KJ
Bernyanyilah Merdu
Good Christian Men, Rejoice / In dulci jubilo
Informasi Lagu
106
Nomor
Kode
KJ 106
Buku
Kidung Jemaat
Metronom
0
Cross Ref.
PS 461a, MK 49, KK 163, BN 50, BE 50
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Bernyanyilah merdu, lambungkanlah syukur!
Juruslamat dunia dan Surya hidupmu
terbaring di palungan di malam yang kudus:
Yesus, Penebus, Yesus, Penebus.
O Bayi yang lemah, hatiku hiburlah;
brikanlah berkatMu, curahkan kurnia
dan bimbinglah jalanku di dalam dunia,
Raja mulia, Raja mulia.
PadaMu yang lembut ku datang bertelut.
Kau menanggung dosa seluruh umatMu
Dan kauberi sentosa mengganti kemelut.
Ku sembah sujud, ku sembah sujud.
Di sorga bergema nyanyian Gloria:
segenap malaikat memuji Tuhannya.
Sejahtera dan slamat mengisi dunia
Slama-lamanya, slama-lamanya.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"In Dulci Jubilo"** (dalam bahasa Inggris dikenal sebagai *"Good Christian Men, Rejoice"* atau dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Bernyanyilah Merdu"*) adalah salah satu lagu Natal tertua dan paling dicintai dalam tradisi Kristen.
Kisah di balik lagu ini sangat menarik karena melibatkan mistisisme abad pertengahan, mukjizat yang diyakini, dan evolusi bahasa dari abad ke-14. Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Asal-Usul: Pengalaman Mistis (1328)
Lagu ini berakar pada abad ke-14 di Jerman. Penulisnya adalah **Heinrich Seuse (atau Henry Suso)**, seorang mistikus Dominikan Jerman yang hidup pada tahun 1295–1366.
Menurut legenda, Henry Suso mengalami penglihatan ilahi. Ia mengisahkan bahwa suatu hari ia mendengar para malaikat bernyanyi dan menari di sekelilingnya. Mereka mengundangnya untuk ikut bernyanyi dan menari bersama mereka. Dalam pengalaman mistis tersebut, ia kemudian menuliskan lirik lagu *In Dulci Jubilo* (yang berarti *"Dalam Sukacita yang Manis"*).
### 2. Sifat Lagu: Makaronik (Campuran Bahasa)
Keunikan utama dari lagu aslinya adalah sifat **"Makaronik"**. Lagu ini menggabungkan dua bahasa sekaligus dalam satu bait, yaitu **Bahasa Latin** dan **Bahasa Jerman**.
Pada abad pertengahan, bahasa Latin adalah bahasa Gereja dan kaum terpelajar, sementara bahasa Jerman adalah bahasa rakyat (bahasa ibu). Dengan mencampurkan keduanya, lagu ini menjadi sarana untuk menyampaikan teologi yang mendalam namun tetap bisa dinyanyikan dan dipahami oleh masyarakat awam.
Contoh bait pertamanya:
> *In dulci jubilo* (Dalam sukacita yang manis)
> *Nun singet und seid froh!* (Sekarang bernyanyilah dan bersukacitalah!)
### 3. Makna Teologis
Secara isi, lagu ini adalah ekspresi sukacita yang luar biasa atas kelahiran Kristus. Lagu ini merayakan inkarnasi—bahwa Tuhan yang mahabesar menjadi bayi kecil yang tidak berdaya. Bagian yang paling menyentuh adalah ketika lagu itu menyebut bayi Yesus sebagai *"Alpha es et O"* (Engkaulah Alfa dan Omega), yang merujuk pada ayat Alkitab dalam Wahyu, menunjukkan bahwa bayi di palungan itu adalah sang Pencipta alam semesta.
### 4. Transformasi Menjadi "Good Christian Men, Rejoice"
Selama berabad-abad, lagu ini terus dinyanyikan di Jerman dan Eropa. Namun, versi yang kita kenal sekarang dalam bahasa Inggris, *Good Christian Men, Rejoice*, baru ditulis jauh kemudian, yakni pada tahun **1853** oleh seorang teolog dan penulis himne Inggris bernama **John Mason Neale**.
