Informasi Lagu
656
Nomor
Bes = do
Nada Dasar
Kode
BE 656
Buku
Buku Ende
Nada Dasar
Bes = do
Ketukan
4 ketuk ketuk
Metronom
109
Jumlah Bait
3 bait
Style
WestCoastPop
Pencipta Lagu
Ellacombe Gesangbuch der Herzogl, Winternberg, (1784)
Pencipta Syair
Hendrik Hasper (1935)
Penerjemah
Pdt. M.H. Sihihte/Pdt. J.A.U Doloksaribu, M.Min
Cross Ref.
NR 189, KJ 249, KK 600, BN 656, KPJ 352, KPKA 155
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Parhahamaranggion i, lam hot jala togu, Singhop ma hasadaon i, di Jesus i burju, Rap sauduran hita be marholong na tutu, Mardame, marlas roha ma di Jesus i tutu.
Togu ma hasadaon i; di ojahanna i, Sada haporseaon i, di Tuhan Jesus i. Ai sada pandidion i ai sada Ama i, Sada ma hita Kristen i manomba Tuhan i.
Ai disagihon do ganup asi-asiNa i, Asa ringgas huhut burju, di ulaonna i, Sai lam serep ma rohamu hombar tu Hata i, Parholong roha ma hamu maniru Tuhan i.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — BE 656 1
Slide 2 — BE 656 2
Slide 3 — BE 656 3
Partitur / Not
Partitur Chord BE 656
Sejarah Lagu
Kisah detail di balik lagu "Serikat Persaudaraan" atau dalam judul aslinya dalam bahasa Belanda, "Bewaart Op Aard Den Broederband." Lagu ini memiliki sejarah yang kaya dan multi-lapisan, melibatkan asal-usul melodi dari Jerman, lirik dari Belanda, dan kemudian adaptasinya yang mendalam di Indonesia.

---

### **Judul Lagu:**
* **Indonesia:** Serikat Persaudaraan (Kidung Jemaat 427)
* **Belanda:** Bewaart Op Aard Den Broederband
* **Melodi:** Ellacombe Gesangbuch der Herzogl, Winternberg (atau lebih tepatnya, berasal dari koleksi lagu rohani Jerman yang kemudian dikenal sebagai tune "Ellacombe")
* **Lirik:** Hendrik Hasper

---

### **Lapisan Pertama: Asal-usul Melodi "Ellacombe" (Jerman, Abad ke-17)**

Kisah melodi "Serikat Persaudaraan" membawa kita kembali ke Jerman pada awal abad ke-17. Melodi ini, yang kini dikenal dengan nama "Ellacombe," pertama kali muncul dalam sebuah buku nyanyian rohani Protestan Jerman. Sumber yang paling sering dirujuk adalah **"Ein Schön Geistlich Gesangbuch"** yang diterbitkan pada tahun 1609 oleh komponis **Melchior Vulpius** (ca. 1570-1615), yang adalah seorang musisi dan komposer ternama di Weimar.

Melodi ini awalnya digunakan untuk sebuah himne Jerman berjudul **"Ach Herr, du allerhöchster Gott"** (Ya Tuhan, Engkau Allah Yang Mahatinggi). Gaya musik pada masa itu adalah koral atau lagu jemaat yang kokoh, agung, dan mudah dinyanyikan bersama. Melodi "Ellacombe" memiliki karakteristik ini: sederhana namun kuat, dengan ritme yang jelas dan kesan yang mulia.

Nama "Ellacombe" sendiri bukan berasal dari Jerman, melainkan dari Inggris pada abad ke-19. Melodi ini dibawa dan dipopulerkan di Inggris oleh **Pendeta Henry John Ellacombe (1805-1890)**, seorang vikaris di Bitton, Gloucestershire, yang sangat antusias mengumpulkan dan mempublikasikan lagu-lagu jemaat. Ia memasukkan melodi ini ke dalam buku himnenya sendiri, **"The Psalter and Hymn Book" (1833)**, dan sejak saat itu melodi ini dikenal dengan nama "Ellacombe."

Jadi, inti dari melodi ini adalah:
* **Asal:** Jerman, awal abad ke-17.
* **Komponis Awal:** Melchior Vulpius (atau setidaknya koleksinya).
* **Nama Modern:** "Ellacombe," diberikan di Inggris pada abad ke-19.
* **Karakteristik:** Melodi koral Protestan yang kokoh, agung, dan mudah diadaptasi.

### **Lapisan Kedua: Lirik "Bewaart Op Aard Den Broederband" oleh Hendrik Hasper (Belanda, Awal Abad ke-20)**

Sekitar tiga abad setelah melodi ini lahir di Jerman, sebuah lirik baru yang sangat kuat dan relevan lahir di Belanda, yang akan bersatu dengan melodi "Ellacombe" dan menciptakan lagu yang kita kenal sekarang. Lirik ini ditulis oleh **Hendrik Hasper (1886-1974)**, seorang tokoh penting dalam Kekristenan Protestan Belanda.

