BN
Bernyanyilah Merdu
Marende Ma Hamu
Informasi Lagu
50
Nomor
Kode
BN 50
Buku
Buku Nyanyian HKBP
Metronom
0
Jumlah Bait
4 bait
Cross Ref.
BL 119, PS 461a, MK 49, KK 163, KJ 106, BE 50
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Bernyanyilah merdu, ucapkanlah syukur
Kesayangan kita, Sang Bayi yang kudus
T’lah lahir di dunia, menjadi Penebus
Yesus Tuhanku, Yesus Tuhanku
O Anak yang kudus, hamba-Mu bertelut
Hiburlah hatiku, di jalan hidupku
Dan raihlah jiwaku, dekat kepada-Mu
Raih jiwaku, raih jiwaku
Ya Tuhan Allahku, Kau b’rikan anak-Mu
Untuk menghapuskan dosa manusia
Serta menyediakan bahagia yang baka
Aku bahagia, aku bahagia
Di Surga yang baka, damai dan bahagia
Bersama Malaikat dan orang beriman
Bernyanyi dan bersorak, memuji nama-Nya
S’lama-lamanya, s’lama-lamanya
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"In Dulci Jubilo"** (dalam bahasa Inggris dikenal sebagai *"Good Christian Men, Rejoice"* atau dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Bernyanyilah Merdu"*) adalah salah satu lagu Natal tertua dan paling dicintai dalam tradisi Kristen.
Kisah di balik lagu ini sangat menarik karena melibatkan mistisisme abad pertengahan, mukjizat yang diyakini, dan evolusi bahasa dari abad ke-14. Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Asal-Usul: Pengalaman Mistis (1328)
Lagu ini berakar pada abad ke-14 di Jerman. Penulisnya adalah **Heinrich Seuse (atau Henry Suso)**, seorang mistikus Dominikan Jerman yang hidup pada tahun 1295–1366.
Menurut legenda, Henry Suso mengalami penglihatan ilahi. Ia mengisahkan bahwa suatu hari ia mendengar para malaikat bernyanyi dan menari di sekelilingnya. Mereka mengundangnya untuk ikut bernyanyi dan menari bersama mereka. Dalam pengalaman mistis tersebut, ia kemudian menuliskan lirik lagu *In Dulci Jubilo* (yang berarti *"Dalam Sukacita yang Manis"*).
### 2. Sifat Lagu: Makaronik (Campuran Bahasa)
Keunikan utama dari lagu aslinya adalah sifat **"Makaronik"**. Lagu ini menggabungkan dua bahasa sekaligus dalam satu bait, yaitu **Bahasa Latin** dan **Bahasa Jerman**.
Pada abad pertengahan, bahasa Latin adalah bahasa Gereja dan kaum terpelajar, sementara bahasa Jerman adalah bahasa rakyat (bahasa ibu). Dengan mencampurkan keduanya, lagu ini menjadi sarana untuk menyampaikan teologi yang mendalam namun tetap bisa dinyanyikan dan dipahami oleh masyarakat awam.
Contoh bait pertamanya:
> *In dulci jubilo* (Dalam sukacita yang manis)
> *Nun singet und seid froh!* (Sekarang bernyanyilah dan bersukacitalah!)
### 3. Makna Teologis
Secara isi, lagu ini adalah ekspresi sukacita yang luar biasa atas kelahiran Kristus. Lagu ini merayakan inkarnasi—bahwa Tuhan yang mahabesar menjadi bayi kecil yang tidak berdaya. Bagian yang paling menyentuh adalah ketika lagu itu menyebut bayi Yesus sebagai *"Alpha es et O"* (Engkaulah Alfa dan Omega), yang merujuk pada ayat Alkitab dalam Wahyu, menunjukkan bahwa bayi di palungan itu adalah sang Pencipta alam semesta.
### 4. Transformasi Menjadi "Good Christian Men, Rejoice"
Selama berabad-abad, lagu ini terus dinyanyikan di Jerman dan Eropa. Namun, versi yang kita kenal sekarang dalam bahasa Inggris, *Good Christian Men, Rejoice*, baru ditulis jauh kemudian, yakni pada tahun **1853** oleh seorang teolog dan penulis himne Inggris bernama **John Mason Neale**.
