Informasi Lagu
19
Nomor
do=g
Nada Dasar
Kode
KK 19
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=g
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
100
Jumlah Bait
6 bait
Pencipta Lagu
Johann Michael Haydn (1770)
Pencipta Syair
William Kethe (1561)
Penerjemah
Yamuger, berdasarkan Mazmur 104 (1979)
Cross Ref.
NR 9, KC 125, KPJ 239, KJ 4
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 6 bait
Hai mari sembah Yang Mahabesar, nyanyikan syukur dengan bergemar. Perisai umat-Nya, Yang Mahaesa, mulia nama-Nya, takhta-Nya megah!
Hai masyhurkanlah keagungan-Nya; cahaya terang itu jubah-Nya. Gemuruh suara-Nya di awan kelam; berjalanlah Dia di badai kencang.
Buana penuh mukjizat ajaib, ya Khalik, Engkau membuatnya baik. Engkau memisahkan daratan dan laut dengan kuasa firman: besarlah Engkau!
Pengasuhan-Mu betapa megah: udara dan trang menyatakannya, embun bertetesan dan hujan sejuk lembah maupun bukit cermin kasih-Mu.
Umat-Mu lemah dan dari debu, tetap memegang janji-Mu teguh. Kasih setia-Mu berlimpah terus, ya Khalik, Pembela dan Kawan kudus!
Ya Mahabesar, kekal kasih-Mu; malaikat membri pujian merdu,pun kami, makhluk-Mu kecil dan lemah, mengangkat pujian serta menyembah.
Slide Lirik 6 slide
Slide 1 — KK 19 1
Slide 2 — KK 19 2
Slide 3 — KK 19 3
Slide 4 — KK 19 4
Slide 5 — KK 19 5
Slide 6 — KK 19 6
Partitur / Not
Partitur Chord KK 19
Sejarah Lagu
Kisah detail di balik lagu rohani yang sangat dicintai ini, "Hai Mari Sembah" atau "O Worship the King". Menariknya, atribusi yang Anda sebutkan memiliki sedikit pergeseran sejarah yang perlu kita luruskan untuk mendapatkan gambaran yang paling akurat.

Lagu "O Worship the King" (yang diterjemahkan menjadi "Hai Mari Sembah" dalam bahasa Indonesia, sering ditemukan di buku nyanyian gereja seperti Kidung Jemaat) adalah sebuah mahakarya pujian yang menggabungkan lirik dan melodi dari periode waktu yang berbeda dan dari pencipta yang berbeda pula.

---

### Bagian 1: Lirik – "O Worship the King" (Ditulis oleh Robert Grant, bukan William Kethe)

Poin pertama yang perlu diluruskan adalah mengenai penulis liriknya. Meskipun William Kethe memang seorang penulis himne penting di era Reformasi Protestan (terkenal dengan "All People That on Earth Do Dwell" yang didasarkan pada Mazmur 100), lirik untuk "O Worship the King" sebenarnya ditulis oleh **Sir Robert Grant (1779-1838)**.

1. **Siapa Robert Grant?**
* Robert Grant adalah seorang pengacara, politikus, dan administrator kolonial Inggris yang lahir di India (saat itu British India).
* Ia adalah seorang yang saleh dan sangat berkomitmen pada imannya. Selain karirnya di bidang hukum dan politik (ia pernah menjadi anggota parlemen dan Gubernur Bombay), ia juga dikenal sebagai seorang penyair dan penulis himne yang berbakat.
* Ia menulis sejumlah himne, tetapi "O Worship the King" adalah karyanya yang paling terkenal dan abadi.

2. **Konteks Penulisan Lirik:**
* Grant menulis lirik ini pada tahun **1833**.
* Ia terinspirasi oleh **Mazmur 104** dari Alkitab, sebuah mazmur yang dengan indah menggambarkan keagungan Tuhan sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Mazmur ini memuji Tuhan atas kuasa-Nya dalam menciptakan langit, bumi, laut, serta atas pemeliharaan-Nya terhadap segala makhluk hidup.
* Grant berhasil menangkap esensi pujian Mazmur 104 dan menuangkannya ke dalam bait-bait yang penuh semangat dan kekaguman.