Neale tidak menerjemahkan lagu tersebut kata demi kata dari versi Latin-Jerman, melainkan mengadaptasi semangat dan melodinya untuk jemaat gereja Inggris. Ia menulis lirik baru yang lebih berfokus pada dorongan bagi umat Kristen untuk bersukacita karena keselamatan telah datang melalui Yesus.
### 5. Pengaruh dalam Sejarah Musik
* **Melodi:** Melodi lagu ini dianggap sebagai salah satu melodi terindah sepanjang sejarah musik Natal. Keindahannya membuat banyak komposer besar terinspirasi.
* **Komposer Klasik:** Johann Sebastian Bach menggunakan melodi ini dalam beberapa karya organ dan kantatanya. Franz Liszt juga menulis aransemen piano yang sangat indah berdasarkan melodi ini.
* **Mike Oldfield:** Pada tahun 1975, musisi Mike Oldfield membuat versi instrumental rock dari lagu ini yang menjadi sangat populer di Inggris, membuktikan bahwa melodi abad ke-14 ini tetap relevan hingga era modern.
### Mengapa lagu ini begitu istimewa?
Lagu ini melintasi batas waktu. Dari pengalaman mistis seorang biarawan di Jerman tahun 1328, hingga dinyanyikan di gereja-gereja modern di seluruh dunia saat ini. *In Dulci Jubilo* adalah pengingat bahwa Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan undangan untuk ikut serta dalam "tarian" sukacita surgawi, sebagaimana yang dirasakan oleh Henry Suso 700 tahun yang lalu.
Dalam versi bahasa Indonesia (*Bernyanyilah Merdu*), lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang riang dan penuh semangat, mencerminkan kegembiraan mendalam yang menjadi inti dari pesan kelahiran Yesus.
Kisah di balik lagu ini sangat menarik karena melibatkan mistisisme abad pertengahan, mukjizat yang diyakini, dan evolusi bahasa dari abad ke-14. Berikut adalah detail kisah di baliknya:
### 1. Asal-Usul: Pengalaman Mistis (1328)
Lagu ini berakar pada abad ke-14 di Jerman. Penulisnya adalah **Heinrich Seuse (atau Henry Suso)**, seorang mistikus Dominikan Jerman yang hidup pada tahun 1295–1366.
Menurut legenda, Henry Suso mengalami penglihatan ilahi. Ia mengisahkan bahwa suatu hari ia mendengar para malaikat bernyanyi dan menari di sekelilingnya. Mereka mengundangnya untuk ikut bernyanyi dan menari bersama mereka. Dalam pengalaman mistis tersebut, ia kemudian menuliskan lirik lagu *In Dulci Jubilo* (yang berarti *"Dalam Sukacita yang Manis"*).
### 2. Sifat Lagu: Makaronik (Campuran Bahasa)
Keunikan utama dari lagu aslinya adalah sifat **"Makaronik"**. Lagu ini menggabungkan dua bahasa sekaligus dalam satu bait, yaitu **Bahasa Latin** dan **Bahasa Jerman**.
Pada abad pertengahan, bahasa Latin adalah bahasa Gereja dan kaum terpelajar, sementara bahasa Jerman adalah bahasa rakyat (bahasa ibu). Dengan mencampurkan keduanya, lagu ini menjadi sarana untuk menyampaikan teologi yang mendalam namun tetap bisa dinyanyikan dan dipahami oleh masyarakat awam.
Contoh bait pertamanya:
> *In dulci jubilo* (Dalam sukacita yang manis)
> *Nun singet und seid froh!* (Sekarang bernyanyilah dan bersukacitalah!)
### 3. Makna Teologis
Secara isi, lagu ini adalah ekspresi sukacita yang luar biasa atas kelahiran Kristus. Lagu ini merayakan inkarnasi—bahwa Tuhan yang mahabesar menjadi bayi kecil yang tidak berdaya. Bagian yang paling menyentuh adalah ketika lagu itu menyebut bayi Yesus sebagai *"Alpha es et O"* (Engkaulah Alfa dan Omega), yang merujuk pada ayat Alkitab dalam Wahyu, menunjukkan bahwa bayi di palungan itu adalah sang Pencipta alam semesta.