Neale tidak menerjemahkan lagu tersebut kata demi kata dari versi Latin-Jerman, melainkan mengadaptasi semangat dan melodinya untuk jemaat gereja Inggris. Ia menulis lirik baru yang lebih berfokus pada dorongan bagi umat Kristen untuk bersukacita karena keselamatan telah datang melalui Yesus.
### 5. Pengaruh dalam Sejarah Musik
* **Melodi:** Melodi lagu ini dianggap sebagai salah satu melodi terindah sepanjang sejarah musik Natal. Keindahannya membuat banyak komposer besar terinspirasi.
* **Komposer Klasik:** Johann Sebastian Bach menggunakan melodi ini dalam beberapa karya organ dan kantatanya. Franz Liszt juga menulis aransemen piano yang sangat indah berdasarkan melodi ini.
* **Mike Oldfield:** Pada tahun 1975, musisi Mike Oldfield membuat versi instrumental rock dari lagu ini yang menjadi sangat populer di Inggris, membuktikan bahwa melodi abad ke-14 ini tetap relevan hingga era modern.
### Mengapa lagu ini begitu istimewa?
Lagu ini melintasi batas waktu. Dari pengalaman mistis seorang biarawan di Jerman tahun 1328, hingga dinyanyikan di gereja-gereja modern di seluruh dunia saat ini. *In Dulci Jubilo* adalah pengingat bahwa Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan undangan untuk ikut serta dalam "tarian" sukacita surgawi, sebagaimana yang dirasakan oleh Henry Suso 700 tahun yang lalu.
Dalam versi bahasa Indonesia (*Bernyanyilah Merdu*), lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang riang dan penuh semangat, mencerminkan kegembiraan mendalam yang menjadi inti dari pesan kelahiran Yesus.
Kisah di balik lagu ini sangat menarik karena melibatkan mistisisme abad pertengahan, mukjizat yang diyakini, dan evolusi bahasa dari abad ke-14. Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Asal-Usul: Pengalaman Mistis (1328)
Lagu ini berakar pada abad ke-14 di Jerman. Penulisnya adalah **Heinrich Seuse (atau Henry Suso)**, seorang mistikus Dominikan Jerman yang hidup pada tahun 1295–1366.
Menurut legenda, Henry Suso mengalami penglihatan ilahi. Ia mengisahkan bahwa suatu hari ia mendengar para malaikat bernyanyi dan menari di sekelilingnya. Mereka mengundangnya untuk ikut bernyanyi dan menari bersama mereka. Dalam pengalaman mistis tersebut, ia kemudian menuliskan lirik lagu *In Dulci Jubilo* (yang berarti *"Dalam Sukacita yang Manis"*).
### 2. Sifat Lagu: Makaronik (Campuran Bahasa)
Keunikan utama dari lagu aslinya adalah sifat **"Makaronik"**. Lagu ini menggabungkan dua bahasa sekaligus dalam satu bait, yaitu **Bahasa Latin** dan **Bahasa Jerman**.
Pada abad pertengahan, bahasa Latin adalah bahasa Gereja dan kaum terpelajar, sementara bahasa Jerman adalah bahasa rakyat (bahasa ibu). Dengan mencampurkan keduanya, lagu ini menjadi sarana untuk menyampaikan teologi yang mendalam namun tetap bisa dinyanyikan dan dipahami oleh masyarakat awam.
Contoh bait pertamanya:
> *In dulci jubilo* (Dalam sukacita yang manis)
> *Nun singet und seid froh!* (Sekarang bernyanyilah dan bersukacitalah!)
### 3. Makna Teologis
Secara isi, lagu ini adalah ekspresi sukacita yang luar biasa atas kelahiran Kristus. Lagu ini merayakan inkarnasi—bahwa Tuhan yang mahabesar menjadi bayi kecil yang tidak berdaya. Bagian yang paling menyentuh adalah ketika lagu itu menyebut bayi Yesus sebagai *"Alpha es et O"* (Engkaulah Alfa dan Omega), yang merujuk pada ayat Alkitab dalam Wahyu, menunjukkan bahwa bayi di palungan itu adalah sang Pencipta alam semesta.
