Informasi Lagu
13
Nomor
Kode
KC 13
Buku
Kidung Ceria
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
100
Jumlah Bait
2 bait
Style
Cool8Beat, 90sGuitarPop
Pencipta Lagu
Ludwig von Beethoven, (1824)
Pencipta Syair
Henry van Dyke, (1907)
Penerjemah
E.L. Pohan Shn, (1978)
Cross Ref.
NR 14, KJ 3, KK 31, KPJ 182, KPKA 9, KPPK 22, BE 565
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 2 bait
Kami puji dengan riang, Dikau Allah yang besar Bagai bung trima siang, hati kami pun mekar Kabut dosa dan derita, kebimbangan tlah lenyap Sumber suka yang abadi, bri sinar-Mu menyerap.
Semuanya yang Kau cipta memantulkan sinar-Mu. Para malak, tata surya naikkan puji bagi-Mu. Padang, hutan, dan samudra, bukit, gunung, dan lembah, margasatwa bergembira, ngajak kami pun serta.
Slide Lirik 2 slide
Slide 1 — KC 13 1
Slide 2 — KC 13 2
Partitur / Not
Partitur Chord KC 13
Sejarah Lagu
Lagu **"Kami Puji Dengan Riang"** (atau dalam bahasa Inggris berjudul *"Joyful, Joyful, We Adore Thee"*) adalah salah satu himne Kristen paling terkenal di dunia. Kisah di balik lagu ini merupakan perpaduan antara kejeniusan musik klasik Jerman dan sastra religius Amerika.

Berikut adalah detail kisah di baliknya:

### 1. Komposisi Musik: Simfoni No. 9 Beethoven
Melodi yang kita kenal sekarang diambil dari bagian akhir **Simfoni No. 9** karya **Ludwig van Beethoven**, yang ditulis pada tahun **1824**.

* **Latar Belakang Simfoni:** Saat menulis simfoni ini, Beethoven sudah dalam kondisi tuli total. Ia menuangkan seluruh aspirasi filosofisnya tentang persaudaraan manusia ke dalam karya ini.
* **Ode to Joy:** Bagian lagu yang kita nyanyikan ini berasal dari *Ode an die Freude* (Ode untuk Sukacita), sebuah puisi karya Friedrich Schiller. Beethoven memasukkan paduan suara (choir) ke dalam simfoni ini, sesuatu yang sangat revolusioner pada masanya.
* **Makna Awal:** Bagi Beethoven, melodi ini adalah ekspresi kemenangan semangat manusia dan harapan akan persatuan umat manusia di bawah naungan "Sang Pencipta yang penuh kasih."

### 2. Penulisan Lirik: Henry van Dyke (1907)
Meskipun melodinya sudah ada sejak 1824, lirik yang kita nyanyikan saat ini ditulis hampir 80 tahun kemudian oleh seorang pendeta dan penyair asal Amerika Serikat, **Henry van Dyke**.

* **Lokasi Penulisan:** Van Dyke menulis lirik ini pada tahun 1907 saat ia sedang menginap di **Williams College**, Massachusetts.
* **Inspirasi:** Van Dyke sangat mengagumi keindahan pegunungan Berkshire di Massachusetts. Suatu pagi, ia terpesona oleh keindahan alam dan suasana lingkungan kampus yang damai. Ia ingin menulis sebuah puisi yang merayakan sukacita kristiani dan rasa syukur kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta.
* **Tujuan:** Ia merasa bahwa melodi karya Beethoven tersebut adalah musik yang paling tepat untuk menggambarkan luapan kegembiraan tersebut. Ia pun menulis liriknya agar pas dengan nada *Ode to Joy* tersebut.

### 3. Makna Lirik
Lirik yang ditulis Van Dyke sangat mendalam dan berfokus pada:
* **Sukacita Kristiani:** Berbeda dengan puisi Schiller yang fokus pada persaudaraan manusia secara umum, Van Dyke memfokuskan pada sukacita yang berasal dari pengenalan akan Tuhan ("Pencipta yang penuh kasih").
* **Alam sebagai Saksi:** Liriknya mengajak bumi, langit, matahari, dan bintang untuk bersama-sama memuji Tuhan.
* **Kasih sebagai Pengikat:** Bait-baitnya menekankan bahwa kasih Tuhan adalah kekuatan yang menyatukan semua orang yang percaya, menghapus perbedaan, dan membawa damai.

### 4. Mengapa Lagu Ini Menjadi Legenda?
* **Perpaduan Sempurna:** Kombinasi antara struktur musik Beethoven yang megah, bertenaga, dan penuh kemenangan dengan lirik Van Dyke yang puitis dan spiritual dianggap sebagai salah satu kolaborasi "lintas zaman" yang paling sukses.
* **Popularitas:** Lagu ini menjadi himne standar di hampir semua denominasi gereja di seluruh dunia. Bahkan, lagu ini juga muncul dalam budaya populer, seperti dalam film *Sister Act 2* (1993), yang membuatnya dikenal oleh generasi modern di luar lingkungan gereja.

### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah tentang **kegembiraan yang melampaui waktu**. Beethoven, yang menulis musiknya dalam kesunyian karena ketulian, berhasil menangkap resonansi sukacita universal. Kemudian, Henry van Dyke, yang terinspirasi oleh keindahan alam, memberikan "suara" religius yang tepat pada melodi tersebut. Hasilnya adalah sebuah lagu yang bukan hanya sekadar memuji Tuhan, tetapi juga merayakan kehidupan itu sendiri.