Informasi Lagu
31
Nomor
do=g
Nada Dasar
Kode
KK 31
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=g
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
110
Jumlah Bait
4 bait
Style
Cool8Beat, 90sGuitarPop
Pencipta Lagu
Ludwig Van Beethoven (1824)
Pencipta Syair
Henry Van Dyke (1907)
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan) (1978)
Cross Ref.
NR 14, KJ 3, KPJ 182, KPKA 9, KPPK 22, BE 565
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Kami puji dengan riang Dikau, Allah yang besar; bagai bunga trima siang, hati kami pun mekar. Kabut dosa dan derita, kebimbangan, tlah lenyap. Sumber suka yang abadi, bri sinar-Mu menyerap.
Kau membri, Kau mengampuni, Kaulimpahkan rahmat-Mu. Sumber air hidup ria, Lautan kasih dan restu. Yang mau hidup dalam kasih Kaujadikan milik-Mu, agar kami menyayangi, meneladan kasih-Mu.
Semuanya yang Kaucipta memantulkan sinar-Mu. Para malak, tata surya naikkan puji bagi-Mu. Padang, hutan dan samudra, bukit, gunung dan lembah, margasatwa bergembira, ngajak kami pun serta.
Mari kita pun memuji dengan suara menggegap, menyanyikan kuasa kasih yang teguh serta tetap. Kita maju dan bernyanyi, jaya walau diserang, ikut mengagungkan kasih dalam lagu pemenang.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KK 31 1
Slide 2 — KK 31 2
Slide 3 — KK 31 3
Slide 4 — KK 31 4
Partitur / Not
Partitur Chord KK 31
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Joyful, Joyful, We Adore Thee" adalah perpaduan menakjubkan antara kejeniusan musikal seorang komposer klasik agung dengan inspirasi liris seorang pendeta dan penyair, yang kemudian menyebar luas ke seluruh dunia dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Batak. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah melodi agung dari konteks sekuler dapat diangkat menjadi himne pujian yang universal.

Mari kita telusuri kisahnya secara detail:

---

### Bagian 1: Musik – Ludwig van Beethoven dan "Ode to Joy" (Simfoni No. 9)

**1. Latar Belakang Beethoven dan Gagasan Simfoni ke-9:**
Ludwig van Beethoven (1770-1827) adalah salah satu komposer terbesar dalam sejarah musik klasik, seorang tokoh sentral dalam transisi antara era Klasik dan Romantik. Pada puncak karirnya, ia menghadapi tragedi personal yang paling menyedihkan bagi seorang musisi: tuli. Perlahan-lahan kehilangan pendengarannya sejak usia 20-an, pada saat ia menggarap Simfoni No. 9, ia sudah hampir sepenuhnya tuli. Namun, justru dalam kegelapan inilah ia menciptakan salah satu mahakarya paling terang dan inspiratif.

Selama bertahun-tahun, Beethoven telah terobsesi dengan puisi "An die Freude" (Ode to Joy) karya penyair Jerman Friedrich Schiller yang ditulis pada tahun 1785. Puisi ini merayakan persaudaraan universal umat manusia, kegembiraan, dan persatuan di bawah naungan Tuhan atau kekuatan kosmik. Beethoven melihat potensi besar dalam puisi ini untuk menyampaikan pesan universal tentang persatuan dan kebahagiaan.

**2. Inovasi Radikal Simfoni No. 9 "Choral":**
Simfoni No. 9 dalam D minor, Op. 125, yang diselesaikan pada tahun 1824, adalah sebuah revolusi dalam dunia musik. Beethoven adalah komposer pertama yang berani memasukkan bagian vokal (paduan suara dan empat solois vokal) ke dalam sebuah simfoni, sebuah genre yang sebelumnya murni instrumental. Ini adalah langkah yang sangat berani dan belum pernah terjadi sebelumnya.

**3. Melodi "Ode to Joy" yang Ikonik:**
Melodi yang kita kenal sebagai "Joyful, Joyful" muncul di bagian keempat (gerakan terakhir) dari Simfoni No. 9. Ini dimulai dengan intro instrumental yang agak disonan, seolah-olah musik mencari jalannya. Kemudian, secara bertahap, melodi yang sederhana namun sangat kuat dan mudah diingat ini dimainkan pertama kali oleh cello dan double bass, lalu diikuti oleh instrumen lain, membangun crescendo yang megah.

Melodi ini dirancang agar mudah diingat, berulang, dan secara progresif diperluas dan diorkestrasi hingga mencapai puncaknya ketika paduan suara akhirnya masuk, menyanyikan bait-bait pertama dari "An die Freude" karya Schiller. Melodi ini memancarkan kegembiraan murni, optimisme, dan semangat persaudaraan yang tak terbatas.