### 4. Transformasi Menjadi "Good Christian Men, Rejoice"
Selama berabad-abad, lagu ini terus dinyanyikan di Jerman dan Eropa. Namun, versi yang kita kenal sekarang dalam bahasa Inggris, *Good Christian Men, Rejoice*, baru ditulis jauh kemudian, yakni pada tahun **1853** oleh seorang teolog dan penulis himne Inggris bernama **John Mason Neale**.
Neale tidak menerjemahkan lagu tersebut kata demi kata dari versi Latin-Jerman, melainkan mengadaptasi semangat dan melodinya untuk jemaat gereja Inggris. Ia menulis lirik baru yang lebih berfokus pada dorongan bagi umat Kristen untuk bersukacita karena keselamatan telah datang melalui Yesus.
### 5. Pengaruh dalam Sejarah Musik
* **Melodi:** Melodi lagu ini dianggap sebagai salah satu melodi terindah sepanjang sejarah musik Natal. Keindahannya membuat banyak komposer besar terinspirasi.
* **Komposer Klasik:** Johann Sebastian Bach menggunakan melodi ini dalam beberapa karya organ dan kantatanya. Franz Liszt juga menulis aransemen piano yang sangat indah berdasarkan melodi ini.
* **Mike Oldfield:** Pada tahun 1975, musisi Mike Oldfield membuat versi instrumental rock dari lagu ini yang menjadi sangat populer di Inggris, membuktikan bahwa melodi abad ke-14 ini tetap relevan hingga era modern.
### Mengapa lagu ini begitu istimewa?
Lagu ini melintasi batas waktu. Dari pengalaman mistis seorang biarawan di Jerman tahun 1328, hingga dinyanyikan di gereja-gereja modern di seluruh dunia saat ini. *In Dulci Jubilo* adalah pengingat bahwa Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan undangan untuk ikut serta dalam "tarian" sukacita surgawi, sebagaimana yang dirasakan oleh Henry Suso 700 tahun yang lalu.
Dalam versi bahasa Indonesia (*Bernyanyilah Merdu*), lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang riang dan penuh semangat, mencerminkan kegembiraan mendalam yang menjadi inti dari pesan kelahiran Yesus.
Cross Reference
BL 119, PS 461a, MK 49, KK 163, KJ 106, BE 50
Marende Ma Hamu
BE
Bernyanyilah Merdu
KJ
Bernyanyilah Merdu
KK
Bernyanyilah merdu
MK
Bernyanyilah merdu
PS
Sama Tema
Natal
Jauh Dari Surga Datangku
BN
Inilah Malam Yang Terindah
BN
Hai Umat Kristen Pujilah
BN
Hai Orang Percaya
BN
Mari Kita Puji Tuhan
BN
Sungguh Bahagia
BN
Di Betlehem T'lah Lahir
BN
Malam Kudus
BN
Malam Yang Kau Kuduskan
BN
Hai Mari Berhimpun
BN
Sudah Tiba Hari Raya
BN
Tumbuhlah Tunas Baru
BN
Ya Yesus Yang T'lah Menjelma
BN
Bersorak-Sorailah
BN
Berkat Sukacita
BN
Sukacita Yang Ceria
BN
Siapakah Bayi Ini
BN
Betapa Besar Kasih Allah
BN
Hai B'ritakan Di Gunung (2
BN
Hai B'ritakan Di Gunung (1
BN
Dengar Nyanyian Malaikat
BN
Dengar Nyanyian Malaikat
BN
Tahta Surga Ditinggalkan
BN
Di Malam Sunyi Yang Cerah
BN
Dahulu Di Kota Daud
BN
Berita Natal Pertama
BN
Di Dalam Palungan (1
BN
Di Dalam Palungan (2
BN
Tiap Hari Natal
BN
Dunia Gemar
BN
Kristus Lahir Di Dunia
BN
Yesus Lahir Ke Dunia
BN
Hai Kota Kecil Betlehem
BN
Ya Yesus Kudus
BN
Muliakanlah, Muliakanlah
BN
Yesus Tertidur Dalam Palungan
BN
Sayapmu Seg'ra Bentangkan
BN
Datanglah Ya Yesus
BN
Datanglah Padaku
BN
Terdengar Suara Malaikat
BN
Malam Kudus Di Langit
BN