3. **Makna dan Tema Lirik:**
* Lirik "O Worship the King" adalah seruan untuk memuliakan Tuhan atas keagungan, kuasa, dan kasih-Nya.
* Setiap bait menyoroti aspek-aspek kebesaran Tuhan:
* **Bait 1:** Seruan untuk memuliakan Raja segala raja, Pujian dan kemuliaan bagi-Nya.
* **Bait 2:** Menggambarkan Tuhan sebagai Pencipta yang melingkupi diri dengan cahaya, mendirikan bumi, dan menghiasi langit dengan awan. Ini adalah gambaran langsung dari Mazmur 104.
* **Bait 3:** Mengungkapkan pemeliharaan Tuhan atas ciptaan-Nya – gunung, laut, guntur, angin badai, semuanya melayani kehendak-Nya.
* **Bait 4:** Menekankan kebaikan dan kemurahan Tuhan yang tak terbatas, bagaimana Dia menyediakan bagi semua makhluk.
* **Bait 5:** Mengakui keterbatasan manusia dan memohon anugerah Tuhan, serta menekankan kesetiaan Tuhan yang tak pernah gagal.
* **Bait 6:** Puncak pujian, menyatakan bahwa Tuhan adalah Bapa, Pelindung, dan Sahabat abadi yang harus disembah selamanya.
* Liriknya dicirikan oleh bahasa yang agung namun mudah dipahami, penuh dengan citra-citra alam dan ekspresi kekaguman.

---

### Bagian 2: Melodi – "Lyons" (Dikaitkan dengan Johann Michael Haydn)

Melodi yang paling umum digunakan untuk "O Worship the King" adalah **"Lyons"**. Melodi ini memiliki sejarah yang menarik dan sering dikaitkan dengan **Johann Michael Haydn (1737-1806)**, adik dari komposer Joseph Haydn yang lebih terkenal.

1. **Siapa Johann Michael Haydn?**
* Seorang komposer Austria yang sangat produktif di era Klasik.
* Ia menghabiskan sebagian besar karirnya di Salzburg, di mana ia adalah direktur musik katedral dan juga guru dari Carl Maria von Weber.
* Ia dikenal terutama untuk musik sakralnya: misanya, requiem, te deum, dan berbagai karya gerejawi lainnya. Karya-karyanya dihargai karena keindahan melodi dan kekayaan harmoninya.

2. **Asal Usul Melodi "Lyons":**
* Melodi "Lyons" diyakini berasal dari bagian-bagian dalam **"Deutsches Hochamt" (Misa Agung Jerman)** atau karya sakral lainnya oleh Johann Michael Haydn.
* Khususnya, bagian **"Tantum Ergo"** (sebuah himne Ekaristi yang liriknya ditulis oleh Thomas Aquinas) atau "Te Deum" dari Haydn sering disebut sebagai sumber inspirasi atau adaptasi.
* Penting untuk dicatat bahwa Haydn sendiri tidak menulisnya sebagai "himne" dalam format yang kita kenal sekarang, melainkan sebagai bagian dari karya musik gerejawi yang lebih besar. Melodi tersebut kemudian diadaptasi dan disederhanakan agar cocok untuk nyanyian jemaat di gereja.
* Nama "Lyons" kemungkinan diberikan oleh penyusun himne setelah melodi tersebut diadopsi ke dalam himne bahasa Inggris, meskipun alasannya tidak selalu jelas dan bisa saja merujuk pada kota atau individu tertentu.

3. **Karakteristik Melodi "Lyons":**
* Melodi ini memiliki nuansa yang megah dan penuh semangat, cocok dengan keagungan liriknya.
* Struktur melodinya kuat, mudah diingat, dan memiliki ritme yang mantap, membuatnya ideal untuk dinyanyikan oleh jemaat.
* Kombinasi antara lirik yang inspiratif dan melodi yang agung menciptakan pengalaman pujian yang powerful.

---

### Bagian 3: Pertemuan Lirik dan Melodi, serta Perjalanan ke Indonesia

1. **Penyatuan Lirik dan Melodi:**
* Lirik Robert Grant dan melodi Johann Michael Haydn (atau adaptasinya) bertemu di himnal-himnal Inggris pada pertengahan hingga akhir abad ke-19.
* Para penyusun himnal, seperti yang terlibat dalam pembuatan *Hymns Ancient and Modern* (1861), sering mencari melodi yang tepat untuk lirik-lirik baru atau yang sudah ada. Melodi "Lyons" terbukti menjadi pasangan yang sempurna untuk keagungan "O Worship the King".
* Sejak saat itu, kombinasi ini menjadi sangat populer di seluruh dunia Kristen berbahasa Inggris.

