pujian yang beresonansi kuat.
### IV. Penyebaran Melalui Kitab Nyanyian Freylinghausen (1704)
Setelah kematian Neander, kidung-kidungnya, termasuk "Lobe den Herren," mulai mendapatkan pengakuan yang luas. Peran kunci dalam penyebaran ini dimainkan oleh **Johann Anastasius Freylinghausen** (1670-1739).
Freylinghausen adalah seorang teolog dan penulis kidung Pietis yang merupakan menantu dari August Hermann Francke, salah satu tokoh utama Pietisme di Halle. Pada tahun 1704, Freylinghausen menerbitkan sebuah buku himne yang sangat berpengaruh berjudul **"Geistreiches Gesangbuch"** (Kidung Rohani yang Penuh Roh).
Buku ini menjadi salah satu koleksi kidung Pietis paling penting pada masanya dan sangat membantu mempopulerkan banyak kidung yang sebelumnya kurang dikenal, termasuk karya-karya Neander. "Geistreiches Gesangbuch" memiliki banyak edisi dan menjadi buku himne rumah tangga di banyak keluarga Protestan Jerman, yang secara efektif menyebarkan "Lobe den Herren" ke seluruh Jerman dan seterusnya.
### V. Joachim Neander-Neumann: Klarifikasi Nama
Mengenai nama "Joachim Neander-Neumann" dalam pertanyaan:
Joachim Neander adalah nama aslinya. Nama "Neander" sendiri berasal dari kata Yunani "????????" (neandros) yang berarti "orang baru" atau "new man". Terkadang, dalam tradisi ilmiah atau puitis pada masa itu, nama seseorang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin atau Yunani. "Neumann" adalah terjemahan langsung dari "Neander" ke dalam bahasa Jerman (Neu = baru, Mann = orang/manusia).
Jadi, **Joachim Neander dan Joachim Neumann sebenarnya merujuk pada orang yang sama**. Penambahan "Neumann" setelah "Neander" seringkali hanya untuk memberikan klarifikasi etimologis atau sebagai variasi nama yang tidak umum. Dia paling dikenal secara historis sebagai Joachim Neander.
### VI. Warisan dan Pengaruh
"Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren" telah menjadi pilar dalam tradisi himne Kristen di seluruh dunia.
* **Penerjemahan ke Bahasa Inggris:** Kidung ini mendapatkan popularitas besar di dunia berbahasa Inggris melalui terjemahan yang indah dan kuat oleh **Catherine Winkworth** pada tahun 1863, dengan judul "Praise to the Lord, the Almighty, the King of Creation." Terjemahan Winkworth mempertahankan kekuatan puitis dan teologis dari lirik aslinya.
* **Penggunaan Lintas Denominasi:** Lagu ini ditemukan di hampir setiap buku himne Protestan, dari Lutheran hingga Reformed, Metodis, Baptis, dan banyak lagi. Kekuatan melodinya yang megah dan liriknya yang berpusat pada Tuhan membuatnya relevan dan dicintai oleh berbagai denominasi.
* **Keabadian Pesan:** Lebih dari 300 tahun setelah ditulis, pesan "Pujilah Tuhan, Sang Raja" tetap relevan. Ini adalah pengingat yang kuat akan kebesaran Tuhan, pemeliharaan-Nya yang penuh kasih, dan undangan untuk merayakan kebaikan-Nya dalam segala keadaan.
---
Singkatnya, "Pujilah Tuhan, Sang Raja" adalah sebuah simfoni iman yang lahir dari pengalaman pribadi seorang pemuda yang bergolak menjadi hamba Tuhan yang saleh (Joachim Neander), dipadukan dengan melodi kuno yang agung (dari Stralsund Gesangbuch 1665), dan disebarkan luas melalui gerakan kebangunan rohani (melalui Kitab Nyanyian Freylinghausen). Ini adalah testimoni abadi akan kuasa pujian dan pemeliharaan Tuhan yang tak berkesudahan.
Cross Reference
BL 56, KJ 10 , NR 10 , KC 12 , BN 6, KPJ 23
Pujilah Tuhan Sang Raja Mulia
BN
Pujilah Tuhan, Sang Raja
KC
Pujilah Tuhan, Sang Raja
KJ
Puji Mring Allah
KPJ
Pujilah Tuhanmu, Raja yang mahamulia
NR
Sama Tema
Puji-Pujian Dohot Panombaon Tu Debata
Ringgas Ma Ho Tondingku
BE
Naeng Pujionku Ho Jahowa
BE
Puji Jahowa Ale Tondingku
BE
Sai Puji Debata
BE
Sai Tapuji Ma Jahowa
BE
Puji Hamu Ma Asi Ni Roha
BE
Jahowa, Jahowa
BE
Hupuji Holong Ni
BE
Hupuji Hupasangap Ho
BE
Aha Ma Endehononku
BE
Dipuji Rohangkon Do Ho
BE
Nda Tama Endehononku
BE
Puji Hamu Jahowa Tutu
BE
Aut Na Saribu Hali Ganda
BE
Tapuji Ma Tuhanta
BE
Raja Na Tumimbul
BE
Marolopolop Tondingki
BE
Ai Adong Do Tuhanku
BE
Tung Na Muba Rohangku
BE
Beta Sai Taendehon Ma
BE
Las Ni Rohangkon
BE
Sai Puji Ma Tuhanta
BE
Di Au Tuhan Jesus
BE
Najolo Tung Na Loja
BE
Dung Tuhan Jesus
BE
Bona Ni Ngolungku
BE
Sai Ingoton Ni Rohangku
BE
Ho Ma Di Au
BE
Ho Mual Hangoluan I
BE
O Tuhan Jesus Ho Do
BE
Sai Solhot Tu Silangmi
BE
Tung Na Tarapul Do
BE
O Tuhanki Di Goarmi
BE
Na Ro Pandaoni Bolon
BE
Sada Goar Na Umuli
BE
O Tuhan Jesus Holong
BE
Tung Na Ringkot
BE
O Tuhanku, Ho Jambarhu
BE
Bagas Ni Haholongan
BE
Barita Na Umuli
BE
Sonang Do Langkangku
BE
Ala Ni Tuhan Jesus
BE