### 4. Transformasi Menjadi "Good Christian Men, Rejoice"
Selama berabad-abad, lagu ini terus dinyanyikan di Jerman dan Eropa. Namun, versi yang kita kenal sekarang dalam bahasa Inggris, *Good Christian Men, Rejoice*, baru ditulis jauh kemudian, yakni pada tahun **1853** oleh seorang teolog dan penulis himne Inggris bernama **John Mason Neale**.
Neale tidak menerjemahkan lagu tersebut kata demi kata dari versi Latin-Jerman, melainkan mengadaptasi semangat dan melodinya untuk jemaat gereja Inggris. Ia menulis lirik baru yang lebih berfokus pada dorongan bagi umat Kristen untuk bersukacita karena keselamatan telah datang melalui Yesus.
### 5. Pengaruh dalam Sejarah Musik
* **Melodi:** Melodi lagu ini dianggap sebagai salah satu melodi terindah sepanjang sejarah musik Natal. Keindahannya membuat banyak komposer besar terinspirasi.
* **Komposer Klasik:** Johann Sebastian Bach menggunakan melodi ini dalam beberapa karya organ dan kantatanya. Franz Liszt juga menulis aransemen piano yang sangat indah berdasarkan melodi ini.
* **Mike Oldfield:** Pada tahun 1975, musisi Mike Oldfield membuat versi instrumental rock dari lagu ini yang menjadi sangat populer di Inggris, membuktikan bahwa melodi abad ke-14 ini tetap relevan hingga era modern.
### Mengapa lagu ini begitu istimewa?
Lagu ini melintasi batas waktu. Dari pengalaman mistis seorang biarawan di Jerman tahun 1328, hingga dinyanyikan di gereja-gereja modern di seluruh dunia saat ini. *In Dulci Jubilo* adalah pengingat bahwa Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan undangan untuk ikut serta dalam "tarian" sukacita surgawi, sebagaimana yang dirasakan oleh Henry Suso 700 tahun yang lalu.
Dalam versi bahasa Indonesia (*Bernyanyilah Merdu*), lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang riang dan penuh semangat, mencerminkan kegembiraan mendalam yang menjadi inti dari pesan kelahiran Yesus.
Cross Reference
PS 461a, MK 49, KK 163, BN 50, BE 50
Marende Ma Hamu
BE
Bernyanyilah Merdu
BN
Bernyanyilah Merdu
KK
Bernyanyilah merdu
MK
Bernyanyilah merdu
PS
Sama Tema
Kelahiran Yesus dan Masa Natal
Malam Kudus
KJ
Tumbuhlah Tunas Baru
KJ
Hai Kota Mungil Betlehem
KJ
Gembala Waktu Malam G'lap
KJ
Gembala Waktu Malam G'lap
KJ
Di Malam Sunyi Bergema
KJ
Hai Malaikat Dari Sorga
KJ
Jauh Dari Sorga Datangku
KJ
Gita Sorga Bergema
KJ
Muliakanlah
KJ
Alam Raya Berkumandang
KJ
Di Dalam Palungan
KJ
Dengarlah Kidung
KJ
Hai Dengar Tembang Malaikat
KJ
Ya Anak Kecil
KJ
Terbitlah dalam Kegelapan
KJ
Takhta Mulia di Tempat Baka
KJ
Hai Mari, Berhimpun
KJ
Di Betlehem T'lah Lahir Seorang Putera
KJ
Di Palungan Dibaringkan
KJ
Anak Maria dalam Palungan
KJ
Dalam Kota Raja Daud
KJ
Mari, Lihatlah Semua
KJ
Berlutut di PalunganMu
KJ
Yang Dipuji Kaum Gembala
KJ
Hai Anak Semua
KJ
Sungguh Mulia
KJ
Hai Dunia, Gembiralah
KJ
Hai, Siarkan di Gunung
KJ
Dunia Kedinginan
KJ
Anak yang Dijanji
KJ
S'lamat, S'lamat Datang
KJ
Siapakah Yang Menerima
KJ
Lahir Kristus di Dunia
KJ
Tiap Tahun Kembali
KJ
Kandang Domba Itu RumahNya
KJ