2. **"Hai Mari Sembah" di Indonesia:**
* Lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Hai Mari Sembah".
* Terjemahan ini (seperti banyak terjemahan himne lainnya) dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gereja-gereja di Indonesia agar jemaat dapat menyanyikan lagu pujian dalam bahasa mereka sendiri.
* "Hai Mari Sembah" menjadi salah satu lagu yang paling dikenal dan dinyanyikan di gereja-gereja Protestan dan Katolik di Indonesia, dan termasuk dalam koleksi himne seperti *Kidung Jemaat (KJ)* dan *Puji Syukur*.
* Makna dan pesan pujiannya yang universal membuatnya relevan bagi umat beriman di berbagai budaya dan bahasa.

---

### Kesimpulan

Jadi, kisah di balik "Hai Mari Sembah / O Worship the King" adalah kisah tentang perpaduan sempurna antara:
* **Lirik yang agung dan terinspirasi Mazmur 104** dari **Sir Robert Grant** (abad ke-19).
* **Melodi yang megah dan penuh semangat** yang diadaptasi dari karya musik sakral **Johann Michael Haydn** (abad ke-18).

Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah himne abadi yang telah mengangkat hati jutaan orang untuk memuji Tuhan atas keagungan-Nya sebagai Pencipta dan Pemelihara semesta. Meskipun William Kethe adalah figur penting dalam sejarah himne, ia tidak terkait langsung dengan penciptaan lagu "O Worship the King".
1
Mari, Puji Dia
KK
2
Allah Hadir Bagi Kita
KK
3
Andai 'Ku Punya Banyak Lidah
KK
4
Angkatlah Hatimu Pada Tuhan
KK
5
Bagimu, Tuhan, Nyanyianku
KK
6
Bergemarlah Dan Bersukaria
KK
7
Berhimpun Semua
KK
8
Beribu Lidah Patutlah
KK
9
Bersoraklah Dan Puji Tuhan
KK
10
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
KK
11
Bersyukurlah Pada Tuhan
KK
12
Bukalah Gapura Indah
KK
13
Bumi Dan Langit, Pujilah
KK
14
Bernyanyilah, Biduan Muda-Mudi
KK
15
Dengan Gembira
KK
16
Hai Makhluk Semua
KK
17
Gloria
KK
18
Suci, Suci, Suci
KK
20
Hai, Masyhurkanlah
KK
21
Haleluya! Alangkah Baik
KK
22
Haleluya, Haleluya
KK
23
Haleluya Pujilah
KK
24
Hanyalah Engkau, Tuhan
KK
25
Hari Minggu Hari Kudus
KK
26
Hari Minggu, Hari Yang Mulia
KK
27
Inilah Hari Minggu
KK
28
Hari Minggu Hari Tuhan
KK
29
Jemaat Allah, Marilah
KK
30
Jiwaku Memuji Tuhan
KK
31
Kami Puji Dengan Riang
KK
32
'Kau Yang Layak
KK
33
Kepadamu,Tuhanku
KK
34
Kita Masuk Rumahnya
KK
35
'Ku Gembira 'Kau Berkata
KK
36
Mari, Bernyanyi Sertaku
KK
37
Mari Kita Puji
KK
38
Mari Menyembah
KK
39
Mari Sembah
KK
40
Marilah Bernyanyi
KK
41
Marilah Kita Siapkan Hati Kita
KK
42
Mulia, Mulia Namanya
KK
43
Nyanyikanlah Mazmur Bagi Tuhan
KK
44
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
KK
45
O Hari Istirahat
KK
46
Patut Segenap Yang Ada
KK
47
Puji, Hai Jiwaku, Puji Tuhan
KK
48
Puji Tuhan, Pujilah Namanya
KK
49
Puji Yesus
KK
50
Pujilah Allah, Pujilah
KK
51
Pujilah Tuhan
KK
52
Pujilah Tuhan, Sang Raja
KK
53
Salam Dan Hormat KepadaMu
KK
54
Pujilah Tuhanmu
KK
55
Muliakan Tuhan Allah
KK
56
Suci, Suci, Suci
KK
57
Sungguhlah Indah Rumahmu
KK
58
Terpujilah Allah
KK
59
Tuhan Allah Hadir
KK
60
Tuhan Allah, Namamu
KK
61
Tuhanku Yesus
KK
62
Ya Khalik Semesta
KK
Kembali ke KK