Informasi Lagu
94
Nomor
Do=G
Nada Dasar
Kode
KJ 94
Buku
Kidung Jemaat
Nada Dasar
Do=G
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
100
Jumlah Bait
4 bait
Style
LoveSong
Pencipta Lagu
Lewis Henry Redner (1868)
Pencipta Syair
Phillips Brooks (1868)
Penerjemah
Yamuger (1978)
Cross Ref.
NKI 41, KK 178, MK 22, KC 47
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Hai kota mungil Betlehem, betapa kau senyap; bintang di langit cemerlang melihat kau lelap. Namun di lorong glapmu bersinar Trang baka: Harapanmu dan doamu kini terkabullah.
Sebab bagimu lahir Mesias, Tuhanmu; malaikatlah penjagaNya di malam yang teduh. Hai bintang-bintang fajar, britakan Kabar Baik: Sejahtera di dunia! Segala puji naik!
Tenang di malam sunyi trang sorga berseri; demikianlah karunia bagimu diberi. DatangNya diam-diam di dunia bercela; Hati terbuka dan lembut kan dimasukiNya.
Ya Yesus, Anak Betlehem, kunjungi kami pun; sucikanlah, masukilah yang mau menyambutMu. Telah kami dengarkan Berita mulia: Kau beserta manusia kekal selamanya.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KJ 94 1
Slide 2 — KJ 94 2
Slide 3 — KJ 94 3
Slide 4 — KJ 94 4
Partitur / Not
Partitur Chord KJ 94
Sejarah Lagu
Kisah yang indah dan inspiratif di balik salah satu lagu Natal paling dicintai sepanjang masa, "Hai Kota Mungil Betlehem" (O Little Town of Bethlehem).

Lagu ini adalah hasil kolaborasi antara seorang pendeta yang karismatik dan seorang organis gereja yang berbakat, yang masing-masing menyumbangkan lirik dan melodi.

---

**Bagian 1: Perjalanan yang Menginspirasi Phillips Brooks (Lirik)**

Kisah lagu ini berawal dari seorang pendeta Episkopal Amerika bernama **Phillips Brooks**. Ia dikenal sebagai seorang pengkhotbah yang luar biasa, dengan suara yang kuat dan gaya penyampaian yang memukau. Pada tahun 1865, ketika ia masih menjabat sebagai rektor Gereja Adven di Philadelphia, Brooks memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual ke Tanah Suci.

Perjalanan ini adalah pengalaman yang mengubah hidupnya. Brooks mengunjungi berbagai situs Alkitab, namun ada satu momen yang paling berkesan dan membentuk inspirasi di balik lagu ini: **malam Natal tahun 1865 di Betlehem.**

Brooks menceritakan pengalamannya:
"Saya melewati malam itu di Betlehem di Gereja Kelahiran. Saya mengikuti seluruh kebaktian, yang dimulai pada jam 10 malam dan berlanjut sampai jam 3 pagi. Tapi yang paling saya ingat adalah saat saya berdiri di padang penggembala yang sunyi di luar kota, di mana para malaikat telah menampakkan diri, dan mendengarkan para penggembala yang bernyanyi pada malam itu."

Brooks menyaksikan Misa Malam Natal di Gua Kelahiran, dan kemudian menunggang kuda ke padang penggembala di luar kota. Bayangkan, berdiri di tempat yang sama di mana para malaikat pertama kali mengumumkan kabar gembira tentang kelahiran Yesus, di bawah langit malam yang bertaburan bintang di Betlehem yang sunyi. Suasana hening, damai, dan penuh makna itu meresap dalam jiwanya. Ia merasakan kedekatan yang mendalam dengan peristiwa suci yang terjadi ribuan tahun sebelumnya.

Tiga tahun kemudian, pada tahun 1868, Brooks kembali ke Philadelphia dan sekarang menjadi rektor di Gereja Holy Trinity. Menjelang Natal, ia ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk anak-anak Sekolah Minggunya. Ia mendekati salah satu organis dan direktur Sekolah Minggu di gerejanya, **Lewis Henry Redner**, dan berkata:

"Mr. Redner, saya butuh lagu Natal baru untuk Sekolah Minggu. Saya sudah menulis beberapa syair dan saya ingin Anda membuat musik untuk itu. Sesuatu yang sederhana dan dapat dengan mudah dinyanyikan oleh anak-anak."