**4. Premiere yang Emosional:**
Simfoni No. 9 pertama kali dipentaskan pada 7 Mei 1824 di Kärntnertortheater di Wina. Beethoven, yang saat itu benar-benar tuli, bersikeras untuk "mengonduktori" konser tersebut (meskipun konduktor sesungguhnya adalah Michael Umlauf). Pada akhir pertunjukan, Beethoven harus diputar agar dapat melihat tepuk tangan dan sorak-sorai penonton yang bergemuruh, karena ia tidak dapat mendengarnya. Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling mengharukan dan ikonik dalam sejarah musik.

Melodi "Ode to Joy" segera dikenal dan dicintai di seluruh dunia sebagai simbol kebahagiaan, kemanusiaan, dan perdamaian.

---

### Bagian 2: Lirik – Henry van Dyke dan "Joyful, Joyful, We Adore Thee"

**1. Siapa Henry van Dyke?**
Henry van Dyke (1852-1933) adalah seorang pendeta Presbiterian Amerika terkemuka, pengarang, pendidik, dan diplomat. Ia dikenal atas tulisan-tulisannya yang menginspirasi, termasuk cerita pendek seperti "The Story of the Other Wise Man" dan banyak himne.

**2. Inspirasi di Balik Lirik:**
Pada awal abad ke-20, Van Dyke sangat mengagumi melodi "Ode to Joy" karya Beethoven. Ia merasa bahwa melodi yang begitu kuat, gembira, dan universal ini memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai himne pujian di gereja. Namun, lirik asli Schiller, meskipun indah, bersifat filosofis dan humanistik, tidak secara langsung berfokus pada pujian Kristiani.

Van Dyke memiliki ide brilian: ia ingin menulis lirik baru yang secara eksplisit memuji Tuhan dan mengungkapkan kegembiraan iman, namun tetap menjaga semangat persaudaraan dan kebahagiaan yang terkandung dalam melodi asli Beethoven. Ia ingin menciptakan lirik yang dapat dinyanyikan oleh jemaat dengan mudah dan penuh semangat.

**3. Proses Penulisan Lirik:**
Pada tahun 1907, Henry van Dyke secara sengaja menulis lirik "Joyful, Joyful, We Adore Thee" *khusus* untuk melodi "Ode to Joy" karya Beethoven. Ia memastikan bahwa ritme dan metrum kata-katanya sangat cocok dengan melodi instrumental tersebut.

Liriknya mencerminkan:
* **Pujian kepada Tuhan:** Menggambarkan Tuhan sebagai sumber segala sukacita, keindahan alam, dan kasih.
* **Keindahan Alam:** Van Dyke sering menggunakan metafora alam (cahaya, fajar, gunung, lembah, bintang) untuk melambangkan kemuliaan Tuhan. Ini memberikan dimensi spiritual pada pemandangan duniawi.
* **Kasih dan Persaudaraan:** Liriknya juga menyerukan persaudaraan dan kasih antar sesama manusia, menggemakan semangat universal dari Schiller dan Beethoven, tetapi dengan lensa teologis.
* **Kegembiraan Iman:** Nada keseluruhannya adalah optimisme, harapan, dan sukacita yang berasal dari iman.

**4. Publikasi dan Penyebaran:**
Van Dyke awalnya menerbitkan lirik ini dalam buku himne dan puisinya sendiri yang berjudul "The Friendly Year" pada tahun 1907. Ia bahkan secara spesifik mencatat bahwa lirik tersebut dimaksudkan untuk dinyanyikan dengan "Hymn to Joy" dari Simfoni No. 9 Beethoven. Lirik ini segera mendapatkan popularitas dan dimasukkan ke dalam banyak buku himne Protestan di Amerika Serikat dan seluruh dunia.

---

### Bagian 3:

**1. Penyatuan Musik dan Lirik:**
Kombinasi melodi Beethoven yang menggetarkan jiwa dan lirik Van Dyke yang penuh makna menciptakan sebuah himne yang sangat kuat. Melodi yang sebelumnya adalah epos persaudaraan universal, kini diperkaya dengan dimensi spiritual yang mendalam, menjadikannya sebuah proklamasi iman yang gembira dan memuliakan.

**2. Penyebaran ke Indonesia**
Seiring dengan penyebaran misi Kristen di Indonesia, himne ini tiba dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa daerah.
secara harfiah berarti "Hatiku Bersukacita untuk Memuji (Tuhan)," yang menangkap esensi kegembiraan dan pujian yang sama dengan judul aslinya "Joyful, Joyful, We Adore Thee."