Hendrik Hasper adalah seorang pendeta, teolog, dan juga seorang intelektual yang sangat peduli dengan isu-isu sosial pada zamannya. Ia dikenal karena usahanya untuk memodernisasi liturgi gereja dan menyelaraskan teologi dengan tantangan-tantangan sosial abad ke-20. Pada awal abad ke-20, Eropa, termasuk Belanda, sedang mengalami pergolakan sosial yang besar: munculnya gerakan buruh, kesenjangan ekonomi yang tajam, dan dua perang dunia yang mengancam persatuan.

Dalam konteks inilah Hasper menulis lirik "Bewaart Op Aard Den Broederband" (yang berarti "Peliharalah di Bumi Ikatan Persaudaraan"). Ia ingin sebuah lagu jemaat yang tidak hanya berbicara tentang iman pribadi, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan etika Kristen dalam masyarakat. Lirik ini adalah seruan yang kuat untuk:
1. **Persatuan dan Solidaritas:** Mengingatkan umat Kristen tentang pentingnya memelihara ikatan persaudaraan, bukan hanya secara rohani tetapi juga dalam tindakan nyata di dunia.
2. **Cinta Kasih Kristiani:** Menekankan bahwa persaudaraan sejati berakar pada kasih Kristus yang mengikat semua orang percaya.
3. **Tindakan Nyata:** Bukan hanya sekadar perasaan, tetapi sebuah panggilan untuk saling menopang, menghibur, dan membantu dalam kesulitan.
4. **Mewujudkan Kerajaan Allah di Bumi:** Dengan mempraktikkan kasih dan persatuan, umat Kristen turut serta mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di dunia.

Lirik Hasper sangat cocok dengan melodi "Ellacombe" yang kokoh dan agung. Harmoni antara lirik yang penuh makna sosial-rohani dan melodi yang kuat menciptakan sebuah himne yang beresonansi mendalam dengan jemaat dan menjadi sangat populer di gereja-gereja Protestan Belanda.

### **Lapisan Ketiga: Adaptasi di Indonesia sebagai "Serikat Persaudaraan" (Kidung Jemaat 427)**

Gelombang Kekristenan Protestan di Indonesia banyak dipengaruhi oleh misi-misi dari Belanda. Seiring dengan masuknya para misionaris dan pendirian gereja-gereja di Nusantara, lagu-lagu rohani Belanda pun turut dibawa dan diajarkan. "Bewaart Op Aard Den Broederband" adalah salah satu lagu yang menemukan tempatnya di hati jemaat Indonesia.

Ketika kebutuhan akan buku nyanyian rohani berbahasa Indonesia yang terstandardisasi muncul, lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimasukkan ke dalam **Kidung Jemaat (KJ)**. Kidung Jemaat adalah buku nyanyian gerejawi yang digunakan secara luas oleh berbagai denominasi gereja Protestan di Indonesia, diterbitkan oleh Yayasan Musik Gereja (YAMUGER).

Lagu ini diberi nomor **KJ 427** dengan judul **"Serikat Persaudaraan."** Proses penerjemahan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mempertahankan makna dan semangat asli dari lirik Hendrik Hasper, sekaligus membuatnya mudah dipahami dan dinyanyikan oleh jemaat berbahasa Indonesia.

Di Indonesia, "Serikat Persaudaraan" menjadi salah satu lagu yang paling dicintai dan sering dinyanyikan. Maknanya sangat relevan dengan konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, di mana persatuan, solidaritas, dan kasih persaudaraan adalah nilai-nilai fundamental. Lagu ini tidak hanya dinyanyikan dalam ibadah minggu, tetapi juga dalam berbagai pertemuan gerejawi, kebaktian pemuda, bahkan acara-acara persekutuan lintas denominasi. Ia menjadi simbol dari kerinduan akan persatuan Kristiani dan ajakan untuk hidup dalam kasih dan dukungan satu sama lain.

### **Kesimpulan**

"Serikat Persaudaraan / Bewaart Op Aard Den Broederband" adalah sebuah mahakarya yang menunjukkan bagaimana musik dan kata-kata dapat melintasi batas waktu, geografi, dan budaya. Sebuah melodi dari Jerman abad ke-17, yang dihidupkan kembali di Inggris, bertemu dengan lirik sosial-rohani dari Belanda abad ke-20, dan akhirnya menemukan rumah spiritual yang mendalam di Indonesia. Kisahnya adalah tentang persatuan: persatuan melodi dan lirik, serta persatuan umat manusia di bawah panji kasih dan persaudaraan. Lagu ini terus menginspirasi jutaan orang untuk memelihara ikatan persaudaraan di bumi ini, sesuai dengan panggilan Kristus.