Brooks mengeluarkan selembar kertas bertuliskan puisi yang ia ciptakan, terinspirasi oleh kenangan malam Natal yang tak terlupakan di Betlehem. Puisi itu menangkap esensi kedamaian, keheningan, dan keajaiban ilahi yang ia rasakan.

---

**Bagian 2: Melodi "Bisikan Malaikat" Lewis Henry Redner (Musik)**

**Lewis Henry Redner** adalah seorang organis gereja yang berbakat dan juga seorang pengawas Sekolah Minggu. Mendapat permintaan dari Brooks, ia menerima tugas tersebut dengan antusias. Namun, menciptakan melodi yang sesuai ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Redner menghabiskan beberapa hari mencoba berbagai melodi, namun tidak ada yang terasa pas dengan keindahan dan kesederhanaan lirik Brooks. Malam sebelum Natal, ia masih belum menemukan melodi yang cocok. Ia merasa frustrasi dan bahkan sempat berpikir untuk menyerah.

Redner sendiri menceritakan pengalamannya yang hampir "ajaib" itu:
"Pada Jumat malam sebelum Natal, 1868, Tuan Brooks datang kepada saya dan berkata, 'Redner, apakah Anda sudah menyiapkan lagu Natal itu?' Saya menjawab, 'Tidak.' Dia berkata, 'Baiklah, Anda harus membuatnya. Kami membutuhkannya pada Minggu pagi!' Saya berkata, 'Saya akan mencoba, tapi saya tidak bisa melakukannya.' Kemudian saya pergi tidur."

"Sekitar jam 9 malam, saya terbangun karena sebuah melodi 'bisikan malaikat' di kepala saya. Saya bangkit, menyalakan lampu gas, dan menulis nada-nada itu dalam bentuk yang kurang sempurna. Keesokan paginya, saya menyempurnakannya dan membawanya ke Tuan Brooks. Dia menyukainya dan kami menggunakannya di Sekolah Minggu."

Melodi itu datang padanya di tengah malam, seolah-olah ditiupkan oleh ilham surgawi. Ia dengan cepat bangkit, menyalakan lampu, dan mencatat nada-nada yang tiba-tiba memenuhi benaknya. Melodi yang ia catat adalah melodi yang sekarang kita kenal sebagai lagu "O Little Town of Bethlehem." Ia menamai melodi ini "St. Louis," sebagai penghormatan kepada almarhum pamannya, yang bernama Louis.

---

**Bagian 3: Pertunjukan Perdana yang Sederhana Namun Abadi**

Pada Minggu pagi, Natal tahun 1868, di Gereja Holy Trinity Episcopal di Philadelphia, lagu "Hai Kota Mungil Betlehem" diperdengarkan untuk pertama kalinya. Dengan lirik dari Phillips Brooks dan melodi dari Lewis Henry Redner, anak-anak Sekolah Minggu menyanyikannya dengan suara polos mereka.

Pertunjukan perdananya begitu sederhana, namun keindahan dan pesannya yang mendalam langsung menyentuh hati para jemaat. Lagu ini segera menjadi favorit di gereja itu, dan dari sana, keindahan kesederhanaannya mulai menyebar.

---

**Legasi yang Tak Terlupakan**

Dari sebuah gereja kecil di Philadelphia, "Hai Kota Mungil Betlehem" dengan cepat menyebar ke seluruh Amerika dan kemudian ke seluruh dunia. Lagu ini menangkap esensi Natal: kedamaian yang sunyi, keajaiban yang terjadi di tempat yang sederhana, dan harapan yang dibawa oleh kelahiran Yesus.

Baik Phillips Brooks maupun Lewis Henry Redner mungkin tidak menyadari bahwa permintaan sederhana untuk lagu Sekolah Minggu akan menghasilkan sebuah karya abadi yang akan dinyanyikan oleh jutaan orang di setiap musim Natal. Kisah di baliknya adalah pengingat akan kekuatan inspirasi, kolaborasi, dan bagaimana pengalaman pribadi yang mendalam dapat diterjemahkan menjadi karya seni yang menyentuh jiwa dan bertahan melintasi waktu.