Himne ini menjadi salah satu lagu pujian yang paling dicintai dan sering dinyanyikan dalam ibadah-ibadah gereja Batak. Kekuatan melodinya, ditambah dengan lirik yang mudah dihayati dalam bahasa Batak, membuatnya sangat populer dan memiliki tempat khusus di hati umat.

**3. Warisan dan Signifikansi:**
"Joyful, Joyful, We Adore Thee" adalah contoh sempurna bagaimana seni dapat melampaui batas waktu, budaya, dan bahkan konteks asalnya.
* **Dari Beethoven:** Kita mendapatkan melodi yang tak lekang oleh waktu, simbol kegembiraan dan persaudaraan universal.
* **Dari Van Dyke:** Kita mendapatkan lirik yang mengarahkan kegembiraan itu kepada Tuhan, menciptakan sebuah himne pujian yang megah.
* **Dari penerjemah di seluruh dunia:** Kita mendapatkan kemampuan untuk menyanyikan kebenaran ini dalam bahasa hati kita sendiri, menjadikannya pribadi dan relevan.

Lagu ini tetap menjadi salah satu himne yang paling dikenal dan dinyanyikan di seluruh dunia, tidak hanya di gereja tetapi juga dalam acara-acara sekuler, sebagai simbol harapan, kebahagiaan, dan persatuan. Ini adalah mahakarya kolaborasi yang melampaui niat awal para penciptanya, menjadi suara universal untuk sukacita dan pujian.
1
Mari, Puji Dia
KK
2
Allah Hadir Bagi Kita
KK
3
Andai 'Ku Punya Banyak Lidah
KK
4
Angkatlah Hatimu Pada Tuhan
KK
5
Bagimu, Tuhan, Nyanyianku
KK
6
Bergemarlah Dan Bersukaria
KK
7
Berhimpun Semua
KK
8
Beribu Lidah Patutlah
KK
9
Bersoraklah Dan Puji Tuhan
KK
10
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
KK
11
Bersyukurlah Pada Tuhan
KK
12
Bukalah Gapura Indah
KK
13
Bumi Dan Langit, Pujilah
KK
14
Bernyanyilah, Biduan Muda-Mudi
KK
15
Dengan Gembira
KK
16
Hai Makhluk Semua
KK
17
Gloria
KK
18
Suci, Suci, Suci
KK
19
Hai Mari Sembah
KK
20
Hai, Masyhurkanlah
KK
21
Haleluya! Alangkah Baik
KK
22
Haleluya, Haleluya
KK
23
Haleluya Pujilah
KK
24
Hanyalah Engkau, Tuhan
KK
25
Hari Minggu Hari Kudus
KK
26
Hari Minggu, Hari Yang Mulia
KK
27
Inilah Hari Minggu
KK
28
Hari Minggu Hari Tuhan
KK
29
Jemaat Allah, Marilah
KK
30
Jiwaku Memuji Tuhan
KK
32
'Kau Yang Layak
KK
33
Kepadamu,Tuhanku
KK
34
Kita Masuk Rumahnya
KK
35
'Ku Gembira 'Kau Berkata
KK
36
Mari, Bernyanyi Sertaku
KK
37
Mari Kita Puji
KK
38
Mari Menyembah
KK
39
Mari Sembah
KK
40
Marilah Bernyanyi
KK
41
Marilah Kita Siapkan Hati Kita
KK
42
Mulia, Mulia Namanya
KK
43
Nyanyikanlah Mazmur Bagi Tuhan
KK
44
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
KK
45
O Hari Istirahat
KK
46
Patut Segenap Yang Ada
KK
47
Puji, Hai Jiwaku, Puji Tuhan
KK
48
Puji Tuhan, Pujilah Namanya
KK
49
Puji Yesus
KK
50
Pujilah Allah, Pujilah
KK
51
Pujilah Tuhan
KK
52
Pujilah Tuhan, Sang Raja
KK
53
Salam Dan Hormat KepadaMu
KK
54
Pujilah Tuhanmu
KK
55
Muliakan Tuhan Allah
KK
56
Suci, Suci, Suci
KK
57
Sungguhlah Indah Rumahmu
KK
58
Terpujilah Allah
KK
59
Tuhan Allah Hadir
KK
60
Tuhan Allah, Namamu
KK
61
Tuhanku Yesus
KK
62
Ya Khalik Semesta
KK
Kembali ke KK